Hujan Asam, Hujan Buatan, Hujan Frontal, Hujan Muson, Hujan Orografis, Hujan Siklonal Dan Hujan Zenithal

Pernah mendengar istilah hujan es?. Hujan es adalah hujan yang turun pada suhu tinggi dan cuaca panas. Hujan es memiliki suhu di bawah 0 oC, sedangkan hujan deras memiliki suhu di atas 10 oC. Derajat keasaman (pH) hujan normal adalah 5,6.

Hujan Asam, Hujan Buatan, Hujan Frontal, Hujan Muson, Hujan Orografis, Hujan Siklonal Dan Hujan Zenithal

Ada beberapa jenis hujan, yaitu :

Hujan Asam

Hujan asam adalah hujan dengan pH < 5,6. Hujan asam terjadi ketika karbondioksida bereaksi dengan pH asam lemah yang terkandung dalam hujan pada umumnya, sehingga air menjadi bertambah asam. Air dengan pH di bawah 5 naik ke atas awan dan menggumpal. Ketika awan telah mencapai titik jenuh, maka air yang bersifat asam tersebut akan turun.

Selain itu, hujan asam dapat terbentuk secara alami melalui semburan dari gunung berapi, efek rumah kaca, kilang, emisi pembangkit listrik dan pencemaran udara berupa asap. Hujan asam dapat mempercepat terjadinya korosi pada besi. Hujan asam juga dapat meningkatkan kadar pH tanah dan permukaan air yang dapat membahayakan tanaman dan makhluk laut.

Dampak negatif hujan asam pada tanaman, antara lain :

- Lapisan lilin pada daun menjadi rusak, sehingga nutrisi menjadi hilang, serta menjadikan tanaman tidak tahan terhadap suhu dingin, jamur dan serangga.
- Pertumbuhan akar menjadi lambat
- Mineral-mineral penting menjadi hilang.
- Kerusakan hutan.

Selain itu, hujan asam dapat menyebabkan hewan di perairan mati, gangguan pernafasan dan menimbulkan efek rumah kaca. Istilah hujan asam pertama kali ditemukan oleh Robert Angus Smith yang berasal dari Inggris pada tahun 1852. Beliau mengamati bahwa hujan asam dapat menyebabkan kehancuran alam.

Meskipun tidak berdampak langsung pada manusia, tetapi endapan dari hujan asam dapat menyebabkan gangguan pernapasan, sakit kepala, iritasi hidung, iritasi tenggorokan, iritasi mata, asma, bronkitis atau kanker. Air keran yang terkontaminasi asam juga dapat menyebabkan kerusakan otak.

Hujan asam juga berdampak buruk bagi biota laut. Telur ikan tidak dapat menetas, hingga menyebabkan kematian hewan dan tumbuhan laut. 

Hujan Buatan

Hujan buatan dapat dibuat dengan cara menaburkan bahan kimia, yaitu argentium iodida atau perak iodida, garam NaCl dan CaCl2 ke dalam awan dari ketinggian 4000-7000 kaki untuk mempercepat pembentukan awan dan memengaruhi awan untuk berkondensasi (mengembun). Setelah awan berkondensasi, ditaburkan bubuk urea untuk menggabungkan kelompok-kelompok awan kecil, sehingga terbentuk awan besar berwarna abu-abu.

Larutan kimia yang mengandung air, urea dan amonium nitrat dengan perbandingan 4:3:1 ditaburkan setelah awan besar berwarna abu-abu terbentuk. Larutan ini berfungsi untuk mendorong awan hujan membentuk butir-butir air yang lebih besar, sehingga dapat terjadi hujan.

Untuk membuat hujan buatan diperlukan awan yang mengandung jenis-jenis air yang cukup dan kecepatan angin yang rendah.

Dampak negatif dari hujan buatan adalah timbulnya hujan asam, pencemaran tanah, menyebabkan tanah menjadi asin dan menyebabkan banjir, pemanasan global.

Hujan Frontal

Hujan frontal adalah hujan yang terjadi karena pertemuan massa udara yang dingin dan suhu yang rendah dengan massa udara yang panas dan suhu yang tinggi pada bidang front. Bidang front merupakan tempat terjadinya kondensasi dan pembentukan awan. Massa udara yang dingin dan suhu yang rendah lebih berat daripada massa udara yang panas dan suhu yang tinggi, sehingga uap yang terbawa udara dingin jatuh dengan lebat.

Hujan frontal terjadi pada daerah yang terletak pada pertengahan lintang utara dan selatan. Hujan frontal yang terjadi pada daerah beriklim tropis disebut hujan es. Hal ini disebabkan karena sinar matahari pada daerah perairan menyebabkan air naik atas secara konveksi, sehingga terjadi kondensasi dan pembentukan awan.

