Novel Fantasi Nietvermeld Bab 29 Part 1
Dari awal tour keliling rumah megah itu dengan
ditemani oleh seorang pria asing yang tak kunjung memperkenalkan namanya, Zac
merasa ada yang aneh dengan rumah itu. Rumah itu sepi.
“ Baiklah,
saya sudah mulai bosan berkeliling di rumah ini. Saya harus kembali ”, kata Zac
tanpa sopan-santun. Ia memang seorang yang tidak punya sopan-santun. Meskipun
tak mengetahui nama pria yang menemaninya berkeliling rumah, Zac tidak peduli.
Tak ada niat sedikitpun untuk berbasa-basi menanyakan nama pria itu. “ Permisi!
”, sambungnya yang langsung melengos meninggalkan pria itu. Pria itu tidak
hanya berdiam diri di tempat.
“
Huff...menjengkelkan!. Aku merasa dia sedang ingin memamerkan harta kekayaannya
dengan cara mengajakku mengelilingi rumahnya. Coba saja summer camp ini memperbolehkan aku membawa ponsel dan ponsel itu
ada di tanganku sekarang, tentu aku bisa balas memamerkan kekayaanku padanya ”.
Rumah
megah itu memiliki cukup banyak lorong, tetapi Zac yakin bisa mengingat jalan
menuju pintu depan. Ia tak peduli jika pria itu tidak mengantarnya keluar.
Selain jengkel karena rasa irinya, ia juga jengkel karena pria itu sangat
dingin. Pria itu sama sekali tidak mengajaknya berbicara. Hal ini membuat
sedikit rasa sesal telah menginjakkan kaki di rumah megah itu singgah di hati
Zac.
“
Benar-benar menjengkelnya!. Baru kali ini aku diinjak-injak! ”, gumam Zac
sambil berjalan santai menelusuri tiap lorong yang kosong. Hanya sedikit
perabot terletak di salah satu sisi dinding setiap lorong “ Loh, kok aku
kembali ke sini ? ”, tanyanya tiba-tiba saat menyadari keadaan di sekitarnya.
Ia pun memerhatikan lebih seksama sekelilingnya.
Rasa resah
mulai menyusup di hatinya, tapi ia berusaha membuang jauh perasaan itu. “
Tidak!. Mungkin aku memang salah memilih jalan karena kurang fokus! ”, katanya
sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Zac
mencoba kembali menelusuri setiap lorong rumah megah itu. Namun yang terjadi ia
kembali lagi ke tempatnya semula. “ Tidak mungkin!. Kenapa aku kembali lagi ke
sini?. Ada yang aneh dengan rumah ini ”, katanya dengan wajah yang ketakutan.
Kali ini
Zac mengulangi menelusuri setiap lorong rumah megah itu dengan berlari untuk
bisa segera membuktikan apakah memang ada yang aneh dengan rumah megah itu. Dan
ternyata, sebelum ia diantar kembali ke tempat semula, keadaan di sekelilingnya
berubah menjadi kelam. Dinding-dinding rumah itu menjadi seperti dinding goa.
“ Tidak!.
Apa yang terjadi? ”, katanya dengan histeris. Ia benar-benar panik menghadapi
situasi ini. “ Sebenarnya tempat apa ini?. Keluarkan aku dari sini!. Jangan
bermain-main denganku!. Akan ku habisi kalian! ”, teriaknya.
♦♦
Waktu
terasa bergulir begitu cepat bagi Seth. Ia pikir hari telah menjelang malam. Ia
tak tahu bahwa sebenarnya pergantian langit dari terang ke gelap bukanlah
karena sewajarnya , melainkan karena aura kegelapan yang menyelimuti kota mati
itu mulai bangkit.
“ Sudah
malam!. Cepat sekali!. Kenapa tidak ada langit senja?. Biasanya ada ”, gumam
Seth sambil menatap langit. “ Bagaimana ini, sampai malam hari aku belum
berhasil menemukan Carey? ”.
Seth
kembali menelusuri jalan kota itu. Langkahnya mulai gontai. Rasa lelah dan
resah menyelimuti hatinya kini. “ Carey! ”, panggilnya dengan berteriak. Dari
wajahnya, Seth terlihat prustasi. “ Sebenarnya di mana letak puri itu.
Sepanjang jalan aku tidak menemukan adanya puri di kota ini. Apa mungkin puri
itu hanyalah fatamorgana?. Tapi, di mana Carey sekarang? ”. Seth menendang
sebongkah batu kecil untuk meluapkan kekesalannya.
“ Apa
sebaiknya aku kembali dan meminta bantuan teman-teman?. Tapi..... ”, kata Seth
sambil menatap jauh ke belakang. “ Tapi aku lupa jalan menuju skatepark itu ”.
♦♦
“
Toloooong....! ”.
Kyle,
Daniela, Ashley dan Lissette mendengar suara teriakan seorang gadis yang
meminta tolong. Mereka mengenal suara gadis itu.
“ Itu
seperti suara Carey! ”, kata Danny.
Kyle,
Ashley dan Lissette hanya mengangguk.
“ Itu dia!
”, ujar Lissette sambil menunjuk ke arah Carey yang tengah berlari dari kejaran
empat sosok zombie.
“ Carey!
”, panggil Kyle.
Carey
menoleh ke arah Kyle dan yang lainnya. Ia pun berlari ke arah mereka.
“ Oh,
tidak....kalau dia ke sini, para zombie itu juga akan ke sini. Kita harus
kabur!. Cepat! ”, desak Ashley.
Daniela
dan Lissette mengikuti ajakan Ashley. Hanya Kyle yang masih menunggu Carey di
tempat. Kyle merasa harus bertanggung jawab untuk menjaga keselamatan Carey di
saat Seth tidak ada bersamanya. Karena ia yakin Seth pasti akan merasa sangat
sedih jika mengetahui hal buruk menimpa adiknya, keluarga satu-satunya yang
masih ia miliki.
“ Carey,
cepat! ”, teriak Kyle.
Carey yang
sudah kelelahan pun hilang keseimbangan. Ia tersungkur. Kyle secepatnya berlari
ke arah Carey dan membantunya untuk berdiri.
“ Kau tak
apa?. Sebaiknya kau naik ke punggungku!. Kau tampak sudah kelelahan ”.
“ Tidak
apa-apa? ”.
“ Sudah,
menurut saja! ”.
Carey pun
menuruti permintaan Kyle. “ Terima kasih sebelumnya! ”, kata Carey saat berada
dalam gendongan Kyle.
“ Tak
perlu sungkan!. Kau adik sahabatku. Aku harus menjagamu di saat dia tidak
bersamamu ”, kata Kyle sambil berjalan dengan langkah lebar.
Kyle tak
tahu bahwa ucapannya telah membuat pipi Carey menjadi merona.
♦♦
“ Setahuku
zombie tidak bisa memanjat. Bagaimana kalau kita naik ke atas truk itu? ”, kata
Danny.
“ Baiklah,
aku setuju! ”, sahut Ashley diikuti dengan anggukan Lissette.
Ketiganya
mencoba memanjat truk pengangkut pasir yang terparkir di pinggir jalan.
“ Tapi ini
truk milik siapa? ”, tanya Lissette setelah berhasil memanjat.
“ Tidak
usah dipikirkan!. Aku justru merasa kota ini hanya dihuni oleh para zombie! ”,
jawab Danny.
“ Itu Kyle
dan Carey!.....Kalian berdua ke sini! ”, pinta Ashley dengan berteriak.
Kyle
melihat ke arah Ashley yang tengah melambaikan tangan ke arahnya.
Daniela
merasa tiba-tiba dadanya terasa sesak ketika melihat Kyle menggendong Carey. “ Perhatian sekali dia dengan anak itu! ”,
gumamnya. Ia pun menghela nafas panjang untuk mengusir kegalauan hatinya.
Kyle
menurunkan Carey dari gendongannya ketika mereka sudah tiba di depan truk. “
Ayo, kau memanjat lebih dulu! ”.
Carey
menurut. Ia dibantu memanjat oleh Lissette. Kyle pun menyusul di belakangnya.
“ Ini ide
bagus teman-teman!. Aku harap para zombie itu menyerah dan pergi. Setelah
mereka pergi, kita bisa kembali turun dan mencari teman-teman kita ”, kata Kyle
setelah berhasil memanjat.
“ Ini ide
Danny! ”, kata Ashley.
Kyle pun
menoleh ke arah Daniela dengan tersenyum tipis. Tetapi, Daniela tak membalasnya.
Gadis itu justru memalingkan wajah dan memasang wajah yang cemberut.
“ Kau
kenapa? ”, tanya Kyle khawatir.
“ Tidak
usah mempedulikanku!. Bagaimanapun aku hanyalah orang yang ada di masa lalumu!
”, jawab Danny tanpa menoleh.
Kyle
terkekeh. “ Kau ini bicara apa?. Aku sedang tidak berusaha untuk melupakanmu ”.
“
Perpisahan kita adalah takdir! ”, kata Danny masih tetap enggan menatap Kyle.
“
Sepertinya aku harus berkata jujur ”, kata Kyle membuat keempat gadis itu
mengerutkan kening sambil menatap ke arahnya. “ Sebenarnya, aku bukan
siapa-siapamu. Kita tidak pernah berpacaran. Aku mengatakannya hanya agar kau
mau ikut dengan kami. Dan bahwa sebenarnya, kau adalah sepupunya Zac ”. Kyle
menghela nafas untuk memberi jeda dalam ucapannya. “ Entahlah, kenapa sejak
awal Zac tidak berusaha menjelaskan tentang statusnya padamu. Dia memang
terlalu sibuk memikirkan diri sendiri. Aku tidak mengerti jalan pikirannya ”.
“ Apa kau
bilang? ”, tanya Danny, kesal.
“
Seharusnya kau tidak marah kepadaku karena aku tidak punya maksud buruk
terhadapmu ”.
“
Tapi....tapi karena ucapanmu, aku jadi berani melakukan itu tadi kepadamu ”,
kata Danny, lalu menggeram.
