Indonesia Riwayatmu Dulu : Sejarah Kerajaan Makassar (Gowa Dan Tallo)

Pada abad ke-17 M, yaitu sekitar tahun 1605, kedua penguasa dari kerajaan kembar Gowa dan Tallo di Sulawesi Selatan, memeluk agama Islam. Dua kerajaan ini dikenal dengan nama kerajaan Makassar. Raja Gowa bernama Daeng Manrabia dengan gelar Sultan Alaudin, sedangkan raja Tallo bernama Kraeng Mantoaya dengan gelar Sultan Abdullah (mendapat julukan Awalul Islam). 

Dwi tunggal, Alaudin dan Abdullah sangat giat mengislamkan rakyat mereka dan memperluas daerah kerajaan mereka. Mereka berusaha meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dengan berpegang teguh pada keyakinan bahwa Allah SWT menciptakan lautan untuk semua hamba-Nya, sehingga tindakan sewenang-wenang Belanda terhadap Maluku ditentang secara terang-terangan oleh raja Alaudin.

Raja-raja yang memerintah kerajaan Makassar, yaitu :

- Raja Alauddin (1591-1638 M)

Pada abad ke-17 M, agama Islam berkembang pesat di Sulawesi Selatan. Raja Makassar yang pertama memeluk agama Islam adalah raja Alauddin. Di bawah pemerintahannya, kerajaan Makassar mulai terjun ke dalam dunia pelayaran perdagangan (dunia maritim) dan kesejahteraan rakyat meningkat.

- Sultan Hasanuddin

Pada masa pemerintahannya, kerajaan Makassar mencapai masa kejayaan. Kerajaan Makassar melakukan perluasan wilayah kekuasaan, hingga hampir berhasil menguasai seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Sultan Hasanuddin bercita-cita untuk menguasai seluruh jalur perdagangan nusantara. Untuk itu, ia mengadakan perluasan wilayah ke Kepulauan Nusa Tenggara, seperti menguasai Sumbawa dan sebagian Flores.

 Dengan begitu, seluruh aktifitas pelayaran perdagangan yang melalui Laut Flores harus singgah ke ibu kota kerajaan Makassar. Keadaan ini ditentang oleh  Belanda yang memiliki daerah kekuasaan di Maluku dengan pusatnya Ambon karena hubungan Batavia dengan Ambon terhalang oleh kerajaan Makassar.

Akhirnya, terjadi peperangan antara Belanda dengan kerajaan Makassar. Sultan Hasanuddin adalah raja yang berani memorak-porandakan pasukan Belanda di Maluku. Atas keberaniannya, ia mendapat julukan Ayam Jantan Dari Timur.

Dalam upaya menguasai kerajaan Makassar, Belanda menjalin hubungan dengan Aru Palaka. Dengan bantuan Aru Palaka, pasukan Belanda berhasil mendesak kerajaan Makassar dan menguasai ibu kota kerajaan. Sebagai jalan damai dilakukan perjanjian Bongaya pada tahun 1667 M yang berisi :

- VOC memperoleh hak memonopoli perdagangan di Makassar
- Belanda dapat mendirikan benteng di Makassar yang diberi nama Benteng Rotterdam
- Makassar harus melepaskan daerah kekuasaannya, seperti Bone dan pulau-pulau di luar Makassar, hingga wilayah yang tersisa hanya Gowa
- Makassar harus membayar seluruh biaya perang
- Aru Palaka diakui sebagai raja Bone

- Mapasomba

Setelah Sultan Hasanuddin turun takhta, ia digantikan oleh putranya Mapasomba. Sultan Hasanuddin sangat berharap Mapasomba dapat bekerja sama dengan Belanda agar kerajaan Makassar tetap bertahan. Tetapi, Mapasomba jauh lebih keras dari Sultan Hasanuddin, sehingga Belanda mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menghadapi Mapasomba. Pasukan Mapasomba berhasil dihancurkan, sedangkan nasib Mapasomba tidak diketahui jelas. Dengan kemenangan ini, Belanda berkuasa sepenuhnya terhadap kerajaan Makassar.


Kerajaan Makassar pernah menaklukkan kerajaan Bone. Untuk lebih menguasai jalannya perdagangan dilakukan perluasan daerah ke arah selatan, hingga pulau-pulau di sebelah selatan dan tenggara pun berhasil dikuasai. Pulau-pulau tersebut, antara lain Pulau Selayar, Pulau Butung atau Buton, Pulau Sumbawa dan Pulau Lombok di Nusa Tenggara. Dengan demikian jalan perdagangan waktu musim barat yang melalui sebelah utara kepulauan Nusa Tenggara dan jalan perdagangan waktu musim timur yang melalui sebelah selatan Sulawesi dapat dikuasai.

Makassar berkembang menjadi pelabuhan internasional. Pedagang asing yang melakukan kegiatan perdagangan dengan Makassar, antara lain Portugis, Inggris dan Denmark. Pedagang-pedagang Makassar memiliki perahu dengan tipe seperti pinisi dan lambo, sehingga memegang peranan penting dalam perdagangan di Indonesia. Perahu-perahu pinisi menjadi kebanggaan rakyat Sulawesi Selatan. Perahu-perahu pinisi terjual di dalam negeri maupun ke mancanegara.

Keadaan ini tak dapat diterima oleh Belanda, sehingga beberapa kali terjadi peperangan. Belanda yang berkuasa atas Maluku menganggap Makassar sebagai pelabuhan gelap karena Makassar memperjualbelikan rempah-rempah yang berasal dari Maluku.

      Pemerintah Makassar menyusun hukum perniagaan yang disebut Ade Allopiloping Bicaranna Pabbahi’e untuk mengatur pelayaran dan perniagaan dalam wilayah, serta menyusun sebuah naskah lontar karya Amanna Gappa.

Komentar

Populer Minggu Ini

4 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengarang

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax

Persen Dan Permil

Filosofi Kartu Joker

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Stressed Syllable dan Unstressed Syllable

Penggunaan Besides, Apart From, In Addition, Than, Furthermore, Moreover, After that, Meanwhile dan Meantime