Novel Fantasi Nietvermeld Bab 27
Dalam penglihatan Zac
suasana kota yang tengah ditelusurinya begitu
eksotik. Banyak bangunan bergaya Romawi.
Ada satu bangunan megah yang paling menarik perhatiannya. Di sekeliling bangunan itu ditumbuhi tanaman hijau.
Terdapat jalan setapak yang berkelok menuju ke bangunan tersebut.
Zac
melihat ke sekelilingnya. Ia begitu keheranan saat tersadar bahwa ia seperti
telah memasuki pekarangan rumah itu, padahal sebelumnya ia tidak melihat pagar
besi atau gapura sebagai pintu masuk.
Bagunan-bagunan
bergaya Romawi yang sebelumnya dilihatnya pun sudah tak terlihat.
“ Apa aku
sudah pergi begitu jauh, hingga bangunan-bangunan itu sudah tak terlihat ”,
gumam Zac. Ia pun menghela nafas. “ Kenapa aku bisa tak sadar?. Aku kembali
saja, tapi.... ”.
Ketika Zac
telah membalikan badannya, memunggungi bangunan megah itu, tapi hatinya menolak
untuk pergi, hingga ia pun kembali menatap bangunan megah itu. Entah kenapa ia
benar-benar merasa tertarik untuk memasuki bangunan itu. Akhirnya, ia
memutuskan untuk kembali melangkah ke pintu depan bangunan megah bergaya modern
dan bercatkan putih itu.
Bangunan
itu terbagi menjadi dua sisi, sisi selatan dan utara. Sisi selatan bertingkat
tiga, sedangkan sisi utara memanjang dan berliku, hingga ujungnya bertemu
dengan bangunan di sisi selatan. Di tengah kedua bangunan itu terdapat taman
yang mana di tengahnya berdiri sebuah patung seorang wanita
tengah memegang kendi yang terbuat dari gips.
Dari dalam kendi tercurah air yang jatuh ke
dalam kolam di bawahnya. Daratan taman itu dilapisi
batu alam andesit.
“ Bangunan
ini seperti impianku. Kebetulan sekali!. Di mana pemiliknya?. Kenapa sejak aku
masuk, tidak terlihat seorang pun. Bahkan, bangunan ini tidak dikunci. Apakah
bangunan ini adalah tempat umum?. Seperti spot untuk berfoto ”.
Zac
memperhatikan ke sekelilingnya, mencari-cari seseorang yang mungkin juga tengah
berada berkunjung karena ia meyakini bahwa bangunan tersebut benar-benar tempat
umum. Tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Zac terlonjak dan
secepatnya berbalik badan. Ia mendapati seorang pria yang kira-kira berusia 40
tahunan. Pria itu benar-benar terlihat fashionable, rapi dan bersih.
“
Ma...maaf, saya sudah lancang masuk ke istana anda! ”, kata Zac. Ia meyakini
bahwa pria itu adalah pemilik dari bangunan megah tersebut karena melihat
penampilannya.
Tetapi,
pria itu menggelengkan kepala. Dan tiba-tiba, Beliau menggenggam tangan Zac.
Beliau mengajak Zac untuk berkeliling melihat setiap sudut ruangan tanpa
mengucapkan sepatah kata pun. Zac merasakan genggaman tangannya begitu dingin.
Namun, Zac mengabaikannya sebab merasa hal itu bukan suatu masalah.
♦♦
Pendaftarannya gratis, begitu yang tertulis di meja
resepsionist. Finn pun mendaftarkan diri untuk mengikuti ajang pencarian bakat menyanyi itu. Ia
begitu yakin kalau ia mampu bersaing dengan para kontestan lain walaupun tanpa persiapan yang matang sebab biasanya, ia
selalu mengisi waktu luang dengan bernyanyi. Baginya, hal itu sudah termasuk
latihan.
“
Sepertinya tidak akan terlalu memakan banyak waktu. Selama aku di sini, mungkin
mereka juga belum selesai dengan kegiatan masing-masing. Aku hanya ingin
menjajal kemampuanku. Semoga aku menang agar aku bisa menunjukkan pialaku pada
Mandy ”, gumam Finn sambil tersenyum. “ Di mana tempat perlombaannya? ”,
tanyanya kepada sang resepsionist.
Resepsionist
berwajah datar dan berambut panjang hanya menunjuk ke suatu arah untuk menjawab
pertanyaan Finn. Tanpa banyak bertanya, Finn berjalan ke arah yang ditunjukkan
wanita itu.
Finn tidak
sendiri, tetapi sepertinya hanya sedikit peserta yang akan mengikuti ajang
tersebut sebab hanya beberapa orang yang memasang nomor urut di baju mereka. Finn
mendapat nomor urut ke-12. Awalnya, ia pikir ia akan mendapat nomor urut yang
jauh karena terlambat mendaftar.
Mereka yang datang lebih
banyak datang untuk menonton, bukan untuk adu bakat dan nyali.
Finn semakin masuk lebih dalam ke bangunan tersebut.
Langkahnya terhenti ketika melihat sebuah panggung di luar. Beberapa
alat musik telah ditaruh di sudut kiri panggung diperuntukan bagi pemain band
yang akan mengiringi para peserta termasuk
Finn. Ia melihatnya dari pintu kaca yang berjajar di bagian
belakang bangunan. Para peserta lainnya terlihat telah berdiri di dekat
panggung. Finn pun tak mau ketinggalan. Ia bergegas keluar untuk bergabung
bersama mereka.
