Devisa (Alat Pembayaran Antarnegara)
Dalam melakukan perdagangan
antarnegara, pembayaran yang diterima tidak dalam mata uang rupiah, tetapi
menggunakan mata uang asing. Begitu pula sebaliknya, sehingga dalam
melaksanakan perdagangan antarnegara akan dikenal istilah devisa.
Devisa adalah alat untuk
pembayaran luar negeri (internasional) yang dapat diuangkan di luar negeri,
seperti wesel (bill of exchange), cek,
special drawing rights, cable order,
traveller cheque dan lain-lain.
Traveller
cheque
adalah cek yang dimiliki atau dibawa oleh turis. Cek ini dapat dicairkan pada
bank-bank perwakilan.
Tingkat devisa menunjukkan
besarnya kekayaan suatu negara dalam bentuk mata uang asing. Artinya jika
devisa suatu negara besar, maka dapat dikatakan bahwa negara tersebut mempunyai
kekayaan dalam bentuk mata uang asing yang besar.
Fungsi devisa bagi suatu
negara, antara lain :
a. Untuk membiayai kegiatan
mengimpor barang atau jasa.
b. Untuk membiayai perjalanan
dinas dan nondinas, biaya kontingen-kontingen (rombongan) olahraga dan misi
kebudayaan atau kesenian ke luar negeri.
c. Untuk membayar pokok
utang, cicilan utang dan bunga utang atas utang luar negeri.
d. Untuk membiayai kedutaan,
konsulat (wakil resmi setiap negara yang bertugas membantu dan melindungi warga
negaranya, serta memfasilitasi hubungan perdagangan dan persahabatan) dan
atase-atase (ahli yang diperbantukan pada kedutaan untuk mengurus suatu bidang)
serta perwakilan di luar negeri.
Salah satu konsep yang
penting dalam mengadakan perdagangan antarnegara adalah neraca pembayaran.
Neraca pembayaran merupakan dokumen sistematis dari semua transaksi ekonomi
antara penduduk suatu negara (baik individu, pemerintah maupun swasta) dengan
penduduk negara lain dalam jangka waktu tertentu.
Neraca pembayaran terdiri
dari tiga komponen, yaitu :
a. Neraca perdagangan
merupakan selisih nilai ekspor dan impor barang.
b. Neraca jasa-jasa merupakan
selisih nilai ekspor jasa dan impor jasa.
c. Neraca modal atau capital account merupakan selisih antara
aliran modal masuk dengan aliran modal keluar.
Berdasarkan ketiga komponen
dari neraca pembayaran tersebut dapat disimpulkan bahwa semua transaksi ekonomi
internasional atau perdagangan antarnegara akan mengakibatkan penerimaan devisa
atau pengurangan devisa.
Semakin meningkatnya nilai
ekspor, maka devisa semakin meningkat. Semakin meningkatnya nilai impor, maka
devisa semakin berkurang.
Sumber – sumber devisa,
antara lain :
a. Ekspor Barang
Semakin banyak barang yang
diekspor, maka pembayaran yang diterima negara dalam bentuk devisa akan
meningkat.
b. Ekspor Jasa
Pengiriman tenaga kerja
Indonesia ke luar negeri merupakan bentuk dari kegiatan ekspor jasa. Kegiatan
ini dapat menambah devisa negara.
c. Penerimaan Modal
Pinjaman yang masuk dapat
dikategorikan sebagai tambahan modal. Baik pinjaman yang dilakukan negara
maupun swasta. Dengan adanya pinjaman luar negeri, devisa yang masuk akan lebih
besar daripada devisa yang keluar.
d. Penerimaan Deviden Atau
Bunga Dari Luar Negeri
Deviden adalah pembagian laba
kepada pemegang saham berdasarkan jumlah saham yang dimilikinya.
e. Pemungutan Bea Masuk
Bea masuk diperoleh dari
pemungutan biaya barang-barang luar negeri yang masuk ke Indonesia. Semakin
besar jumlah bea masuk yang terkumpul, maka semakin bertambah devisa negara
yang diperoleh. Untuk itu, perlu dilakukan penjagaan ketat di pelabuhan atau
bandara agar tidak ada barang selundupan yang masuk tanpa izin. Barang
selundupan dapat mengurangi perolehan devisa.
Macam – macam devisa, antara
lain :
a. Devisa Umum adalah devisa
yang didapat dari kegiatan ekspor barang maupun jasa, serta penerimaan bunga
modal.
b. Devisa Negara
Devisa negara adalah devisa
yang dimiliki oleh pemerintah yang ditatausahakan dalam dana devisa.
c. Devisa Kredit adalah
devisa yang diperoleh dari kredit pinjaman luar negeri.
d. Devisa Ekspor adalah
devisa miliki swasta yang diperoleh dari hasil ekspor barang. Penggunaan devisa
ekspor diawasi dan diatur oleh pemerintah.
e. Devisa Pelengkap adalah
devisa yang dimiliki oleh pihak swasta dari hasil penjualan jasa dalam valuta
asing dan lain-lain. Penggunaan devisa pelengkap diawasi dan diatur oleh
pemerintah.
f. Cadangan Devisa adalah
simpanan mata uang asing oleh bank sentral dan otoritas moneter. Otoritas
moneter adalah suatu entitas (bentuk/wujud) yang berwenang untuk mengendalikan
jumlah uang yang beredar pada suatu negara. Selain itu, otoritas moneter
memiliki hak untuk menetapkan suku bunga dan parameter lain.
Berikut ini faktor – faktor yang
mengurangi devisa negara :
a. Defisit neraca jasa
Defisit adalah berkurangnya
kas dalam keuangan. Defisit terjadi ketika pengeluaran belanja lebih besar
daripada pemasukan yang diterima.
Jasa yang harus dibayar oleh
Indonesia tidak pernah menurun. Hal ini disebabkan oleh besarnya bunga atas
pinjaman luar negeri dan jasa – jasa lain, seperti tenaga ahli di bidang
tertentu yang belum negara kita miliki. Banyaknya tenaga ahli dari luar negeri
menyebabkan arus modal keluar dalam jumlah besar dan mengurangi devisa negara.
b. Menurunnya Surplus Neraca
Perdagangan
Surplus adalah bertambahnya
kas dalam keuangan. Surplus terjadi ketika penerimaan lebih besar daripada yang
dibelanjakan. Surplus daam perusahaan terjadi ketika penjualan barang atau jasa
yang diproduksi lebih besar daripada pengeluaran untuk biaya atas barang atau
jasa tersebut.
Surplus dalam pemerintahan
terjadi ketika pendapatan pajak, retribusi (pemungutan dana daerah untuk
pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu) dan pendapatan dari
perusahaan milik negara melebihi kebutuhan gaji pegawai, biaya pembangunan dan
lain – lain.
Menurunnya surplus neraca
perdagangan dikarenakan nilai ekspor yang terus menurun, sedangkan nilai impor
terus meningkat. Apabila hal ini dibiarkan terus terjadi, surplus neraca
perdagangan akan semakin kecil, hingga mengakibatkan defisit.
c. Adanya Apresiasi Mata Uang
Asing Yang Kuat
Ekspor di Indonesia dibayar
dengan mata uang Dollar AS, sementara sebagian utang Indonesia dalam bentuk Yen
(mata uang negara Jepang) atau Mark (mata uang Jerman). Apabila Yen dan Mark
meningkat terhadap Dollar, maka akan semakin banyak Dollar yang dibutuhkan
untuk membayar utang. Hal ini dapat mengakibatkan berkurangnya devisa.
Komentar
Posting Komentar