Novel Nietvermeld Bab 16 : Menyusup
Di
sebuah ruang sempit tak berpintu terdapat sebuah lemari besi. Awalnya, Finn dan
Ben melewatkan ruangan itu sebab ruangan itu lebih gelap daripada ruangan
lainnya, hingga mereka tak melihat bahwa terdapat sebuah lemari besi di sana.
“
Ternyata di sini ada lemari besi!. Aku curiga dengan lorong ini, makanya aku
kembali ke sini ”, kata Finn.
“
Aku tidak bisa melihat dengan jelas di tempat yang kurang pencahayaannya.
Mataku minus! ”, sahut Ben.
Finn
mencoba membuka lemari besi itu. Ternyata, lemari besi itu tidak dikunci. Ia
menemukan sebuah tangga, beberapa kotak bohlam, cairan pembersih toilet, sikat
toilet dan beberapa gulung tissue toilet.
“
Ada apa saja di dalamnya? ”, tanya Ben.
“
Aku menemukan tangga ”.
“
Setinggi apa tangganya?. Kau mau memanjat ke atap?. Aku rasa sulit!.
Langit-langit bangunan ini sangat sulit terjangkau sekalipun kau memanjat
menggunakan tangga ”, kata Ben.
“
Aku bukan ingin memanjat ke atap! ”.
“
Lalu? ”.
Finn
tak menggubris ucapan Ben. Ia membawa tangga itu dengan pelan-pelan. Ben
berinisiatif membantunya. Finn mengisyaratkan Ben untuk meletakkan tangga itu
di bawah lampu gantung.
“
Coba kau memanjat!. Kau bisa tidak meraih bohlam lampu itu?. Kau tidak phobia
ketinggian, kan? ”, pinta Finn.
Kenapa
harus aku yang memanjat?. Kenapa tidak dia saja?. Ben menggerutu dalam hati. Tapi, bagaimanapun kesalnya,
ia tetap menuruti permintaan Finn.
Finn memegangi tangga lipat itu saat Ben memanjatnya.
Ketika sampai pada anak tangga kedua dari atas, Ben mencoba meraih bohlam lampu
di atas kepalanya.
“ Ya, aku bisa meraihnya! ”.
“ Bagus!. Kau lepas bohlam itu!. Pokoknya kau lepas dulu
satu-persatu bohlam di tempat ini, sementara aku membuka gembok sel perempuan
”.
Tanpa menunggu jawaban dari Ben, Finn langsung belari ke
arah lorong tempat sel-sel para tahanan berada.
“ Apa?!. Yang benar saja!. Aku harus mengerjakan ini
sendiri. Tidak ada yang memegangi tangga ini. Bagaimana kalau aku jatuh?. Lagi
pula untuk apa melepas semua bohlam di tempat ini? ”, kata Ben menggerutu
dengan suara yang amat pelan. Ben berpikir keras untuk mendapat jawaban atas
pertanyaannya sendiri. “ Oh, jangan-jangan!. Dia mau membuat ruangan ini gelap,
sehingga para penjaga itu tidak bisa melihat kami kabur. Bagus juga idenya!.
Tapi, ini terlalu melelahkan. Dan apa sempat melepas semua bohlam di tempat
ini? ”, katanya akhirnya.
♦♦♦
“ Apa kubilang, kan?. Kau pasti tidak akan bisa! ”, kata
Ashley kepada Carey.
“ Setidaknya aku sudah mencoba daripada kau yang cuma
bisa mengoceh! ”, sahut Carey.
“ Karena aku sadar diri! ”, kata Ashley sambil memelototi
Carey.
Carey pun memalingkan pandangannya dari Ashley.
“ Sudah-sudah!. Kalian jangan bertengkar! ”, kata Mandy
cemas.
“ Hei, mana benda itu? ”, kata Finn yang tiba-tiba
datang. Nafasnya terdengar tidak beraturan karena sehabis belari.
“ Oh, kau kembali juga!. Aku pikir kau sudah diseret oleh
mereka ke tempat yang sama dengan Zac ”, kata Danny.
“ Ini! ”, kata Carey sambil menyerahkan seutas kawat yang
sebelumnya adalah kelip.
