Filosofi Ular : Ular Itu Memabukkan (Bukan Mematikan)

Kalau kamu diminta untuk memilih dari hewan buas antara singa, serigala, hiu, ular dan buaya, hewan yang mana yang kamu pilih?. Bingung, mana yang lebih baik?.

Jika digambarkan sebagai manusia, ular memang selama ini identik dengan ‘Manusia Mulut Berbisa’. Tapi coba kamu pikir lebih baik mana antara mendengar ucapan frontal dan menyakitkan secara langsung atau dibohongi lalu mengetahuinya secara tiba-tiba!.

Kita semua tahu bahwa suatu kebohongan tidak mungkin dapat bertahan lama. Suatu saat kebohongan akan terungkap. Pepatah pun mengatakan untuk berkata jujur walaupun menyakitkan.

Nyatanya, berdasarkan mitologi Yunani, ular menjadi lambang kebijaksanaan.

Sebenarnya, di sini saya tidak berkeinginan untuk membahas masalah lidah yang tak bertulang atau mengenai fakta hewan-hewan tersebut, melainkan membahas bagaimana mereka memperlakukan mangsanya.

Karena artikel ini berjudul filosofi ular, maka saya akan lebih dominan membahas ular. Tetapi, tak ada salahnya juga untuk sekadar menyinggung sedikit keempat hewan lainnya yang saya sebutkan di awal artikel ini.

a. Singa

Singa butuh makan 8,1 kg daging per hari. Singa memiliki lidah yang kasar, sehingga jilatannya bisa mengelupas kulit mangsanya. Sadis!. 

Meskipun faktanya gigitan singa setara dengan 30 kali gigitan kucing rumah. Jangan dulu menganggap remeh hanya karena gigitan singa disamakan dengan gigitan kucing rumah jika kamu belum pernah merasakan digigit kucing rumah. 

Berada dalam jarak 1 mil dari singa, belum tentu membuat dirimu aman. Karena faktanya singa dapat mendengar mangsa sejauh 1 mil. Waspadalah 2x!.

Ternyata singa termasuk hewan yang pemalas karena singa dapat tidur selama 22 jam dalam sehari.

Namun, singa memiliki hati yang lebih lembut daripada serigala. Karena sempat terdengar kabar bahwa seekor singa betina mau merawat seekor bayi kijang walaupun akhirnya bayi kijang tersebut dimangsa oleh singa jantan.

b. Serigala

Serigala sangat berhati-hati terhadap keberadaan manusia di sekitarnya karena mereka tahu bahwa manusia kerap kali menjadikan mereka sebagai hewan buruan. Namun, bukan berarti manusia bisa selamat dari serigala. Jika manusia yang sedang diawasinya lengah, habislah sudah manusia itu.

Biasanya serigala akan menyerang mangsanya dengan main keroyokan. Selain itu, serigala hanya memangsa hewan yang paling lemah atau sedang sakit. Sungguh pengecut dikau serigala!.

Dengan fakta ini, seharusnya vampir dalam sinetron Ganteng-Ganteng Serigala digambarkan lebih kuat daripada serigala. Tapi nyatanya, dalam sinetron tersebut pemeran serigala lebih sedikit, seolah serigala mampu menghadapi banyak musuh-musuh vampirnya 😌

Rupanya, kawanan serigala sangat menjunjung takhta dan martabat karena setiap kawananannya berhasil mendapatkan mangsa, pasangan alpha selalu memakan buruan terlebih dahulu. Pasangan alpha adalah pasangan yang memimpin kawanan serigala.

Serigala dapat berlari dengan kecepatan mencapai 65 km/jam untuk mengejar mangsanya. Serigala hanya berburu pada malam hari karena serigala adalah hewan nokturnal. Serigala dapat memakan 9 kg daging per hari. Serigala dapat menempuh perjalanan selama beberapa hari tanpa makan.

c. Hiu

Ikan hiu dapat mencium setetes darah yang sudah terbawa arus hampir sejauh 2 mil jaraknya. Hal ini menunjukkan bahwa indera penciuman hiu benar-benar tajam. Hiu tidak akan dengan mudah melepaskan mangsanya jika aroma darah segar mangsanya masih tercium olehnya.

Berbeda dengan singa dan serigala yang mengawali menangkap mangsa dengan menerkamnya, hiu mengawali dengan gigitannya. Cara hiu membunuh mangsa terlihat lebih kejam daripada singa dan serigala.

