Indonesia Riwayatmu Dulu : Sejarah Kerajaan Malaka

Pada masa kejayaannya, kerajaan Malaka merupakan pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam di Asia Tenggara. Perkembangan pesat kerajaan Malaka dikarenakan letaknya yang strategis dalam aktifitas pelayaran dan perdagangan, yaitu di Semenanjung Malaya dengan ibu kota terletak di tepi Selat Malaka.

Kapal-kapal dari Indonesia bagian timur membongkar sauh di pelabuhan Malaka. Begitu pun dengan kapal-kapal dari negeri Cina. Sedangkan kapal-kapal dari India maupun negara-negara Arab datang dari arah utara untuk membeli dan mengangkut barang dagangan ke negerinya atau diteruskan ke Eropa melalui pelabuhan Venesia.

Malaka memungut pajak penjualan dan bea cukai barang-barang yang masuk dan keluar untuk kas negara. Sementara itu, raja maupun pejabat-pejabat penting memperoleh upeti atau persembahan dari pedagang yang dapat menjadikan mereka sangat kaya.

Di kerajaan Malaka terdapat undang-undang laut yang berisi pengaturan pelayaran dan perdagangan di wilayah kerajaan. Dalam undang-undang laut itu ditentukan syarat-syarat sebuah kapal untuk berlayar, nama-nama jabatan, serta tanggung jawab masing-masing saat berlabuhnya kapal tersebut dan sebagainya.

Bahasa Melayu atau disebut juga bahasa Kwun-lun menjadi bahasa perantara untuk mempermudah komunikasi antar pedagang. Masyarakat kerajaan Malaka hidup dari dunia maritim, sehingga hubungan sosial di antara mereka sangatlah kurang, bahkan cenderung individual. Mereka disebut dengan masyarakat maritim.

Beberapa karya sastra melayu dari kerajaan Malaka menggambarkan kepahlawanan dan keperkasaan tokoh-tokoh pendamping kerajaan Malaka dalam menjalankan pemerintahan. Tokoh-tokoh tersebut disebut sebagai Pahlawan Samudera. Mereka adalah Hang Tuah, Hang Lekir dan Hang Jebat.

Raja-raja yang memerintah di kerajaan Malaka, yaitu :

- Iskandar Syah (1396-1414 M)

Pada awal abad ke-15 M, terjadi Perang Paregreg (perang saudara) di kerajaan Majapahit. Dalam peperangan itu, seorang pangeran kerajaan Majapahit bernama Paramisora diiringi para pengikutnya melarikan diri dari daerah Blambangan ke Tumasik (Singapura).

Tetapi, karena daerah Tumasik merupakan sarang dan tempat persembunyian para bajak laut, sehingga dianggap kurang aman dan kurang sesuai untuk mendirikan kerajaan. Paramisora beserta pengikutnya melanjutkan perjalanan ke arah utara, hingga tiba di Semenanjung Malaya.

Di daerah itu, Paramisora dan para pengikutnya membangun sebuah perkampungan dengan dibantu oleh para petani dan nelayan setempat. Perkampungan itu diberi nama Malaka. Daerah perkampungan itu mengalami perkembangan cukup pesat karena letaknya yang strategis. Hal itu mendorong Paramisora untuk mendirikan kerajaan bernama Kerajaan Malaka dengan ia sebagai raja pertamanya.

Aktifitas perdagangan di Selat Malaka pada waktu itu didominasi oleh para pedagang Islam. Mereka hanya mau melakukan aktifitas perdagangan pada bandar-bandar Islam. Oleh karena itu, Paramisora memutuskan untuk menganut agama Islam dan mengganti namanya menjadi Iskandar Syah. Ia memutuskan menjadikan kerajaan Malaka menjadi kerajaan Islam.

Pada tahun 1405 M, untuk menjaga keamanan kerajaan Malaka, Iskandar Syah meminta bantuan kepada kaisar Cina dengan menyatakan takluk kepadanya. Iskandar Syah berhasil meletakkan dasar-dasar kerajaan Malaka.

- Muhammad Iskandar Syah (1414-1424 M)

Muhammad Iskandar Syah adalah putra Iskandar Syah yang menggantikannya untuk memimpin kerajaan Malaka. Di bawah pemerintahannya, wilayah kekuasaan kerajaan Malaka diperluas, hingga mencapai seluruh wilayah Semenanjung Malaya.