“ Finn, di mana Ben? ”, tanya Mandy.
“ Dia sedang melaksanakan rencana yang lain. Tenang
saja!. Dia pasti baik-baik saja! ”, jawab Finn sambil menatap sepasang mata
Mandy dalam-dalam, hingga membuat Mandy menjadi salah tingkah.
“ Ya, sudah!. Ayo, cepat buka gemboknya! ”, pinta Mandy.
♦♦♦
Jantung
Ben terus berdetak kencang. Ia tidak bisa tenang mengerjakan tugasnya. Sering
kali pandangannya tertuju ke lorong yang mengarah ke pintu utama. Ia sangat
takut jika ada salah seorang penjaga yang masuk untuk pergi ke toilet atau
sekadar mengecek keadaan mereka.
“
Ya, Tuhan!. Di mana sih dia?. Kalau aku tertangkap basah, bagaimana? ”.
“
Ben! ”, panggil Finn dengan pelan sambil belari ke arah Ben. Ia datang bersama
para perempuan.
Ben
menghela nafas, lega. “ Akhirnya, kau datang juga!. Aku benar-benar panik
mengerjakan ini sendiri ”.
“ Tempat
ini jadi lebih gelap! ”, kata Danny.
“
Memang itu tujuannya! ”, sahut Finn. “ Sini gantian! ”, kata Finn beralih pada
Ben. Ia segera mengambil alih tangga lipat itu.
Ternyata dia mau juga bekerja sama. Apa penilaianku salah
terhadapnya?. Memang sih aku belum mengenalnya lebih jauh. Gumam Ben dalam hati.
“
Apa tangganya ada satu lagi?. Kalau ada aku akan bantu mengerjakannya agar
cepat ”, tanya Danny.
“
Tidak ada! ”, jawab Finn yang sudah mulai memanjat tangga.
Danny
menghela nafas, kecewa.
“
Apa harus semua bohlam di tempat ini dilepas? ”, tanya Ashley.
“
Rencananya iya! ”, jawab Ben sambil memegangi tangga.
“
Apa sebaiknya tidak sebagian saja?. Kalau semua bohlam harus dilepas akan
memakan lebih banyak waktu. Kita kan harus cepat keluar dari sini untuk
menolong Zac ”, kata Ashley.
“
Aku tidak menyangka kau benar-benar tergila-gila dengan Zac ”, kata Danny.
“
Bukan begitu!. Ini demi solidaritas! ”, sahut Ashley.
“
Iya-iya! ”, kata Danny.
“
Se...sebaiknya...kita...berdiri di...berdiri di dekat pintu
utama...ehm...supaya mudah keluarnya ”, kata Lissette, gugup.
“
Oh, iya!. Lissette benar! ”, ujar Mandy. Mandy pun menoleh ke arah Ben. “ Ben,
kami bersembunyi di dekat pintu utama ya? ”, tanyanya.
“
Ya, sudah!. Hati-hati! ”, kata Ben sambil memicingkan mata untuk memperjelas penglihatannya.
♦♦♦
Kyle
mengendap-endap menuju dinding rumah megah itu. Ia sengaja selalu berada di
jalur pinggir untuk berjaga-jaga agar sosoknya tidak tertangkap kamera CCTV.
Sejujurnya,
ia mengkhawatirkan keadaan Seth. Ia sudah menunggu Seth sekitar lebih dari lima
menit di tempat awal, tapi Seth tidak juga muncul.
Semoga dia baik-baik saja!. Semoga dia bisa memutuskan
mana yang terbaik untuknya!. Orang-orang tadi belum juga kembali berarti mereka
masih mencari Seth.
Tak disangka,
kini Kyle telah tiba di depan dinding rumah megah itu. Ia mencari pintu samping
atau pintu belakang.
Kira-kira di mana si Kepala Besar itu berada?.
Sepasang
mata Kyle membulat saat ia mendapati pintu samping yang ternyata tak terkunci.
Ia pun mendorong daun pintu itu secara perlahan. Akhirnya, ia berhasil memasuki
rumah megah itu.
