Rangkaian
listrik jembatan adalah rangkaian menyerupai jembatan yang digunakan untuk
mengukur besaran listrik, seperti resistansi, kapasitansi dan induktansi. Pada
rangkaian listrik jembatan, galvanometer berperan sebagai jembatan.
-Resistansi
berfungsi untuk menghambat arus listrik.
-
Kapasitansi berfungsi untuk menyimpan muatan listrik.
-
Induktansi berfungsi untuk menghasilkan medan magnet.
Umumnya,
rangkaian listrik jembatan memiliki empat hambatan atau tahanan.
Berikut
jenis-jenis rangkaian listrik jembatan :
a.
Jembatan Wheatstone
Jembatan
Wheatstone ditemukan oleh Samuel Hunter Christie dan dipopulerkan oleh Sir
Charles Wheatstone. Jembatan Wheatstone digunakan untuk mengukur resistansi
atau nilai hambatan saat arus yang melalui galvanometer sama dengan nol.
Jembatan
Wheatstone memiliki tiga bentuk sebagai berikut :
Menghitung Hambatan Pengganti
Hambatan
pengganti adalah hambatan yang memiliki nilai sama besar pada setiap resistor
rangkaian seri maupun rangkaian paralel. Cara menghitung hambatan pengganti
adalah dengan menghitung secara silang antara R1 dan R3,
serta R2 dan R4. Ada dua kondisi dari hasil perkalian
silang resistor, yaitu tidak sama dan sama.
Apabila
hasil perkalian silang antara R1 dan R3 sama dengan
perkalian antara R2 dan R4, maka hambatan pengganti (R5)
diabaikan atau dianggap tidak ada.
Rumus Hambatan Pengganti :
Rangkaian
seri R1 dan R4 (R1,4) : R1
+ R4
Rangkaian
seri R2 dan R3 (R2,3) : R2
+ R3
Hambatan
pengganti total = Rangkaian paralel : 1/Rp = 1/R1,4 + 1/R2,3
Apabila
hasil perkalian silang antara R1 dan R3 tidak sama dengan
perkalian antara R2 dan R4, maka diperlukan hambatan
bantu.
Hambatan
bantu dapat disusun sebagai berikut :
Yang
mana hambatan R1, R2 dan R5 diganti dengan
hambatan Ra, Rb dan Rc.
Rumus Hambatan Bantu :
Ra
= R1 x R2
R1 + R2 + R5
Rb
= R1 x R5
R1 + R2 + R5
Rc
= R2 x R5
R1 + R2 + R5
Rumus Hambatan Pengganti :
Rangkaian
seri Rb dan R4 (Rb,4) : Rb
+ R4
Rangkaian
seri Rc dan R3 (Rc,3) : Rc
+ R3
Rangkaian
paralel : 1/Rp = 1/Rb,4 + 1/Rc,3
Hambatan
pengganti total (Rtotal) : Ra + Rp
Jembatan Wheatstone dengan Galvanometer dan Baterai
Arus yang
melalui galvanometer bergantung pada beda potensial antara titik c dan d.
Jembatan dikatakan seimbang apabila beda potensial sama dengan nol volt atau
tidak ada arus yang mengalir melalui galvanometer. Apabila tidak ada arus
listrik yang melewati galvanometer, maka Vbd = 0 dan ig =
0. Hal ini menyebabkan Vab = Vad dan Vbc = Vdc,
serta i1 = i3 dan i2 = i4.
Simbol E adalah energi yang berasal dari baterai.
Apabila
jembatan dalam keadaan seimbang (ig = 0), maka berlaku persamaan
sebagai berikut :
R1
R3 = R2 R4
i3
. R3 = i1 . R1
ix
. Rx = i2 . R2
i1
= i3 = E/R1 + R3
i2
= i4 = E/R2 + R4
Sehingga jika
i1
. R1 = i2. R2
E . R1 = E . R2
R1
+ R3 R2 + R4
Berdasarkan
perasamaan tersebut dihasilkan rumus untuk menghitung nilai hambatan yang tidak
diketahui (Rx).
