Sifat-Sifat Koloid + Pengetahuan Umum Yang Berhubungan Dengan Sifat Koloid
Jika
kamu belum mengetahui tentang sistem koloid, kamu bisa mempelajarinya dalam artikel Sistem Koloid Ada Di Sekitar Kita.
Dalam artikel ini adalah sifat-sifat dan cara pembuatannya.
Berikut
ini sifat-sifat koloid :
Gerak Brown
Gerak
Brown adalah gerak lurus tak beraturan (atau dikenal dengan nama gerak zig-zag)
dari partikel koloid dalam medium/media pendispersinya. Gerak Brown terjadi
karena tabrakan/benturan antara partikel koloid dengan medium pendispersinya
dari segala arah.
Oleh
karena partikel koloid bergerak melayang terus-menerus, sehingga koloid sulit
mengendap atau bersifat stabil. Fenomena gerak Brown ditemukan oleh Robert
Brown pada tahun 1827.
“ Rajin-rajin belajar Kimia dan Fisika barangkali nanti kamu bisa menjadi penemu sekaligus wiraswasta yang akan membantu memajukan negara Indonesia ini jika kamu menemukan passion di dalamnya. Dan pastilah kamu akan terus dikenang selama dunia ini belum berakhir ”.
Efek Tyndall
Efek
Tyndall adalah peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid karena ukuran molekul koloid yang cukup besar.
Efek Tyndall dikemukakan oleh John Tyndall (1820-1893). Peristiwa efek Tyndall
dapat digunakan untuk membedakan sistem koloid dan larutan sejati.
Larutan
sejati adalah campuran zat yang bersifat homogen (berasal dari jenis yang sama)
dan stabil.
Berikut
gejala-gejala efek Tyndall dalam kehidupan sehari-hari :
-
Langit pada siang hari berwarna biru, sedangkan ketika matahari terbenam,
langit di ufuk barat berwarna jingga atau merah.
“ Fenomena efek Tyndall tentang langit ini cocok untuk membuat kalimat dalam novel atau cerpen nih!. Yang mana kamu bisa membuat kalimatnya, seperti : Efek Tyndall mulai terlihat di langit senja. Karena itu, ilmu pengetahuan juga penting untuk membuat cerita fiksi. Tidak percaya?. Coba buktikan melalui artikel Ilmu Pengetahuan Dapat Menambah Bobot Cerita Fiksi”.
-
Di dalam kamar yang gelap dan berdebu (berasap), seberkas sinar yang masuk
melalui lubang kecil dinding kamar (atap rumah) akan terlihat dengan jelas
sebagai berkas sinar yang lurus.
-
Jika kamu menonton film di gedung bioskop, kemudian ada asap rokok yang
mengepul ke atas, maka cahaya proyektor (layar lebar) terlihat lebih terang,
sedangkan gambar pada layar terlihat buram.
-
Sorot lampu mobil pada malam yang berkabut atau jalan berdebu akan terlihat
lebih jelas.
Adsorpsi Koloid
Adsorpsi
adalah peristiwa penyerapan suatu molekul atau ion pada permukaan suatu zat.
Sistem koloid mempunyai kemampuan mengadsorpsi karena partikel koloid mempunyai
permukaan yang luas.
Contoh
:
a.
Sol dari besi (II) hidroksida (Fe(OH)3) mampu mengadsorpsi ion-ion H+,
sehingga sol dari Fe(OH)3 menjadi bermuatan positif.
b.
Sol dari arsenik sulfida (As2S3) mengadsorpsi ion-ion S2-,
sehingga sol dari As2S3 menjadi bermuatan negatif.
Sifat
adsorpsi dari sistem koloid dapat digunakan pada proses-proses sebagai berikut
:
a.
Proses permurnian gula pasir dengan sistem koloid yang berupa tanah diatomal/diatome
atau arang aktif.
Berikut
sekilas tentang tanah diatomal
Tanah diatomal dikenal juga dengan istilah tripolit,
tepung fosil, kieselguhr. Tanah diatomal merupakan sejenis batu sedimen silika
(kieselguhr) yang terbentuk karena pengendapan kulit atau kerangka diatome
(fosil tumbuhan air, yaitu ganggang bersel tunggal atau ganggang kersik yang
memiliki permukaan dinding mengandung silika/kerikil) yang mengendap di dalam
danau/dasar air.
Diatome yang mati dapat membentu endapan karena arus
air di sekitarnya kecil. Diatome menyatu dengan elemen pengotor yang bervariasi
dari jenis dan jumlahnya. Elemen pengotor tersebut antara lain abu vulkanik,
larutan garam, lempung, senyawa karbonat (CO3), pasir silika (atom Si)
dan unsur organik lainnya. Kandungan air di dalam tanah diatomal berubah-ubah.
Sifat-sifat tanah diatomal, antara lain :
- memiliki massa jenis yang rendah, yaitu sekitar (±
0,45) atau ringan.
- memiliki daya serap sekitar 25 % - 45 %.
- umumnya berwarna putih/abu-abu, tetapi sebenarnya
warna pada tanah diatome sesuai dengan elemen pengotornya. Ada tanah diatomal
yang berwarna kuning, cokelat, merah muda, hitam dan hijau.
- memiliki daya hantar listrik dan panas yang rendah.
- mudah dipisahkan/pecah.
- porous (mempunyai banyak pori-pori).
- permeabel (dapat dilalui oleh partikel apapun).
Tanah diatomal dapat digunakan untuk bahan pembuat bata ringan (wallboard) jika dicampur dengan tanah, bahan peredam panas
(isolator), bahan penyaring, bahan pembuat keramik, bahan untuk pemutih pada
industri kertas atau cat tembok dan bahan penggosok logam.
b.
Penggunaan arang aktif. Misalnya, pada obat norit (obat sakit perut), lemari es
(menghilangkan bau) dan rokok filter (untuk mengikat asap nikotin dan tar
(bentuk senyawa kimia berbahaya yang terkandung dalam asap rokok yang dapat
mengendap dalam paru-paru)). Arang aktif bersifat adsorben (mempunyai kemampuan
untuk menyerap). Arang aktif disebut juga karbon aktif.
Berikut
sekilas tentang arang aktif
Umumnya, arang aktif dibentuk dari batok kelapa yang
sudah tua dan memiliki kadar air yang rendah dengan melalui proses pembakaran
pada suhu tinggi dalam wadah/tangki tertutup yang mana hanya terdapat lubang
kecil sebagai celah keluarnya asap agar kita bisa mengetahui apakah arang aktif
telah jadi atau belum.
Apabila asap terlihat tebal dan putih, maka batok
kelapa sedang mengering. Apabila asap terlihat berwarna kuning, maka sedang
terjadi proses pengakarbonan. Apabila asap terlihat berwarna biru, maka
pengarangan hampir selesai dan sedang dalam proses pendinginan. Setelah dingin,
arang bisa dibongkar.
c.
Menghilangkan bau badan
Deodorant
dan antiperspirant (zat anti keringat) dapat menghilangkan bau badan. Pada roll
on deodorant digunakan zat adsorben berupa aluminium stearat (Al(C17H35COO)3).
Jika deodorant digosokkan pada anggota badan, maka aluminium stearat akan
mengadsorpsi keringat yang menyebabkan bau badan dan dapat memutihkan kulit.
Aluminium
stearat merupakan bubuk putih yang tidak larut dalam air, tetapi larut dalam
minyak. Selain itu, aluminium stearat juga digunakan untuk pembuatan kain anti
air, beton dan pengering dalam cat dan pernis (cat pelapis kayu agar terlihat
mengilap).
d.
Penjernihan air
Air
sungai atau air sumur yang keruh mengandung lumpur koloidal, zat-zat warna dan
zat pencemar, seperti limbah, detergen dan pestisida. Proses penjernihan air
(pengolahan air) terdiri dari tiga tahap, yaitu :
-
Tahap 1 : Pengendapan
Proses
pengendapan memerlukan tempat yang luas dan waktu yang lama. Namun, benda-benda
yang berupa koloid tidak bisa diendapkan dengan cara ini. Untuk pengendapan
benda-benda berupa koloid harus menggunakan zat koagulan (penjernih air). Zat
koagulan yang banyak digunakan adalah aluminium sulfat (Al2(SO4)3).
Berikut
sekilas tentang zat koagulan
Zat koagulan merupakan donor muatan positif untuk
mendestabilisasi (membuat tidak stabil) muatan negatif suatu partikel. Zat
koagulan lainnya, yaitu sodium aluminat
(NaAlO2), alum sulfat/tawas, polyaluminium chloride (PAC), ferri
sulfat (Fe2(SO4)3.9H2O), ferri
klorida (FeCl3.6H2O) dan ferro sulfat (FeSO4.7H2O).
PAC dapat
bekerja pada tingkat pH yang lebih luas, kecuali pada air tertentu. PAC tidak
menyebabkan air menjadi keruh bila digunakan secara berlebihan. Bahkan, PAC
justru dapat menghilangkan warna keruh pada air. PAC lebih cepat membentuk flok
(gumpalan-gumpalan kecil) karena gugus aluminat bekerja dengan efektif dalam
mengikat koloid.
Alum sulfat/tawas dapat menghilangkan warna keruh
pada air. Senyawa besi, seperti ferri sulfat, ferri klorida dan ferro sulfat
juga dapat menghilangkan warna keruh pada air.