Titik udara yang naik secara kondensasi memiliki suhu yang sangat dingin, yaitu di bawah 0 oC, sehingga air yang naik menjadi beku. Pada saat awan mencapai titik jenuh, kristal-kristal es tersebut akan turun. Sebagian kristal-kristal tersebut akan mencair dengan cepat sebelum sampai ke permukaan bumi. Biasanya hujan es terjadi pada siang hari, dalam waktu yang tidak terlalu lama dan sangat lebat.

Hujan Muson

Pada bulan Oktober-Maret, matahari berada di belahan bumi selatan, tepatnya di sekitar benua Australia. Oleh karena itu, suhu pada benua Australia lebih tinggi daripada benua Asia. Suhu yang tinggi pada suatu daerah menyebabkan daerah tersebut mengalami tekanan yang lebih rendah.

Pada saat ini, tekanan pada benua Asia lebih tinggi daripada benua Australia. Udara/angin yang bergerak dari daerah bertekanan tinggi menuju daerah bertekanan rendah akan mengangkut banyak uap air ketika melewati samudera. Tepat pada saat, uap air akan melewati wilayah Indonesia, uap air mengalami kejenuhan, sehingga hujan turun. Hujan yang terjadi melalui proses ini disebut hujan muson.

Dengan kata lain, hujan muson disebabkan oleh angin muson, tepatnya angin muson barat.

Hujan Orografis

Hujan orografis adalah hujan yang terjadi karena adanya angin yang mengandung uap air yang bergerak secara horizontal. Ketika angin melewati penggunungan, suhu angin menjadi dingin, sehingga terjadi kondensasi. Akibat kondensasi, titik-titik air menjadi terbentuk dan mengendap, hingga terjadi hujan pada lereng gunung yang menghadap ke arah datangnya angin. Pada daerah lereng yang membelakangi arah datangnya angin tidak akan turun hujan.

Hujan Siklonal

Hujan siklonal merupakan hujan dengan udara panas, suhu tinggi dan angin yang berputar-putar. Hujan siklonal biasa terjadi pada daerah yang melewati garis khatulistiwa. Hujan siklonal terjadi karena pertemuan angin pasat timur laut dan angin pasat tenggara. Kedua angin yang bertemu tersebut akan naik dan menggumpal di atas awan yang berada di garis khatulistiwa.

Setelah awan mencapai titik jenuh, awan akan terlihat mendung/gelap dan turunlah hujan.

Hujan Zenithal

Hujan zenithal disebut juga hujan konveksi. Hujan zenithal adalah hujan yang terjadi karena adanya pertemuan angin pasat timur laut dengan angin pasat tenggara, sehingga membentuk gumpalan yang naik secara vertikal karena terkena pemanasan. Hujan zenithal biasa terjadi pada siang hari, tepatnya saat udara panas sedang memuncak.

Hal ini menyebabkan awan mengalami penurunan suhu dan terjadi proses kondensasi. Ketika air yang menggumpal telah mencapai titik jenuh, hujan akan turun ke permukaan bumi. Hujan zenithal biasa terjadi di atas garis khatulistiwa atau daerah beriklim tropis.

Kandungan Zat dalam Air Hujan

- Mengandung zat asam sulfat (H2SO4) yang cukup tinggi. Asam sulfat dapat menyebabkan kulit mengelupas, terasa perih seperti terbakar, menyebabkan gangguan pernafasan dan menyebabkan iritasi pada mata.

- Mengandung zat asam nitrat (HNO3) yang padat. Asam nitrat merupakan cairan korosif (cairan yang dapat merusak mata, kulit, sistem pernafasan dan lain-lain) yang tak berwarna dan beracun, bahkan dapat menyebabkan luka bakar.

- Mengandung Fly Ash atau Abu Terbang.

- Mengandung bakteri, alga dan jamur ketika jatuh ke bumi dan berinteraksi dengan makhluk hidup yang berhubungan dengan proses pembusukan.

- Mengandung bakteri coliform yang ada pada butiran air hujan jika ternyata air hujan telah terkontaminasi dengan kotoran hewan.

- Bakteri yang bersifat Airborne yang dihasilkan melalui angin dan udara pada saat hujan  berlangsung. Bakteri ini dapat menyebabkan gangguan pernafasan.


Artikel Terkait :


Komentar

Populer Minggu Ini

4 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengarang

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax

Persen Dan Permil

Filosofi Kartu Joker

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Stressed Syllable dan Unstressed Syllable

Penggunaan Besides, Apart From, In Addition, Than, Furthermore, Moreover, After that, Meanwhile dan Meantime