Rx
= R2 . R3
R1
Ketika
saklar (S) dihubungkan, arus listrik akan mengalir dan jarum galvanometer akan
menyimpang ke kiri atau ke kanan. Untuk membuat jembatan dalam kondisi
seimbang, kita dapat menggeser-geser kotak yang terletak sepanjang kawat (l),
hingga jarum galvanometer menunjukkan angka nol. Kotak tersebut membagi seutas
kawat menjadi dua segmen, sehingga rangkaian memiliki dua luas penampang (l)
Rx l1 = R1 l2
atau
Rx
= l2 x R1
l1
Apabila
keempat nilai resistor dan sumber tegangan diketahui, serta arus galvanometer
dapat diabaikan karena hambatan yang galvanometer yang cukup tinggi, maka nilai
tegangan galvanometer (Vg) dapat diketahui dengan rumus :
Vg
= (Rx /R3 + Rx - R2/R1
+ R2) . Vs
Sensitivitas
galvanometer diperlukan untuk mendeteksi kondisi seimbang atau tidak seimbang
jembatan Wheatstone. Galvanometer-galvanometer yang berbeda tidak hanya
memiliki sensitivitas arus, tetapi juga memiliki tahanan dalam yang berbeda. Untuk
mengetahui sensitivitas galvanometer adalah dengan mengubah jembatan Wheatstone
menjadi tegangan Thevenin (Vth). Pengganti Thevenin diperoleh dengan
memindahkan galvanomenter dari rangkaian atau mengganti baterai dengan tahanan
dalamnya atau tahanan Thevenin (Rth).
Ecd
= Eac – Ead = i1.R1 – i2.R2
Ecd
= E (R1/R2 + R3 - R2/R2
+ R4)
Apabila tahanan dalam baterai sangat rendah, maka akan
mudah menghasilkan pengganti Theveninnya. Apabila tahanan dalam baterai sama
dengan nol, maka akan terjadi hubungan singkat antara titik a dan titik b.
Apabila hal ini terjadi, tahanan pengganti Thevenin ditentukan dengan memeriksa
terminal c dan d, hingga berlaku ketentuan sebagai berikut :
Rm = R1 . R3 + R2
. R4
R1
+ R3 R2 + R4
Apabila detektor nol dihubungkan ke terminal –
terminal keluaran rangkaian pengganti Thevenin, maka arus galvanometer mejadi
ig = Em/ Rm + Rg
b. Jembatan
Wien
Jembatan Wien
ditemukan oleh Max Wien. Jembatan Wien merupakan jembatan arus bolak-balik yang
digunakan untuk mengukur frekuensi tertentu. Jembatan Wien berperan sebagai
osilator. Frekuensi yang dihasilkan oleh jembatan Wien sekitar 1 Hz - 1 MHz.
Osilator adalah suatu rangkaian yang dapat
menghasilkan keluaran berupa gelombang dengan amplitudo yang berubah-ubah pada
periode waktu tertentu.
Jembatan Wien memiliki sebuah kombinasi seri resistor (R)
dan kapasitor (C) di satu lengan, serta sebuah kombinasi paralel resistor (R)
dan kapasitor (C) di lengan lainnya.
Apabila jembatan Wien dalam kondisi seimbang, maka berlaku
persamaan sebagai berikut :
R2/ R4 = R1C1
. R3C3
⍵C3R1R4
= R4/⍵C1R4
f = 1
2Ï€√C1C3R1R3
Impedansi (Z)
adalah hasil penggabungan antara nilai resistor dan nilai reaktansi dalam
rangkaian arus bolak-balik. Nilai reaktansi berasal dari nilai hambatan pada
kapasitor dan induktor. Satuan impedansi sama dengan satuan resistansi, yaitu
Ohm. Oleh karena itu, impedansi dapat digunakan untuk mengganikan resistansi.
Kebalikan dari
impedansi adalah admitansi. Admitansi (Y) adalah perbandingan arus listrik
efektif terhadap tegangan efektif sebagai sinyal listrik dalam rangkaian arus
bolak-balik. Satuan admitansi adalah Siemens.
Apabila lengan
satu mengalami impedansi, maka berlaku rumus :
Z1 = R1 – j/⍵ .C1
Apabila lengan
tiga mengalami admitansi, maka berlaku rumus :
Y3 = 1/R3 + j . ⍵ . C3
Dalam kondisi
seimbang, dengan menggunakan persamaan dasar dan memasukkan nilai-nilai yang
tepat, maka berlaku persamaan sebagai berikut :
R2 =
(R1 – (j/⍵C1)) R4 (1/R3 + j . ⍵ . C3)
Berdasarkan
persamaan tersebut diperoleh :
R2 =
R1.R4/R3 + (j . ⍵ . C3R1R4) – j . R4/⍵ . C1R3
+ R4C3/C1
Dengan
menyamakan bagian-bagian nyata diperoleh :
R2 =
R1R4/R3 + R4C3/C1
Lalu menjadi
R2/R4
= R1/R3 + C3/C1
Dengan menyamakan bagian-bagian khayal diperoleh :
C3R1R3 = R4/⍵.C1R1
Bagian-bagian nyata dari impedansi adalah resistansi (R), sedangkan
bagian-bagian khayal dari impedansi adalah reaktansi (X).
