Integrasi Timor Timur Ke Wilayah Indonesia, Hingga Menjadi Provinsi Ke-27
Ketika Indonesia memproklamasikan
kemerdekaan tanggal 27 Agustus 1945, Timor Timur tidak termasuk dalam wilayah
Negara Republik Indonesia. Pada saat itu Timor Timur masih menjadi daerah
jajahan Portugis. Akan tetapi, sejak tahun 1976 sampai pertengahan tahun 1999
Timor Timur secara resmi berintegrasi ke dalam wilayah Republik Indonesia.
Keadaan Timor Timur Sebelum
Berintegrasi
Sejak abad ke-17, Portugis sudah
menanamkan kekuasaannya di daerah Timor Timur. Dasar-dasar kekuasaan Portugis
di Timor Timur diletakkan oleh Raja Muda Portugis yang berkedudukan di India
yang bernama Antonio de Melo de Castro. Ia menunjuk Simao Luis sebagai penguasa
Timor Timur tahun 1665.
Kekuasaan Portugis di Timor Timur
diperkuat lagi dengan diangkatnya Antonio Cuelho Guerreiro sebagai gubernur
pertama (1701) yang berkedudukan di Lifao (daerah Oekussi). Tindakan
sewenang-wenang dan eksploitasi yang dilakukan pemerintah kolonial Portugis
sering menimbulkan rasa dendam dan sakit hati rakyat Timor Timur.
Rakyat Timor Timur sering
melakukan gerakan-gerakan untuk menentang kedudukan bangsa Portugis di Timor
Timur yang dipimpin oleh rajanya masing-masing. Akan tetapi, setiap gerakan dan
pemberontakan yang dilakukan oleh rakyat selalu mengalami kegagalan karena
berhasil ditumpas oleh pemerintah kolonial Portugis.
Pada awal abad ke-20, yaitu pada
tahun 1910, pemberontakan berkobar lagi di Manufahe. Pemberontakan ini dipimpin
oleh Bonaventure. Ia dibantu oleh seorang temannya yang bernama Domingus de Ornai
yang akhirnya tewas dalam pertempuran. Tewasnya Domingus de Ornai menyebabkan
semangat pertempuran menurun dan pengikutnya bertambah lemah.
Pada tahun 1959 meletus
pemberontakan yang lebih hebat lagi. Kali ini terjadi di Vikeke di bawah
pimpinan Yose Duarte. Namun, pemberontakan ini juga dapat ditumpas oleh
pemerintah kolonial Portugis. Pada tanggal 25 April 1974, terjadi kudeta
militer di Portugal yang dipimpin oleh Jenderal De Spinola. Kudeta militer ini
dikenal dengan nama Red Flower’s Revolution atau Revolusi Bunga. Jenderal De
Spinola segera memegang tampuk (pangkal) pemerintahan menggantikan presiden Dr.
Antonio de Oliviere Salazar.
Revolusi tersebut tidak hanya
membawa pengaruh di dalam negeri Portugal, tetapi juga terhadap daerah-daerah
koloninya. Jenderal De Spinola berjanji untuk segera memberikan kebebasan
menentukan nasib sendri bagi daerah-daerah koloni Portugal, termasuk juga
daerah koloni di Timor Timur.
Integrasi Timor Timur Ke Wilayah
Indonesia
Janji kemerdekaan yang
dikumandangkan oleh Jenderal Spinola tahun 1974 terhadap rakyat jajahan
memberikan harapan kepada rakyat Timor Timur untuk mengadakan berbagai macam
perubahan dalam kehidupan bermasyarakat. Partai-partai politik diberikan
kebebasan untuk berdiri dan berkembang. Rakyat mendapat kesempatan untuk
berpolitik.
Pada awalnya, muncul beberapa
partai politik, seperti UDT (Uniao Democratica Timorense atau Uni Demokrasi
Timor) yang dipimpin oleh Mario Vegas Carascalao, Apodeti (Associacao Popular
Democratica de Timor) dengan pemimpinnya Arnoldodos Reis Araujo (penduduk asli
Timor), Partai Sosial Demokrat yang kemudian menjadi Fretilin (Frente
Revolucionario de Timor Leste Indefendence atau Front Revolusioner Kemerdekaan
Timor Timur) yang dipimpin oleh Fransisco Xavier Do Amaral.
