Proses Terjadinya Pelangi Dan Jenis Pelangi
Cahaya matahari disebut juga
cahaya polikromatik. Cahaya polikromatik adalah cahaya yang terdiri atas banyak
warna dan panjang gelombang. Selain itu, cahaya matahari juga disebut sebagai
cahaya tampak yang mana merupakan gelombang elektromagnetik yang terjadi karena
adanya medan magnet dan medan listrik. Cahaya tampak memiliki frekuensi 4,3 x
1014 Hz dan panjang 4000 A – 7000 A.
Cahaya matahari yang terlihat
secara kasat mata terdiri atas tujuh warna, yaitu merah, jingga, kuning, hijau,
biru, nila dan ungu (mejikuhibiniu). Susunan warna pelangi berdasarkan tinggi
rendahnya frekuensi dan panjang gelombang pada spektrum cahaya.
Cahaya merah memiliki
frekuensi paling rendah dan panjang gelombang yang paling panjang dibandingkan
warna cahaya lainnya, sehingga cahaya merah terletak paling atas pada susunan
warna pelangi.
Cahaya ungu memiliki
frekuensi paling tinggi dan panjang gelombang yang paling pendek dibandingkan
warna cahaya lainnya, sehingga cahaya ungu terletak paling bawah pada susunan
warna pelangi.
Berikut ini proses terjadinya
pelangi :
1. Cahaya matahari mengalami
pembiasan.
2. Cahaya matahari yang
melewati butir air hujan akan dibelokkan dari satu medium ke medium lainnya,
sehingga akan tercipta warna-warna yang terpisah satu sama lain.
3. Setiap warna-warna pelangi
akan dibelokkan pada sudut yang berbeda. Kita akan melihat warna pelangi secara
utuh karena terjadinya geometrioptik dalam proses penguraian warna.
Berikut ini adalah
jenis-jenis pelangi :
a. Pelangi Ganda
Pelangi ganda adalah pelangi
yang terbentuk karena pembiasan yang terjadi beberapa kali atau pembiasan ganda
pada butir air hujan, hingga terbentuk pelangi kedua dan ketiga pada permukaan
luar pelangi utama. Adanya pembiasan ganda pada butir air hujan menyebabkan
warna pelangi yang terbentuk merupakan kebalikan dari warna pelangi yang ada di
bagian bawah.
Contoh :
Susunan warna pelangi utama
adalah merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Susunan warna pelangi
kedua yang terbentuk adalah ungu, nila, biru, hijau, kuning, jingga dan merah.
Selanjutnya susunan warna pelangi ketiga yang terbentuk adalah merah, jingga,
kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Begitu pun seterusnya.
Warna pelangi ganda mudah
memudar ke sisi luar karena medium butir air pada sisi luar lebih luas,
sehingga banyak cahaya yang tidak terbiaskan. Hal ini menyebabkan ukuran
pelangi utama menjadi lebih kecil daripada pelangi kedua dan ukuran pelangi
kedua lebih kecil daripada pelangi ketiga.
b. Pelangi Kembar
Pelangi kembar adalah pelangi
yang terbentuk karena pembiasan cahaya pada beberapa butir air hujan berbeda
ukuran yang terjatuh bersamaan ke permukaan bumi. Perbedaan ukuran butir air
hujan disebabkan tekanan udara yang berbeda pada iklim tertentu. Butir air
hujan yang berukuran lebih besar akan menjadi lebih rata ketika terkena tekanan
udara.
Pelangi kembar berbeda dengan
pelangi ganda. Pelangi ganda adalah beberapa pelangi yang tersusun sejajar,
tetapi berbeda susunan warnanya. Pelangi kembar adalah beberapa pelangi yang
tidak tersusun sejajar, tetapi memiliki susunan warna yang sama. Terkadang warna
pelangi kembar saling bertemu dan menciptakan irisan warna yang lebih intens.
c. Pelangi Satu Warna atau
Pelangi Merah
Pelangi satu warna disebut
juga pelangi merah karena hanya warna merah yang biasanya timbul dari hasil
pembiasan cahaya pada butir air hujan. Pelangi satu warna terbentuk saat
terjadinya hujan bertepatan dengan terbit atau tenggelamnya matahari. Pada
kondisi tersebut, gelombang cahaya menjadi lebih pendek, sehingga warna biru
dan hijau menjadi terpecah dan hilang dari spektrum warna.
d. Pelangi Ekstra Warna
Pelangi ekstra warna adalah
pelangi yang terbentuk karena pembiasan cahaya pada jalur butir air hujan yang
berbeda di sekitar pelangi utama. Angin akan membantu mengarahkan arah butir
air hujan, sehingga terjadi penambahan ekstra pada warna pelangi.