Kapasitor C1 dan C3 merupakan kapasitor tetap.
Resistor R1 dan R2 merupakan tahanan variabel yang
dikontrol oleh sebuah poros yang sama.
Dengan menetapkan R2 = 2.R4, jembatan dapat digunakan
untuk mengukur frekuensi yang seimbang dan memiliki pengontrol tunggal. Karena
adanya sensitivitas frekuensi, berbagai jenis gelombang, kecuali gelombang
sinusoida sulit dibuat seimbang. Apabila jembatan Wien sulit diseimbangkan,
harmonik-harmonik akan menghasilkan tegangan keluar.
Pada frekuensi rendah, reaktansi kapasitif (C1) yang dipasang
secara seri bernilai sangat tinggi menyebabkan sirkuit terbuka dan memblokir
sinyal input pada titik Vin, sehingga sinyal output pada titik Vout
hampir tidak ada.
Pada frekuensi rendah, reaktansi kapasitif (C2) yang dipasang
secara paralel bernilai sangat rendah. Kapasitor yang terhubung secara paralel
mengalami korsleting pada titik output, sehingga sinyal output menjadi tidak
ada.
Saat tegangan output mencapai nilai maksimum, titik frekuensi pada C1
menjadi terhubung dan terbuka, sedangkan titik frekuensi pada C2 menjadi
mengalami hubungan singkat. Nilai frekuensi dari gelombang masukan disebut
frekuensi resonansi.
Pada frekuensi resonansi, reaktansi kapasitif sama dengan resistansinya (Xc
= R) dan perbedaan sudut fase antara sinyal keluaran dan sinyal masukan sama
dengan 0°. Oleh karena itu, tegangan output (Voutput) maksimum
sama dengan 1/3 (sepertiga) tegangan input (Vinput).
c. Jembatan
Kelvin
Jembatan Kelvin
merupakan hasil modifikasi jembatan Wheatstone. Jembatan Wien dapat mengukur
tahanan-tahanan rendah di bawah 1 Ohm dengan lebih teliti daripada jembatan
Wheatstone. Di beberapa negara, jembatan Kelvin lebih dikenal dengan nama
jembatan Thomson, sesuai dengan nama penemunya, yaitu William
Thomson. Jembatan Kelvin menggunakan 7 tahanan, tetapi cara kerjanya sama
dengan jembatan Wheatstone.
Berdasarkan
gambar tersebut, Ry merupakan tahanan kawat penghubung antara R3
dan Rx. Ada tiga kondisi yang akan dihasilkan apabila galvanometer
dihubungkan ke titik m, n atau p.
Apabila
galvanometer dihubungkan ke titik m, nilai tahanan Ry dijumlahkan
dengan tahanan Rx yang tidak diketahui nilainya dan akan
menghasilkan indikasi Rx yang sangat tinggi.
Apabila
galvanometer dihubungkan ke titik n, nilai tahanan Ry dijumlahkan
dengan tahanan R3 dan akan menghasilkan nilai tahanan Rx
yang jauh lebih rendah karena nilai tahanan R3 menjadi lebih besar
dari nilai tahanan Ry.
Apabila
galvanometer dihubungkan ke titik p yang berada di antara titik m dan titik n,
perbandingan antara titik m ke titik p dan titik n ke titik p sama dengan
perbandingan antara tahanan Rx dan R2.
Rnp = R1
Rmp R2
Jika nilai R3/Rx
dan R1/R2 seimbang, maka kondisi jembatan Kelvin akan
seimbang. Apabila jembatan Kelvin dalam kondisi seimbang akan diperoleh :
Rx +
Rnp = R1 (R3 + Rmp)
R2
Jembatan Ganda
Kelvin
Pada jembatan
ganda Kelvin ditambahkan tahanan a dan b yang berperan sebagai lengan
pembanding. Nilai perbandingan anatra tahanan a dan b sama dengan nilai
perbandingan R1 dan R2, sehingga berlaku persamaan
berikut :
a/ b = R1/R2
Lengan a dan b
menghubungkan galvanometer ke titik p, sehingga dapat memperkecil atau
menghilangkan pengaruh dari tahanan Ry. Nilai galvanometer akan nol
apabila beda potensial titik k sama dengan beda potensial titik p atau Vkl
= Vimp.