“
Melakukan apa? ”, tanya Kyle, berlagak pilon.
“ Lupakan!
”, sergah Danny cepat.
“ Belum
juga aku mengerti maksudmu, kau sudah memintaku untuk melupakannya. Ya, sudah!
”.
Daniela
diam-diam melirik ke arah Kyle yang tengah menatap ke depan, ke arah para
zombie yang sudah mendekat.
“ Mereka
datang! ”, ujar Kyle.
“ Ya,
Tuhan!. Semoga mereka tidak bisa memanjat!. Semoga kita selamat! ”, ucap
Ashley.
“ Apa
mungkin teman-teman kita juga sedang berhadapan dengan para zombie?. Apa Seth
bisa menghindar dari para zombie?. Aku memang belum mengingat tentang Seth,
tapi sekarang aku yakin kalau dia memang kakakku ”, kata Carey.
“ Dia memang
kakakmu!. Percayalah!. Kau doakan Seth agar dia baik-baik saja! ”, kata Kyle
sambil merangkul Carey. Ia pun menepuk-tepuk pundak Carey yang berada dalam
rangkulannya. Ia tak sadar apa yang dilakukannya terhadap Carey telah membuat
Daniela terbakar cemburu.
“ Kenapa aku ini?. Kenapa aku kesal melihatnya?. Tidak
mungkin aku jatuh cinta padanya!. Aku bukan orang yang mudah jatuh cinta!. Aku
harus mengenyahkan perasaan ini! ”, gumam
Danny dalam hati. Wajahnya tampak berusaha menahan kekesalan.
“ Kenapa dia? ”, tanya
Kyle dalam hati sambil melirik Daniela.
♦♦
Suara
speaker yang terletak di sudut kiri dan kanan panggung mendadak berdenging
sangat kencang. Suaranya sangat memekakan telinga. Suaranya membuat Finn
berhenti menyanyikan lagunya. Tiba-tiba saja bangunan yang memenjarakan Finn
itu berguncang, seperti kota itu sedang dilanda gempa.
“ Ada apa
ini?. Apa ada gempa? ”, tanya Finn panik. Ia menaruh gitar akustik yang
dimainkannya di sembarang tempat. Dan ia secepatnya menuruni panggung untuk
pergi menyelamatkan diri. Namun anehnya, orang-orang di sekitarnya yang juga
berada dalam bangunan itu hanya bergeming. “ Hei, kenapa kalian diam saja?.
Kalian tidak menyelamatkan diri? ”, tanyanya. Tetapi, tak ada yang menjawab. “
Ah, sudahlah!. Untuk apa memedulikan mereka!. Aku juga tidak mengenal mereka!
”.
Dengan langkah tergesa-gesa, Finn berusaha
mencari jalan untuk keluar dari bangunan itu yang masih terus berguncang. Finn
hampir saja tertimpa lampu gantung berukuran cukup besar yang tanggal dari
tempatnya. Peristiwa itu cukup membuat jantung Finn berdetak lebih cepat.
“ Hampir
saja! ”, katanya yang lalu berlari untuk menjauhi tempat itu. Tetapi, tiba-tiba
keadaan di sekitarnya berubah menjadi kelam. Situasi itu menghentikan langkah
kakinya. “ Ada apa ini?. Sebenarnya apa yang terjadi dengan tempat ini? ”,
tanyanya, kesal.
Finn
semakin kalut ketika mendengar suara erangan memilukan yang samar-samar
terdengar. “ Suara apa itu?. Dari mana asalnya? ”. Finn celingukan melihat ke sekitarnya.
Sapuan pandangnya pun terhenti ketika melihat beberapa sosok bayangan yang
keluar dari balik tikungan. Bayang-bayang itu semakin jelas, hingga menunjukkan
sosok pemilik bayang-bayang itu.
Finn
tersentak melihat beberapa sosok zombie yang keluar dari balik tikungan itu.
Wajahnya penuh ketakutan. Ia berusaha berlari untuk menghindari para zombie.
Namun keadaan di sekitarnya telah berubah, hingga membuatnya sulit untuk
mencari jalan keluar dari bangunan itu.
“
Seharusnya aku tidak memaksakan diri untuk masuk ke dalam sini. Dasar bodoh! ”.
Finn merutuki diri sendiri. Ia mencengkram kepalanya sendiri. Ia benar-benar
menyesal dan menjadi membenci dirinya sendiri.
“ Kenapa
aku begitu mudah untuk termakan ambisi itu? ”, katanya dengan berteriak. Finn
berusaha menenangkan dirinya. “ Berarti ini semua jebakan!. Kenapa aku sangat bodoh!.
Seharusnya aku tidak mudah terjebak!. Sekarang apa yang harus aku lakukan?. Mereka....apakah
mereka berusaha mencariku?. Apakah Zac mau memberitahukan keberadaanku di sini?
”.
Finn seperti
sudah pasrah dengan nasibnya. Ia tak memedulikan para zombie yang kian mendekat
ke arahnya. Ia hanya berdiam dengan wajah yang nelangsa, menatap mereka yang semakin
mendekat.

Komentar
Posting Komentar