Teori Ekuivalensi Menurut Mona Baker

Mona Baker dalam bukunya yang berjudul In Other Words: A Coursebook on Translation (1992) memperkenalkan teori penerjemahan dengan mengutamakan kesetaraan dari segi leksikal, gramatikal, tekstual dan pragmatik.

Ekuivalensi Leksikal

Ekuivalensi leksikal adalah konsep penerjemahan untuk mencapai kesetaraan antar kata yang memiliki arti yang sama tanpa memperhatikan konteks, sehingga dapat saling menggantikan atau menjadi rujukan. Untuk menciptakan kesetaraan kata dengan konsep ini, penerjemah sering melakukan proses afiksasi kata, seperti penambahan imbuhan di awal kata (prefiks), penambahan imbuhan di akhir kata (sufiks), penambahan sisipan (infiks) dan imbuhan gabungan antara akhiran dan awalan (konfiks).

Contoh:

1. The apple fell near my feet.
Terjemahan: Apel itu terjatuh dekat kakiku. 

Sebenarnya, kata fell dapat diterjemahkan ke kata jatuh. Tetapi, terjemahan di atas menambahkan imbuhan ter- pada kata jatuh untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba.

2. Many kites were flying in the sky that afternoon.
Terjemahan: Banyak layang-layang berterbangan di langit sore itu.

Kata flying berasal dari kata fly yang mendapat akhiran -ing. Sebenarnya, kata flying dapat diterjemahkan ke kata terbang. Tetapi, terjemahan di atas menggunakan konsep konfiks karena subjek berjumlah lebih dari satu.

Ekuivalensi Gramatikal

Ekuivalensi gramatikal adalah konsep penerjemahan untuk mencapai kesetaraan makna walaupun terjadi perubahan struktur gramatikal atau terjadi perubahan bentuk kata, seperti kata kerja aktif menjadi kata kerja pasif atau sebaliknya, kata benda menjadi kata kerja, klausa menjadi frasa, pergeseran atau perpindahan elemen kata (transposisi) dan penggunaan kata ganti agar tidak terjadi pengulangan kata (pronomina).

Contoh:

1. His pants were stained with mud.
Terjemahan: Celananya bernoda lumpur.


Frasa were stained merupakan bentuk pasif, sedangkan kata bernoda merupakan bentuk aktif. Namun, keduanya memiliki makna yang sama.

2. The construction of the building took approximately one year.
Terjemahan: Gedung itu dibangun selama kurang lebih satu tahun.

Frasa the construction diterjemahkan ke bentuk kata kerja, yaitu dibangun. Sehingga kata kerja pada teks sumber, yaitu took tidak diterjemahkan, melainkan diganti dengan konjungsi, yaitu selama.  

Ekuivalensi Tekstual 

Ekuivalensi tekstual adalah konsep penerjemahan yang memperhatikan konteks kalimat dengan menganalisa struktur kalimat, sifat koherensi dan kohesif kalimat tersebut. Koherensi berhubungan dengan kalimat yang mengandung sebab-akibat, umum-khusus atau menggunakan konjungsi. Sementara, kalimat yang kohesif biasanya menggunakan pronomina atau pengulangan kata.

Contoh:

1. 50 hectares of land has been planted with oil palms. It replaced the forest area around the village.
Terjemahan: Lahan seluas 50 hektar yelah ditanami sawit. Lahan itu menggantikan kawasan hutan di sekitar desa.

Kata it secara harfiah diterjemahkan ke kata itu. Untuk menghasilkan kalimat yang lebih koheren dan mudah dipahami, kata it diterjemahkan secara spesifik ke kata lahan itu. 

2. Mother bought a kilo of chicken eggs. My sister likes to eat eggs.
Terjemahan: Ibu membeli sekilo telur ayam karena adikku suka memakannya.

Hasil terjemahan lebih koheren karena penambahan konjungsi karena dan lebih kohesif karena kata telur di akhir kalimat kedua diganti dengan imbuhan -nya.


Ekuivalensi Pragmatik 

Ekuivalensi pragmatik adalah konsep penerjemahan untuk mencapai kesetaraan dengan mempertimbangkan konteks, efek dan makna tersirat (implisit). 

Contoh:

1. She is an only child.
Terjemahan: Dia adalah anak tunggal.

Kata only secara harfiah berarti hanya. Tetapi, kata tersebut diterjemahkan secara koheren ke kata tunggal.

2. An applicant asked where the restroom was in the office.
Terjemahan: Seorang pelamar bertanya di mana toilet di kantor itu.

Kata restroom diterjemahkan ke kata toilet untuk memberi kesan lebih formal dan sopan. 

Non-Equivalence (Ketidaksetaraan)

Menurut Baker, ketidaksetaraan disebabkan karena perbedaan budaya, perbedaan bentuk, perbedaan tujuan, perbedaan tingkat ekspresif, konsep sematik yang kompleks, bahasa sasaran tidak memiliki kata yang lebih umum ataupun kata yang lebih spesifik, serta kata tertentu yang memiliki makna khusus, seperti idioms.

Dalam bukunya, Baker mengusulkan strategi untuk mengatasi ketidaksetaraan:

1. Superordinate atau hypernim, yaitu penggunaan kata yang lebih umum atau kurang spesifik.

Contoh:
He bought sneakers for Rp 400.000.
Terjemahan: Dia membeli sepatu seharga Rp 400.000.