Nilai Vkl
dapat diketahui dengan rumus :
Vkl
= i . R2
Vkl =
R2 . E
R1 + R2
Vkl
= R2 . i/R1 + R2 . [R3 + RX
+ (a + b) Ry/(a + b + Ry)]
Nilai Vimp
dapat diketahui dengan rumus :
Emp
= i {R3 + b/(a+b) [(a + b) Ry/(a + b + Ry)]}
Untuk mencari
nilai Rx pada jembatan Kelvin dapat menggunakan rumus berikut :
Rx =
R1 R3 + b Ry
. (R1/R2 - a/b)
R2 (a + b + Ry)
atau
Rx =
R3 . R1
R2
d. Jembatan
Maxwell
Jembatan
Maxwell digunakan untuk mengukur induktansi yang tidak diketahui dengan
membandingkannya terhadap kapasitansi yang diketahui. Selain itu, jembatan ini
juga digunakan untuk mengukur resistansi yang dipasang secara seri dengan
sebuah induktor. Resistansi tersebut memiliki nilai yang relatif besar dengan
reaktansi induktif dari induktor. Jembatan Maxwell memiliki lengan pembanding
dengan sebuah tahanan yang dihubungkan secara paralel dengan kapasitansi.
Jembatan
Maxwell juga merupakan modifikasi dari jembatan Wheatstone. Jembatan Maxwell
ditemukan oleh James C Maxwell.
Apabila
jembatan Maxwell memiliki dua bilangan kompleks yang sama, maka bilangan nyata
pada ruas kiri dan kanan sama.
⍵LxR1 = ⍵R1R2R3C
Jembatan
Maxwell dalam kondisi seimbang apabila diperoleh :
Zx =
Z2 X3 Y1
Di mana
Z2 =
R2
Z3 =
R3
Y1 =
(1/R1) + j ⍵ C1
Y1
merupakan admitansi lengan 1. Persamaan-persamaan tersebut jika disubstitusikan
ke dalam persamaan Zx = Z2 X3 Y1
akan menghasilkan :
Zx =
Rx + j ⍵ Lx = R2 R3 (1/R1)
+ j ⍵ C1
Jembatan
Maxwell mencapai kondisi seimbang, apabila :
Rx =
R3 R2/ R1
Lx =
R2 R3 C1
Jembatan
Maxwell hanya dapat digunakan untuk mengukur kumparan yang memiliki muatan
listrik (Q) lebih rendah dari 1 sampai 10 (1 < Q < 10).
Satuan muatan listrik adalah Coulomb. Nilai Q dapat diketahui melalui
persamaan berikut :
Q = ⍵ L
R
Jembatan
dikatakan dalam kondisi seimbang jika sudut fase satu pasang lengan yang saling
berhadapan sama dengan sudut fase sepasang lengan lainnya, misalnya jika sudut
fase pada lengan 2 dan 3 sama dengan 0°, maka sudut fase pada lengan 1 dan 4
juga sama dengan 0°.
Untuk mengatur
keseimbangan jembatan Maxwell adalah dengan mengatur R3 untuk
keseimbangan induktif dan R1 untuk keseimbangan resistif. Apabila
kita mengatur keseimbangan R1, lalu kita mengatur keseimbangan R3
dan kembali mengatur keseimbangan R1, maka kita akan mendapat titik
seimbang yang baru. Pengaturan ini akan menghasilkan efek yang disebut seimbang
bergeser (sliding balance).
e. Jembatan
Hay
Jembatan Hay digunakan untuk mengukur induktansi yang
tidak diketahui yang memiliki kumparan muatan listrik (Q) yang tinggi (> 10
Ohm). Jembatan Hay merupakan jembatan modifikasi dari jembatan Maxwell. Salah
satu lengan jembatan Hay memiliki kapasitor yang digunakan untuk menyeimbangkan
nilai induktansi yang tidak diketahui, sedangkan lengan lainnya berisi
resistor.
Untuk menentukan nilai Q, jembatan Hay menggunakan
resistansi bernilai kecil. Sudut fase positif dari impedansi induktif dapat
dihubungkan dengan sudut fase negatif dari impedansi kapasitif ketika
diletakkan di lengan yang berlawanan dan rangkaian pada resonansi yang tidak
memiliki beda potensial di seluruh detektor karena tidak ada arus yang mengalir
melalui detektor.
