Indonesia Riwayatmu Dulu : Sejarah Kerajaan Samudera Pasai
Kerajaan Samudera Pasai adalah
kerajaan Islam pertama di Indonesia. Kerajaan Samudera Pasai terletak di
pesisir Timur Aceh (termasuk Kabupaten Aceh Utara dekat Lok Seumawe) atau dekat
dengan jalur pelayaran perdagangan internasional pada masa itu, yaitu Selat
Malaka. Kerajaan Samudera Pasai berkembang menjadi kerajaan Islam yang cukup
kuat karena letaknya yang strategis.
Bandar-bandar dari kerajaan
Samudera Pasai dijadikan bandar penghubung atau bandar transito antara para
pedagang Islam yang datang dari arah barat dengan para pedagang Islam yang
datang dari arah timur.
Selain itu, bandar-bandar dari
kerajaan Samudera Pasai digunakan sebagai tempat untuk menambah perbekalan
dalam pelayaran para pedagang selanjutnya, tempat mengurus soal-soal atau
masalah-masalah perkapalan dan tempat menyimpan barang dagangan sebelum diantar
ke beberapa daerah di Indonesia. Hasil bumi yang terkenal di Kerajaan Samudera
Pasai adalah lada.
Kerajaan Samudera Pasai menjalin
hubungan dengan kerajaan Cina sebagai siasat untuk mengamankan diri dari
ancaman kerajaan Siam. Kehidupan sosial masyarakat Samudera Pasai diatur
menurut aturan dan hukum Islam yang memiliki persamaan dengan kehidupan sosial
masyarakat Mesir dan Arab. Oleh karena itu, daerah Aceh disebut dengan Daerah
Serambi Mekkah.
Peninggalan yang berhasil ditemukan
oleh para ahli adalah batu nisan atau jirat raja putri Pasai yang didatangkan
dari Kambayat, India. Selain penemuan makam-makam raja Samudera Pasai tidak
pernah terdengar adanya perkembangan seni budaya lain dari masyarakat Samudera
Pasai.
Raja-raja yang pernah memerintah
kerajaan Samudera Pasai, antara lain :
- Nazimuddin Al Kamil
Nazimuddin Al Kamil adalah pendiri
kerajaan Samudera Pasai. Ia adalah seorang laksamana laut dari Mesir. Pada
tahun 1128 M, ia mendapat tugas merebut pelabuhan Kambayat di Gujarat, India
yang dijadikan tempat pemasaran barang-barang perdagangan dari timur. Ia juga
mendirikan sebuah kerajaan di pulau Sumatera bagian utara (tidak diketahui
namanya karena tidak ditemukan bukti-bukti mengenai kerajaan tersebut).
Tujuan utama Nazimuddin Al Kamil
adalah untuk dapat menguasai hasil perdagangan rempah-rempah dan lada.
Nazimuddin Al Kamil meletakkan hukum-hukum ajaran agama Islam sebagai dasar
pemerintahan kerajaan Samudera Pasai.
Di bawah pemerintahannya, kerajaan
Samudera Pasai mengalami perkembangan cukup pesat walaupun secara politis
kerajaan Samudera Pasai berada di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit. Maka,
pada tahun 1350 M di mana pada tahun itu kerajaan Majapahit mencapai puncak
kejayaan, hal tersebut berdampak pada kejayaan kerajaan Samudera Pasai.
Pedagang-pedagang dari kerajaan
Majapahit banyak yang melakukan kegiatan perdagangan di kerajaan Samudera
Pasai. Sebaliknya, pedagang-pedagang dari kerajaan Samudera Pasai datang ke
kerajaan Majapahit untuk berhubungan dengan pelabuhan-pelabuhan, seperti Tuban
dan Gresik.
- Sultan Malikul Saleh
Suatu ketika kerajaan Samudera
Pasai hendak direbut oleh Dinasti Mamaluk yang beraliran Syafei di bawah
pimpinan Syekh Ismail yang bersekutu dengan Marah Silu (keturunan Marah Pasai)
setelah mereka berhasil mengalahkan Dinasti Fatimah di Mesir yang beraliran
Shiah (memercayai bahwa keluaraga Nabi Muhammad SAW adalah guru terbaik dan
terpercaya tentang islam dan Al-Qur’an). Tujuan mereka adalah untuk menguasai
pasaran lada di wilayah timur.
Mereka berhasil merebut kerajaan
Samudera Pasai dan Marah Silu diangkat sebagai raja dengan gelar Sultan Malikul
Saleh (Malik As-Saleh) dan memerintah sekitar tahun 1285-1297 M. Sultan Malikul
Saleh yang semula menganut aliran Shiah, akhirnya berbalik menganut aliran
Syafei.
Pernikahan Sultan Malikul Saleh
dengan putri Ganggang Sari dapat memperkuat kedudukannya di daerah pantai timur
Aceh, sehingga kerajaan Samudera Pasai menjadi pusat perdagangan di Selat
Malaka.
- Sultan Malikul Thahir
Setelah Sultan Malikul Saleh wafat,
ia digantikan oleh putranya yang bergelar Sultan Malikul Thahir (Malik
At-Thahir). Sultan Malikul Thahir memerintah dari tahun 1279-1326 M. Pada masa
pemerintahannya terjadi peristiwa penting di mana putra kedua Sultan Malikul
Saleh (saudara kandung Sultan Malikul Thahir) yang bernama Abdullah memisahkan
diri ke daerah Aru (Barumun) dan bergelar Sultan Malikul Mansur. Sultan Malikul
Mansur kembali kepada aliran Sultan Malikul Saleh semula, yaitu aliran Shiah
(memercayai bahwa keluarga Nabi Muhammad SAW adalah guru terbaik dan terpercaya
mengenai Islam dan Al-Qur’an).
Kerajaan Samudera Pasai mulai
meredup ketika dikalahkan dan dikuasai oleh kerajaan Malaka. Bandar-bandar
Samudera Pasai pun dipindahkan ke bandar Malaka.
Komentar
Posting Komentar