Postingan

Menampilkan postingan dengan label Sastra

Teori Ekuivalensi Menurut Mona Baker

Mona Baker dalam bukunya yang berjudul In Other Words: A Coursebook on Translation (1992) memperkenalkan teori penerjemahan dengan mengutamakan kesetaraan dari segi leksikal, gramatikal, tekstual dan pragmatik. Ekuivalensi Leksikal Ekuivalensi leksikal adalah konsep penerjemahan untuk mencapai kesetaraan antar kata yang memiliki arti yang sama tanpa memperhatikan konteks, sehingga dapat saling menggantikan atau menjadi rujukan. Untuk menciptakan kesetaraan kata dengan konsep ini, penerjemah sering melakukan proses afiksasi kata, seperti penambahan imbuhan di awal kata (prefiks), penambahan imbuhan di akhir kata (sufiks), penambahan sisipan (infiks) dan imbuhan gabungan antara akhiran dan awalan (konfiks). Contoh: 1. The apple fell near my feet. Terjemahan: Apel itu terjatuh  dekat kakiku.  Sebenarnya, kata fell dapat diterjemahkan ke kata jatuh . Tetapi, terjemahan di atas menambahkan imbuhan ter- pada kata jatuh untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi secara tiba-t...

Teori Ekuivalensi Menurut Jakobson dan Nida

Dalam ilmu linguistik, ekuivalensi adalah kesepadanan atau kesetaraan kata. Dalam penerjemahan, ekuivalensi bertujuan untuk mencari terjemahan yang setara atau memiliki makna paling dekat dengan kata dari bahasa sumber. Berikut para ahli yang mencetus tentang teori ekuivalensi: Roman Jakobson Dalam karyanya, On Linguistic Aspects of Translation (1959, 2000), Roman Jakobson menjelaskan tiga jenis penerjemahan, yaitu:  Penerjemahan Intralingual Penerjemahan intralingual adalah proses menerjemahkan teks ke dalam bahasa yang sama. Proses memparafrasekan kalimat termasuk penerjemahan intralingual. Penerjemahan ini dapat dilakukan dengan menyederhanakan suatu kata atau memperjelas suatu kata dengan menambah kosakata atau mengganti dengan kosakata lain yang lebih mudah dipahami. Contoh: 1. Pasar tradisional di jalan itu akan direlokasikan . Terjemahan: Pasar tradisional di jalan itu akan dipindahtempatkan ke tempat baru. 2. Don't let it  happen !. Knock on wood !. Terjemahan: Don't l...

Diglossia, Polyglossia, Code Mix Dan Code Switching Dalam Sosiolinguistik

Dalam bidang sastra, terdapat ilmu yang mengkaji hubungan antara masyarakat dan bahasa, yaitu sosiolinguistik. Bahasa yang digunakan saat terjadi interaksi antar individu dapat berubah karena dipengaruhi faktor budaya, status atau peran sosial, pendidikan, jenis kelamin, usia dan konteks bahasan. Berikut istilah-istilah yang dipelajari dalam ilmu sosiolinguistik: Diglossia (Diglosia) Diglossia adalah fenomena sosiolinguistik dalam masyarakat yang menggunakan dua ragam bahasa sesuai situasi dan kondisi, yaitu ragam tinggi untuk situasi formal dan ragam rendah untuk situasi informal. Diglossia dapat terjadi dalam bahasa lisan maupun tulisan. Ragam tinggi digunakan dalam karya sastra, karya ilmiah, proposal, dokumen dan lain-lain. Sementara, ragam rendah digunakan dalam karya fiksi terutama pada bagian dialog antar tokoh.  Menurut Sumarsono (2007:192), ragam rendah lebih dulu diperoleh atau dikuasai oleh penutur karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, sedangkan ragam tinggi dip...