(Lengkap) Perlawanan Rakyat Indonesia Pada Masa Penjajahan
Perlawanan rakyat Indonesia
terhadap Portugis dan Belanda mulai dilakukan karena para pendatang asing itu
melakukan monopoli (hak tunggal), menerapkan politik devide et impera
(pecah belah dan kuasai) dan penguasaan wilayah secara paksa.
Perlawanan
Ternate Terhadap Portugis
Pada tahun 1533, Ternate di bawah
pimpinan Dajalo yang semula bersekutu dengan Portugis, akhirnya membakar
benteng milik Portugis karena mengetahui maksud Portugis yang ingin memonopoli
perdagangan rempah-rempah. Tahun 1536, Portugis mengirim bala bantuan dari
Malaka di bawah pimpinan Antonio Galvao. Antonio Galvao berhasil
memaksakan perdamaian dengan rakyat Maluku, sehingga Portugis masih dapat
mempertahankan kekuasaan di wilayah ini.
Portugis yang dipimpin Gubernur Lopez
De Mesquita berhasil mencapai perjanjian dengan Raja Ternate, Sultan Hairun
pada tahun 1570. Isi perjanjian menyatakan bahwa Portugis masih dapat
memonopoli perdagangan rempah-rempah. Namun beberapa lama kemudian, Sultan
Hairun dibunuh oleh suruhan Lopez De Mesquita. Akhirnya, peperangan kembali
berkobar. Rakyat Ternate berada di bawah kepemimpinan putra Sultan Hairun,
Sultan Baabullah.
Hampir tujuh tahun Portugis
terkurung di dalam benteng-bentengnya, hingga satu-persatu benteng-benteng itu
berhasil direbut Ternate. Tahun 1577, rakyat Ternate berhasil mengusir Portugis
dari wilayahnya.
Perlawanan
Mataram Terhadap Belanda
Mataram yang berada di bawah
pimpinan Sultan Agung (1613-1645) bertujuan melanjutkan cita-cita Panembahan
Senopati untuk menyatukan daerah-daerah di pulau Jawa. Namun, keinginan ini
terganjal karena keberadaan VOC. Karena itu, Sultan Agung berusaha untung
menyerang VOC di Batavia.
Tahun 1628, serangan pertama
dilaksanakan di bawah pimpinan Tumenggung Bahurekso. Ia bersama 50 armadanya
mendarat di Marunda dekat Batavia. Mereka membangun kubu dan perkemahan bambu
di dekat rumah-rumah penduduk. Namun, keberadaan mereka diketahui oleh VOC. VOC
pun membakar kampung-kampung yang melindungi kubu pasukan Mataram agar pasukan
Mataram tidak bisa bersembunyi dan menyamar di rumah-rumah penduduk. Akhirnya,
perang pecah antara VOC dan Mataram.
Pasukan Mataram berusaha menerobos
berikade Benteng Holandia melalui tangga-tangga bambu. VOC berhasil mengatasi
pasukan Mataram. Bahkan, Tumenggung Bahurekso dan putranya turut tewas dalam
peperangan.
Akan tetapi, Mataram belum menyerah
melawan VOC. Pasukan Mataram berikutnya dipimpin oleh Suro Agul-Agul,
Mandurorejo dan Uposonto. Mereka membendung sungai Ciliwung dan mengalirkan
bangkai-bangkai agar bau busuk menyelimuti Batavia dan menyebarkan penyakit
pada musuh. Sayangnya, strategi ini tetap gagal.
Tahun 1629, pasukan Mataram kembali
menyerang Benteng Holandia dan Benteng Bommel. Benteng Holandia berhasil
dihancurkan, tetapi Benteng Bommel masih bisa diselamatkan oleh VOC. VOC
melakukan serangan balik dengan membakar gudang-gudang perbekalan Mataram di
Cirebon dan Tegal untuk mematahkan perlawanan pasukan Mataram. VOC mengetahui
gudang-gudang itu dari mata-matanya. Kondisi ini ditambah dengan habisnya
persediaan peluru mengakibatkan pasukan Mataram kembali gagal.