Muhammad Iskandar Syah bertujuan menjadikan kerajaan Malaka sebagai penguasa tunggal jalur pelayaran perdagangan di Selat Malaka dengan menguasai kerajaan Samudera Pasai. Tetapi, karena pada masa itu kekuatan kerajaan Samudera Pasai masih lebih kuat daripada kerajaan Malaka, ia memutuskan untuk menguasai kerajaan Samudera Pasai dengan melakukan penikahan politik. Ia menikah dengan putri kerajaan Samudera Pasai. Siasatnya berhasil untuk menguasai Selat Malaka.

Di bawah pemerintahannya, pelayaran perdagangan di Selat Malaka bertambah ramai. Muhammad Iskandara Syah berhasil membawa kerajaan Malaka mencapai puncak kejayaan sebagai kerajaan maritim. Namun, di tengah-tengah keberhasilannya terjadi pemberontakan (coup) dari saudaranya sendiri, Mudzafat Syah, hingga berakhirlah kekuasaan Muhammad Iskandar Syah.

- Mudzafat Syah (1424-1458 M)

Mudzafat Syah naik takhta dan mendapat gelar Sultan setelah menyingkirkan Muhammad Iskandar Syah. Ia adalah raja pertama di kerajaan Malaka yang bergelar Sultan. Pada masa pemerintahannya, terjadi serangan melalui darat dan laut dari kerajaan Siam. Namun, kerajaan Malaka berhasil mengalahkan kerajaan Siam.

Di bawah pemerintahannya, kerajaan Malaka terus mengadakan perluasan ke daerah-daerah di sekitar kerajaan Malaka, seperti Pahang, Indragiri dan Kampar.

- Sultan Mansyur Syah (1458-1477 M)

Sultan Mansyur Syah naik takhta menggantikan ayahnya, Mudzafat Syah yang wafat. Di bawah pemerintahannya, kerajaan Malaka mencapai masa kejayaan dan berhasil menjadi pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam di Asia Tenggara. Kerajaan Malaka mengadakan perluasan wilayah ke daerah Rokan. Pada masa pemerintahannya terjadi pertempuran dengan kerajaan Siam sama halnya dengan yang terjadi pada masa pemerintahan ayahnya.

Dalam pertempuran kali ini raja Siam tewas, sedangkan putra mahkotanya ditawan dan dibawa ke Malaka. Putra mahkota kerajaan Siam itu dinikahkan dengan putri Sultan Mansyur Syah dan diangkat menjadi raja dengan gelar Ibrahim. Daerah Siam pun menjadi wilayah kekuasaan kerajaan Malaka.

Walaupun kerajaan Malaka semakin bertambah maju, tetapi kerajaan Samudera Pasai tidak diserang. Jambi dan Palembang yang dilindungi oleh kerajaan Majapahit terpaksa dihormati oleh kerajaan Malaka. Kerajaan Batak, Aru (Haru) tetap sebagai kerajaan merdeka dan menjalin hubungan baik dengan kerajaan Malaka.

Pada masa pemerintahannya, hidup seorang Laksamana yang terkenal dalam membantu Sultan mengembangkan kerajaan. Laksamana itu bernama Hang Tuah. Jasa besar Hang Tuah dalam mengembangkan kerajaan Malaka dikisahkan dalam Hikayat Hang Tuah. Kebesaran Hang Tuah disamakan dengan kebesaran Patih Gajah Mada dari kerajaan Majapahit.

– Sultan Alaudin Syah (1477-1488 M)

Pada awal masa pemerintahannya, perekonomian kerajaan Malaka tetap stabil. Namun, karena Sultan Alaudin Syah tidak secakap ayahnya, Sultan Mansyur Syah, kekuasaan kerajaan Malaka mulai mengalami kemerosotan. Daerah-daerah yang dulu ditaklukkan Sultan Mansyur Syah, akhirnya satu-persatu melepaskan diri dari kerajaan Malaka.

– Sultan Mahmud Syah (1488-1511 M)

Di bawah pemerintahan Sultan Mahmud Syah, kerajaan Malaka merupakan kerajaan yang sangat lemah. Daerah kekuasaan hanya meliputi sebagian kecil Semenanjung Malaya. Pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Syah, muncul ekspedisi bangsa Portugis di bawah pimpinan Alfonso d’Albuquerque. Bangsa Portugis berusaha merebut kerajaan Malaka. Akhirnya, pada tahun 1511 M, kerajaan Malaka jatuh ke tangan bangsa Portugis.

Komentar

Populer Minggu Ini

4 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengarang

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax

Persen Dan Permil

Filosofi Kartu Joker

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Stressed Syllable dan Unstressed Syllable

Penggunaan Besides, Apart From, In Addition, Than, Furthermore, Moreover, After that, Meanwhile dan Meantime