Larutan Penyangga (Larutan Buffer) Dan Cara Menghitung pH Larutan Penyangga
Larutan penyangga atau larutan
buffer adalah larutan yang berperan untuk mempertahankan harga pH meskipun
terjadi perubahan dalam suatu larutan, seperti menambahkan asam, menambahkan
basa atau melakukan proses pengenceran.
Dalam bidang fotografi dengan
kamera analog, larutan buffer sangat berperan untuk menjaga harga pH agar tetap
pada kondisi 4 - 5,5, setelah film dimasukkan ke dalam larutan pengembang
(hidrokuinon (C6H6O2)) dan larutan asam asetat
yang telah dicampur dengan sodium sulfat untuk menetralkan sifat basa dari
film.
Dalam industri penyamakan kulit
(pengolahan kulit mentah menjadi kulit jadi dengan bahan penyamakan mineral),
larutan buffer pun sangat dibutuhkan. Penyamak mineral yang biasa digunakan
adalah unsur kromium dan aluminium.
Penyamak kromium untuk menghasilkan
kulit jaket, kulit glase dan lain-lain. Penyamak aluminium untuk menghasilkan
kulit berwarna putih. Industri penyamakan kulit dengan bahan penyamak kromium
akan melalui proses penetralan dengan menggunakan garam alkali. Untuk itulah
dibutuhkan larutan buffer.
Dalam bidang farmasi, larutan
buffer dibutuhkan untuk menetralkan darah pada kasus keracunan, untuk obat
suntik dan obat tetes mata. Pembuatan obat suntik dan obat tetes mata harus
disesuaikan dengan pH cairan tubuh pasien.
Mengenai cairan tubuh dapat
dipelajari dalam artikel Rahasia Di Balik Cairan Tubuh Pada Manusia
Cairan tubuh baik intrasel maupun
luar sel merupakan larutan penyangga.
Ketika manusia terserang penyakit, mekanisme
pengaturan pH dalam darah akan mengalami kegagalan antara mengalami kenaikan pH
(alkalosis) atau penurunan pH (asidosis).
Jika kondisi pH darah mencapai <
7,35, maka manusia mengalami asidosis.
Jika kondisi pH darah mencapai >
7,45, maka manusia mengalami alkalosis.
Biasanya asidosis disebabkan oleh
penyakit jantung, ginjal, kencing manis dan diare, sedangkan alkalosis
disebabkan oleh muntah-muntah dan hiperventilasi karena rasa cemas atau
histeris.
Apabila manusia berada di dataran
tinggi tanpa tambahan oksigen, pH darah dapat mencapai 7,7 - 7,8. Untuk itu
diperlukan hiperventilasi (pernafasan dengan cepat) agar dapat mengatasi tekanan
oksigen yang amat rendah (sekitar 43 mmHg).
Larutan penyangga dibedakan menjadi
dua jenis, yaitu :
a. Larutan Penyangga Asam
Larutan penyangga asam adalah
larutan yang mengandung asam lemah (HA) dab basa konjugasi (A-).
Proses pembuatan larutan penyangga
asam dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Mencampurkan asam lemah dengan
garam (LA), hingga menghasilkan basa konjugasi dari asam lemah tersebut.
Contoh : campuran dari larutan CH3COOH
dan CH3COONa akan menghasilkan CH3COO-.
2. Mencampurkan asam lemah dalam
jumlah berlebih dengan basa kuat, hingga menghasilkan garam yang mengandung
basa konjugasi dari asam lemah tersebut.
Contoh : campuran dari larutan CH3COOH
dan CH3COOK akan menghasilkan CH3COO-.
Rumus :
pH = pKa – log a/g
[H+] = Ka x [asam lemah]
[basa konjugasi]
Keterangan :
Ka = tetapan kesetimbangan asam
lemah
a = jumlah mol asam lemah
g
= jumlah mol basa konjugasi
basa konjugasi = garam
b. Larutan Penyangga Basa
Larutan penyangga basa adalah
larutan yang mengandung basa lemah (B) dan asam konjugasi (BH+).
Proses pembuatan larutan penyangga
basa dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu :
1. Mencampurkan basa lemah dengan
garam, hingga menghasilkan asam konjugasi dari basa lemah tersebut.
Contoh : campuran dari larutan NH4OH
dan NH4Cl akan menghasilkan NH4+.
2. Mencampurkan basa lemah dalam
jumlah berlebih dengan asam kuat, hingga menghasilkan garam yang mengandung
asam konjugasi dari basa lemah tersebut.
Contoh : campuran dari larutan NH4OH
dan (NH4)2SO4 akan menghasilkan NH4+.
Rumus :
pOH = pKb – log b/g
[OH-] = Kb x [basa lemah]
[asam konjugasi]
pH = 14 – pOH
Keterangan :
Kb = tetapan kesetimbangan basa
lemah
b = jumlah mol basa lemah
g
= jumlah mol asam konjugasi
asam konjugasi = garam
Cara Menghitung pH Larutan Penyangga
Diketahui larutan penyangga dari
100 mL larutan CH3COOH 0,1 M dengan 100 mL larutan CH3COONa
0,1 M. Berapakah pH jika dalam larutan penyangga ditambahkan :
a. 10 mL larutan HCl 0,1 M
b. 10 mL larutan NaOH 0,1 M
Jawab :
Terlebih dahulu mencari pH sebelum
ditambahkan larutan HCl maupun larutan NaOH agar bisa mengetahui perubahan
pH-nya.
