Indonesia Riwayatmu Dulu : Sejarah Kerajaan Banten

Dasar-dasar kerajaan Banten diletakkan oleh Hasanuddin (putra Fatahillah) dan mencapai masa kejayaan pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa. Kerajaan Banten terletak di daerah Jawa Barat bagian utara. Daerah itu sangat strategis untuk jalur pelayaran perdagangan karena itu kerajaan Banten dapat berkembang pesat.

Kerajaan Banten menjadi penguasa jalur pelayaran perdagangan yang melalui Selat Sunda. Bahkan, kerajaan Banten menjadi saingan berat kongsi dagang milik Belanda yang menduduki Batavia, yaitu VOC.

Faktor-faktor pendukung berkembangnya Banten sebagai pusat kerajaan dan pusat perdagangan, antara lain :

- Banten terletak di Teluk Banten dan pelabuhannya memiliki syarat sebagai pelabuhan yang baik
- Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis mendorong pedagang mencari jalan baru melalui Selat Sunda. Banten dijadikan sebagai salah satu pusat perdagangan di Jawa Barat selain Cirebon.

Di kota dagang Banten pedagang asing yang menetap akhirnya mendirikan perkampungan, seperti :

- Orang Keling mendirikan Kampung Keling
- Orang Arab yang telah menganut Islam mendirikan Kampung Pekojan
- Orang Cina mendirikan Kampung Pecinan

Sementara itu, pedagang Indonesia membentuk perkampungan sendiri, yaitu Kampung Banda, Kampung Melayu, Kampung Jawa dan sebagainya. Di samping itu, ada kampung yang dibentuk berdasarkan pekerjaan atau fungsi penduduknya, seperti Kampung Pande untuk para pandai, Kampung Pajunan untuk pembuat barang pecah-belah, Kampung Kauman untuk para ulama.

Pada mulanya, bangsa Portugis datang ke bandar Banten, ketika masih berkedudukan di Goa, India. Ketika bangsa Belanda datang ke Banten, terjadi bentrokan dengan bangsa Portugis. Kedua bangsa itu saling bersaing. Karena kerajaan Banten menerapkan sistem perdagangan bebas, maka sistem monopoli yang hendak dilakukan Portugis mengalami kegagalan.

Setelah daerah Banten diislamkan, pendukung setia kerajaan Pajajaran menyingkir ke pedalaman, yaitu daerah Banten Selatan. Mereka dikenal dengan sebutan Suku Badui dengan kepercayaannya yang disebut Pasundan Kawitan, artinya Pasundan yang pertama. Mereka mempertahankan tradisi-tradisi lama dan menolak pengaruh luar yang baru.

Dalam bidang seni bangunan Banten meninggalkan seni bangunan Masjid Agung Banten yang dibangun sekitar abad ke-16 M, bangunan istana yang dibangun oleh Jan Lucas Cardeel (pelarian Belanda dari Batavia yang menganut agama Islam) dan bangunan gapura-gapura di Kaibon Banten.

Raja-raja yang memerintah kerajaan Banten, yaitu :

- Raja Hasanuddin (1552-1570 M)

Setelah Banten diislamkan oleh Fatahillah, daerah Banten diserahkan kepada putranya, Hasanuddin. Pada masa pemerintahannya, agama Islam dan kekuasaan kerajaan Banten berkembang cukup pesat. Raja Hasanuddin memperluas wilayah kekuasaan kerajaan, hingga ke daerah Lampung. Dengan menduduki daerah Lampung, kerajaan Banten menjadi penguasa tunggal jalur lalu-lintas pelayaran perdagangan Selat Sunda, sehingga perdagangan yang melewati Selat Sunda diwajibkan untuk melakukkan kegiatan perdagangan di bandar Banten.

Raja Hasanuddin menikah dengan putri dari raja Indrapura (tidak diketahui nama kerajaannya). Raja Indrapura pun menyerahkan tanah Selebar kepadanya. Daerah itu banyak menghasilkan lada. Di bawah pemerintahannya, kerajaan Banten banyak dikunjungi oleh saudagar-saudagar dari Gujarat, Persia, Cina, Turki, Pegu (Burma Selatan) dan Keling.

- Panembahan Yusuf

Panembahan Yusuf adalah putra dari raja Hasanuddin. Ia berupaya memajukan pertanian dan pengairan, serta memperluas wilayah kekuasaan kerajaan. Langkah-langkah yang ditempuhnya, antara lain merebut Pakuan pada tahun 1579 M, di mana pertempuran tersebut raja Pakuan bernama Prabu Sedah tewas. Pada masa pemerintahannya, kerajaan Banten juga telah menguasai kerajaan Pajajaran di Jawa Barat. Setelah 10 tahun memerintah, Panembahan Yusuf wafat karena sakit keras yang dideritanya.

- Maulana Muhammad

Ketika Panembahan Yusuf sendang sakit, saudaranya yang bernama Pangeran Jepara datang ke Banten. Ternyata, Pangeran Jepara yang dididik Ratu Kali Nyamat (putri dari Sultan Trenggana, raja kerajaan Demak) ingin menduduki kerajaan Banten. Tetapi, Mangkubumi kerajaan Banten dan pejabat-pejabat lainnya tidak menyetujui.