Tujuan dan perjuangan dari
partai-partai itu berbeda-beda. Partai UDT ingin membentuk Timor Timur sebagai
sebuah negara yang merdeka, tetapi harus menjadi bagian dari kekuasaan
Portugis. Partai UDT menolak kemerdekaan penuh untuk Timor Timur karena menurut
pimpinan partai UDT, Timor Timur belum dapat berdiri sendiri mengingat keadaan
ekonomi yang masih lemah dan kemampuan rakyatnya yang masih kurang.
Partai Apodeti menginginkan agar
Timor Timur lepas dari Portugis dan bergabung dengan negara Republik Indonesia.
Apodeti memberikan alasan bahwa antara Indonesia dan Timor Timur terdapat
banyak persamaan, seperti persamaan kebudayaan.
Sedangkan Fretilin tidak setuju
terhadap pendapat dan pandangan UDT, serta Apodeti. Partai ini menginginkan
agar Timor Timur menjadi sebuah negara merdeka tanpa bersatu dengan Portugis
atau bergabung dengan Indonesia. Adanya perbedaan tujuan dan perjuangan dari
partai-partai tersebut menjadi salah satu penyebab terjadinya persaingan
antarpartai. Bahkan, persaingan tersebut telah menjurus ke arah perang saudara.
Dalam setiap pertikaian, Fretilin
selalu mengalami kemenangan. Satu per satu kota-kota yang ada di Timor Timur
hampir dapat dikuasai oleh mereka. Fretilin melakukan tindakan-tindakan yang
menimbulkan kemarahan dari partai-partai lainnya, seperti Apodeti, Kota dan
Trabalista. Partai-partai ini berusaha membantu UDT untuk melawan Fretilin.
Perluasan pengaruh Fretilin yang
berhaluan kiri di Timor Portugis menimbulkan kecemasan Blok Barat, khususnya
Amerika Serikat dan Australia terhadap kemungkinan perluasan kekuatan komunis
di Asia Tenggara dan Pasifik. Hal ini mendorong timbulnya dukungan Barat bagi
keterlibatan langsung Indonesia di Timor Portugis.
Pada tanggal 28 November 1975,
Fretilin memproklamasikan berdirinya Republik Demokrasi Timor Timur. Proklamasi
yang dilakukan oleh Fretilin ditentang oleh partai-partai lainnya. Menanggapi
tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Fretilin, gabungan partai Apodeti, UDT,
Kota dan Trabalista mencetuskan proklamasi tandingan di Balibo pada tanggal 29
November 1975 yang dikenal dengan sebutan Proklamasi Balibo. Isi proklamasi itu
menyatakan keinginan rakyat Timor Timur untuk bersatu dan berintegrasi dengan
Republik Indonesia.
Setelah PSTT terbentuk, lembaga
lain yang terbentuk adalah DPR wilayah Timor Timur. Kedua lembaga tertinggi,
eksekutif (PSTT) dan legislatif (DPR) itu, dibentuk untuk melengkapi aparat
penyelenggaraan dan penyediaan wadah untuk menampung kehendak rakyat secara
objektif.
Pada tanggal 31 Mei 1976 diadakan
sidang paripurna DPR Timor Timur yang diikuti oleh 13 kabupaten. Sidang
dilaksanakan di Gedung Olah Raga Dili. Acara sidang adalah membicarakan Petisi
Integrasi Timor Timur dengan Republik Indonesia.
Pada tanggal 17 Juli 1976 secara
resmi Timor Timur berintegrasi kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dasar pengesahan Timor Timur menjadi bagian wilayah Indonesia adalah Undang-Undang
No. 7 Tahun 1976. Dengan demikian, Timor Timur resmi menjadi provinsi ke-27.
Ibu kotanya Dili. Gubernur Timor Timur yang pertama adalah Arnoldo dos Reis
Araujo dan wakilnya Fransisco Xavier Lopez da Cruz.
Keadaan Timor Timur Sebagai
Provinsi Ke-27
Setelah Timor Timur berintegrasi
dengan Indonesia, pemerintah Indonesia terus berupaya membenahi dan menata
kembali kehidupan masyarakat Timor Timur sebagai provinsi ke-27 agar dapat
sejajar dengan masyarakat dari provinsi-provinsi lainnya di Indonesia. Pembangunan
yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk Timor Timur dilakukan di segala
bidang kehidupan.