♦♦
“ Mandy,
tunggu!. Lihat ada perpustakaan! ”, ujar Ben sambil menunjuk ke arah kirinya.
“ Lalu
kenapa?. Apa bagusnya ada perpustakaan? ”, tanya Mandy, kesal.
“ Kita
benar-benar buta tentang negeri ini, barang kali di dalam sana terdapat sebuah
buku yang bisa menjadi narasumber untuk kita. Ayo, kita cari bukunya! ”.
“ Mencari
buku?. Kau pikir kita punya banyak waktu?. Lebih baik kita ke tempat
teman-teman kita dulu!. Nanti barulah kita kembali ke sini untuk mencari buku!.
Tapi, kalau kita masih ingat jalannya. Ini saja entah kenapa aku menjadi lupa
jalan menuju skatepark itu!. Kau pun juga lupa ”.
“ Jadi,
kau tetap bersikeras untuk masuk ke sana? ”.
“ Iya,
sebentar saja!. 15 menit!. Kita langsung ke bagian buku-buku sejarah ”.
Mandy
menghela nafas, kesal. Akhirnya, ia pasrah menuruti ajakan Ben.
“ Siapa
tahu kita juga bisa menemukan peta di dalamnya ”, ujar Ben sambil berjalan
cepat memasuki perpustakaan. Di sampingnya, Mandy berusaha menyesuaikan
langkahnya.
♦♦
Daniela,
Ashley dan Lissette berhasil tiba kembali ke skatepark setelah sebelumnya
mereka dipusingkan dengan kegiatan mencari jalan menuju tempat itu.
“ Apa?.
Kenapa dia masih saja bermain skateboard di sana?. Di mana yang lainnya? ”,
tanya Danny, kesal sambil menatap Kyle yang masih meluncur di atas bowl.
“ Mandy
dan Ben juga sejak tadi belum terlihat berada di belakang kita. Aku khawatir
Mandy gagal mengejar Ben. Dan akhirnya ia tersesat sendiri ”, kata Lissette.
Ucapannya membuat Danny dan Ashley panik. Ketiganya sama-sama merasa bersalah
karena membiarkan Mandy mengejar Ben sendiri.
“ Ya,
sudahlah!. Yang penting sekarang kau ajak mantan pacarmu itu pergi dari tempat
ini. Aku sudah bosan melihatnya ”, pinta Ashley pada Danny.
Ucapan
Ashley membuat perasaan Daniela menjadi tak keruan.
Tiba-tiba
angin bertiup kencang. Menyapu debu dan pasir yang sangat mengganggu
penglihatan dan pernafasan. Ketiga gadis itu berusaha menutup hidung mereka dan
memicingkan sepasang mata mereka agar partikel-partikel kecil itu tidak masuk
ke dalam mata mereka.
Ketika angin
kencang berhenti bertiup, langit mendadak berubah menjadi gelap. Hitam pekat
tanpa cahaya bintang atau pun rembulan. Sesaat pandangan mata mereka tertuju ke
arah langit. Setelah puas menatap langit, mereka kembali menoleh ke arah Kyle.
Mereka terkejut melihat Kyle di kelilingi banyak mayat hidup.
“ Kyle! ”,
jerit Danny.
“
Bagaimana ini?. Ternyata mereka semua zombie! ”, kata Ashley.
“ Ayo,
cepat kita pergi dari sini! ”, ajak Lissette.
“ Tapi,
bagaimana dengan Kyle? ”, tanya Danny menatap khawatir ke arah Kyle. “ Kyle!.
Lihat di sekelilingmu! ”.
“
Sepertinya dia tidak mendengar ucapanmu. Apa kau mau mendekat? ”, tanya Ashley,
ragu.
“ Jangan!.
Bahaya Danny!. Bagaimana kalau para zombie itu menerkammu? ”, kata Lissette.
“ Tapi aku
tidak bisa membiarkan Kyle sendiri di sana. Kenapa sepertinya dia tidak
menyadari apa yang ada di sekelilingnya, seperti dia sedang terhipnotis? ”,
kata Danny. Ia benar-benar kalut.
Satu detik.....Dua
detik...., hingga semenit berlalu, tiba-tiba Daniela memberanikan diri untuk mendekati
Kyle.
“ Danny, jangan
nekat! ”, teriak Lissette, tapi tak dihiraukan.
Para zombie
itu tidak menghalangi jalan Daniela untuk mendekati Kyle. Ketika Kyle yang tengah
meluncur tiba di bagian bawah bowl, Daniela segera menahannya. Daniela menggenggam
tangan Kyle. Tindakannya membuat Kyle terhuyung. Untung saja Kyle tidak terjatuh.
“ Kyle, ayo
kita pergi dari sini! ”, ajak Danny. Ia mengatakannya setelah ia melepaskan genggaman
tangannya. Tapi ternyata, Kyle tidak mendengarkannya. Kyle kembali meluncur di atas
bowl. “ Kyle, kau tidak mendengarkan aku? ”, tanya Danny, kesal. Ia pun menggeram.
“ Bagaimana cara menyadarkannya? ”, gumam Danny dalam hati. Ia menatap satu-persatu wajah-wajah
menakutkan yang sejak tadi terus menatapnya dengan tatapan yang mengintimidasi.

Komentar
Posting Komentar