Pelangi ekstra warna memiliki
warna tambahan, yaitu warna ekstra hijau dan ekstra nila pada sisi dalam
pelangi utama. Warna ekstra biasanya terdapat di bagian dalam pelangi. Warna
ekstra yang sering muncul adalah warna hijau, nila dan ungu.
Pelangi ekstra warna disebut
juga pelangi bertumpuk yang terbentuk dari beberapa warna pelangi halus yang
terdapat di dalam warna pelangi utama.
e. Pelangi Kabut (Fogbows)
Pelangi kabut terbentuk saat
terjadinya kabut. Pelangi kabut biasa muncul di sekitar peraian yang mana
terjadi pertemuan udara di antara air dingin. Pembiasan cahaya pada pelangi
kabut terjadi pada medium butir awan atau kabut. Warna pelangi kabut cenderung
berwarna merah lembut di bagian sisi luar dan warna biru di bagian sisi dalam.
Pelangi kabut biasanya
berwarna redup karena lengkungan masing-masing warna yang semakin besar,
sehingga warna-warna pelangi menjadi bertumpuk.
Untuk melihat pelangi kabut,
kabut yang berada di belakang pengamat harus lebih tipis, sehingga cahaya
matahari dapat melalui kabut tebal di depan pengamat.
f. Pelangi Bulan (Moonbows)
Pelangi bulan adalah pelangi
yang terbentuk karena pembiasan cahaya bulan pada butir air hujan. Oleh karena
itu, pelangi bulan biasa terjadi pada malam hari, sehingga disebut juga pelangi
lunar. Proses pembiasan berlangsung cukup lama karena kurangnya cahaya pada
proses pembiasan walaupun bulan berbentuk penuh.
Untuk terciptanya pelangi
bulan, keadaan langit harus sangat gelap dan sudut elevasi bulan tidak boleh
lebih dari 42o. Mata manusia tidak dapat menangkap seluruh warna
pelangi bulan, sehingga biasanya hanya warna putih saja yang terlihat di
kejauhan.
g. Pelangi Sirkular
Pelangi sirkular disebut juga
pelangi melingkar atau lingkaran karena bentuknya menyerupai lingkaran. Namun
sebenarnya, pelangi terlihat berbentuk setengah lingkaran dikarenakan posisi mata pengamat berada sejajar dengan
tanah atau di atas dataran rendah.
Pelangi sirkular dapat
dilihat pada puncak ketinggian tertentu, yaitu ketika pengamat berdiri di atas
bukit, lereng gunung, gedung bertingkat atau tempat-tempat tinggi lainnya. Pelangi
sirkular dapat muncul bersamaan dengan pelangi kabut. Pelangi sirkular dapat memberikan
variasi warna kembar, ganda atau ekstra warna.
h. Pelangi Klasik
Pelangi klasik hanya terdiri
dari enam warna, yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru dan ungu. Proses
terbentuknya pelangi klasi sama seperti proses terbentuknya pelangi pada
umumnya.
i. Pelangi Air Terjun
Pelangi air terjun adalah
pelangi yang terbentuk karena pembiasan cahaya pada butir air hujan dengan
medium kabut air terjun yang bercampur dengan aliran udara atmosfer secara
terus-menerus.
j. Pelangi Api
Pelangi api adalah pelangi
yang terbentuk karena pembiasan cahaya matahari pada ketinggian 58o –
68o terhadap butir air hujan dengan medium awan cirrus pada
ketinggian 20.000 kaki sebagai prismanya. Pelangi api berbentuk seperti api. Pelangi
api tidak dapat dilihat dari dataran rendah dengan ketinggian sekitar 55o
di antara utara dan selatan.
k. Sundogs
Sundogs adalah pelangi yang
terbentuk karena pembiasan cahaya matahari yang melalui kristal es yang
terletak tinggi pada atmosfer tertentu. Sundogs hanya terbentuk pada musim
dingin dengan cuaca yang cerah. Sundogs memiliki warna merah pada bagian dalam
dan warna ungu pada bagian luar, serta warna pelangi lainnya yang muncul secara
bersamaan. Semakin tebal konsentrasi kristal es di udara, maka semakin tebal
struktur warna pada sundogs.
Komentar
Posting Komentar