Sutera Dari Kokon Dan Qmonos

Sutera dari kokon terbagi menjadi dua jenis, yaitu sutera ternakan dan sutera liar. Sutera ternakan dihasilkan oleh larva ulat sutera murbei (Bombyx mori). Peternakan larva jenis ulat ini disebut serikultur. Sutera liar dihasilkan oleh kepompong liar atau larva ulat selain Bombyx mori. Sutera liar umumnya telah dirusak oleh ngengat yang keluar dari kepompong, sehingga benangnya sudah terputus.

Berbeda dengan sutera ternakan yang mana pupa (kepompong) dibunuh dengan cara dicelupkan ke dalam air mendidih sebelum ngengat keluar dari kokon dan merusak kokon, sehingga benangnya tak terputus. Oleh karena itu, kain tenun dari sutera ternakan berkualitas lebih kuat.

Kualitas benang tergantung saat pemintalan kokon. Ketidakseragaman antara kokon yang satu dan yang lainnya saat pemintalan menyebabkan panjang dan tebal benang menjadi tidak merata dan kualitas yang tidak baik.

Berikut ini proses pembuatan benang sutera mentah :

a. Pengeringan Kokon

Pengeringan kokon dilakukan dengan cara dijemur, dikukus atau dimasukkan ke dalam oven. Kokon yang telah dikeringkan dapat disimpan dalam waktu yang lama pada suhu dan kelembapan yang normal. Pengeringan kokon bertujuan untuk mematikan pupa yang terkandung dalam kokon dan untuk mengurangi kadar air pada lapisan sutera.

b. Flossing Kokon

Flossing kokon adalah proses menghilangkan lapisan luar kokon. Lapisan luar kokon terdiri dari filamen-filamen menyerupai bulu. Hal ini bertujuan agar tidak menghambat pada saat pencarian ujung filamen, sehingga filamen pada kokon mudah diurai saat proses reeling.

c. Seleksi Kokon

Seleksi kokon dilakukan untuk menghasilkan kualitas benang yang baik. Kokon yang berisi ulat mati, berujung tipis, bernoda, berkulit tipis, telah tergencet, berbentuk abnormal, berserabut, berkulit jarang dan berjamur sebaiknya tidak digunakan dalam proses pemintalan.

d. Perebusan Kokon

Bagian luar filamen sutera terbentuk dari serisin, sehingga antar filamen yang satu dan yang lainnya saling merekat. Serisin adalah salah satu protein yang terkandung dalam kokon. Serisin termasuk asam amino.

Perebusan kokon bertujuan untuk melarutkan serisin yang menyatu dengan filamen, sehingga kokon dapat mengembang, menjadi lunak, serta tidak putus dan kusut saat penguraian dan penggulungan filamen sutera pada haspel (alat penggulung berukuran besar yang terbuat dari kayu).

Lama perebusan kokon tidak boleh lebih ataupun kurang dari waktu yang ditentukan, sehinga persentasi daya gulung filamen tidak semakin rendah dan panjang filamen yang terbentuk tidak semakin pendek.

e. Reeling Kokon

Reeling kokon adalah proses pemintalan setelah proses penyatuan beberapa filamen. Setelah proses pencarian ujung filamen, kokon dipindahkan ke bak reeling untuk proses pemintalan. Saat proses reeling, suhu air dalam bak reeling adalah sekitar 40o – 60o C.

Selain itu, benang yang akan melewati pengantar benang diberi twist palsu sebanyak 8 – 10 gintiran untuk mengurai kadar air dalam filamen dan meningkatkan kohesi (gaya tarik-menarik) pada benang. Dari proses reeling akan didapat benang raw silk atau benang mentah.

f. Rereeling Kokon

Rereeling kokon adalah proses pemintalan atau penggulungan ulang filamen sutera yang telah digulung pada penggulung kecil sebelum dipindahkan  ke penggulung yang lebih besar dalam bentuk stregnan. Bentuk stregnan dapat memudahkan untuk proses penimbangan dan packing.

Reel dibasahkan atau direndam dalam air selama proses penggulungan ulang untuk melunakkan dan mengembangkan serisin agar proses penggulungan ulang berjalan lancar.

g. Pencelupan Benang Raw Silk

Proses pencelupan dilakukan dengan cara mencelupkan benang ke dalam air bersuhu 50o C sampai seluruh bagian benang basah. Suhu air tidak boleh melebihi 50o C agar benang tidak pecah dan mudah putus saat dilakukan proses winding.

Proses pencelupan benang raw silk bertujuan untuk melarutkan serisin karena  setelah proses pemintalan ulang antara benang yang satu dan yang lainnya masih merekat dan semakin mengeras setelah mengering. Apabila selama proses pencelupan antara benang yang satu dan yang lainnya masih merekat, maka harus ditambahkan minyak sayur.

h. Winding

Winding adalah proses penggulungan benang dari bentuk untaian menjadi bentuk bobbin (kumparan). Hal ini bertujuan untuk membuang benang-benang yang lemah dan tidak rata, sehingga memudahkan untuk dilakukan proses doubling.

i. Doubling

Doubling adalah proses merangkap benang tunggal dengan menggunakan mesin doubling. Benang dirangkap sesuai kebutuhan, misalnya 2, 3 atau 4 rangkap.

j. Twisting

Twisting adalah proses penggintiran (pemilinan) benang untuk mencegah pecahnya benang saat dilakukan proses degumming (proses pemisahan serisin) dan memberi daya tutup yang lebih besar dibandingkan benang tunggal.

Arah twist terbagi menjadi dua, yaitu :

- Z twist : penggintiran benang ke arah kiri.
- S twist : penggintiran benang ke arah kanan.

k. Setting

Proses setting menggunakan mesin pengeset vacuum dengan suhu 70o C selama 30 menit. Proses setting bertujuan untuk meluruskan benang yang menggulung akibat proses twisting agar saat dilakukan proses rewinding, benang tidak mudah putus.

l. Rewinding

Rewinding adalah proses pemindahan benang dalam bentuk bobbin ke haspel berukuran besar agar menjadi benang dalam bentuk untaian atau ukel.


Selain dapat dihasilkan dari kokon, sutera juga dapat dihasilkan dari jaring laba-laba atau disebut qmonos dalam bahasa Jepang. Sutera dari qmonos berkualitas lebih kuat dari bahan biasanya. Sutera dari qmonos juga bertekstur lembut dan fleksibel.

Pemimpin Perusahaan Nexia Biotechnologies, Jeffrey Turner mengembangkan sutera hasil rekayasa dari qmonos. Para ilmuwan di Nexia memanfaatkan keunggulan jaring laba-laba dengan cara meletakkan gen laba-laba ke dalam sel hewan mamalia sebagai cara untuk merekayasa produksi benang. Hewan yang dimanfaatkan adalah domba. Domba akan memproduksi jenis protein pembuat benang yang terkandung dalam susunya.

Protein ini kemudian diekstrak untuk membuat benang yang kuat. Benang sutera yang dihasilkan oleh jaring laba-laba memiliki kualitas sangat bagus untuk menjadi bahan pembuatan baju anti peluru, benang untuk operasi bedah atau senar pancing dan jala yang ramah lingkungan dibandingkan dengan senar pancing dan jala yang terbuat dari nilon. Namun sayangnya, qmonos belum dapat diproduksi dalam jumlah besar untuk keperluan industri.

Komentar

Populer Minggu Ini

4 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengarang

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax

Persen Dan Permil

Filosofi Kartu Joker

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Stressed Syllable dan Unstressed Syllable

Penggunaan Besides, Apart From, In Addition, Than, Furthermore, Moreover, After that, Meanwhile dan Meantime