100 mL dijadikan ke liter menjadi
0,1 L.
CH3COONa adalah garam
Ka dari CH3COOH biasanya
adalah 1 x 10-5.
mol CH3COOH = M x V =
0,1 x 0,1 = 0,01 mol
mol CH3COONa = M x V =
0,1 x 0,1 = 0,01 mol
Volume total = 0,1 + 0,1 = 0,2 L
Satuan molaritas (M) adalah mol/L,
meskipun rumus M = n/V, tetapi pada soal telah diketahui jumlah mol-nya, maka
berlaku rumus
[CH3COOH] = mol/L =
0,01/0,2 = 0,05 M
[CH3COONa] = mol/L =
0,01/0,2 = 0,05 M
[H+] = Ka x [asam
lemah]
[basa konjugasi]
= 1 x 10-5 x 0,05 = 1 x 10-5 M
0,05
pH = -log [H+]
= -log 10-5
= - (-5). log 10
= 5 . 1 = 5
Jadi, pH mula-mula adalah 5
a. pH
setelah ditambah larutan HCl
10 mL dijadikan liter = 0,01 L
mol HCl = M x V = 0,1 x 0,01 =
0,001 mol
Pada penambahan 0,001 mol HCl, maka
mol CH3COONa akan berkurang 0,001 mol karena HCl akan bereaksi
dengan CH3COONa.
Sisa CH3COONa = mol mula-mula
– mol bereaksi
= 0,01 – 0,001 =
0,009
Sisa CH3COOH = mol mula –
mula + mol HCl
= 0,01 + 0,001 = 0,011
Sisa HCl = mol mula-mula – mol bereaksi
= 0,001 – 0,001 = 0
[H+] = Ka x (mol CH3COOH)
(mol CH3COONa)
=
10-5 x 0,011 = 1,2 x 10-5 M
0,009
pH = -log [H+]
= -log 1,2 x 10-5
= - [log 1,2 + (-5) log 10]
= - [log 1,2 + (-5) 1]
= - [log 1,2 – 5]
= 5 – log 1,2
= 5 – 0,079 = 4,921
*log dari 1,2 bisa didapat dari
kalkulator online di Google, tinggal ketik log 1,2 =
b. pH
setelah ditambah larutan NaOH
10 mL dijadikan liter = 0,01 L
mol NaOH = M x V = 0,1 x 0,01 =
0,001 mol
Pada penambahan 0,001 mol NaOH,
maka mol CH3COOH akan berkurang 0,001 mol karena NaOH akan bereaksi
dengan CH3COOH.
Sisa CH3COOH = mol mula-mula
– mol bereaksi
= 0,01 – 0,001 =
0,009
Sisa CH3COONa = mol mula
– mula + mol NaOH
= 0,01 + 0,001 = 0,011
Sisa NaOH = mol mula-mula – mol bereaksi
= 0,001 – 0,001 = 0
[H+] = Ka x (mol CH3COOH)
(mol CH3COONa)
=
10-5 x 0,009 = 0,8 x 10-5 M
0,011
pH = -log [H+]
= -log 0,8 x 10-5
= - [log 0,8 + (-5) log 10]
= - [log 0,8 + (-5) 1]
= - [log 0,8 – 5]
= 5 – log 0,8
= 5 – (-0,096)
= 5 + 0,096 = 5,096
*log dari 0,8 bisa didapat dari
kalkulator online di Google, tinggal ketik -log 0,8=
Mengenai larutan asam basa dan cara menghitung logaritma tanpa kalkulator dapat
dipelajari dalam artikel Larutan Asam Basa (Konsentrasi Ion H+ Dan Ion OH-, Derajat Ionisasi Dan pH), sedangkan mengenai jenis-jenis garam dapat
dipelajari dalam artikel Zat Elektrolit, Zat Non Elektrolit Dan Jenis-Jenis Garam
Kapasitas (Daya Penahan) Larutan Penyangga
Kapasitas atau daya penahan dari
larutan penyangga bergantung pada jumlah mol dari komponen penyangga.
Semakin besar jumlah mol komponen
penyangga, maka semakin besar kemampuan larutan penyangga mempertahankan pH.
Jika komponen asam terlalu sedikit,
maka penambahan sedikit basa dapat mengubah pH suatu larutan.
Jika komponen basa terlalu sedikit,
maka penambahan sedikit asam akan mengubah pH suatu larutan.
Sebaiknya perbandingan
komponen-komponen larutan penyangga adalah 0,1 sampai 10. Jika lebih dari itu,
maka sifat larutan penyangga akan berkurang. Dengan batas perbandingan
tersebut, maka pH suatu larutan penyangga adalah ± 1.

Komentar
Posting Komentar