Belajar dari pengalaman pahit ini,
Sultan Agung memindahkan sebagian rakyatnya ke Kerawang dan Sumedang
untuk membuka pesawahan agar persediaan beras tidak habis guna mendukung
pasukan Mataram yang akan menyerang VOC. Namun, sebelum rencana ini terwujud,
Sultan Agung wafat tepatnya pada tahun 1645.
Sunan Amangkurat I (1645-1677)
menggantikan ayahnya. Naasnya, Sunan Amangkurat I memilih bersahabat dengan
VOC. Pada tahun 1674, Trunojoyo didukung Karaeng Galesung dan Monte Marano
(pelaut Makasar), Macan Wulung (Madura), Panembahan Rama (Giri) dan Raden
Kajoran (Bagelen) melakukan perlawanan terhadap Sunan Amangkurat I karena rasa
tidak puas mereka dengan kepemimpinannya.
Mereka berhasil menguasai sebagian
Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah. Mereka pun berhasil menyerbu ibu kota
Mataram, hingga Amangkurat I melarikan diri. Ia pun meninggal dalam
pelariannya.
Sunan Amangkurat I digantikan oleh putranya,
Adipati Anom yang mendapat gelar Amangkurat II. Ia meminta bantuan pada VOC
untuk menghadapi Trunojoyo. VOC pun mendatangkan bala bantuan dari Maluku di
bawah pimpinan Kapten Jonker. Dalam pertempuran yang tak seimbang di Selakurung
(Kediri) pada tahun 1679, Trunojoyo dapat dikalahkan. Trunojoyo ditangkap dan
tewas ditusuk Amangkurat II. Sejak saat itu, Mataram berada dalam pengaruh VOC.
Ternyata, seorang mantan serdadu
VOC, Untung Suropati tidak tega melihat bangsanya diperlakukan sewenang-wenang
oleh VOC. Ia pun memulai perlawanan di Banten, Jawa Barat. VOC di bawah
pimpinan Kapten Tack pun berhasil dikalahkan. Bahkan, Kapten Tack berhasil
dibunuhnya.
Tahun 1703, Amangkurat II wafat. Ia
pun digantikan oleh putranya, Sunan Mas yang mendapat gelar Amangkurat III.
Keberadaan Amangkurat III ternyata tidak diakui oleh VOC karena mereka lebih
menyukai Pangeran Puger. Dengan bantuan VOC, Pangeran Puger berhasil merebut
takhta Mataram dan mendapat gelar Pakubuwono I. Sunan Mas pun bersekutu dengan
Untung Suropati untuk menyerang VOC. Namun, Untung Suropati gugur dalam
mempertahankan benteng di Bangil, Pasuruan. Sunan Mas pun ditangkap dan dibuang
ke Sri Lanka oleh VOC.
Pada masa pemerintahan Pakubuwono
II, campur tangan VOC semakin merugikan Mataram. Situasi ini menimbulkan
perlawanan dari kaum bangsawan di bawah pimpinan kemenakan dan adik Pakubuwono
II, yaitu Mas Said dan Pangeran Mangkubumi. Tahun 1749, mereka berhasil
mengalahkan VOC di tepi sungai Bogowonto. Bahkan, komandan VOC, Mayor de Clerx
terbunuh dalam peperangan itu.
Pada saat perang berlangsung,
Pakubuwono II wafat. Ia sempat menitipkan Mataram pada VOC. Pakubuwono III,
sebagai penggantinya terpaksa harus mengakui dirinya sebagai raja yang takluk
pada VOC.
Tahun 1705, VOC berhasil membujuk
Pangeran Mangkubumi untuk berdamai melalui perjanjian Gianti yang berisi :
- Mataram Timur diberikan kepada
Pakubuwono II dengan ibu kota Surakarta
- Mataram Barat diberikan kepada
Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Hamengkubuwono I dengan ibu kota
Yogyakarta.
