Jenis-Jenis Simplisia Dan Proses Pembuatan Simplisia
Simplisia
adalah bahan alami yang telah dikeringkan dan belum melalui proses pengolahan.
Simplisia
terbagi menjadi tiga, yaitu :
a.
Simplisia Nabati adalah simplisia berupa tanaman utuh, bagian dari tubuh
tanaman atau eksudat dari tanaman. Eksudat tanaman adalah isi sel yang
keluar/dikeluarkan dari tanaman.
b.
Simplisia Hewani adalah simplisia berupa hewan utuh, bagian dari tubuh hewan
atau eksudat dari hewan.
Keterangan
:
Eksudat
adalah cairan peradang pada bagian ekstravaskuler (di luar berkas pembuluh) pada tumbuhan. Eksudat juga dapat terjadi pada manusia yang mana cairan peradangan pada bagian ekstravaskuler mengandung 2-4 mg % protein dan
sel darah putih yang melakukan emigrasi atau transportasi.
c.
Simplisia Mineral adalah simplisia berupa bahan mineral yang belum diolah.
Simplisia
dapat dibentuk melalui proses pengeringan, fermentasi, penyulingan, pengentalan
eksudat dan penyaringan sari air.
Simplisia
terbagi menjadi lima jenis berdasarkan bentuknya, yaitu :
a.
Simplisia Utuh adalah simplisia yang belum mengalami pengolahan.
b.
Simplisia Rajangan adalah simplisia yang mengalami proses
pengupasan/pemotongan/perajangan, sehingga menjadi berukuran lebih kecil.
c.
Simplisia Serbuk adalah simplisia yang mengalami proses penghalusan menjadi
serbuk, seperti tepung beras dan lain-lain.
d.
Simplisia Ekstrak adalah simplisia yang mengalami proses ekstraksi, sehingga
menghasilkan ekstrak cair dan ekstrak padat.
e.
Simplisia Cair adalah simplisia berupa cairan murni atau hasil penyulingan,
seperti minyak jeruk, minyak cengkeh dan lain-lain.
Fermentasi
adalah proses penguraian senyawa organik untuk menghasilkan energi dalam
keadaan anaerobik (tidak memerlukan oksigen) maupun aerobik (memerlukan
oksigen).
Fermentasi
terbagi menjadi dua, yaitu :
-
Homofermentatif adalah fermentasi dengan produk akhir berupa asam laktat (C3H6O3). Contoh : yoghurt.
-
Heterofermentatif adalah fermentasi dengan produk akhir berupa asam laktat dan
etanol (C2H6O) yang berkapasitas sama. Contoh : tape.
Berikut
sekilas tentang asam laktat dan etanol
Asam laktat disebut juga asam susu. Asam laktat
merupakan asam karboksilat dengan satu gugus hidroksil yang menempel pada gugus
karboksil. Asam laktat mudah terlarut dalam air, sehingga mudah melepaskan ion
H+ dan membentuk ion laktat. Selain itu, asam laktat juga dapat
larut dalam alkohol.
Etanol disebut juga etil alkohol atau alkohol murni.
Etanol mudah terbakar dan menguap. Etanol tidak berwarna. Etanol digunakan
dalam pembuatan parfum, perasa makanan, pewarna makanan dan obat-obatan.
Dalam proses
fermentasi diperlukan mikroba. Proses fermentasi terbagi menjadi tiga jenis
berdasarkan produk yang dihasilkan, yaitu :
- Fermentasi
yang menghasilkan biomassa. Biomassa merupakan produk berupa tumbuhan atau
hewan yang masih hidup atau telah mati yang lalu digunakan sebagai sumber bahan
bakar dalam bidang industri. Biomassa berupa tumbuhan disebut biofuel (bahan
bakar hayati). Biomassa berupa hewan digunakan untuk produksi serat, bahan
kimia dan penghasil panas.