Dalam bidang pertanian,
pemerintah membangun saluran-saluran irigasi, membuka lahan pertanian yang
baru, mengadakan berbagai penyuluhan kepada para petani tentang cara bertani
yang baik dan mendirikan Badan Usaha Unit Desa (BUUD), serta Koperasi Unit Desa
(KUD).
Dalam bidang perhubungan,
pemerintah membangun jalan dan jembatan, memperbanyak rute angkutan umum,
membangun lapangan terbang dan memperbaiki pelabuhan laut di Dili.
Bidang lainnya yang juga mendapat
perhatian pemerintah adalah bidang kesehatan dan pendidikan. Di bidang
kesehatan, pemerintah membangun beberapa rumah sakit dan puskesmas. Pemerintah
juga mendirikan pos pelayanan terpadu di setiap desa/kelurahan.
Di bidang pendidikan, pemerintah
membangun berbagai sarana pendidikan, seperti gedung-gedung sekolah
lembaga-lembaga penelitian dan pelatihan, serta gedung universitas. Selain
bidang-bidang pembangunan di atas, pemerintah juga melaksanakan pembangunan di
bidang-bidang lainnya.
Hampir semua indikator
menunjukkan pertumbuhan pesat dalam berbagai sektor ekonomi selama periode
integrasi (sistem pembauran untuk menjadi suatu kesatuan yang utuh). Namun di
pihak lain, pembangunan politik dalam pengertian perluasan partisipasi
masyarakat relatif terabaikan pemerintah kala itu. Konflik antara kelompok
pendukung integritas dan kelompok anti integritas berjalan terus, bahkan dengan
tindakan kekerasan.
Di samping itu, berakhirnya
Perang Dingin yang telah mengubah pandangan internasional terhadap ancaman Blok
Komunis, semakin memojokkan posisi Indonesia. Beberapa negara, seperti Amerika
Serikat dan Australia mulai mempertanyakan persoalan integrasi Timor Timur dan
menekan Indonesia untuk melakukan referendum (jajak pendapat/proses pemungutan
suara untuk mengambil sebuah keputusan terutama keputusan politik yang
memengaruhi suatu negara)
Dalam perjalanan waktu sesudah
daerah Timor Timur berintegrasi dengan Indonesia, ada beberapa peristiwa
penting yang terjadi. Peristiwa-peristiwa itu antara lain, sebagai berikut :
- Pada tanggal 7 Mei 1977,
pasukan Fretilin mengklain bahwa mereka menguasai 80 % wilayah Timor Timur.
- Pada tanggal 28 November 1977,
Majelis Umum PBB menolak integrasi Timor Timur ke dalam wilayah Indonesia dan
menyerukan penentuan nasib sendiri dilaksanakan.
- Pada tanggal 20 November 1978,
Majelis Umum PBB menyerukan penarikan pasukan Indonesia dari Timor Timur.
- Pada tanggal 16 Agustus 1985,
dalam pidato HUT ke-40 RI, presiden Soeharto membenarkan invasi (aksi militer
dari angkatan bersenjata suatu negara untuk memasuki daerah yang dikuasai oleh
negara lain) ke Timor Timur sebagai respons terhadap gerakan rakyat Timor Timur
yang ingin membebaskan diri dari belenggu kolonialisme.
- Pada tanggal 18 Agustus 1985,
Perdana Menteri Australia, Bob Hawke mengakui kedaulatan Indonesia terhadap
Timor Timur.
- Pada tanggal 9 Desember 1985,
pemerintah Indonesia dan Australia mengumumkan bahwa akan diadakan penambangan
minyak di Celah Timor.
- Pada tanggal 5 November 1988,
presiden Soeharto mengumumkan delapan dari 13 kabupaten di Timor Timur dibuka
bagi orang Indonesia dan asing.
- Pada tanggal 12 November 1991,
terjadi penembakan terhadap demonstran di pemakaman Santa Cruz. Pada saat itu
massa demonstran sedang memperingati tewasnya Sebastio Gomes, seorang aktivis
prokemerdekaan beberapa waktu sebelumnya. Peristiwa ini kemudian dikenal dengan
Insiden Santa Cruz.
- Pada tanggal 20 November 1992,
Xanana Gusmao ditangkap dengan tuduhan sebagai otak demonstrasi di Santa Cruz.
- Pada tanggal 20 Juli 1993,
pemerintah memberi jalan bagi perundingan antara orang Timor Timur yang pro dan
anti-integrasi.
Komentar
Posting Komentar