Tahun 1757, Mas Said juga berdamai
dengan VOC melalui perjanjian Salatiga yang berisi :
- Mataram Timur sebagian kecil
diserahkan kepada Mas Said yang diangkat menjadi Adipati dengan gelar Pangeran
Mangkunegara I
- Daerah kekuasaan Mas Said adalah
Mangkunegaran
Penandatanganan kedua perjanjian
ini mengakhiri kebesaran Mataram yang telah dibangun dengan susah payah oleh
Sultan Agung. Akibat politik devide et impera,
VOC berhasil memecah belah Mataram menjadi kerajaan-kerajaan kecil. Selain itu,
VOC berhasil menempatkan diri sebagai yang dipertuan bagi raja-raja Jawa.
Perlawanan
Makasar Terhadap Belanda
Tahun-tahun berikutnya, VOC
mengincar Makasar di bawah pimpinan Jenderal Maetsuijker. VOC menuntut agar Makasar
menutup bandar-bandar bagi kapal dagang asing dan memberi monopoli kepada VOC.
Tapi permintaan ini ditolak mentah-mentah oleh Makasar yang saat itu dipimpin
oleh Sultan Hasanuddin. VOC pun mengirim 21 armada dari Batavia di bawah
pimpinan Cornelis Speelman. Perang antar Belanda dan Makasar pun terjadi di
bulan Desember 1666.
Dengan bekal persenjataan yang
dibeli dari negara yang diberi kesempatan berdagang dengan Makasar, yaitu
Inggris, Denmark dan Portugal, Makasar sulit ditaklukkan. VOC kembali menyusun
rencana untuk melakukan politik devide et impera.
VOC mencium kabar bahwa Raja Bone, Arung Palaka menaruh dendam pada Sultan
Hasanuddin karena kerajaan Sopeng dikalahkan oleh Makasar. VOC pun mengadudomba
Arung Palaka dengan Sultan Hasanuddin.
Tanggal 21 Desember 1666, perang
pecah kembali. VOC bersekutu dengan Arung Palaka. Benteng di Sambaopu,
Panakubang dan Makasar ditembaki meriam oleh VOC. Pada 7 Juli 1667, pertempuran
semakin hebat. Pertempuran yang tidak seimbang. Sedikit demi sedikit pasukan
Hasanuddin terdesak, hingga terpaksa menerima tawaran VOC untuk berdamai
melalui perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667 yang berisi :
- VOC memperoleh hak memonopoli
perdagangan di Makassar
- Belanda dapat mendirikan benteng
di Makassar yang diberi nama Benteng Rotterdam
- Makassar harus melepaskan daerah
kekuasaannya, seperti Bone dan pulau-pulau di luar Makassar, hingga wilayah
yang tersisa hanya Gowa
- Makassar harus membayar seluruh
biaya perang
- Aru Palaka diakui sebagai raja
Bone
Perlawanan
Banten Terhadap Belanda
Banten dibawah pimpinan Sultan
Ageng Tirtayasa (1651-1683) berusaha mengamankan wilayah perairannya dari
gangguan blokade VOC dengan bersahabat dengan Inggris, Denmark dan Prancis
dalam memperkuat pertahanan negara.
Kerajaan Banten menyusun basis
kekuatannya di Angke yang berada di perbatasan antara Tangerang dan Batavia.
Kerajaan Banten juga bekerja sama dengan Bengkulu, Cirebon dan Mataram. Tetapi,
rupanya VOC juga telah menyiapkan pasukan yang berasal dari orang-orang Melayu,
Bugis, Bali, Makasar dan Banda.
