Diglossia, Polyglossia, Code Mix Dan Code Switching Dalam Sosiolinguistik
Dalam bidang sastra, terdapat ilmu yang mengkaji hubungan antara masyarakat dan bahasa, yaitu sosiolinguistik. Bahasa yang digunakan saat terjadi interaksi antar individu dapat berubah karena dipengaruhi faktor budaya, status atau peran sosial, pendidikan, jenis kelamin, usia dan konteks bahasan. Berikut istilah-istilah yang dipelajari dalam ilmu sosiolinguistik:
Diglossia (Diglosia)
Diglossia (Diglosia)
Diglossia adalah fenomena sosiolinguistik dalam masyarakat yang menggunakan dua ragam bahasa sesuai situasi dan kondisi, yaitu ragam tinggi untuk situasi formal dan ragam rendah untuk situasi informal. Diglossia dapat terjadi dalam bahasa lisan maupun tulisan. Ragam tinggi digunakan dalam karya sastra, karya ilmiah, proposal, dokumen dan lain-lain. Sementara, ragam rendah digunakan dalam karya fiksi terutama pada bagian dialog antar tokoh.
Menurut Sumarsono (2007:192), ragam rendah lebih dulu diperoleh atau dikuasai oleh penutur karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, sedangkan ragam tinggi diperoleh melalui pendidikan formal.
Sebagian besar kosakata ragam tinggi dan ragam rendah hampir sama meskipun ada beberapa kosakata dalam ragam tinggi yang tidak memiliki padanan dalam ragam rendah dan sebaliknya.
Diglossia berbeda dengan bilingual. Bilingual mengacu pada individu yang berbicara dengan menggunakan dua bahasa, sedangkan diglossia mengacu pada penggunaan ragam formal dan ragam informal atau kata baku dan kata non baku.
Polyglossia (Poliglosia)
Sebagian besar kosakata ragam tinggi dan ragam rendah hampir sama meskipun ada beberapa kosakata dalam ragam tinggi yang tidak memiliki padanan dalam ragam rendah dan sebaliknya.
Diglossia berbeda dengan bilingual. Bilingual mengacu pada individu yang berbicara dengan menggunakan dua bahasa, sedangkan diglossia mengacu pada penggunaan ragam formal dan ragam informal atau kata baku dan kata non baku.
Polyglossia (Poliglosia)
Polyglossia adalah fenomena sosiolinguistik dalam masyarakat yang menggunakan tiga atau lebih bahasa. Polyglossia berbeda dengan multilingual. Polyglossia mengacu pada seseorang yang mempelajari tiga atau lebih bahasa karena minat, antusiasme atau hobby, sedangkan multilingual mengacu pada seseorang yang terbiasa menggunakan lebih dari dua bahasa dalam kehidupan sehari-hari atau menggunakan lebih dari dua bahasa karena kebutuhan.
Contoh polyglossia:
Seorang mahasiswa mempelajari bahasa Inggris untuk lomba pidato di ajang internasional, sementara ia menggunakan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari dan pernah mempelajari bahasa Arab saat menjadi santri di pesantren.
Contoh multilingual:
Seorang dosen menggunakan ragam tinggi atau kata baku dalam lingkungan kampus, menggunakan ragam rendah atau kata non baku saat berbicara dengan anak dan istrinya, dan berbicara menggunakan bahasa Jawa saat berbicara dengan kedua orangtuanya di kampung halaman.
Code Mix (Campur Kode)
Code mix adalah fenomena linguistik saat penutur bilingual atau multilingual menggabungkan kata, frasa atau klausa dari dua bahasa atau lebih menjadi satu kalimat.
Contoh:
1. At least, dia sudah mencoba meskipun dia harus gagal.
2. Ini better daripada sebelumnya.
3. Sorry, aku lupa membawa buku yang ingin kamu pinjam.
1. At least, dia sudah mencoba meskipun dia harus gagal.
2. Ini better daripada sebelumnya.
3. Sorry, aku lupa membawa buku yang ingin kamu pinjam.
Code Switching (Alih Kode)
Code switching adalah fenomena linguistik saat penutur bilingual atau multilingual beralih bahasa dari suatu bahasa ke bahasa lain tetapi tidak dalam satu kalimat atau ujaran.
Contoh:
1. Up to you!. Aku tidak ingin terlibat.
2. Let and see!. Apakah dia akan memenuhi janjinya.
3. Dia menerima tawarannya. What about me?.
1. Up to you!. Aku tidak ingin terlibat.
2. Let and see!. Apakah dia akan memenuhi janjinya.
3. Dia menerima tawarannya. What about me?.
Komentar
Posting Komentar