Indonesia Riwayatmu Dulu : Sejarah Kerajaan Aceh

Letak kerajaan Aceh sangat strategis, yaitu di pulau Sumatera bagian utara dekat dnegan jalur pelayaran perdagangan internasional pada masa itu, yaitu di sekitar Selat Malaka. Berdasarkan berita-berita orang Eropa diketahui bahwa kerajaan Aceh berhasil membebaskan diri dari kekuasaan kerajaan Pendir.

Daerah Aceh subur dan banyak menghasilkan lada. Kekuasaan Aceh atas daerah-daerah pantai timur dan barat Sumatera menambah jumlah ekspor timah (dari Perlak dan Pahang), beras, lada (dari daerah Aceh sendiri), emas, perak (dari Minangkabau) dan rempah-rempah (dari Maluku). Barang-barang impor kerajaan Aceh, antara lain kain dari Koromandel (India), porselin dan sutera (dari Jepang dan Cina) dan minyak wangi (dari Eropa dan Timur Tengah).

Bangsa-bangsa yang berdagang dengan Aceh, antara lain Belanda, Inggris, Arab, Persia, Turki, India, Siam, Cina dan Jepang. Kapal-kapal Aceh juga aktif dalam perdagangan dan pelayaran sampai ke Laut Merah. Kemakmuran yang semakin meningkat berdampak pada berkembangnya sistem feodalisme (aliran di mana kekuasaan dipegang oleh kaum bangsawan). Kaum bangsawan yang memegang kekuasaan dalam pemerintahan sipil disebut golongan Teuku, sedangkan kaum ulama yang memegang peran penting dalam urusan agama disebut golongan Tengku.

Sejak kerajaan Perlak berkuasa sekitar abad ke-12 M sampai abad ke-13 M) telah terjadi permusuhan dalam golongan Tengku antara aliran Shiah (memercayai keluarga nabi Muhammad SAW sebagai guru terbaik dan terpercaya) dengan aliran Sunnah Wal Jama’ah.

Raja-raja yang memerintah kerajaan Aceh, yaitu :

- Sultan Ali Mughayat Syah (1514-1528 M)

Pada masa pemerintahannya, kerajaan Aceh melakukan perluasan ke beberapa daerah yang berada di wilayah Sumatera Utara, seperti daerah Daya dan Pasai. Bahkan, kerajaan Aceh melakukan serangan terhadap kedudukan bangsa Portugis di Malaka dan menyerang kerajaan Aru (Haru).

- Sultan Salahu’ddin (1528-1537 M)

Sultan Salahu’ddin adalah putra Sultan Ali Mughayat Syah. Selama menduduki takhta kerajaan, ia ternyata tidak pernah memedulikan pemerintahan kerajaannya. Keadaan kerajaan pun mulai mengalami kemerosotan. Oleh karena itu, Sultan Salahu’ddin diganti oleh saudaranya bernama Alauddin Riayat Syah Al-Kahar.

- Sultan Alauddin Riayat Syah Al-Kahar (1537-1568 M)

Pada masa pemerintahannya, dilakukan beberapa perubahan dan perbaikan dalam segala bentuk pemerintahan. Kerajaan Aceh melakukan perluasan wilayah dengan melakukan serangan terhadap kerajaan Malaka, tetapi gagal. Namun, daerah kerajaan Aru berhasil diduduki. Setelah Sultan meninggal, kerajaan Aceh mengalami masa suram. Pemberontakan dan perebutan kekuasaan sering terjadi. Keadaan seperti ini terus berlarut-larut dalam waktu yang cukup lama.

- Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M)

Sultan Iskandar Muda meneruskan perjuangan Aceh untuk menyerang Portugis di Malaka dan kerajaan Johor di Semenanjung Malaya. Tujuannya adalah menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan menguasai daerah-daerah penghasil lada. Akhirnya, pada masa pemerintahannya, kerajaan Aceh kembali mengalami masa kejayaan, hingga tumbuh menjadi kerajaan besar dan berkuasa atas perdagangan Islam. Bahkan, kerajaan Aceh menjadi bandar transito (bandar penghubung) yang dapat menghubungkan pedagang Islam di dunia barat.

Sultan Iskandar Muda sempat menolak permintaan Inggris dan Belanda untuk membeli lada di pesisir Sumatera bagian barat. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, kerajaan Aceh berkuasa atas daerah Aru, Pahang, Kedah, Perak dan Indragiri. Selain itu, terdapat dua orang ahli tasawwuf bernama Syech Syamsu’ddin bin Abdu’llah A-samatrani dan Syech Ibrahim As-Syami.

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, aliran Shiah mendapat perlindungan dan berkembang sampai di daerah-daerah kekuasaan Aceh. Aliran Shiah diajarkan oleh Hamzah Fansuri seorang sufi dan diteruskan oleh muridnya, Syamsudin Pasai. Setelah Sultan Iskandar Muda wafat, aliran Sunnah Wal Jama’ah dengan tokohnya bernama Nuru’ddin Ar-Raniri memperoleh kesempatan berkembang. Nuru’ddin Ar-Raniri sangat dihormati oleh kalangan istana dan rakyat Aceh. Nuru’ddin Ar-Raniri menulis buku sejarah Aceh berjudul Bustanu’l ssalatin (taman raja-raja) berisi adat-istiadat Aceh dan ajaran agama Islam.

- Sultan Iskandar Thani (1636-1641 M)

Sultan Iskandar Thani adalah menantu Sultan Iskandar Muda. Pada masa pemerintahannya, kerajaan Aceh mengalami kemunduran, sampai ia wafat dan digantikan oleh permaisurinya (putri Iskandar Muda) yang bergelar Putri Sri Alam Permaisuri (1641-1675 M). Pada masa pemerintahan Putri Sri Alam Permaisuri, kerajaan Aceh semakin mengalami kemunduran. Tak ada yang bisa menggantikan kecakapan Sultan Iskandar Muda.

 Daerah-daerah kekuasaan Aceh akhirnya banyak yang melepaskan diri, seperti Johor, Pahang, Perlak, Minangkabau dan Siak. Banyaknya daerah yang melepaskan diri tak lepas dari campur tangan bangsa asing yang menginginkan keuntungan perdagangan yang lebih besar.

Kerajaan Aceh yang berkuasa selama kira-kira 4 abad, akhirnya runtuh karena dikuasai oleh Belanda pada awal abad ke-20.

Komentar

Populer Minggu Ini

4 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengarang

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax

Persen Dan Permil

Filosofi Kartu Joker

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Stressed Syllable dan Unstressed Syllable

Penggunaan Besides, Apart From, In Addition, Than, Furthermore, Moreover, After that, Meanwhile dan Meantime