Tahun 1656, Banten menyerang
Batavia karena dirasa persiapan telah matang. Banten pun berhasil
menenggelamkan 2 kapal VOC, hingga kedudukan VOC terjepit. Dalam keadaan
terdesak, VOC mencium perpecahan di kalangan istana. VOC pun berhasil
merenggangkan hubungan Sultan Ageng Tirtayasa dengan putra pertamanya, Pangeran
Abdul Kahar yang terkenal dengan sebutan Sultan Haji. VOC menebar isu bahwa
Sultan Ageng Tirtayasa akan mengangkat adik Sultan Haji, yaitu Pangeran Purbaya
menjadi Sultan Banten. Sultan Haji termakan hasutan VOC dan memilih bergabung
dengan VOC.
Tahun 1683, pertempuran terjadi
antara Sultan Ageng dan VOC yang bersekutu dengan Sultan Haji. Dalam
peperangan, VOC dan Sultan Haji kalah. Sultan Haji pun melakukan tipu muslihat
dengan cara berunding. Sultan Ageng Tirtayasa, Sultan Banten menerima
tawarannya. Di meja perundingan, Sultan Banten ditangkap dan dipenjarakan di
Batavia tahun 1692.
Perlawanan
Pattimura (1817)
Berdasarkan Convensi London (1814),
Inggris yang berhasil menguasai kepulauan Maluku akhirnya menyerahkan kepulauan
Maluku kepada Belanda. Pasukan Inggris pun pulang ke negaranya karena
terjadinya Perang Koalisi di Eropa. Untuk itu, Belanda menunjuk Van Middelkoop
sebagai Gubernur di kepulauan Maluku. Pada saat ini VOC telah dibubarkan.
Pada pertemuan yang berlangsung
tanggal 9 Mei 1817, rakyat Saparua mengangkat Thomas Matulesi sebagai pemimpin
gerakan perlawanan rakyat dan diberi gelar Pattimura. Thomas Matulesi dinilai
cakap di bidang kepemimpinan dan militer karena saat kekuasaan Inggris di
Maluku, ia pernah memasuki dinas militer dengan pangkat terakhir Mayor.
Para pejuang Maluku bertekad
merebut benteng Duurstede. Pada 15 Mei 1817 dimulailah perlawanan rakyat Maluku
terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka merampas perahu-perahu pos yang ada
di Pelabuhan Porto, lalu menyerang benteng. Banyak serdadu Belanda yang
ditangkap dan dibunuh termasuk Residen Porto, Van den Berg. Akhirnya, Benteng
Duurstede jatuh ke tangan rakyat Maluku.
Gubernur Van Middelkoop pun
mengirim bala bantuan dari Ambon di bawa pimpinan Mayor Beetjes yang akhirnya
mendarat di Saparua tanggal 20 Mei 1817. Tetapi, begitu mereka tiba mereka
langsung diserang dengan serentetan tembakan, hingga mereka memilih pergi
berlindung di sebuah tikungan teluk di sebelah kiri benteng Duurstede. Namun,
rupanya mereka kembali disambut dengan serangan dari pasukan Pattimura. Pasukan
Belanda berusaha mundur, tetapi pasukan Pattimura terus mengejar mereka, hingga
Mayor Beetjes tewas.
Belanda melakukan pembalasan dengan
menempatkan kapal-kapal perangnya di perairan Saparua dan menembakkan meriam ke
arah Benteng Duurstede, hingga pada 2 Agustus 1817, Belanda kembali menduduki
benteng, tetapi Belanda tidak bisa menangkap Pattimura.
Belanda akhirnya mengadakan
sayembara bagi siapa saja yang memberi informasi keberadaan Pattimura akan
dihadiahi 1000 gulden. Ternyata, Raja Boi memberi tahu tempat persembunyian
Pattimura. Belanda pun mengerahkan pasukan untuk menangkap Pattimura di bukit
Boi. Pada 16 Desember 1817, Pattimura dijatuhi hukuman gantung di Benteng Nieuw
Victoria di Ambon.
Perang
Diponegoro (1825-1830)
Suatu ketika Belanda memasang
patok-patok jalan melalui desa Tegalrejo. Jalan-jalan itu akan dibangun
melintasi tanah makam leluhur Pangeran Diponegoro. Hal ini menimbulkan
kemarahan Pangeran Diponegoro. Ia berusaha mencabuti patok-patok jalan itu.