Berdasarkan rangkaian jembatan Hay, diperoleh
persamaan sebagai berikut :
Z1 = R1 - (j/⍵ C1)
Z2 = R2
Z3 = R3
Zx = Rx + j ⍵ Lx
Pada jembatan Hay, kapasitor dihubungkan secara seri
dengan resistor. Pada jembatan Maxwell, kapasitor dihubungkan secara paralel
dengan resistor. Penurunan tegangan yang melintasi kapasitor dan resistor pada
jembatan Hay sangat bervariasi.
Induktansi yang tidak diketahui (Lx)
diletakkan di lengan ab dan dihubungkan dengan resistansi Rx.
Resistansi R1 dihubungkan dengan kapasitansi C1 secara
seri. Kapasitor C1 diletakkan di lengan cd dan berseberangan dengan
induktansi yang tidak diketahui tersebut. Resistor non-indukif R2
diletakkan di lengan ad, sedangkan resistor non-indukif R3 diletakkan
di lengan bc. Untuk mencari nilai induktansi yang tidak diketahui, frekuensi
suplai harus diketahui.
Nilai pada kapasitor C1 dan resistor Rx
disesuaikan untuk membuat kondisi jembatan menjadi seimbang. Saat jembatan
dalam kondisi seimbang, tidak ada arus yang mengalir melalui detektor yang
terhubung ke titik b dan titik c pada masing-masing ujungnya. Potensi penurunan
pada lengan ad dan cd sama dengan penurunan pada lengan ab dan bc.
Nilai impedansi pada masing-masing lengan jika
memenuhi persamaan berikut juga dapat menyebabkan kondisi jembatan menjadi
seimbang.
Z1/Z3 = Z2/Z4
atau
R1 - (j/⍵ C1) (Rx
+ j ⍵ Lx) = R2 R3
Yang diubah
menjadi
R1 Rx
+ Lx - j Rx + j ⍵ Lx R1 = R2 R3
C1 ⍵C1
Di mana
Rx = ⍵² C1² R1 R2 R3
1 + ⍵² C1² R1²
Lx =
R2 R3 C1
1 + ⍵² C1² R1²
Untuk
induktansi yang tidak diketahui (Lx) dan resistansi yang tidak
diketahui (Rx) dapat dihitung secara tepat jika nilai kecepatan
sudut fase ⍵ telah diketahui.
Rumus sudut
fase induktif :
Tan Ó¨L = XL + ⍵ Ls = Q
R Rs
Rumus sudut
fase kapasitif :
Tan Ó¨c = Xc/R = 1/⍵ C1 Rx
Keterangan
:
Ls
adalah induktansi stator
Rs
adalah resistansi stator
Berdasarkan 1 +
⍵² C1²
R1² diperoleh persamaan untuk nilai Lx sebagai berikut :
Lx =
R2 R3 C1
1 + (1/Q)²
Apabila nilai Q
lebih besar dari 10 Ohm, maka suku (1/Q)² dapat diabaikan.
Nilai Q dapat
diperoleh melalui persamaan berikut :
Q = ⍵ Lx =
1
Rx ⍵² C1R1
f. Jembatan
Schering
Jembatan Schering digunakan untuk mengukur kapasitansi
yang tidak diketahui dan mengukur sifat-sifat isolasi pada sudut-sudut fase
yang sangat mendekati 90°. Sifat-sifat isolasi dapat diukur dengan jenis
kapasitor udara. Kapasitor udara yang dirancang dengan cermat memiliki nilai
yang stabil dan medan listrik yang sangat kecil, sehingga isolator yang akan
diuji dapat dengan mudah dihindari dari medan listrik yang kuat.
Kapasitor standar biasanya berbahan mika yang bermutu
tinggi dan terletak pada lengan 3. Kapasitor mika tidak memiliki tahanan dan
memiliki sudut fase yang mendekati 90°.
Jembatan Schering memiliki lengan R1 yang
terhubung secara paralel dengan kapasitor C1. Suatu besaran yang
tidak diketahui nilainya biasanya memiliki sudut fase yang lebih kecil dari
90°. Agar hal ini tidak terjadi, lengan 1 harus diberi sudut fase kapasitif
yang kecil C1 yang dihubungkan secara paralel dengan R1.
C1 adalah kapasitor yang faktor dayanya akan diukur. R1
adalah tahanan ekivalen yang menyatakan komponen yang kehilangan daya
dielektriknya.