♦♦♦
Tentara
itu menyeret Zac ke ruang kerja Don Fortunato. Sejak tadi Zac berusaha
memberontak, tapi ia tidak bisa melawan karena kedua tangannya diborgol.
Tentara
itu membuka pintu ruang kerja Don Fortunato setelah dipersilahkan masuk. “ Don,
ini anaknya! ”, katanya.
“
Mau apa kau? ”, tanya Zac dengan berteriak.
“
Saya permisi, Don! ”, kata tentara itu yang lekas keluar dari ruangan yang
cukup luas dan penuh dengan furniture berlapis cat berwarna keemasan.
Don
Fortunato menertawakan Zac. “ Masih punya nyali juga kau untuk melawanku ”.
Zac
tertawa kecut. “ Sudah deh langsung saja!. Apa yang mau kau bicarakan? ”.
“
Aku baru terpikir kalau aku lebih suka membunuhmu secara perlahan ”.
Zac
tersentak, tapi ia berusaha untuk tetap tenang.
“
Aku mau kau meringkus pemimpin kota Mandros agar aku bisa menguasai kota itu, sehingga
aku bisa memperluas wilayah kekuasaanku ”.
“ Aku
tidak mau karena aku tidak punya urusan dengan mereka ”.
Don
Fortunato mendekati Zac dan mencengkram kerah jaket Zac. “ Jangan melanggar
perintahku! ”.
“
Tentu saja aku akan tetap melanggar perintahmu karena kau bukan Tuanku! ”.
“
Terserah!. Tapi ku pastikan kau tetap akan melakukannya karena aku penguasa di
kota ini ”.
♦♦♦
Aroma
sedap masakan merangsang indera penciuman Kyle. Perutnya pun berkeruyuk.
“
Aku lapar!. Apa sebaiknya aku ke dapur untuk mengambil sedikit makanan sebagai
balasan atas perbuatan mereka terhadap teman-temanku? ”.
Kyle
menggeleng-gelengkan kepala. “ Tidak-tidak!. Aku tidak punya banyak waktu!.
Kalau aku ke sana bisa-bisa aku tertangkap ”. Ia pun menghela nafas panjang. “
Aku harus mencarinya di mana?. Apa dia disekap di ruangan kosong? ”.
Ketika
terdengar derap langkah kaki, Kyle segera bersembunyi di balik pilar.
Bukankah itu orang yang tadi membawa Zac?. Gumam Kyle dalam hati.
Dari arah sebelah kanan Kyle datang seorang pria
berkemaja hitam. Kyle lekas mengubah posisi berdirinya.
“
Hei, Richard!. Kau kenapa? ”, tanya tentara yang membawa Zac tadi.
“ Ada
pengantar daging gadungan!. Tapi, aku dan yang lainnya gagal menemukannya ”.
“
Mungkin dia sudah berhasil masuk ke dalam rumah ini ”.
Richard
tersentak. “ Bagaimana mungkin?. Rumah ini banyak dipasangi CCTV. Lagi pula untuk
apa dia menyusup ke rumah ini? ”.
“ Lalu
menurutmu untuk apa dia mendatangi rumah ini? ”.
Richard
tampak berpikir keras.
Selagi mereka mengobrol, sebaiknya aku berpindah dari tempat
ini. Kata Kyle dalam hati. Ia pun belari secepatnya saat kedua
pria itu membelakanginya.
“ Jangan-jangan dia teman anak itu! ”, ujar tentara.
“ Anak
yang mana? ”.
“ Anak
yang mencuri salah satu sumber air di kota ini. Dia sedang di ruangan Don Fortunato
”.
“ Kalau
begitu, dia datang untuk menolong anak itu ”.
“ Aku
akan membantumu untuk mencarinya ”.
“ Terima
kasih! ”.
“ Kalau
begitu, aku ke sebelah sana! ”.
“ Ya!. Dan aku ke sebelah sana!
”, kata pria berkemeja hitam sambil menunjuk ke arah yang dituju Kyle dan lekas berjalan ke arah itu.(Teman, Insya Allah novel ini diupdate setiap Sabtu untuk menemani waktu libur dan malam minggu. Terima kasih sudah membaca sampai bab ke-16 ini)

Komentar
Posting Komentar