Timbre Dan Resonansi
Nada bunyi
bergantung pada frekuensi sumber bunyi. Semakin tinggi frekuensi sumber bunyi,
maka semakin tinggi nada bunyi yang dihasilkan.
Semakin pendek
kawat yang digetarkan, maka semakin tinggi frekuensi atau semakin tinggi nada
bunyi yang dihasilkan.
Semakin panjang
kolom udara/ banyak udara dalam tabung, maka semakin tinggi frekuensi atau
semakin tinggi nada bunyi yang dihasilkan.
Semakin panjang
lengan garpu tala yang digetarkan, semakin rendah frekuensi atau semakin renda
nada bunyi yang dihasilkan.
Keterangan Gambar
:
Gambar a : Bunyi
dengan nada rendah
Gambar b : Bunyi
dengan nada tinggi
Gambar c : Bunyi
yang lemah
Gambar d : Bunyi
yang kuat
Nada bunyi yang
tinggi memiliki getaran yang lebih banyak atau berfrekuensi lebih tinggi
daripada nada bunyi yang rendah.
Kuat bunyi
bergantung pada amplitudo. Semakin kuat atau keras bunyi, maka semakin besar
amplitudonya. Semakin lemah bunyi, maka semakin kecil amplitudonya. Hal ini
dibuktikan melalui petikan senar gitar.
Warna Bunyi Atau
Timbre
Umumnya, suatu
sumber nada memiliki nada dasar dan nada atas yang saling bergetar. Gabungan
nada dasar dan nada-nada atas menghasilkan bentuk gelombang tertentu untuk
setiap sumber nada. Bentuk gelombang tersebut yang menunjukkan warna atau
kualitas bunyi atau timbre dari sumber nada.
Nada C suling sama
dengan nada C terompet. Akan tetapi, ketika kedua alat musik berbunyi
bersamaan, tetap dapat dibedakan mana bunyi suling dan mana bunyi terompet
karena kedua alat musik ini memiliki warna bunyi yang berbeda.
Resonansi
Resonansi adalah
ikut bergetarnya suatu benda ketika benda lain di dekatnya digetarkan. Syarat
resonansi adalah frekuensi benda yang bergetar sama dengan frekuensi alami
benda yang ikut bergetar.
Dalam kehidupan
sehari-hari, resonansi terkadang harus diredam karena resonansi dapat
menimbulkan bahaya atau bencana.
Contoh :
1. Sekelompok
tentara tidak berbaris dan berjalan dengan teratur ketika melewati jembatan
gantung. Hal ini dilakukan untuk menghindari hentakan-hentakan kaki serentak
yang dapat menghasilkan frekuensi yang sama atau mendekati frekuensi alami
jembatan. Jika frekuensi hentakan-hentakan kaki serentak sama dengan frekuensi
alami jembatan terjadi resonansi dan jembatan ikut berayun (bergoyang) dengan
hebat dan dapat runtuh.
Pada
tanggal 7 November 1940, sebuah jembatan gantung Selat Tacoma, Amerika Serikat
runtuh karena angin yang bertiup melalui jembatan dengan kecepatan tertentu dan
dengan frekuensi datanganya angin yang tertentu pula menyebabkan resonansi pada
jembatan. Saat itu sekelompok tentara tengah berbaris dan berjalan dengan
teratur melewati jembatan tersebut.
Akibat
resonansi, jembatan mulai berayun dengan hebat dan akhirnya menyebabkan
jembatan ini runtuh. Hal yang sama terjadi di Chain Pier, Brighton pada tahun
1836.
Setelah
kejadian ini, sebelum membangun jembatan baru, dibuat terlebih dahulu model
dari jembatan baru tersebut untuk diuji dalam terowongan angin untuk memeriksa
apakah frekuensi alami jembatan tidak sama dengan frekuensi angin datang di
lokasi jembatan.
2. Seseorang
memberi sedikit dorongan pada temannya yang tengah berada menduduki ayunan agar
dapat berayun lebih tinggi. Pada kejadian ini, ia mendorong temannya dengan
frekuensi yang sama dengan frekuensi alami ayunan (getaran), sehingga amplitudo
ayunan bertambah. Jika ia menutup mata dan memberi temannya dorongan yang
sembarang, hal ini akan menyebabkan ayunan terayun kacau dan tidak akan berayun
dengan amplitudo yang besar.
3. Seorang
penyanyi menyanyi di dekat sebuah gelas berbentuk piala dengam frekuensi yang
sama atau mendekati frekuensi alami gelas, gelas akan mengalami resonansi dan
amplitudo getaran yang cukup besar dapat memecahkan gelas tersebut.
4. Para insinyur
menggunakan shock breaker untuk meredam getaran/goncangan agar ketika mobil melalui
jalan berlubang dengan laju yang tinggi, mobil tidak akan melambung.
a. Alat Musik Tiup
Alat musik tiup
memanfaatkan resonansi udara dalam pipa (tabung). Alat musik tiup akan
mengeluarkan bunyi karena udara dalam pipia dibuat ikut bergetar dan beresonansi
pada frekuensi alaminya, sehingga disimpulkan bahwa frekuensi resonansi
instrumen ini diatur oleh panjang efektif kolom udara dalam pipa.
Di dalam sebuah
klarinet terdapat buluh-buluh lentur pada mulut klarinet. Ketika kita meniup
klarinet, kita akan menggetarkan buluh-buluh lentur tersebut. Buluh-buluh ini
bergetar pada berbagai frekuensi. Salah satunya akan menjadi frekuensi nada
yang dimainkan oleh jari-jari tangan, yaitu frekuensi resonansi dari sistem,
hingga frekuensi ini akan diperkuat oleh instrumen ini.
Besar frekuensi
resonansi sistem diatur dengan cara menekan tuts dengan jari. Hal ini dilakukan
untuk mengatur panjang kolom udara dalam pipa.
b. Alat Musik
Senar
Setiap senar atau
kawat pada alat musik senar akan bergetar pada frekuensi alaminya masing-masing.
Pada alat musik senar terdapat kotak bunyi yang berisi udara. Ketika senar
bergetar, getarannya merambat ke kotak bunyi dan udara di dalam kotak bunyi
ikut bergetar.
Resonansi udara di
dalam kotak bunyi tersebut memperkuat getaran yang dihasilkan senar, sehingga
bunyi terdengar nyaring.
c. Alat Musik
Selaput Tipis
Sebuah beduk
memiliki sebuah ruang yang ditutupi kulit binatang atau selaput tipis. Ruang di
antara kedua kulit tersebut berisi udara. Ketika selaput tipis dipukul, udara
di dalam ruang ikut bergetar atau mengalami resonansi. Resonansi udara
memperkuat bunyi beduk.
Semakin besar
wadah beduk, maka semakin kuat bunyinya. Hal yang sama juga terjadi pada alat
musik selaput tipis lainnya, seperti tambur dan drum.

Komentar
Posting Komentar