Pada lengan standar hanya terletak sebuah kapasitor
standar C2 yang tidak mengalami kehilangan daya. Jembatan Schering
dalam kondisi seimbang jika sudut fase lengan 1 dan 4 sama besar dengan sudut
fase lengan 2 dan 3. Karena kapasitor standar berada di lengan 3, maka sudut
fase lengan 2 dan 3 yaitu 0° + 90° = 90°. Untuk itu, nilai sudut fase lengan 1
dan 4 juga harus mencapai 90° agar jembatan mencapai kondisi seimbang.
Kondisi jembatan Schering yang seimbang akan memenuhi
persamaan sebagai berikut :
Zx = Z2 X3 Y1
Rx - j/⍵Cx = R2 (-j/⍵C3)
(1/R1 + j ⍵C1)
Dengan menyamakan bagian nyata akan diperoleh :
Rx = R2 C1/C3
Dengan menyamakan bagian khayal akan diperoleh :
Cx = C3 R1/R2
Faktor daya dari sebuah kapasitor dan resistor yang
dipasang secara seri digambarkan melalui cosinus sudut fase rangkaian atau
sudut cosinus antara arus listrik dan tegangan. Dengan demikian, faktor daya
yang tidak diketahui memenuhi persamaan berikut :
Pf = Rx/Zx
Sudut-sudut fase yang mendekati 90° menghasilkan
reaktansi yang bernilai hampir sama dengan impedansi, sehingga faktor daya yang
tidak diketahui dapat memenuhi persamaan berikut :
Pf ≈ Rx/Xx = ⍵Cx Rx
Kualitas (Q) sebuah kumparan diperoleh melalui
persamaan berikut :
Q = XL/RL
Selain faktor kualitas, jembatan Schering juga
memiliki faktor disipasi yang diperoleh dari D = 1/Q
Faktor disipasi adalah tangen dari sudut hilangnya
suatu isolator. Oleh karena itu, faktor disipasi termasuk faktor kerugian yang
mana kebalikan dari faktor kualitas (Q).
Dengan memasukkan nilai Cx dan Rx
akan memperoleh faktor disipasi sebagai berikut :
D = ⍵R1 C1
Jika resistor R1 memiliki nilai yang tetap, piringan
(dial) kapasitor C1 dapat dikalibrasi langsung dalam faktor
disipasi. Kalibrasi piringan C1 hanya berlaku untuk satu frekuensi
tertentu. Frekuensi yang berbeda dapat digunakan asalkan dilakukan pengalian
dalam pembacaan piringan C1 terhadap perbandingan dari kedua
frekuensi tersebut.
Contoh
1:
Berapa
besar hambatan pengganti pada rangkaian jembatan di atas?
Jawab
:
Berdasarkan hasil perkalian silang diperoleh
R1R3
≠ R2R4, sehingga R5 tidak dapat diabaikan
Ra
= R1 x R2
R1 + R2 + R5
= 3 x 2
= 6/9 = 0,7 Ω
3 + 2 + 4
Rb
= R1 x R5
R1 + R2 + R5
= 3 x 4
= 12/9 = 4/3 Ω
3
+ 2 + 4
Rc
= R2 x R5
R1 + R2 + R5
= 2 x 4 = 8/9 Ω
3 + 2 + 4
Rangkaian seri : Rb dan R4
Rb,4 = Rb + R4
= 4/3 + 2 = 2 4 = 8/3 = 2,7 Ω
3
Rangkaian seri Rc dan R3
Rc,3 = Rc + R3
= 0,9 + 1 = 1,9 Ω
Rangkaian paralel Rb,4 dan Rc,3
1/
Rb,4 Rc,3 = 1/
Rb,4 + 1/
Rc,3
=
1 +
1 8/3 8/9
= 3/8 + 9/8 = 12/8 = 1,5
Ω Hambatan total : Rangkaian Seri Ra dan Rb,4 Rc,3
Rtotal = Ra + Rb,4 Rc,3
= 0,7 + 1,5 = 2,2 Ω
Contoh
2 :
Sebuah
jembatan Wheatstone memiliki tegangan baterai 5 volt dan tahanan dalamnya
diabaikan. Sensitivitas arus galvanometer 8 mm/µA
dan tahanan dalam 110 Ohm. Tentukan defleksi galvanometer yang disebabkan oleh
ketidakseimbangan 5 Ohm dalam lengan db!.