Setelah kejadian itu, Residen Belanda, A.H. Smisaert meminta Pangeran
Diponegoro untuk menghadapnya. Namun, Pangeran Diponegoro menolak.
Akibatnya, pada 20 Juli 1825,
pasukan Belanda menembakkan meriam ke Tegalrejo, hingga perang pun pecah.
Pangeran Diponegoro dianggap sebagai Ratu Adil yang akan memimpin ke arah
kebaikan. Beberapa tokoh mendukung Pangeran Diponegoro, seperti Pangeran
Mangkubumi, Kyai Mojo dan Sentot Alibasyah Prawirodirjo. Atas usul Pangeran
Mangkubumi, pusat pertahanan Pangeran Diponegoro dipindahkan dari Tegalrejo ke
Selarong.
Dalam peperangan, Pangeran
Diponegoro memperoleh banyak kemenangan. Beberapa daerah berhasil dikuasainya,
seperti Purwodadi, Pacitan dan Kedu. Pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letjen
de Kock segera mengirim surat kepada Pangeran Diponegoro untuk berdamai.
Pangeran Diponegoro bersedia berunding. Namun, tak ada lagi kabar dari de Kock,
hingga peperangan terus berlanjut.
Pasukan Diponegoro selalu
menggunakan serangan gerak cepat dan berpindah-pindah markas. Beberapa markas
yang pernah ditempati pasukan Diponegoro adalah Selarong, Plered, Dekso, Pengasih
dan Tegalrejo.
Tahun 1827, de Kock menerapkan
siasat Benteng Stelsel yang bertujuan mempersempit ruang gerak pasukan
Diponegoro dan menekan Pangeran Diponegoro agar menghentikan perlawanan. Siasat
ini berhasil mendesak Pangeran Diponegoro. Pasukan Belanda pun mengajak para
pembantu utama Pangeran Diponegoro untuk berundung. Ternyata, taktik ini
berjalan efektif.
Tahun 1828, Kyai Mojo memenuhi
undangan perundingan dengan pihak Belanda. Tetapi, usai perundingan, ia
ditangkap dan diasingkan ke Minahasa (Sulawesi Utara). Tahun 1829, Pangeran
Mangkubumi terpaksa tidak melanjutkan peperangan karena usianya yang sudah
lanjut. Demikian pula dengan Sentot Alibasyah Prawirodirjo yang dijebak oleh
Belanda dan akhirnya berhenti memerangi Belanda.
De Kock menyebarkan pengumuman yang
berisikan hadiah sebesar 20.000 ringgit bagi siapa saja yang berhasil menangkap
Pangeran Diponegoro agar peperangan cepat berakhir. Namun, usaha ini tidak
berhasil. Akhirnya, pemerintah Hindia Belanda mengajak Pangeran Diponegoro untuk
berunding dengan jaminan apabila perundingan gagal, ia diperbolehkan kembali ke
medan perang. Pangeran Diponegoro menyetujui hal ini.
Pada 28 Maret 1830, perundingan
berlangsung di rumah Residen Kedu. Perundingan berakhir tanpa menghasilkan
kesepakatan apa-apa. Seusai perundingan, Pangeran Diponegoro ditangkap dan
diasingkan ke Menado dan dipindahkan ke Makasar, hingga ia wafat.
Perang
Paderi
Tahun 1800an di Minangkabau,
beberapa orang yang baru pulang menunaikan ibadah haji berencana meluruskan
ajaran agama Islam yang telah diselewengkan. Selain itu, mereka juga berusaha
menghapus kebiasaan buruk masyarakat yang bertentangan dengan ajaran Islam,
seperti menyabung ayam, berjudi dan minum minuman keras. Upaya para ulama ini
dikenal sebagai Gerakan Kaum Paderi.
