Organisasi Pergerakan Nasional Di Indonesia

Budi Utomo

Soetomo, seorang mahasiswa STOVIA (Sekolah Kedokteran Belanda) mendirikan organisasi Budi Utomo di Jakarta pada 20 Mei 1908 atas prakarsa (inisiatif) dr. Wahidin Sudirohusodo. Budi Utomo bergerak di bidang sosial dan budaya dengan tujuan mencapai kemajuan dan meningkatkan derajat bangsa.

Organisasi ini telah melahirkan rasa kebangsaan yang pertama kali di tanah air. Oleh karena itu, hari kelahiran Budi Utomo senantiasa diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional bangsa Indonesia.

Dalam mencapai tujuannya, organisasi ini tidak menggunakan senjata, tetapi berjuang melalui organisasi yang bersifat modern. Selain itu, Budi Utomo berusaha merintis perjuangan yang bersifat nasional karena nyatanya perjuangan yang bersifat kedaerahan lebih menguntungkan pemerintah Belanda untuk memecah belah kekuatan bangsa.

Sarikat Islam (SI)

Sarikat Islam adalah organisasi penyempurna dari Sarikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan oleh Haji Samanhudi pada 10 September 1911. Usaha penyempurnaan ini dilakukan oleh H.O.S. Cokroaminoto.
Tujuan Sarikat Islam, yaitu :
- Mengembangkan jiwa dagang
- Membantu anggota yang mengalami kesulitan dalam bidang usaha
- Memajukan pengajaran bagi bangsa Indonesia
- Memperbaiki pendapat-pendapat yang keliru mengenai agama Islam
- Hidup menurut perintah agama

Dalam kongres Sarikat Islam ke-3 di Bandung tahun 1916, organisasi ini telah memiliki anggota sekitar 800.000 orang. Organisasi ini dapat dikatakan sebagai organisasi massa yang pertama di Indonesia. Kelahiran organisasi ini telah mengkhawatirkan pemerintah Belanda. Oleh karena itu, pemerintah Belanda selalu memantau gerak langkah organisasi ini. Adapun tokoh-toko Sarikat Islam yang terkenal adalah H. Agus Salim dan Abdul Muis.

Indische Partij (IP)

Indische Partij didirikan di Bandung pada 25 Desember 1912 oleh Tiga Serangkai, yaitu Douwes Dekker, Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) dan dr.Tjipto Mangoenkoesoemo. 

Tujuan organisasi ini adalah :

- Menumbuhkan dan meningkatkan jiwa persatuan semua golongan
- Memajukan tanah air dengan dilandasi jiwa nasional
- Mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka

Indische Partij beranggotakan masyarakat pribumi dan penduduk keturunan asing (Indo-Belanda, Cina, Arab dan lain-lain). Organisasi ini dianggap sebagai organisasi politik yang pertama di Indonesia. Program Indische Partij disebarluaskan melalui majalahnya yang diberi nama De Expres.

Pemerintah Belanda menolak keberadaan Indische Partij karena dinilai telah merusak keamanan umum. Oleh karena itu, ketiga pendiri organisasi ini dihukum dibuang ke negeri Belanda pada tahun 1913 dengan alasan :

- Indische Partij membahayakan kelangsungan penjajahan Belanda di Indonesia.
- Belanda merasa malu dengan sindiran Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara) yang tertuang dalam tulisan Als ik eens Nederlander was (Andaikata Aku Seorang Belanda).

   Tulisan Ki Hajar Dewantara ini merupakan sindiran bagi penyelenggaraan Peringatan Kemerdekaan Belanda yang ke-100 di Indonesia. Belanda pernah dijajah Prancis dan merdeka tahun 1814. Jadi, pernyataan kemerdekaan itu tidak pantas dikumandangkan di Indonesia sebab Belanda tidak memberikan kemerdekaan bagi bangsa Indonesia. Dengan diasingkannya ketiga tokoh pendiri organisasi ini, maka berakhirlah kiprah Indische Partij.

Komentar

Populer Minggu Ini

4 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengarang

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax

Persen Dan Permil

Filosofi Kartu Joker

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Stressed Syllable dan Unstressed Syllable

Penggunaan Besides, Apart From, In Addition, Than, Furthermore, Moreover, After that, Meanwhile dan Meantime