Berikut sekilas tentang biofuel
Biofuel
dapat berupa padatan, cairan atau gas yang dihasilkan dari bahan-bahan organik
untuk penghasil energi.
Proses
pembuatan biofuel, antara lain :
-
Proses pembakaran limbah organik kering.
-
Fermentasi limbah basah tanpa oksigen, sehingga menghasilkan biogas yang
mengandung 60 % metana.
-
Fermentasi tanaman yang mengandung gula, seperti tebu, bit gula dan sorgum
untuk menghasilkan etil alkohol dan ester.
-
Fermentasi tanaman yang mengandung pati/polisakarida, seperti jagung untuk
menghasilkan etil alkohol dan ester.
Biofuel
juga dapat diproduksi dengan menanam berbagai tanaman yang mengandung kadar
minyak nabati yang tinggi, seperti kelapa sawit, kedelai dan alga. Kadar
viskositas (kekentalan) minyak nabati yang dipanaskan akan berkurang, sehingga
dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel.
Tentang
viskositas dapat kamu pelajari lebih lanjut dalam artikel Viskositas Dan Fluida
Penggunaan
biofuel untuk penghasil energi dapat membantu mengurangi kadar karbondioksida
dalam atmosfer karena biofuel umumnya dihasilkan dari tanaman.
- Fermentasi
yang menghasilkan enzim.
- Fermentasi
yang menghasilkan metabolit dari mikroba. Metabolit merupakan intermediet/zat
antara (molekul yang tidak stabil yang memiliki waktu paruh yang sangat pendek)
dan produk dari metabolisme.
Metabolit
terbagi menjadi dua, yaitu :
- · Metabolit primer adalah senyawa yang bersifat esensial, sehingga berpengaruh dalam proses pertumbuhan sel/organisme. Contoh etanol, asam sitrat, karbohidrat, protein, lipid, asam nukleat, polisakarida, aseton, butanol dan vitamin.
- · Metabolit sekunder adalah senyawa yang tidak bersifat esensial, sehingga tidak berpengaruh dalam proses pertumbuhan sel/organisme.
Metabolit
sekunder berfungsi untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang tidak
menguntungkan. Contoh resin, antosianin, tanin, minyak atsiri, saponin,
antibiotik, inhibitor enzim (penghambat enzim) dan lain-lain.
Keterangan
:
Antosianin
adalah pigmen yang terdapat dalam tumbuhan dan bersifat mudah larut dalam air.
Tanin
adalah senyawa polifenol yang berasa pahit dan kelat. Tanin berasal dari
tumbuhan.
Saponin
adalah senyawa aktif dengan permukaan kuat yang dapat menimbulkan busa apabila
dikocok dalam air. Saponin tidak dapat digunakan dalam proses fermentasi karena
bersifat antimikroba.
Proses
fermentasi dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu suhu, waktu dan oksigen.
Setiap jenis mikroba membutuhkan suhu, waktu dan oksigen yang berbeda-beda
untuk proses pertumbuhan/pembelahan selama proses fermentasi.
Derajat
keasaman (pH) juga berperan dalam proses fermentasi. Makanan yang mengandung
asam lebih tahan lama. Jika proses fermentasi terus berlangsung dengan bantuan
oksigen secukupnya, maka daya awet dari asam akan hilang karena tingkat
keasaman berpengaruh pada perkembangan bakteri. Kadar keasaman yang baik untuk
bakteri adalah 4,5 – 5,5.
Pengeringan
simplisia tidak boleh terlalu lama dan tidak dengan suhu yang terlalu tinggi
karena akan menyebabkan perubahan pada kandungan senyawanya. Jika irisan
simplisia berukuran tebal, maka terlebih dahulu dilakukan pengupasan agar
mendapat tebal irisan yang sama sebelum melakukan proses pengeringan.
Simplisia
yang baik untuk melalui proses penyulingan adalah simplisia yang kering,
sehingga tidak mudah rusak selama proses pendidihan.

Komentar
Posting Komentar