Namun, gerakan Kaum Paderi mendapat
perlawanan dari Kaum Adat (kelompok yang berusaha mempertahankan kebiasaan
tersebut). Tetapi, pengaruh dan kekuatan Kaum Paderi melebihi Kaum Adat
terutama sejak bergabungnya Tuanku Imam Bonjol. Kaum Paderi berhasil mendesak
Kaum Adat dalam pertempuran di Tanah Datar.
Kaum Adat pun berupaya meminta
bantuan kepada Belanda. Tanggal 10 Februari 1821, residen Belanda, Du Puy
mengadakan perjanjian dengan Kaum Adat dan bersedia bersekutu melawan Kaum
Paderi. Untuk memperkuat kedudukan, Belanda mendirikan benteng van der Capellen
di Batusangkar dan benteng de Kock di Bukititinggi.
Beberapa kali Belanda melakukan
serangan, tetapi selalu gagal. Bahkan, Belanda sering kali terjebak oleh Kaum
Paderi. Tahun 1825, Belanda memutuskan mengadakan perjanjian damai dengan Kaum
Paderi. Hal ini disebabkan pasukan Belanda saat itu juga sedang disibukkan
dengan Perang Diponegoro.
Rupanya, Kaum Paderi menyetujui perjanjian
ini. Usai Perang Diponegoro, Belanda membatalkan perjanjian tersebut. Pimpinan
militer tertinggi di Sumatera Barat, Kolonel Elout segera melancarkan serangan
terhadap Kaum Paderi. Serangan Belanda yang membabi buta ini telah menyadarkan
Kaum Adat bahwa sesungguhnya Belanda berkeinginan menguasai dan menindas rakyat
Minangkabau.
Kaum Adat akhirnya menggabungkan
diri dengan Kaum Paderi untuk menghadapi Belanda. Gubernur Jenderal van den
Bosch segera mengirim bala bantuan militer ke Padang pada pertengahan tahun
1832. Pasukan ini terdiri dari 3 kompi dengan perlengkapan beberapa meriam dan
mortir.
Sentot Alibasyah Prawirodirjo ikut
dalam pasukan ini. Namun, ketika pertempuran meletus Sentot Alibasyah
Prawirodirjo membelot dengan Kaum Paderi karena ia menyadari bahwa Kaum Paderi
sebenarnya merupakan masyarakat pribumi yang juga hendak membebaskan diri dari
perjanjian Belanda. Pembelotan Sentot Alibasyah Prawirodirjo diketahui oleh
Belanda. Ia kemudian ditangkan dan diasingkan ke Cianjur. Pasukannya pun
dibubarkan dan dipulangkan ke daerah asalnya.
Tahun 1835, pasukan Belanda
berhasil memukul Kaum Paderi di Simawang. Beberapa pimpinan Kaum Paderi
ditangkap. Pejuang Paderi lainnya kemudian memusatkan pertahanan di Bonjol.
Akan tetapi, semakin lama kekuatan pertahanan mereka semaki lemah terutama
karena ditutupnya jalan-jalan penghubung benteng Bonjol dengan daerah-daerah
lain. Akhirnya, tanggal 25 Oktober 1837, Tuanku Imam Bonjol beserta pasukannya
menyerah. Tuanku Imam Bonjol pun dibuang ke Cianjur.
Perang
Aceh
Tahun 1871, Belanda dan Inggris
membuat persetujuan Traktat Sumatera yang berisi Belanda diberi kebebasan untuk
mengadakan perluasan wilayah ke seluruh Sumatera, termasuk Aceh. Kerajaan Aceh
pun berusaha memperkuat pertahanan. Kerajaan Aceh menjalin hubungan diplomatik
dan militer dengan Turki, Italia dan Amerika Serikat.
Tanggal 22 Maret 1871, Belanda
mengutus F.N. Nieuwenhuysen untuk menemui Sultan Aceh, Muhammad Daud Syah. Ia
menyampaikan surat yang berisi permintaan agar Aceh mengakui kedaulatan Hindia
Belanda di Aceh. Tetapi, Sultan Aceh menolak. Akibatnya, tanggal 26 Maret 1873,
Belanda menyatakan perang dengan Aceh dan mendatangkan kapal-kapal perang
dengan 3000 personil militer yang dipimpin Mayjen Kohler.
