Kandungan Dan Efek Gas Air Mata
Gas air mata
disebut juga lacrimator. Efek dari gas air mata hanya bersifat sementara atau
reversible. Gas air mata terbagi menjadi tiga jenis berdasarkan kandungan di
dalamnya, antara lain gas o – Chlorobenzylidenemalononitrile (CS), gas ω – Chloroacetophenone
(CN) dan semprotan merica.
Dalam setiap
satu kaleng gas air mata terdapat kandungan potasium nitrat, potasium klorat,
silikon, sukrosa, magnesium karbonat, benzil bromida, bromoaseton, xylyl
bromide, etil bromoasetat, α - bromobenzyl sianida dan arang.
Gas air mata
secara langsung mengaktifkan reseptor rasa sakit yang terdapat dalam tubuh
manusia. Reseptor rasa sakit tersebut, antara lain TRPA1 dan TRPV1.
Gas o – Chlorobenzylidenemalononitrile
(CS) dan gas ω – Chloroacetophenone (CN) dapat mengaktifkan reseptor TRPA1. TRPA1
adalah reseptor yang bereaksi dengan biomolekul dan protein dalam tubuh
manusia, hingga menyebabkan sensasi terbakar. Selain kedua gas tersebut, TRPA1
juga dapat diaktifkan oleh gas dibenzoxazepine (CR).
Gas o – Chlorobenzylidenemalononitrile
merupakan gas iritan yang lebih kuat, tetapi efeknya hanya bertahan selama 5 –
10 menit. Gas ini menyebabkan sensasi terbakar pada saluran pernafasan.
Gas ω – Chloroacetophenone
merupakan golongan aerosol yang menjadi komponen utama dari Mace spray yang diciptakan oleh Allan Lee Litman pada tahun 1965.
Khusus
semprotan merica terdapat kandungan capsaicin di dalamnya. Senyawa capsaicin
dapat mengaktifkan reseptor TRPV1. TRPV1 adalah reseptor yang berfungsi
mendeteksi, mengatur suhu tubuh, memberikan sensasi panas dan nyeri.
Jenis gas air mata yang mengandung capsaicin terbagi menjadi dua, yaitu gas OC (oleoresin capsicum) dan PAVA (pelargonic acid vanillylamide).
Jenis gas air mata yang mengandung capsaicin terbagi menjadi dua, yaitu gas OC (oleoresin capsicum) dan PAVA (pelargonic acid vanillylamide).
Gas OC adalah
turunan resin (getah) berminyak dari capsaicin. PAVA termasuk jenis amida dari
asam pelargonat dan vanillyl amine. PAVA memiliki efek yang lebih kuat daripada
gas CS dan lebih stabil terhadap panas daripada capsaicin. Jangkauan akurat PAVA
maksimum sekitar 1,25 - 2 meter.
Reaksi yang
ditimbulkan setelah terkena gas air mata, seperti penglihatan menjadi kabur,
kesulitan bernafas, iritasi kulit, nyeri dada, kelumpuhan otot, produksi air
mata dan air liur berlebih, muntah dan diare. Gas air mata
dapat menyebabkan peradangan pada paru-paru, hidung, mulut dan selaput lendir
pada mata.
Dalam berbagai aksi penertiban atau membubarkan para demonstran sering kali terdapat penggunaan gas air mata yang telah kedaluwarsa. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, di Mesir dan India juga pernah ditemukan penggunaan gas air mata yang telah kedaluwarsa.
Dalam berbagai aksi penertiban atau membubarkan para demonstran sering kali terdapat penggunaan gas air mata yang telah kedaluwarsa. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, di Mesir dan India juga pernah ditemukan penggunaan gas air mata yang telah kedaluwarsa.
Gas air mata
yang telah kedaluwarsa akan terpecah menjadi sianida, fosgen dan nitrogen.
Fosgen merupakan gas yang paling mematikan, tidak berbau dan dapat membaur di
dalam udara. Fosgen berwujud gas pada suhu kamar.
Sianida adalah gas tidak berwarna, memiliki bau seeprti almond, bersifat lebih ringan daripada udara, serta mudah menguap dan terpecah jika berada di udara terbuka. Sianida menghambag kerja sel-sel tubuh yang membutuhkan oksigen.
Sianida adalah gas tidak berwarna, memiliki bau seeprti almond, bersifat lebih ringan daripada udara, serta mudah menguap dan terpecah jika berada di udara terbuka. Sianida menghambag kerja sel-sel tubuh yang membutuhkan oksigen.
Komentar
Posting Komentar