Permasalahan Dalam Menulis Novel
Kenapa novel saya selalu ditolak oleh penerbit
mayor?.
Pertanyaan itu sering kali singgah di benak
para penulis pemula termasuk saya. Walaupun terdapat jalan lain untuk membukukkan naskah cerita fiksi, yaitu melalui penerbit indie, tetap saja penerbit mayor menjadi primadona.
Salah satu langkah yang sedang trend saat ini adalah dengan menerbitkan novelnya di aplikasi wattpad.
Karena kabarnya (saya tidak tahu pasti) ada beberapa penerbit yang bersedia
membukukan cerita novel dalam aplikasi tersebut.
Jika kamu ingin menembus
penerbit Gramedia Pustaka Utama kayaknya lebih baik kamu menerbitkan cerita
fiksi kamu melalui Gramedia Writing Project, sebuah platform yang mirip dengan
wattpad.
Meskipun saya juga berharap dapat menembus pernerbit mayor tersebut, entah kenapa urung yang saya lakukan untuk menerbitkan cerita fiksi di platform tersebut.
Melalui aplikasi wattpad pembaca bisa membaca novel yang telah tersimpan dalam library secara offline, sehingga penulis dapat menulis paragraf sebanyak-banyaknya dalam satu bab.
Meskipun saya juga berharap dapat menembus pernerbit mayor tersebut, entah kenapa urung yang saya lakukan untuk menerbitkan cerita fiksi di platform tersebut.
Melalui aplikasi wattpad pembaca bisa membaca novel yang telah tersimpan dalam library secara offline, sehingga penulis dapat menulis paragraf sebanyak-banyaknya dalam satu bab.
Permasalahan Dalam Menulis Cerita Fiksi
a. Penggambaran / Deskripsi
Tokoh
Belakangan ini saya lagi
kecanduan baca cerita fiksi di wattpad. Lebih tepatnya cerita bergenre fanfiction.
Selama ini saya belum pernah baca fanfiction. Eh, begitu baca malah ketagihan
karena genre fanfiction lebih mudah membayangkan wajah si karakter.
Entah kenapa setiap
membaca novel yang mana alurnya sudah berusaha menjelaskan ciri-ciri para tokoh
cerita dengan detail tetap saja saya gagal membayangkan wajah karakternya. Selalu
wajahnya jadi berubah-ubah akhirnya yang muncul cuma wajah abstrak.
Saya sendiri pernah
menulis dengan berusaha menjelaskan ciri-ciri para tokoh cerita sesuai dengan
tips para penulis profesional. Tapi
jujur, saya bingung sendiri menggambarkan ciri-ciri para tokoh cerita apalagi
jika gambaran ciri-ciri mereka hampir mirip, maksudnya seperti tokoh A
rambutnya coklat, demikian dengan tokoh B dan C.
Akhirnya, saya hanya
menuliskan ciri-ciri yang paling menonjol saja dari si tokoh cerita. Jika tidak
ada ciri-ciri yang menonjol, saya tidak akan menuliskannya. Saya membiarkan
para pembaca berimajinasi sendiri membayangkan wajah para tokoh. Yang pasti
kalau bagi saya, tokoh yang menggunakan
nama bule, maka yang muncul dalam imajinasi adalah wajah bule-bule. Jadi, nama
juga berpengaruh dalam pengambaran wajah si tokoh.
Kalau nama tokohnya
keren, sudah pasti yang muncul dalam imajinasi para pembaca adalah tokoh
berwajah tampan atau cantik. Maka dari itu, pernah saya membaca tips dari
penulis senior agar sebaiknya memberi nama tokoh yang aneh-aneh/jarang
didengar. Kalau perlu karangan sendiri.
b. Alur Cerita
Mengenai permasalahan
alur cerita, sangat disarankan oleh para editor untuk menulis cerita yang padat,
cepat dan berisi. Dalam hal ini alur cerita tidak terlalu bertele-tele, tidak
banyak adegan dan dialog.