Sasaran pertama Belanda adalah
Mesjid Raya Baiturrahman di ibu kota Aceh. Pada 14 April 1873, Mayjen Kohler
tewas. Banyak serdadu Belanda yang juga gugur. Belanda melakukan serangan
berikutnya di bawah pimpinan Jenderal van Swieten. Pertempuran saling menembak
meriam pun terjadi. Bersamaan dengan itu, bala bantuan mengalir dari berbagai
daerah untuk memperkuat pertahanan Kerajaan Aceh.
Selama 2 minggu pertempuran
berkobar dengan hebat. Akhirnya, laskar Aceh terdesak, sehingga kerajaan jatuh
ke tangan Belanda. Namun, Sultan dan keluarganya berhasil menyelamatkan diri ke
Leungbata. Belanda mengira perang akan berakhir dengan jatuhnya istana.
Ternyata, di luar istana, para teuku (bangsawan) dan tengku (ulama) tetap siap
bertempur.
Belanda mengganti kepemimpinan van
Swieten dengan Mayjen Pel. Mayjen Pel berusaha membangun sejumlah pos di
Kutaraja, Krueng Aceh dan Meuraksa untuk memperkuat pertahanan. Namun, laskar
Aceh berhasil menerobos blokade Belanda dan melancarkan serangan hebat.
Tanggal 24 Februari 1876, Mayjen
Pel tewas di Tonga. Pemerintah Belanda kembali mengirim ribuan pasukan dan
sejumlah kapal perang. Perjuangan rakyat Aceh semakin meningkat dengan
datangnya utusan Aceh, Habib Abdurachman dari Turki. Selain itu, kepercayaan
diri rakyat Aceh semakin bertambah dengan munculnya tokoh-tokoh perjuangan,
seperti Tengku Cik Di Tiro, Panglima Polim, Teuku Cik Peusangan, Cut Meutia,
Teuku Umar dan istrinya, Cut Nyak Dien.
Belanda berusaha menerapkan siasat
pemusatan (konsentrasi stelsel) yang menitikberatkan kekuatan pada
daerah-daerah yang telah dikuasai. Selain itu, pasukan Belanda juga menggunakan
siasat adu domba atas usul Jenderal Deykerhoff. Tetapi, kedua siasat ini tidak
dapat mengakhiri perang. Akhirnya, pemerintah Belanda mengirim Dr. Snouck
Hurgronje untuk menyelidiki kehidupan struktur masyarakat Aceh dengan menyamar
sebagai ulama bernama Abdul Gafar.
Snouck Hurgronje berhasil
mengetahui kelemahan masyarakat Aceh. Ia menuliskannya ke dalam buku yang
berjudul De Atjehers.
Ia menyarankan agar pemerintah Belanda melakukan siasat kekerasan dalam
menghadapi perlawanan rakyat Aceh dan melakukan pengelompokkan dalam
masyarakat, sehingga kekuatan dapat dipecah belah. Hal ini dikarenakan kekuatan
masyarakat Aceh terletak pada kepemimpinan kaum ulama dan kaum bangsawan.
Tahun 1899, Kolonel van Heutz
memimpin penyerangan dengan siasat kekerasan. Ia mengerahkan seluruh pasukan
Belanda yang diberi nama Pasukan Marsose. Pasukan ini menyerang perkampungan
dan kemudian menghancurkannya untuk melemahkan semangat perjuangan laskar Aceh.
Dalam pikiran van Heutz, para pejuang Aceh tidak akan tahan melihat anak-anak,
perempuan dan orang tua menjadi korban peperangan. Kenyataannya, satu-persatu
para pemimpin Aceh gugur dan tertangkap.