-
Tahap 2 : Penyaringan dengan penyaring pasir
Air
yang ditambahkan zat koagulan akan mengalami pengendapan dan benda-benda koloid
yang sudah menggumpal dibiarkan mengendap. Setelah mengalami pengendapan, air
tersebut disaring dengan penyaring pasir.
-
Tahap 3 : Penambahan air kapur, kaporit dan kapur tohor
Penambahan
air kapur (Ca(OH)2) bertujuan untuk menaikkan pH air jernih tersebut.
Penambahan klorin atau kaporit bertujuan untuk membunuh bakteri pada air
jernih. Penambahan kapur tohor bertujuan untuk menaikkan pH air atau
menetralkan keasaman yang terjadi karena penggunaan tawas.
Berikut
sekilas tentang kapur tohor
Kapur tohor disebut juga kalsium oksida (CaO). Kapur
tohor dibentuk melalui proses pembakaran kapur mentah pada suhu ± 90 oC.
Jika kapur tohor disiram dengan air akan menghasilkan panas dan berubah menjadi
kapur padam atau kalsium hidroksida (CaOH).
Kapur tohor digunakan untuk memasak dengan biaya
yang murah, dalam makanan kaleng agar bisa memanaskan dirinya sendiri, sebagai
cahaya lampu pada panggung teater sebelum ditemukannya lampu listrik, pembuatan
telur bitan (telur hitam/telur seribu tahun) dan pembuatan semen.
*Telur bitan merupakan makanan khas Tionghoa yang
terbuat dari telur ayam atau telur itik yang diawetkan di dalam campuran
lempung, abu, garam, kapur tohor dan sekam padi selama beberapa minggu atau
beberapa bulan. Selama proses pengawetan kuning telur akan berubah warna
menjadi warna hijau gelap dan berbau belerang atau amonia, sedangkan putih
telur akan berubah warna menjadi kecokelatan yang sedikit transparan.
Elektroforesis
Elektroforesis
adalah pergerakan partikel koloid di bawah pengaruh medan listrik. Beberapa
kegunaan dari proses elektroforesis, antara lain :
-
Untuk menentukan muatan partikel koloid.
-
Untuk memproduksi barang-barang industri yang terbuat dari karet, misalnya pada
pembuatan sarung tangan dan boneka.
-
Untuk mengurangi zat pencemar udara yang dikeluarkan dari cerobong asap pabrik
dengan alat Cottrell.
Koagulasi
Koagulasi
adalah pengumpalan partikel koloid atau pembentukan flok-flok halus yang dapat
diendapkan karena kerusakan stabilitas sistem koloid atau penggabungan partikel
koloid yang berbeda muatan dengan suatu zat koagulan.
Proses
pembentukan flok disebut flokulasi. Partikel yang berukuran lebih besar akan
lebih mudah mengendap daripada partikel yang berukuran lebih kecil.
Agar
partikel koloid membentuk flok, gaya tolak-menolak elektrostatik antara
partikel-partikelnya harus dikurangi dan transportasi antara partikel-partikel
yang mengalami destabilisasi harus saling bertemu.
Contoh
proses koagulasi dalam kehidupan sehari-hari, antara lain perebusan telur,
pembuatan yoghurt, pembuatan lateks (getah tumbuhan yang berwarna putih), pembentukan delta dan proses penjernihan
air dengan penambahan Al2(SO4)3.
Berikut
sekilas tentang delta
Partikel lumpur dan tanah liat yang terkandung dalam
air sungai akan mengendap ketika bertemu dengan air laut yang mengandung
elektrolit, hingga terbentuk delta pada muara sungai.
Faktor-faktor yang
mempengaruhi koagulasi adalah :
-
Suhu air
-
Derajat keasaman (pH)
Jika
kamu ingin menghitung derajat keasaman (pH) suatu larutan, kamu dapat
mempelajarinya dalam artikel Larutan Asam Basa (Konsentrasi Ion H+ Dan Ion OH-, Derajat Ionisasi Dan pH)
-
Jenis dan jumlah koagulan
-
Kadar ion terlarut
-
Tingkat kekeruhan
-
Kecepatan pengadukan
Semakin
cepat pengadukan, maka semakin cepat
flok-flok halus yang terbentuk karena semakin cepat partikel-partikel koloid yang
terikat atau semakin banyak partikel-partikel padat dalam air saling
berbenturan.
-
Alkalinitas
Alkalinitas
merupakan penyangga perubahan pH air dan indikasi kesuburan air dengan
menghitung kandungan ion hidroksida, ion karbonat dan ion bikarbonat. Ion
karbonat dan ion bikarbonat (HCO3-) dapat mengikat unsur
dari golongan logam alkali tanah yang terdapat dalam air tawar.
Alkalinitas
menunjukkan nilai kapasitas air untuk menetralkan penambahan asam tanpa
menurunkan harga pH suatu larutan. Perairan dengan nilai alkalinitas yang
tinggi tidak disukai oleh organisme air/akuatik. Perairan dengan nilai
alkalinitas yang tinggi memiliki kadar garam natrium yang tinggi.