Para penulis pemula (termasuk
saya) mungkin berpikir bahwa dengan menggambarkan jalan cerita yang benar-benar
detail akan membuat pembaca senang. Ya, pembaca memang senang, tapi penerbit
tidak senang karena mereka harus memikirkan biaya produksi/percetakan kecuali
kalau kita mengirim naskah ke penerbit indie.
Saya termasuk orang yang
susah membuat alur cerita fiksi menjadi benar-benar padat, cepat dan berisi
sebab saya pernah ditolak dengan alasan tulisan saya terlalu bertele-tele. Saya
lebih sering membuat alur cerita yang banyak adegan. Untuk kapasitas dialog,
saya sudah berusaha menekannya agar berlebihan.
Ini kesalahan besar
saya, padahal seharusnya saya bisa menyimpan adegan tersebut untuk cerita lain
atau cerita yang sama, tetapi untuk jilid berikutnya. Namun, sebaiknya kita
penulis pemula jangan terlalu berharap dulu bisa menulis novel yang berjilid lebih
dari satu sebab itu tergantung hasil penjualan dari novel pertama. Kalau novel
pertama tidak laku, maka sudah pasti penerbit tidak akan mau menerbitkan jilid
keduanya.
Tidak apa-apa jika kamu
ingin menulis ending cerita yang menggantung, tetapi jangan terlalu blak-blakan
(maksudnya, sudah ketahuan kalau bakal ada sambungannya).
Jika kamu ingin
menerbitkan cerita fiksimu dalam wattpad, hal ini tidak akan menjadi masalah. Cerita
fiksi yang terlalu banyak dialog lebih cocok dijadikan skenario, bukan novel.
c. Pesan Moral
Dalam menulis sebuah cerita fiksi , penulis diharapkan dapat menyelipkan pesan moral di dalamnya. Tidak hanya sekadar cerita hura-hura. Karena itu, pilihlah konflik cerita yang sarat akan pesan moral.
d. Mematikan Tokoh
Saya mempunyai teman yang justru suka jika ada tokoh yang dimatikan dalam sebuah cerita fiksi. Saya sendiri sering 'baper' jika ada tokoh cerita yang dimatikan.
Dalam permasalahan mematikan tokoh cerita agar membuat pembaca terbawa suasana haruslah dipilih tokoh yang berhasil menarik simpati pembaca.
Biasanya tokoh antagonis yang akhirnya mau berubah tapi baru saja merubah sifatnya, ajal langsung menjemputnya.
Penulis harus benar-benar jeli memilih tokoh mana yang lebih baik dimatikan. Jangan sampai sudah dimatikan tiba-tiba hidup dengan pribadi yang baru atau nama baru, seperti yang sering terjadi dalam alur cerita sinetron.
c. Pesan Moral
Dalam menulis sebuah cerita fiksi , penulis diharapkan dapat menyelipkan pesan moral di dalamnya. Tidak hanya sekadar cerita hura-hura. Karena itu, pilihlah konflik cerita yang sarat akan pesan moral.
d. Mematikan Tokoh
Saya mempunyai teman yang justru suka jika ada tokoh yang dimatikan dalam sebuah cerita fiksi. Saya sendiri sering 'baper' jika ada tokoh cerita yang dimatikan.
Dalam permasalahan mematikan tokoh cerita agar membuat pembaca terbawa suasana haruslah dipilih tokoh yang berhasil menarik simpati pembaca.
Biasanya tokoh antagonis yang akhirnya mau berubah tapi baru saja merubah sifatnya, ajal langsung menjemputnya.
Penulis harus benar-benar jeli memilih tokoh mana yang lebih baik dimatikan. Jangan sampai sudah dimatikan tiba-tiba hidup dengan pribadi yang baru atau nama baru, seperti yang sering terjadi dalam alur cerita sinetron.
Sekiranya empat permasalah an tersebut yang ada dalam pemikiran saya dan berdasarkan pengalaman saya.
Semoga Bermanfaat!.
Komentar
Posting Komentar