Novel Fantasi Nietvermeld Bab 28
“ Danny,
jangan diam saja!. Cepat pergi dari situ! ”, teriak Ashley.
Daniela
hanya menoleh sekilas pada Ashley dan Lissette. Meskipun ia belum mengingat
tentang Kyle, entah kenapa hatinya menolak untuk pergi meninggalkan Kyle.
Rasanya ia tak ingin kehilangan Kyle.
Aku harus menemukan cara untuk mengalihkan perhatian Kyle
dari permainan skateboardnya. Sepertinya itu cara untuk menyadarkannya. Gumam Daniela dalam hati.
Daniela berjengit
ketika melihat sesosok zombie mulai beringsut. Ketakutannya pun akhirnya sampai
ke ubun-ubun. Ia telah memikirkan suatu cara untuk mengalihkan perhatian Kyle,
tapi ia merasa ragu dan malu untuk melakukannya karena mengingat status mereka
yang bukan sepasang kekasih lagi. Sampai detik ini, Daniela masih memercayai
ucapan Kyle bahwa mereka dulu pernah saling mencintai.
Satu-persatu
mayat-mayat hidup itu mulai beringsut. Tanpa berpikir panjang lagi, Daniela
menahan Kyle yang ketika itu tengah melaju di bagian dasar bowl. Ia menolehkan
wajah Kyle untuk menatap wajahnya. Dan ia pun mengecup bibir Kyle. Kejadian itu
membuat Ashley dan Lissette tercengang. Tak disangka rencananya berhasil.
Kyle
tersadar dari pengaruh sihir kota mati itu. Wajahnya terlihat syok.
Berkali-kali ia mengerjap-kerjapkan mata dengan wajah yang melongo.
“ Apa?!.
Jangan berpikiran yang macam-macam! ”, gertak Danny. Ia berusaha menutupi rasa
malunya. “ Sudah, ayo kita pergi dari sini!. Lihat di sekelilingmu! ”.
Ucapan
Daniela sontak menyadarkan Kyle dari lamunannya. Ia bergidik ketika melihat mayat-mayat
hidup di dekatnya tengah memerhatikannya seolah ingin memangsanya.
“ Dari
mana mereka datang? ”.
“ Mereka
itu para remaja yang tadi mempersilahkanmu bermain skateboard. Kau tidak ingat?
”.
Kyle
berusaha mengingat-ingat kejadian sebelumnya. “ Oh, iya!. Aku ingat!. Jadi
mereka semua zombie? ”.
“ Jangan
banyak tanya!. Ini bukan saat yang tepat! ”. Daniela yang dilanda kekesalan,
akhirnya berjalan mendahului Kyle dengan tergesa-gesa.
Kyle pun
segera mengejarnya. “ Di mana yang lainnya? ”, tanya Kyle ketika mengetahui
bahwa hanya ada Daniela, Ashley dan Lissette yang bersamanya.
“ Mungkin
mereka bosan menunggumu bermain skateboard, hingga akhirnya mereka pergi entah
ke mana ”, jawab Danny dengan ketus.
Mereka
berbincang sambil berjalan dengan langkah yang amat cepat agar para zombie itu
kehilangan jejak mereka.
“ Aku
minta maaf!. Aku tidak sadar tadi. Memangnya aku sudah berapa lama bermain di
sana? ”.
“ Mana aku
tahu!. Aku dan teman-temanku tadi pergi lebih dulu ”, jawab Danny masih dengan
ketus.
“ Kau jangan
marah-marah begitu!. Aku kan melakukannya tanpa disadari ”.
Kali ini
Daniela tidak menggubris ucapan Kyle.
“ Tadi kau
menciumku. Sekarang kau memarah-marahiku. Sebenarnya, apa yang kau inginkan? ”.
“ Hei, aku
tadi melakukannya hanya untuk mengalihkan perhatianmu dari permainan favoritmu
karena kau itu seperti sedang dalam pengaruh sihir ”.
“ Oh,
begitu!. Aku pikir..... ”, kata Kyle sambil menunduk. Ia berpura-pura kecewa.
Diam-diam ia melirik wajah Daniela.
Daniela
hanya melihat Kyle dari sudut matanya. Sikapnya terlihat dingin. Tak sedikit
pun senyum terulas di bibirnya.
Kyle pun
hanya bisa menghela nafas panjang. Kenapa
aku ini?. Kenapa aku merasa kecewa mendengar ucapannya?. Apakah aku....Gumam
Kyle dalam hati. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya. Beruntung ketiga
gadis itu tak mengingat hubungan mereka sebenarnya bahwa mereka sama sekali
tidak pernah saling mengenal. Dan bahwa ia telah dianggap sebagai musuh
bebuyutan oleh Zac, sepupu Daniela.
♦♦
“ Kira-kira apa hadiah dari perlombaan ini? ”. Finn memperhatikan sekelilingnya. Mencari seseorang
yang bisa dimintai informasi sebab dalam poster perlombaan ini tidak disebutkan
hadiahnya. “ Semoga ada trofi untuk
pemenangnya!. Aku ingin membawa pulang piala itu agar aku bisa menunjukkannya
pada Mom ”.
Seperti
sebuah sulap, ucapan Finn langsung terwujud. Ia terkesima melihat sebuah trofi
berwarna silver dengan bentuk microphone pada bagian puncaknya terletak di atas
meja kecil berkaki empat. “ Wow...trofi
yang bagus!. Trofi itu harus menjadi miliku agar Mom tidak menentangku lagi
untuk menjadi seorang bintang panggung! ”, gumam Finn dalam hati.
Seorang
pria muda berwajah pucat tiba-tiba menepuk pundak Finn dari belakang. Ia
mengisyaratkan Finn untuk naik ke atas panggung. Dari seragam yang dikenakannya,
Finn tahu bahwaa pria ini adalah salah seorang panitia perlombaan.
“ Apa
giliranku? ”, tanya Finn tampak tak percaya. “ Tak terasa!. Cepat sekali!.
Baiklah aku akan segera naik! ”.
Finn
menaiki undakan rendah untuk sampai ke atas panggung. Ia masih terlihat
kebingungan. “ Tadi mereka semua
menyanyikan lagu apa ya?. Semuanya seperti samar-samar ku dengar. Apa karena
aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri? ”.
Finn tak
menyadari bahwa para kontestan itu tidak bernyanyi. Mereka hanya
menggerak-gerakan mulut mereka. Membuka dan menutup. Suara nyanyian yang
samar-samar didengarnya bukanlah berasal dari suara mereka, melainkan dari
suara hatinya. Saat ini Finn sulit membedakan antara kenyataan dan alam bawah
sadar.
Finn
menggelengkan kepala sekali. Hal itu dilakukan untuk mengusir pikiran yang
mengusik dan membuatnya gundah-gulana. Ia lalu mengambil sebuah gitar akustik
dan mulai memainkannya.
♦♦
Perpustakaan
itu tidak begitu ramai. Mungkinkah setiap hari keadaannya seperti itu. Meskipun
begitu kondisi perpustakaan itu cukup terawat.
“ Jadi
kita mulai mencari dari mana? ”, tanya Mandy.
“ Cari
buku-buku tentang sejarah! ”, jawab Ben sambil berjalan menelusuri
lorong-lorong di antara rak-rak buku yang terbuat dari kayu dan berukuran cukup
tinggi. Mandy terus mengikuti langkahnya. “ Ini dia!. Kau cari sebelah sana! ”.
Mandy
menuruti Ben walaupun sebenarnya ia bingung memilih buku apa yang harus
dibacanya.
“ Aku
tidak mengerti judul-judul buku ini!. Yang mana buku yang penting untuk kita!
”, keluh Mandy akhirnya.
“ Ya,
sudah!. Biar aku sendiri saja yang mencarinya!. Kau memang payah! ”.
“ Kau
menyebalkan! ”. Mandy mendengus kesal. “ Lebih baik aku mencari buku
favoritku!. Buku fiksi! ”, katanya yang lalu berbalik badan, meninggalkan Ben
di lorong buku-buku sejarah.
Mandy
kembali menelusuri lorong-lorong di antara rak-rak buku di perpustakaan itu. Awalnya,
ia tak menyadari bahwa keadaan dalam perpustakaan itu telah berubah. Ia baru
memerhatikan bagian ruangan di mana meja-meja dari kayu dan kursi-kursi lipat
berjajar bersebelahan dan berhadapan. “ Ke mana semua pengunjung perpustakaan
ini ?. Tidak mungkin kan mereka semua keluar berbarengan? ”, gumamnya.
Mandy lalu
kembali menghampiri Ben yang masih sibuk mencari buku sejarah tentang
Nietvermeld.
“ Ben! ”,
tegurnya dengan sedikit berteriak.
Ben
terlonjak. “ Ada apa?. Kau mengagetkanku! ”.
“
Perpustakaan ini kosong!. Semua pengunjung tidak ada!. Apakah perpustakaan ini
sudah tutup? ”.
“ Apa?.
Coba kita tanya penjaganya! ”. Ben bergegas keluar dari ruangan tempat koleksi
buku-buku disimpan. Ia menuju ke loby perpustakaan untuk menemui penjaga
perpustakaan kota itu. Mandy terus mengikutinya di belakang.
Sesampai
di loby, Ben tidak menemukan penjaga perpustakaan itu. Wanita yang awalnya
duduk di belakang meja kayu yang sebelumnya dilihatnya ketika memasuki bangunan
ini sekarang sudah tidak ada.
“ Dia
tidak ada Ben! ”, kata Mandy panik.
“ Mungkin
dia sedang ke toilet! ”.
“ Tapi
tempat ini jadi terasa menakutkan!. Ya, Tuhan!. Aku benar-benar sangat membenci
perpustakaan!. Aku mau keluar saja! ”, kata Mandy tampak histeris. Ia pun
meraih daun pintu perpustakaan itu yang terbuat dari kaca. Ia menarik salah
satu dari daun pintu untuk membukanya, tetapi pintu itu terkunci. “ Tidak bisa
dibuka!. Ben, pintu ini tidak bisa dibuka ”.
“ Apa?.
Mungkin didorong! ”.
“ Yang
benar saja!. Tadi kita masuk dengan menariknya dan pintu ini terbuka. Mana
mungkin sekarang tiba-tiba jadi berubah ”, kata Mandy, kesal.
Ben pun
mencoba menarik dan mendorong pintu kaca itu. Ternyata pintu itu benar-benar
tidak bisa dibuka.
“
Jangan-jangan mereka semua sudah pulang!. Penjaga perpustakaan ini tidak tahu
kalau kita masih ada di dalam. Dan dia main mengunci tempat ini. Apa kita
pecahkan saja pintu kaca ini? ”.
“ Kita
bisa mendapat masalah nanti!. Kau mau ditahan di kota ini? ”.
“ Terus
kita harus bagaimana?. Aku tidak mau di sini sampai besok ”.
Ben
terdiam.
“ Ini
semua salahmu!. Kau memaksa untuk masuk ke perpustakaan ini! ”.
“
Tenanglah!. Aku sedang memikirkan caranya ”.
Mandy pun
terdiam. Berusaha untuk menenangkan diri.
“ Mungkin
kita bisa keluar dari jendela. Jendela-jendela di ruang membaca sepertinya bisa
dibuka. Ayo, ke sana! ”, ajak Ben.
Namun,
tiba-tiba langkah mereka terhenti. Keadaan dalam perpustakaan itu berubah
menjadi semakin mencekam. Perpustakaan itu menjadi lebih gelap. Pencahayaannya
sangat minim.
“ Kenapa
jadi gelap?. Aku takut Ben! ”.
Ben
mengerjap-kerjapkan matanya. Ia merutuki diri sendiri yang tidak menjaga
kesehatan matanya, hingga ia memiliki kekurangan tidak bisa melihat dengan jelas
dalam tempat yang kurang pencahayaan. Tapi, ia tidak ingin mengatakannya pada
Mandy. Mandy sebenarnya mengetahui kekurangan Ben itu, tapi Mandy yang
bersamanya sekarang adalah Mandy yang kehilangan ingatannya. Jadi, sudah pasti
Mandy tak mengetahui tentang kekurangan Ben itu.
“ Kalau
begitu, memang tidak ada cara lain....Kita pecahkan pintu kaca ini!. Aku yang
akan bertanggung jawab! ”.
Ben meraih
kursi lipat yang terletak di belakang meja penjaga perpustakaan. Ia lalu
menghantam pintu kaca perpustakaan dengan kursi lipat itu. Sayangnya yang
terjadi, pintu kaca itu seolah memantulkan kursi lipat yang menghantamnya,
hingga membuat Ben agak terhuyung.
“ Tidak
bisa dipecahkan! ”, kata Ben, syok.
Mandy tak
kalah syok darinya.
Tiba-tiba
dari suatu ruangan terdengar suara barang berjatuhan yang membuat mereka
terkejut berkali-kali.
“ Ben,
jangan-jangan tempat ini ada penunggunya! ”, kata Mandy. Ia benar-benar
ketakutan.
Ben merasa
iba melihatnya. Meskipun ia tak bisa melihat wajah Mandy dengan amat jelas, tapi
ia tahu bahwa kakaknya hampir menangis menghadapi situasi ini.
“ Ayo,
cepat kita ke ruang membaca!. Kita keluar dari jendela saja! ”. Ben menggenggam
tangan Mandy dan mengajaknya berjalan. Mandy berusaha menyamai langkah kaki
Ben.
Beberapa kali mereka mengitari tempat itu melalui
lorong yang berbeda. Namun, mereka terus tiba di tempat yang sama.
“ Kenapa kita
tiba di tempat ini lagi? ”, tanya Ben, kesal.
Mandy menangis.
Ia tak tahan lagi menghadapi situasi mencekam ini.
Ben merasa
hatinya sakit ketika mendengar suara isak tangis kakaknya. Ia segera memeluk Mandy.
“ Maafkan aku!. Aku sudah membuatmu terjebak dalam situasi ini! ”.
“ Sekarang
kita hanya bisa berharap agar teman-teman kita menemukan kita di sini. Tapi bagaimana
caranya untuk memberitahukan mereka bahwa kita berada di dalam sini? ”, kata Mandy
lirih.
“ Tidak!. Pasti ada jalan untuk keluar dari sini tanpa perlu
menunggu teman-teman datang! ”, gumam Ben dalam
hati.

Komentar
Posting Komentar