Jawab : Em = E (R1/R2 + R3 - R2/R2 + R4)
= 5 . (120/80 + 65 - 80/80 + 40)
= 5 . (120/145 - 80/120)
= 5 . (
14400 - 11600)
17400
= 5 . (2.800/17400 = 0,8 V = 800 mV
R
m =
R1 . R3 +
R2 . R4
R1 + R3 R2 + R4
= 120 . 65 + 80 . 40
120 + 65 80 + 40
= 7800/185 + 3200/120
= 936000 + 592000
22200
= 344000/22200 = 15,5
ig = Em/ Rm + Rg
= 800/15,5 + 100 = 800/115,5 = 6,92
d = Si/ig = 8/6,92 = 1,16 mm
Contoh 3 :
Bila diketahui R1 = 6
KΩ, R2= 12 KΩ, R3 = 14 KΩ dan R4 = 8 KΩ dengan sumber tegangan 10 Volt dan
tahanan dalam diabaikan, serta galvanometer dengan tahanan dalam 35 Ohm.
Hitunglah beda potensial dan kuat arus pada galvanometer!.
Jawab :
i1
= E/R1 + R3
i2
= E/R2 + R4
Sehingga
Vcd
= Vac - Vad
= i1 R1 - i2 R2
= E R1 -
E R2
R1 + R3 R2 + R4
= 10 . 6 - 10 . 12
6 + 14 12 + 8
= 60/20 - 120/20 = -60/20 = -3 Volt
Vcd = Vth = -3 Volt, beda potensial
d lebih tinggi daripada c atau Vdc = 3 Volt
Rth = R1/R3 + R2/R4
= 6/14 + 12/8
= 24 + 84 = 108/56 =
1,93
56
ith = Vth
Rth + Rg
= 3 =
3/36,93 = 0,08 mA
1,93 + 35
Contoh 4 :
Jika tegangan yang
mengalir dari ujung kiri ke ujung kanan pada jembatan Wheatstone di atas
sebesar 54 Volt, berapa kuat arus pada rangkaian tersebut?.
Jawab :
Berdasarkan hasil perkalian silang antara
R1 . R3 = 6 .12 = 72
R2 . R4 = 9. 8 = 72
R1R3 = R2R4,
sehingga R5 dapat diabaikan
Rangkaian seri R1 dan R2
R1,2 = R1 + R2
= 6 + 9 = 15
Rangkaian seri R3 dan R4
R3,4 = R3 + R4 =
12 + 8 = 20
Rangkaian paralel R1,2 dan R3,4
1/Rtotal = 1/R1,2 + 1/R3,4
= 1/15 + 1/20
= 4 + 3 = 7/60 = 60/7 = 8,6
60
Maka, kuat arus sebesar
I = V/Rtotal = 54/8,6 = 6,3 A
Contoh 5 :
Jika R
2
diparalelkan dengan resistor bernilai 6 Ohm tercapai keseimbangan, berapa besar
hambatan R
2?.
Jawab :
R1.R3 = R2.R4
3 . 6 = R . 12
18/12 = R
R = 9/6 = 3/2 = 1,5
R adalah gabungan antara R2 dengan
sebuah resistor 6 Ohm
R = R2(6)/R2 + 6
1,5 (R2+6) = 6R2
1,5R2 + 9 = 6R2
9 = 6R2 - 1,5R2 = 4,5R2
9/4,5 = R2
R2 = 2
Contoh 6 :
Tentukan besar
hambatan pengganti AB pada rangkaian jembatan di atas, serta kuat arus dan
tegangan jepit rangkaian tersebut!.
Jawab :
Berdasarkan perkalian silang antara
R1 . R4 = 4 . 6 = 24
R2 . R3 = 3 . 8 = 24
Diperoleh R1R4 = R2R3,
sehingga R5 dapat diabaikan
Rangkaian seri R1 dan R3
R1,3 = R1 + R3 = 4 + 8 =
12
Rangkaian seri R2 dan R4
R2,4 = R2 + R4 = 3 + 6 = 8
Maka,
RAB = R1,3 . R1,4/R1,3
+ R1,4
= 12 . 8/12 + 8 = 96/20 = 24/5 = 4,8
i = E /RAB + r = 15/4,8 + 4 = 15/8,8 = 1,7 A
VAB = i . RAB = 1,7 . 4,8 = 8,2
Volt
Contoh 7 :
Kondisi seimbang
rangkaian akan tercapai jika hambatan X dihubungkan secara seri dengan hambatan
senilai 5 Ohm dan hambatan Y dihubungkan secara paralel dengan hambatan senilai 8 Ohm, tentukan nilai hambatan X dan Y!.
