Keadaan Indonesia Pada Zaman Kerajaan
Dalam tulisannya tentang Indonesia,
Van Leur menyatakan adanya Pedlar Missionaris (pedagang yang menjadi
missionaris atau penyebar agama). Hal ini karena pedagang berhadapan langsung
dengan masyarakat pada daerah-daerah yang dilaluinya.
Berdasarkan berita Cina dari
Dinasti T’ang dinyatakan pada masa itu sudah ada orang-orang Islam baik di
Kanton maupun di Sumatera. Kota-kota yang menjadi pusat perdagangan di
Indonesia, antara lain Pasai, Pedir, Barus, Tiku, Pariaman, Palembang, Jambi,
Cirebon, Jepara, Tuban, Gresik, Pasuruan dan Hitu di Ambon.
Pada zaman kerajaan, pengetahuan
tentang sistem angin setempat sangat besar manfaatnya dalam pelayaran. Hal
tersebut dapat terlihat dari penggunaan tenaga angin untuk menggerakkan
kapal-kapal layar. Tradisi bahari Indonesia sudah lama menggunakan angin muson
karena sistem angin ini disebabkan oleh letak Indonesia di antara Benua Asia
dan Benua Australia. Adanya sistem angin muson mengakibatkan Kepulauan
Indonesia bagian barat memiliki posisi yang istimewa karena kapal-kapal layar
dari semua penjuru bertemu di sini.
Alat-alat navigasi dalam
kapal-kapal Eropa yang telah dikenal oleh bangsa Indonesia, antara lain kompas
(penunjuk arah) dan astrolabe (menentukan posisi di tengah laut menurut
pengukuran tinggi matahari).
Tempat-tempat pembuatan kapal
di Indonesia, antara lain di daerah Lasem (pantai utara pulau Jawa), Sulawesi
Selatan, Kepulauan Kei (daerah Indonesia bagian timur) dan lain-lain. Jalan
pelayaran yang dilalui oleh bangsa Indonesia di antaranya adalah Selat Malaka,
Teluk Benggala, Pantai India, Teluk Persia, Laut Arab, Laut Merah dan Pantai
Timur Afrika. Selain itu, bangsa Indonesia juga melakukan pelayaran ke Cina
melalui daerah seperti Selat Karimata lalu menyusuri Laut Cina Selatan dan tiba
di Cina (Canton).
Kerajaan-kerajaan di Indonesia
dapat digolongkan ke dalam dua jenis, yaitu kerajaan pedalaman
yang masyarakatnya hidup dari pertanian dan kerajaan pesisir
dengan pola kehidupan masyarakatnya berdasarkan sistem pelayaran dan
perdagangan.
Berita Portugis dari Tome Pires
menyatakan bahwa raja-raja Pahang, Kampar dan Indrapura mempunyai kantor dagang
di kota Malaka. Apabila perdagangan dilaksanakan ke seberang laut, maka barang
dagangan dititipkan kepada nahkoda dengan sistem pembagian laba. Barang
dagangan tersebut ditempatkan dalam petak yang diatur berdasarkan Hukum Laut
Melayu. Terdapat pula Hukum Laut Amanna Gappa tertera beberapa macam perjanjian
perdagangan. Di samping itu, dalam aturan Amanna Gappa juga ditetapkan
cara-cara untuk menyelesaikan hutang piutang.
Pada masa lampau, aktifitas
perdagangan menggunakan tenaga angin, sehingga perjalanan perdagangan memakan
waktu berbulan-bulan. Apabila pelaksanaan penjualan terlambat, maka para
pedagang terpaksa menunggu selama satu musim. Belum lagi jika para para pedagang
mendapat rintangan saat belayar, seperti munculnya angin ribut dan serangan
para bajak laut atau perompak.
Barang dagangan yang bernilai
tinggi pada masa itu, antara lain emas, perak, batu permata, kain sutera,
kemenyan dan barang-barang porselin. Barang-barang bernilai rendah, antara lain
beras, kapas, garam, rotan, tembakau, gambir, agar-agar dan kayu.
Di Indonesia terdapat daerah khusus
yang dijadikan sumber penghasilan barang dagangan, yaitu :
- Lada dihasilkan di pulau Sumatera
dan Jawa,
- Pala dihasilkan di Maluku Tengah
- Cengkeh dihasilkan di Maluku
Utara
- Beras dihasilkan di pulau Jawa
- Kayu Cendana dihasilkan di Nusa
Tenggara
- Kayu Gaharu dan Kelembak
dihasilkan di Sumatera dan Kalimantan
- Kayu Besi dan kayu Hitam
dihasilkan di Sulawesi dan Maluku
- Kayu Jati dihasilkan di Jawa
- Timah dihasilkan di Bangka dan
Balitung
- Emas dan Intan dihasilkan di
Sulawesi dan Maluku
Di wilayah kepulauan Indonesia
terdapat sekitar 250 jenis dialek dan bahasa daerah, ada yang dalam kelompok
besar, ada pula yang hanya beberapa ribu orang saja, seperti beberapa suku di
daerah pedalaman Irian Jaya. Pengguna bahasa daerah terbesar adalah bahasa
Jawa, lalu bahasa Sunda dan bahasa Madura.
Pada abad ke-16 M dan ke-17 M,
bahasa Melayu telah berkembang menjadi bahasa pergaulan dan bahasa perantara
dalam dunia perdagangan di wilayah nusantara (bahasa internasional). Dengan
kata lain, bahasa Melayu menjadi Lingua Franca di nusantara dan sebagian Asia
Tenggara.
Meneliti, mempelajari dan mengembangkan
kembali bahasa-bahasa daerah sangat diperlukan untuk mengetahui perkembangan
kebudayaan daerah dalam pembinaan bahasa dan kebudayaan nasional Indonesia
seutuhnya. Bahasa-bahasa daerah merupakan cermin dalam proses integrasi
(pembauran) di Indonesia.
Daerah-daerah di wilayah
nusantara yang menggunakan bahasa Melayu asli maupun percampuran bahasa Melayu
dengan bahasa daerahnya adalah Minangkabau, Jakarta, Ambon dan Manado.
Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, beberapa penduduk biasanya dipindahkan
ke daerah pusat-pusat perkebunan, seperti penduduk Jawa dipindahkan ke
pusat-pusat perkebunan di Sumatera, Kalimantan, bahkan sampai ke luar wilayah
Indonesia, seperti Suriname, Amerika Selatan. Pemerintah Belanda memberikan
berbagai janji muluk-muluk pada penduduk yang bersedia dipindahkan ke daerah
lain, yaitu bahwa penduduk yang dipindahkan akan mendapat kehidupan yang lebih
baik.
Komentar
Posting Komentar