Teuku Umar, pemimpin Aceh yang paling
disegani pun gugur di medan pertempuran. Istrinya, Cut Nyak Dien tertangkap dan
dibuang ke Sumedang (Jawa Barat). Sultan Muhammad Dauh Syah terpaksa
menandatangani Korte Verklaring (Plakat Pendek) pada tahun 1904 yang berisi
Aceh mengaku tunduk pada pemerintah Hindia Belanda.
Gerakan
Protes Petani
Gerakan protes petani merupakan
gerakan yang dilakukan para petani sebagai ungkapan protes terhadap perilaku
atau kebijakan yang dilakukan pemerintah kolonial dan penguasa tanah
partikelir. Daerah-daerah yang pernah menjadi tempat terjadinya gerakan ini
adalah Ciomas (Bogor), Condet (Jakarta) dan Tangerang.
1.
Gerakan Protes Petani Di Ciomas (Bogor)
Masyarakat Ciomas yang menetap di
sekitar lereng Gunung Salak tidak mau menerima perlakuan tuan tanah yang
melakukan pemerasan dan penindasan. Mereka meninggalkan tempat untuk
menghindari pemungutan pajak.
Seorang petani bernama Arpan
berusaha menggalang persatuan untuk melakukan protes terhadap tuan tanah dan
pemerintah Belanda. Pada Februari 1886, mereka melakukan penyerangan terhadap
Camat Ciomas, Abdurrakhim. Setelah itu, mereka mundur ke daerah Pasir Paok.
Tokoh petani lain, Mohammad Idris
dan teman-temannya melakukan serangan mendadak kepada tuan tanah yang sedang
menyelenggarakan pesta sedekah bumi pada tanggal 20 Mei 1886.
2.
Gerakan Protes Petani Di Condet (Jakarta)
Perlawanan petani Condet bermula
karena keluarnya peraturan yang memberi hak kepada tuan tanah untuk mengadili
para petani yang tidak membayar pajak. Akibatnya, banyak petani yang bangkrut
karena hartanya disita, dijual atau dibakar. Untuk mengatasi kemungkinan
mendapat hukuman dari para tuan tanah karena melakukan protes, para petani
mengikuti latihan bela diri yang dipimpin Entong Gendut, Maliki dan Modin.
Tanggal 5 April 1916, Entong Gendut
dan para petani mengacaukan suasana pesta dan perjudian yang berlangsung di
villa milik Lady Rollison. Kejadian ini diketahui wedana (pembantu bupati) dan
mantri polisi setempat. Mereka pun mendatangi rumah Entong Gendut untuk
menanyakan penyebab ia melakukan kekacauan. Entong Gendut tidak menjawab, ia
malah menyatakan dirinya sebagai raja muda yang akan menyelamatkan nasib rakyat
jelata. Ketika mereka hendak menangkap Entong gendut, segerombolan orang keluar
dari semak-semak dan menyerbu para petugas pemerintah. Dalam kerusuhan ini,
wedana setempat berhasil ditangkap.
3.
Gerakan Protes Petani Di Tangerang
Timbulnya perlawanan para petani di
Pangkalan (Tangerang) dikarenakan keinginan Kaiin dan Sairin mengembalikan
kejayaan kerajaan Banten. Mereka berupaya merebut tanah-tanah para tuan tanah
untuk dibagikan. Munculnya keberanian para petani di wilayah ini dilandaskan
keyakinan bahwa para pemimpin mereka memiliki ilmu kawedukan dan keslametan.
Para petani juga dibekali jimat untuk memperoleh kekebalan tubuh.
Tanggal 19 Februari 1924, Kaiin dan para pengikutnya menyerang para tuan tanah.
Kantor tuan tanah Kampung Melayu dijarah dan buku-buku serta dokumen dibakar.
Penyerangan dilanjutkan kepada Asisten Wedana Teluknaga. Mereka terus bergerak
ke Jakarta. Akan tetapi, gerakan mereka terhambat di Tanah Tinggi, sehingga
mereka banyak yang tertembak peluru para polisi Belanda.
Komentar
Posting Komentar