Mereka lebih memilih mengangkat putra Panembahan Yusuf yang baru berusia 9 tahun bernama Maulana Muhammad. Maulana Muhammad mendapat gelar Kanjeng Ratu Banten. Mangkubumi menjadi wali raja dan menjalankan seluruh aktifitas pemerintahan sampai Maulana Muhammad siap untuk memimpin kerajaan.

Pada tahun 1596 M, Maulana Muhammad yang telah dewasa memimpin pasukan kerajaan Banten untuk menyerang dan menduduki Palembang agar bandar-bandar dagang yang terletak di tepi Selat Malaka bisa dijadikan tempat untuk mengumpulkan lada dan hasil-hasil bumi lainnya dari Sumatera.

Namun, usahanya gagal. Dalam pertempuran itu, Maulana Muhammad tertembak dan wafat. Dengan wafatnya Maulana Muhammad, takhta kerajaan digantikan oleh putranya yang baru berusia 5 bulan, yaitu Abu’lmufakhir.

- Abu’lmufakhir

Abu’lmufakhir dibantu oleh wali kerajaan bernama Jayanegara. Akan tetapi, ia sangat dipengaruhi oleh pengasuh Pangeran bernama Nyai Emban Rangkun. Pada tahun 1596 M, untuk pertama kalinya Belanda tiba di pelabuhan Banten, Indonesia di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Awalnya, tujuan kedatangan Belanda adalah untuk membeli rempah-rempah. Namun, lambat-laun, Belanda bermaksud untuk menguasai Indonesia.

- Sultan Abu’ Ma’ali Ahmad Rahmatullah

Setelah Abu’lmufakhir wafat, ia digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Abu’ Ma’ali Ahmad Rahmatullah. Tetapi, masa pemerintahannya tidak diketahui secara pasti.

- Sultan Ageng Tirtayasa (1651-1692 M)

Sultan Ageng Tirtayasa menggantikan ayahnya Sultan Abu’ Ma’ali Ahmad Rahmatullah yang telah wafat. Di bawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa, kerajaan Banten mencapai masa kejayaan. Sultan Ageng Tirtayasa berupaya memperluas wilayah kerajaan dan mengusir Belanda dari Batavia. Banten mendukung perlawanan kerajaan Mataram terhadap Belanda.

Meskipun kerajaan Mataram gagal mengusir Belanda, hal itu tidak mengurangi semangat Sultan Ageng Tirtayasa. Sultan Ageng Tirtayasa memajukan aktifitas perdagangan agar dapat bersaing dengan Belanda di Batavia.

Di samping itu, Sultan Ageng Tirtayasa memerintahkan pasukannya untuk merampok Belanda di Batavia. Perkebunan tebu milik Belanda di sebelah barat Ciangke dirusak oleh orang-orang Banten atas perintah Sultan Ageng Tirtayasa. Peristiwa ini sempat membuat Belanda kewalahan. Pada masa pemerintahannya, kehidupan sosial kerajaan Banten berkembang pesat. Sultan Ageng Tirtayasa menerapkan sistem perdagangan bebas agar tidak ada bangsa yang bisa memonopoli perdagangan di wilayah kerajaan Banten.

Pada tahun 1671 M, Sultan Ageng Tirtayasa mengangkat putra mahkota menjadi raja pembantu dengan gelar Sultan Abdu’lkahar. Sejak saat itu Sultan Ageng Tirtayasa beristirahat di Tirtayasa. Meskipun begitu, ia tetap memantau jalannya pemerintahan kerajaan Banten.

- Sultan Haji

Pada tahun 1674 M, Sultan Abdu’lkahar berangkat ke Mekkah dan setelah mengunjungi Turki, ia kembali ke Banten, tepatnya tahun 1676 M. Sejak saat itu, ia dikenal dengan sebutan Sultan Haji. Ketika memerintah kerajaan Banten, Sultan Haji menjalin hubungan baik dengan Belanda. Ternyata, hubungan ini dimanfaatkan oleh Belanda untuk memasuki kerajaan Banten. Sultan Ageng Tirtayasa tidak senang ketika mengetahui putranya menjalin hubungan dengan Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa pun menarik takhta kerajaan dari tangan Sultan Haji, tetapi Sultan Haji menolak. Akhirnya, terjadi perang saudara di kerajaan Banten.

    Sultan Haji mendapat bantuan dari Belanda. Sultan Ageng Tirtayasa berhasil ditangkap dan dipenjarakan di Batavia, hingga ia wafat pada tahun 1692 M. Peristiwa ini merupakan awal kehancuran kerajaan Banten karena dalam perkembangan selanjutnya, kerajaan Banten berada di bawah kekuasaan Belanda. Sultan Haji hanyalah sebagai lambang belaka (raja boneka) dalam pemerintahan kerajaan Banten.

Komentar

Populer Minggu Ini

4 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengarang

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax

Persen Dan Permil

Filosofi Kartu Joker

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Stressed Syllable dan Unstressed Syllable

Penggunaan Besides, Apart From, In Addition, Than, Furthermore, Moreover, After that, Meanwhile dan Meantime