Ditambah lagi dengan kondisi lingkungan tempat tinggal hiu, yaitu dasar laut. Manusia bukan hanya bisa mati dimangsa oleh hiu, tetapi juga dapat mati karena kehabisan nafas.

d. Buaya

Buaya dapat berjalan dengan kecepatan 18 km/jam. Buaya dapat bertahan hidup selama satu tahun hanya dengan memakan satu mangsa. Buaya menelan batu untuk membantu proses pencernaan dalam tubuhnya. Jika buaya berada terlalu lama di darat, mata buaya akan mengeluarkan air mata karena mengalami kekeringan.

Lalu, apa alasan seseorang yang sering melakukan playing victim, hingga menunjukkan air mata yang berjatuhan disebut memiliki air mata buaya?. 

Mungkin hal ini dihubungkan dengan fisik buaya yang terkesan menakutkan, tetapi ternyata mudah menangis, hingga membuat siapa pun di sekelilingnya menjadi iba. Bagaimana menurut kamu?.

Pada tahun 2000 SM di Mesir, kotoran buaya dijadikan sebagai alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan dengan cara memasukkan kotoran buaya ke dalam vagina. Mungkin dari sejarah ini munculah istilah Lelaki Buaya Darat. Jadi, bukan hanya karena lelaki buaya darat itu bermulut manis yang mana dengan mudah mendapatkan hati setiap wanita untuk dipacari 😂

Kembali ke peran utama dalam artikel ini.

Rupanya, ular melidungi diri dari predator dengan cara yang cukup cerdik, yaitu dengan membuat tubuhnya menjadi kotor dan bau.

Lidah merupakan indera penciuman ular. Hidung ular hanya berfungsi untuk bernafas. Ular dapat membuka mulut hingga 150o. Ular dapat bertahan selama 6 bulan tanpa makan. Ular jenis Black Mamba dapat melaju dengan kecepatan 18 km/jam.

Setetes racun ular mungkin dapat membunuh 3 orang dewasa. Tetapi, nyatanya racun ular masih dapat diatasi dengan cara menghimpit daerah yang terkena gigitan ular dengan bambu, kayu atau kardus agar racun tidak menjalar ke seluruh tubuh. Selain itu, racun ular juga masih terdapat obat penawarnya.

Adapun tanaman yang dapat digunakan untuk mengatasi racun ular adalah minyak lavender, daun kari, minyak kelapa, Mongoose (tanaman yang tumbuh di Asia Selatan) dan kunyit.

Jadi, jika dilakukan tindakan yang cepat dan tepat, tidak mungkin manusia yang terkena gigitan ular menjadi mati. Oleh karena itu, saya katakan bahwa ular bukan hewan yang mematikan, tetapi memabukkan.

Bahkan dalam mitologi Yunani, ular juga menjadi lambang cinta.

Jika dibandingkan keempat hewan lainnya, ular masih bisa dijinakkan dengan cara mengeluarkan racunnya dan mereka pun menjadi dapat bersahabat dengan manusia.

Sulit rasanya untuk terbebas dari ular jika mereka sudah menjerat mangsanya dengan melilitkan tubuhnya pada tubuh mangsanya.

Jika hal ini terjadi antara sesama manusia, lebih tepatnya pada hati manusia, mungkin manusia yang terjerat tersebut justru akan memperlakukan si penjerat seperti candu yang sudah jelas-jelas berdampak negatif, tetapi justru membuatnya ketagihan.

Pernahkah kamu melihat ular menyisakan mangsanya di tempat?. Saya tidak pernah. Ular selalu melumat habis mangsanya tanpa tersisa. Tidak seperti keempat hewan lainnya dalam artikel ini yang sering kali meninggalkan bangkai jika sudah kenyang. Ibarat kata Habis Manis, Sepah Dibuang. Siapa yang suka diperlakukan seperti itu?. Jelas tidak ada.

Apakah bodoh jika kita lebih memilih dimangsa ular daripada keempat hewan lainnya itu?. Mudah-mudahan kamu mengerti apa yang saya maksud.

#UlarItuMemabukkanBukanMematikan

Komentar

Populer Minggu Ini

4 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengarang

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax

Persen Dan Permil

Filosofi Kartu Joker

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Stressed Syllable dan Unstressed Syllable

Penggunaan Besides, Apart From, In Addition, Than, Furthermore, Moreover, After that, Meanwhile dan Meantime