Teori Ekuivalensi Menurut Jakobson dan Nida
Dalam ilmu linguistik, ekuivalensi adalah kesepadanan atau kesetaraan kata. Dalam penerjemahan, ekuivalensi bertujuan untuk mencari terjemahan yang setara atau memiliki makna paling dekat dengan kata dari bahasa sumber.
Berikut para ahli yang mencetus tentang teori ekuivalensi:
Roman Jakobson
Dalam karyanya, On Linguistic Aspects of Translation (1959, 2000), Roman Jakobson menjelaskan tiga jenis penerjemahan, yaitu:
Penerjemahan Intralingual
Penerjemahan intralingual adalah proses menerjemahkan teks ke dalam bahasa yang sama. Proses memparafrasekan kalimat termasuk penerjemahan intralingual. Penerjemahan ini dapat dilakukan dengan menyederhanakan suatu kata atau memperjelas suatu kata dengan menambah kosakata atau mengganti dengan kosakata lain yang lebih mudah dipahami.
Contoh:
1. Pasar tradisional di jalan itu akan direlokasikan.
Terjemahan: Pasar tradisional di jalan itu akan dipindahtempatkan ke tempat baru.
2. Don't let it happen!. Knock on wood!.
Terjemahan: Don't let it come to pass!. God forbid!.
Penerjemahan Interlingual
Penerjemahan interlingual adalah proses menerjemahkan teks dari bahasa sumber ke bahasa sasaran.
Contoh:
1. We are on the same page.
Terjemahan: Kita dalam keputusan yang sama.
2. The girl had been whimpering because she wanted ice cream.
Terjemahan: Anak perempuan itu merengek karena ia ingin es krim.
Penerjemahan Intersemiotik
Penerjemahan intersemiotik adalah proses menerjemahkan sebuah tulisan ke dalam bahasa lisan. Penerjemahan teks ke dalam media gambar, musik dan gerakan juga termasuk dalam proses penerjemahan intersemiotik.
Contoh mengadaptasi novel menjadi sebuah film atau series, membuat ilustrasi dari sebuah lagu atau teks tertulis, membuat musik dari sebuah puisi atau teks tertulis atau mengadakan pertunjukan tari atau pantomim dari teks tertulis atau teks drama.
Eugene Nida
Ahli penerjemah lain yang mencetus teori penerjemahan berdasarkan ekuivalensi. Menurut Nida, penerjemahan adalah proses mereproduksi bahasa dari bahasa sumber ke bahasa sasaran untuk mencapai kesepadanan kata (ekuivalensi) dengan mempertimbangkan makna dan gaya bahasa sasaran. Pendapat ini tertulis dalam buku karyanya yang berjudul The Theory and Practice of Translation.
Teori penerjemahan dari Nida terbagi menjadi dua, yaitu:
Ekuivalensi Formal
Ekuivalensi formal (Formal Equivalence) adalah proses penerjemahan yang mempertahankan struktur kalimat atau struktur kata per kata, sehingga hasil terjemahan terasa tidak alami.
Ekuivalensi Dinamis
Ekuivalensi dinamis (Dynamic Equivalence) adalah proses penerjemahan di mana struktur kalimat terjadi perubahan karena penerjemah berfokus pada makna, gaya, emosi atau efek yang sama antara bahasa sumber dan bahasa sasaran.
Contoh:
1. See eye to eye
Ekuivalensi formal: Melihat mata ke mata.
Ekuivalensi dinamis: Sepakat.
2. Bloodline.
Ekuivalensi formal: Garis darah.
Ekuivalensi dinamis: Garis keturunan.
Berdasarkan kedua contoh tersebut di atas, disimpulkan bahwa banyak frasa dalam bahasa Inggris yang lebih tepat diterjemahkan dengan teori ekuivalensi dinamis. Sementara teori ekuivalensi formal lebih sering digunakan untuk menerjemahkan kata per kata.
Komentar
Posting Komentar