Berikut
sekilas tentang air sadah
Nilai alkalinitas pada perairan umumnya sama dengan
nilai kesadahan air. Kesadahan air adalah kandungan mineral, seperti ion
kalsium dan ion magnesium dalam bentuk garam karbonat yang terkandung dalam
air. Air sadah memiliki kadar mineral yang tinggi. Sabun dapat menentukkan
nilai kesadahan air.
Jika air merupakan air sadah/air keras, makan sabun
yang dimasukkan ke dalam air tersebut akan sulit berbuih/ hanya menghasilkan
sedikit buih. Kebalikkan dari air sadah adalah air lunak (air yang memiliki
kadar mineral yang rendah).
Air sadah terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
- Air sadah sementara adalah air sadah yang
mengandung ion bikarbonat, kalsium bikarbonat (Ca(HCO3)2)
atau magnesium bikarbonat (Mg(HCO3)2). Air sadah
sementara adalah air yang nilai kesadahannya dapat dihilangkan dengan dilakukan
pemanasan.
- Air sadah tetap adalah air sadah yang mengandung
ion bikarbonat, kalsium klorida (CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2),
kalsium sulfat (CaSO4), magnesium klorida (MgCl2),
magnesium nitrat (Mg(NO3)2) dan magnesium sulfat (MgSO4).
Jika air sadah yang dipanaskan tetap sulit membuat sabun berbuih, maka air
tersebut termasuk jenis air sadah tetap.
Meminum air sadah dapat menimbulkan beberapa masalah
dalam tubuh. Air sadah menyebabkan pengendapan mineral yang dapat menyumbat
saluran pipa dan keran.
Air sadah yang bercampur sabun tidak dapat membentuk
busa, melainkan membentuk gumpalan sabun yang sulit dihilangkan. Hal ini dapat
menyebabkan pemborosan sabun.
Zat-zat untuk menghilangkan kesadahan air, seperti
resin dan zeolit (Na2Al2Si3O10.2H2O).
Kestabilan Koloid
Dua
jenis zat yang digunakan untuk kestabilan koloid, antara lain :
- Koloid
pelindung adalah sistem koloid yang ditambahkan pada sistem koloid lain agar
diperoleh koloid yang lebih stabil. Contohnya gelatin (protein dari serabut kolagen pada hewan yang tak berasa dan transparan) yang digunakan pada
pembuatan es krim untuk mencegah terbentuknya kristal es yang kasar.
- Emulgator
(zat pengemulsi) digunakan untuk menstabilkan emulsi.
Dialisis
Dialisis
adalah menghilangkan ion-ion yang mengganggu kestabilan koloid dengan
menggunakan selaput semipermeabel yang hanya dapat dilewati oleh ion dan air,
tetapi tidak dapat dilewati oleh partikel koloid.
Contoh
pada proses cuci darah bagi penderita gagal ginjal. Proses dialisis berfungsi untuk menghilangkan
urea (CH4N2O) yang terkandung dalam darah.
Koloid Liofil Dan
Koloid Liofob
Sol
adalah sistem koloid yang fase pendispersinya/zat yang terdispersi merupakan
zat padat dalam medium pendispersi berupa zat cair. Sol dibedakan menjadi dua,
yaitu :
-
Koloid Liofil adalah koloid yang senang dengan medium pendispersinya. Jika
medium pendispersinya adalah air, maka disebut hidrofil. Contohnya agar-agar,
tepung kanji, cat, lem, gelatin, putih telur dan tinta warna.
-
Koloid Liofob adalah koloid yang tidak suka dengan medium pendispersinya. Jika
medium pendispersinya adalah air, maka disebut hidrofob. Contohnya sol dari
emas, sol dari belerang, sol dari arsenik sulfida dan sol dari besi (II)
hidroksida.
Berikut
ini tabel perbedaan antara koloid liofil dan koloid liofob :
Koloid
Liofil
|
Koloid
Liofob
|
Stabil
|
Kurang stabil
|
Biasanya terdiri atas zat organik
|
Biasanya terdiri atas zat anorganik
|
Kekentalan yang tinggi
|
Kekentalan yang rendah
|
Sukar dikoagulasikan oleh elektrolit
|
Mudah dikoagulasikan oleh elektrolit
|
Gerak Brown dan efek Tyndall yang kurang jelas
|
Gerak Brown dan efek Tyndall terlihat jelas
|
Pada penguapan atau pendinginan akan menghasilkan gel yang akan
membentuk sol lagi jika diberi medium pendispersi
|
Pada penguapan atau pendinginan akan mengkoagulasi dan jika diberi
medium pendispersi tidak membentuk sol lagi
|

Komentar
Posting Komentar