Kata sepatu bersifat lebih umum. Imbuhan -s pada kata sneakers merujuk pada sepasang sepatu. Sementara terjemahannya tidak perlu menggunakan kata sepasang karena kata sepatu setelah kata beli secara langsung sudah merujuk pada sepasang sepatu.

2. Hyponym, yaitu penggunaan kata yang lebih spesifik dalam bahasa sasaran.

Contoh:
Ibu menasehati kami untuk mengonsumsi buah-buahan yang mengandung vitamin A untuk kesehatan mata kami.
Terjemahan: Mother advised us to eat tomatoes and pumpkin which contain vitamin A for eye health.

Hasil terjemahan menjadi lebih spesifik meskipun kalimat yang dihasilkan menjadi lebih panjang.

3. Subtitution, yaitu penggantian kata untuk mengurangi pengulangan kata dan penggantian kata untuk menyesuaikan budaya bahasa sasaran.

Contoh:
She fried the chicken over high heat until it turned black.
Terjemahan: Dia menggoreng ayam itu dengan api besar, hingga gosong.

Kata it tidak diterjemahkan agar tidak terjadi pengulangan kata. Kata turned black yang secara harfiah berarti berwarna kehitaman diterjemahkan ke kata gosong menyesuaikan kata dari budaya bahasa Indonesia.

4. Borrowing, yaitu peminjaman kata dari bahasa sumber. Apabila kata tersebut kurang dipahami dalam bahasa sasaran target, penerjemah biasanya memberikan penjelasan tambahan.

Contoh:
She looked elegant in her black dress.
Terjemahan: Dia tampak elegan dalam gaun hitamnya.

5. Parafrase dengan menggunakan kata yang terkait, yaitu penggunaan kata lain dalam bahasa sasaran yang memiliki makna yang sama atau keterkaitan dengan kata yang merupakan terjemahan literal atau harfiah dari bahasa sumber.

Contoh:
The new packaging is expected to increase product sales significantly.
Terjemahan: Kemasan baru menjadi media untuk meningkatkan penjualan produk secara signifikan.

Terjemahan menggunakan kata terkait dari teks sumber, seperti kemasan baru dan penjualan produk secara signifikan. Proses parafrase dengan memasukkan frasa menjadi media telah mengubah nuansa kalimat teks sumber dari keputusan atau harapan menjadi pernyataan.
 
6. Parafrase dengan menggunakan kata yang tidak terkait, yaitu penggunaan kata lain dalam bahasa sasaran yang tidak memiliki makna yang sama dengan yang sedang diterjemahkan dari bahasa sumber, sehingga makna yang disampaikan menjadi berubah.

Contoh:
The announcement letter emphasizes the obligation of business organizers to pay song copyright royalties.
Terjemahan: Dekret tersebut menekankan bahwa lagu atau musik yang diputar di tempat kegiatan usaha akan dikenakan royalti kepada pemilik usaha.

Hasil terjemahan hanya menggunakan dua kata terkait dari teks sumber, yaitu usaha dan royalti. Selebihnya kalimat merupakan hasil parafrase. Tetapi, pesan yang disampaikan tetap sama.

7. Omission, yaitu penghilangan kata atau frasa yang tidak diperlukan.

Contoh:
Usually he doesn't come late, sometimes he even comes early.
Terjemahan: Biasanya dia datang lebih awal.

Hasil terjemahan menghilangkan banyak kata yang tidak diperlukan, seperti frasa doesn't come, kata late, kata sometimes, kata he yang kedua dan kata even. Tanpa memasukkan terjemahan dari kata-kata tersebut, pesan atau makna yang disampaikan dari hasil terjemahan sudah jelas.

8. Addition, yaitu penambahan kata atau frasa untuk memperjelas makna atau menyesuaikan konteks budaya bahasa target.

Contoh:
Literacy must be improved to create a wise, critical and intelligent generation.
Terjemahan: Literasi harus ditingkatkan untuk menciptakan generasi yang bijak, kritis dalam berpikir dan cerdas dalam mengolah informasi.

Frasa dalam berpikir dan frasa dalam mengolah informasi merupakan penambahan frasa untuk memperjelas makna kalimat.

9. Ilustration, yaitu penerjemahan dengan mengilustrasikan makna dari kata atau frasa yang memiliki entitas fisik. Umumnya, proses penerjemahan mengubah kalimat deskriptif menjadi dialog.

Contoh:
Jason melambaikan tangan kepada kami dari dalam bus.
Terjemahan: "See you", said Jason from the bus.

Komentar

Populer Minggu Ini

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

4 Metode Penerjemahan Brislin dan 3 Metode Penerjemahan Dryden

Persen Dan Permil

Gerak Melingkar (Lintasan Miring, Bidang Vertikal, Di Atas Bukit Dan Lembah), Gaya Normal Dan Tegangan Tali

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Penggunaan Beyond, Be, Become, By, Out Of dan Ahead

Jembatan Wheatstone, Jembatan Wien, Jembatan Kelvin, Jembatan Maxwell, Jembatan Hay dan Jembatan Schering

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax