Memberi Nyawa Dalam Cerita Fiksi


Jika kita mengibaratkan cerita fiksi adalah manusia yang mempunyai nyawa, maka cerita fiksi tersebut juga harus memiliki lima panca indera yang bisa dirasakan oleh pembacanya.

Indera Penglihatan

Ketika penulis mendeskripsikan sebuah setting, pembaca dapat mevisualisasikannya dengan detail. Di situlah, cerita fiksi tersebut dikatakan telah memiliki indera penglihatan.

Namun, karena ada berbagai jenis karakter pembaca, deskripsi setting yang berlebihan terkadang akan membuat sebagian pembaca merasa jenuh dan akan melewatkan bagian itu.

Untuk itu, penulis harus pandai menentukan porsi yang pas dalam mendeksripsikan setting, seperti saat mendeskripsikan kamar seorang tokoh cerita. Tidak perlu mendeskripsikan setiap sisi atau bagian kamar. Cukup bagian kamar di mana si tokoh sedang berada.

Selain deskripsi setting, deskripsi perilaku tokoh cerita juga diharuskan. Bahkan, hal ini lebih penting daripada mendeskripsikan setting. Jangan biarkan pembaca berimajinasi sendiri dengan perilaku para tokoh cerita sesuai dialog mereka, kecuali jika si tokoh cerita memang hanya bersikap atau bernada bicara yang biasa saja.

Indera Penciuman

Ketika penulis mendeskripsikan sebuah aroma, pembaca dapat benar-benar menciumnya. Di situlah, cerita fiksi tersebut dikatakan telah memiliki indera penciuman.

Tak perlu khawatir jika pembaca akan merasa mual setelah membaca paragraf-paragraf yang berisikan deskripsi sebuah aroma. Mereka tak mungkin berhenti membaca hanya karena hal itu. Justru saat mereka benar-benar merasakan itu, berarti kamu telah berhasil memberi nyawa pada cerita fiksimu. Oleh karena itu, sebagai penulis dianjurkan untuk juga tidak merasa mual sendiri saat menuliskan paragraf-paragraf tersebut.

Memberi indera penciuman untuk cerita fiksi akan lebih mudah bagi penulis jika aroma yang ingin dideskripsikan adalah aroma yang segar dan harum. Jika tokohmu menggunakan parfum, sebut merk parfumnya walaupun tidak semua pembaca tahu merk parfum tersebut. Bahkan, aroma detergen pun dapat juga disebutkan jika tokoh ceritamu sedang berkutat dengan tugas mencuci pakaian.

Indera Pencecap  

Ketika penulis mendeskripsikan sebuah rasa, pembaca dapat benar-benar menyecapnya. Di situlah, cerita fiksi tersebut dikatakan telah memiliki indera pencecap.

Mengenai rasa tentu saja berhubungan dengan makanan. Memberikan indera pencecap sangat diperlukan jika cerita fiksimu sebagian besar menceritakan tentang seorang chef, pemburu kuliner atau tester.

Memberikan indera pencecap lebih sulit daripada indera penciuman karena tidak semua makanan di dunia ini pernah dicoba, kecuali kalau penulis sendiri adalah seorang pemburu kuliner.

Sering terdengar kabar bahwa sebuah novel pada dasarnya menceritakan cerita pribadi penulis itu sendiri, padahal dalam praktiknya tidak semuanya begitu. Tetapi, untuk masalah indera pencecap ini, penulis perlu benar-benar pernah berkecimpung  dalam segala hal yang berhubungan dengan kuliner.

Oleh karena itu, jika kamu tidak mempunyai background yang berhubungan dengan kuliner sebaiknya tidak memaksakan diri untuk menceritakan tentang seorang chef, pemburu kuliner atau tester.

Indera Pendengar

Ketika penulis mendeskripsikan sebuah suara, pembaca dapat mendengarkannya dengan jelas. Di situlah, cerita fiksi tersebut dikatakan telah memiliki indera pendengar.

Tidak terlalu sulit mendeskripsikan sebuah suara. Tinggal menyebutkan jenis musik, judul lagu atau sumber suara lainnya, semua pembaca langsung mengetahuinya. Namun, permasalahannya di sini, bagaimana caranya agar sebuah suara tersebut tidak dibiarkan berlalu begitu saja oleh pembaca.

Mungkin solusinya bisa dengan menyebutnya beberapa kali dalam paragraf berikutnya jika berhubungan dengan musik atau judul lagu. Tetapi, jika berhubungan dengan sumber suara lain, seperti suara hewan, masalah ini mungkin dapat diatasi dengan mendeskripsikan suara hewan tersebut dengan lebih detail.

Contoh :
Peternak itu memiliki kandang kuda yang letaknya tidak jauh dari kediamannya. Kandang kuda yang tidak terlalu besar. Namun, cukup untuk menampung 10 ekor kuda dewasa. Baik kuda jantan maupun kuda betina seluruhnya berwarna coklat.

Beliau mendirikan kandang kuda itu bersama dengan mendiang Ayahnya. Kandang kuda itu terbuat dari kayu Meranti yang memiliki tekstur agak kasar dan alur berwarna coklat kemerahan.

Ketika jam 11 malam, terdengar ringkikan seekor kuda. Awalnya, suara itu sayup-sayup terdengar karena sang peternak belum benar-benar terjaga dari tidurnya. Suara ringkikan itu timbul-tenggelam, tetapi terdengar berulang kali seolah memanggil sang peternak untuk menengok keadaannya. Suara yang memilukan, hingga membuat iba siapa pun yang mendengarnya. ......Dan seterusnya

Indera Peraba  

Ketika penulis mendeskripsikan tekstur sebuah benda, pembaca bisa merasakannya. Di situlah, cerita fiksi tersebut dikatakan telah memiliki indera peraba.

Kita mungkin akan sering mengalami kesulitan saat mendeskripsikan tekstur sebuah benda. Kita mungkin lebih sering hanya menyebut bahwa tekstur benda itu kasar, kental, halus atau licin. Memang tak masalah jika hanya menyebutkan demikian karena pembaca telah mengetahui benda apa yang tengah dipegang oleh si tokoh.

Namun, suatu benda terkadang terdiri dari beberapa jenis, seperti kain. Akan lebih baik penulis menyebutkan nama jenis kainnya agar pembaca tahu sekasar apa, sehalus apa atau selicin apa kain tersebut.

#sharingtipsmenulis
#belajarmenulisfiksi

Komentar

Populer Minggu Ini

4 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengarang

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax

Persen Dan Permil

Filosofi Kartu Joker

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Stressed Syllable dan Unstressed Syllable

Penggunaan Besides, Apart From, In Addition, Than, Furthermore, Moreover, After that, Meanwhile dan Meantime