Jawab :
Jika rangkaian dalam keadaan seimbang dan
diletakkan resistor secara seri pada lengan yang sama dengan X diperoleh :
4 . (x + 5) = 7 . Y
4x + 20 = 7Y
4x = 7Y - 20
Jika rangkaian dalam keadaan seimbang dan
diletakkan resistor secara paralel pada lengan yang sama dengan Y diperoleh :
4 . X = 7 . (8.Y/8 + Y)
4X = 7(8Y/8 + Y)
Berdasarkan persamaan tersebut diperoleh :
7(8Y/8 + Y) = 7Y - 20
8Y/8 + Y = 7Y - 20/7
8Y/8 + Y = Y - 2,8
8Y = (8 + Y) (Y - 2,8)
8Y - 2,8Y = Y² + 8Y - (8)(2,8)
5,2Y = Y² + 8Y - (8)(2,8)
Y² + 8Y - 5,2Y - (8)(2,8) = 0
Y² + 2,8Y - (8)(2,8) = 0
(Y - 8)(Y + 2,8) = 0
Y = 8
12X = 7Y - 20
12X = 7(8) - 20
12X = 56 - 20
X = 36/12 = 3
Contoh 8 :
Panjang kawat homogen
AB pada rangkaian tersebut adalah 65 cm. Ketika kotak geser C sedemikian
sehingga jarak CB 40 cm, maka jembatan seimbang atau galvanometer sama dengan
nol. Jika hambatan X disisipkan secara seri resistor 12 Ohm, maka jembatan
seimbang ketika kotak C digeser sejauh 20 cm dari kedudukan seimbang semula.
Tentukan nilai hambatan X dan Y!.
Jawab :
AB = 65 cm
CB = 40 cm
AC = AB - CB = 65 - 40 = 25 cm
Dalam kondisi seimbang diperoleh :
(X)(CB) = (Y)(AC)
X . 40 = Y . 25
Y = 40X/25 = 8X/5
Jika pada X disisipkan resistor 12 Ohm, maka
hambatan total = X + 12 Ohm
Ternyata sekarang jembatan seimbang jika
kotak C digeser sejauh 20 cm. Jadi nilai AC dan CB sekarang adalah
AC = 25 + 20 = 45 cm
CB = 65 - 45 = 20 cm
Dalam kondisi seimbang sekarang diperoleh :
(X + 12)(CB) = (Y)(AC)
(X + 12) (20) = (Y)(45)
20X + 240 = 45Y
Masukan nilai Y yang telah diperoleh
sebelumnya
20X + 240 = 45(8X/5)
(20X + 240)(5) = 360X
100X + 1200 = 360X
100X - 360x = -1200
-260X = -1200
X = -1200/-260 = 4,6
Sehingga nilai Y adalah
Y = 8X/5 = (8)(4,6)/5 = 36,8/5 = 7,4
Contoh 9 :
Tentukan frekuensi
maksimum dan minimum osilasi dari rangkaian osilator jembatan Wien yang
memiliki resistor 15 KΩ dan kapasitor variabel 1 nF ke 1000 nF!.
Jawab :
1nF = 1 x 10−9
F (untuk nilai kapasitor minimum)
1000 nF = 1000 x 10-9 F (untuk nilai kapasitor maksimum)
Resistor = 15 KΩ = 15 x 10³ Ω
Frekuensi osilasi untuk
jembatan Wien berlaku rumus :
f = 1/2Ï€RC
Maka,
fmaks = 1/2Ï€RC
= 1/2
(3,14)(15 x 10³)(1000 x 10-9)
=
1/94,2 x 10−3
=
1000/94,2 = 10,61 Hz
fmin = 1/2Ï€RC
= 1/2(3,14) (15 x 10³)(1 x 10−9)
= 1/94,2 x 10-6
= 1.000.000/94,2 = 10615,7 Hz
= 10,6 KHz
Contoh 10 :
Berapa nilai R
1
dan R
3 agar jembatan dalam kondisi seimbang?.
Jawab :
R3 = Lx /(R2)(C)
= 14
/(20)(0,02) = 14/0,4 = 35
R1 = R2 R3/Rx
= (20)(35)/30 = 700/30 = 23,33
Contoh
11 :
Panjang
kawat AC 100 cm dengan R
1 = 65 Ohm. Jarum galvanometer menunjukkan
angka nol pada saat kotak D digeser, hingga panjang A ke D 80 cm. Tentukan nilai
R
x!.
Jawab :
R1 = 65 Ohm
l1 = 80 cm
l2 = AC - AD = 100 - 80 = 20 cm
Rx . l1 = R1 . l2
Rx . 80 = 65 . 20
Rx = 1300/80 = 16,25 Ohm
Komentar
Posting Komentar