Di Balik Pembunuhan Karakter
Setiap manusia memiliki karakter
yang berbeda-beda. Karakter terbentuk berdasarkan pengalaman hidup
masing-masing. Terkadang menjadi karakter yang menarik simpati banyak orang sangat
sulit. Terkadang kita merasa telah melakukan segala sesuatu dengan baik dan
selalu mematuhi peraturan. Namun, tetap saja ada yang tidak menyukai apa yang
kita lakukan.
Banyak yang beranggapan bahwa
mereka yang bersikap seperti itu biasanya adalah mereka yang iri, bukan karena
ingin menegur perbuatan yang salah. Mungkin benar mengenai rasa iri ini, tapi
juga bisa salah.
Jelas, tidak ada orang yang suka
disalahkan. Pasti setiap orang lebih dulu mengecap dirinya benar sebelum
akhirnya ada yang memberikan kritikan. Ada yang dapat menerima kritikan, tapi
ada juga yang tidak dapat menerima kritikan. Mereka yang tidak dapat menerima
kritikan dan tidak mau memikirkan kritikan dari seseorang lebih jauh atau
dalam, biasanya akan langsung mengecap bahwa si pengkritik itu iri terhadapnya.
Di satu sisi, si pengkritik juga
bisa menjadi yang bersalah apabila kritikannya terlalu mengintimidasi
seseorang, apalagi jika kritikannya tidak objektif, tidak mengetahui lebih
dalam duduk permasalahan, tidak mau mengenal lebih dalam tentang seseorang yang
dikritiknya atau sembarang mengkritik.
Apabila hal ini dilakukan si
pengkritik berulang kali terhadap orang yang sama, secara tidak langsung ia
telah melakukan pembunuhan karakter. Biasanya hal ini dilakukan si pengkritik
secara sadar yang mana ia memang berniat untuk menjatuhkan seseorang terutama
jika seseorang itu adalah saingannya.
Mungkin ini bisa disebut Musuh
Dalam Selimut walaupun mereka tidak saling mengenal sebab si pengkritik
bersembunyi di balik kedoknya sebagai seseorang yang berniat membantu agar
orang yang dikritiknya tidak semakin terjerumus.
Terkadang si pengkritik dapat
membuat korban pembunuhan karakter merasa bersalah atas segala musibah atau
ujian yang menimpanya. Bukan memberikan pengarahan ke arah yang benar, tetapi
justru sebaliknya.
Fitnah sama dengan pembunuhan
karakter. Oleh karena itu, memfitnah disebut lebih kejam daripada pembunuhan
(nyawa). Membunuh karakter merupakan cara bersaing yang tidak sehat. Tanpa
disadari siapa pun (karena memang tak ada seorang pun yang mengetahui jalan
hidup seseorang termasuk jalan hidup sendiri), korban pembunuhan karakter
memiliki potensi yang dapat memajukan bangsa.
Namun, karena mentalnya sudah
terlanjur dijatuhkan, maka suatu bangsa dapat juga kehilangan seseorang yang
mungkin berpengaruh besar. Dan bisa saja hal ini yang menyebabkan suatu bangsa
tidak kunjung bisa maju. Mungkin saja mereka yang berpotensi bagi bangsa telah
dibunuh karakternya secara perlahan.
Lalu, bagaimana caranya
mengembalikan jati diri korban pembunuhan karakter?. Tentu saja dengan
terus-menerus memberikan mereka kepercayaan bahwa yang mereka lakukan belum
tentu sepenuhnya salah dan membantu mereka memilah mana yang baik dan mana yang
buruk, mana yang bisa ditelan dan mana yang harusnya dibuang. Hal ini akan
lebih baik dilakukan sebelum mental mereka berhasil dijatuhkan.
Selain membantu menumbuhkan
kepercayaan dalam diri korban pembunuhan karakter, kepercayaan juga harus
kembali ditumbuhkan di depan publik dengan cara menunjukkan sisi baik si korban
pembunuhan karakter. Tentu saja setiap manusia mempunyai sisi baik termasuk si
korban pembunuhan karakter.
Mungkin ini membutuhkan proses yang
berkepanjangan dan melelahkan, tetapi jika permasalahan ini tidak kunjung diselesaikan,
kecil kemungkinan bangsa ini bisa maju.

Komentar
Posting Komentar