Apoptosis Jalur Intrinsik Dan Ekstrinsik
Apoptosis
adalah kematian sel terprogam. Di mana sel-sel terprogram yang sudah tidak
diperlukan/sel-sel tua akan dibongkar, sehingga melepaskan diri dari sel-sel
tetangga dalam jaringan dan membran plasma yang sama. Apoptosis terjadi setiap
hari dalam tubuh manusia.
Apoptosis
dilakukan untuk perkembangan dan menjaga kesehatan tubuh. Jika apoptosis
terhambat, sel-sel yang seharusnya dihancurkan akan tetap bertahan dan menjadi
abadi, hingga menyebabkan kanker atau efek lain bagi sel jika bermutasi secara
tidak teratur. Namun, jika apoptosis terjadi pada banyak sel akan menyebabkan
kerusakan jaringan, sehingga menyebabkan stroke, alzheimer, Huntington
(penyakit keturunan yang menyebabkan kerusakan sel-sel saraf pada otak) dan
Parkinson.
Apabila
mitosis (pembelahan sel) terjadi lebih cepat daripada apoptosis, maka akan
terbentuk tumor. Apabila mitosis terjadi lebih lambat daripada apoptosis, maka
akan terjadi penyakit karena kekurangan sel.
Berikut ini proses apoptosis secara singkat :
1.
Sel-sel yang rusak akan membulat karena struktur protein yang menyusun
sitoskeleton akan mengalami pemotongan oleh protein caspase yang telah
diaktivasi oleh mekanisme sel tersebut. Caspase bertanggung jawab untuk
melaksanakan proses apoptosis.
Sebelum
aktif, caspase berupa procaspase. Procaspase mendapat stimulus untuk menjadi
caspase. Satu caspase dapat mengaktifkan caspase lainnya. Caspase yang belum
aktif akan mengalami pemotongan pada sisi karboksil dan terminal amino,
sehingga sisinya dapat menempel dan menjadi aktif.
2.
Benang-benang kromatin (benang penyerap warna) pada nukleus akan mengalami
degradasi (penurunan fungsi) awal dan kondensasi (penguapan), sehingga
membentuk potongan-potongan padat pada membran inti.
3.
Sel-sel akan menyusut dan membentuk badan apoptosom.
4.
Membran inti akan mengalami proses blebbing (terbelah menjadi berlobus-lobus)
dan DNA yang berada di dalamnya akan terpotong-potong.
5.
Lapisan lipid fosfatidilserina yang terdapat dalam membran sel akan mencuat keluar
dan dikenali oleh fagosit, hingga sel mengalami fagositosis. Fagositosis adalah
proses penelanan atau penggulungan sel-sel asing yang bersifat patogen atau
sel-sel yang telah mati.
Sel
fagosit yang berperan dalam fagositosis, yaitu sel makrofag dan sel neutrofil (leukosit atau sel darah putih bergranula
bintik-bintik merah kebiruan).
Partikel-partikel berukuran kecil lebih cepat dicerna oleh sel fagosit
dibanding benda berbentuk gumpalan yang masuk atau ada dalam tubuh manusia.
Peran
apoptosis, antara lain :
-
Selama perkembangan organisme multiseluler dapat berlanjut hingga dewasa.
-
Apoptosis bertanggung jawab dalam pembentukan jaringan dan organ selama
perkembangan embrio.
-
Apoptosis berperan dalam regulasi sistem imun (pematangan timus).
Apoptosis
pada sel-sel yang terletak di antara jari-jari menyebabkan jari-jari menjadi
terpisah satu sama lain.
Apoptosis
terbagi atas dua jalur, yaitu :
a.
Intrinsik (Mitochondrial Pathway)
Jalur
intrinsik melibatkan proses pensinyalan sel internal terutama yang melalui
mitokondria. Jalur intrinsik diawali dengan pelepasan sitokrom c yang lalu
diikat oleh Apaf-1 (apoptosis activating faktor) untuk membentuk CARD (Caspase
Activation and Recruitment Domain) domain dan apoptosome. Sitokrom c adalah
protein heme dengan berkas genetik CYCS yang menghubungkan sitokrom bc1 dan
sitokrom aa3 oksidase. Sitokrom c berfungsi sebagai apoptosis inducing factor
(AIF).
CARD
domain adalah modul interaksi protein homotypic yang terdiri dari 6 α-heliks.
Apoptosome adalah struktur protein kuartener besar yang terbentuk dalam proses
apoptosis.
Apoptosome
akan mengaktifasi caspase 9 (Cystein Aspertyl-specific Protease 9), yaitu
caspase awal yang diaktifkan saat pelepasan sitokrom c. Sebelum menjadi caspase
9, procaspase 9 lebih dulu terbentuk. Kemudian caspase 9 akan mengaktifasi
caspase 3, 6 dan 7 untuk dapat mengaktifkan sistem lainnya.
Caspase
3 termasuk caspase eksekutor yang diaktifkan oleh caspase inisiator (caspase 8
dan caspase 9). Apabila caspase 3 telah teraktivasi, maka akan terjadi
apoptosis. Caspase 3 akan mengaktifkan beberapa target selular termasuk ICAD
(Inhibitors of Caspase Activated Deoxyribonuclease), sehingga terjadi apoptosis
inti yang ditandai dengan kondensasi (pengembunan) kromatin dan degradasi
(penurunan) DNA oligo nukleosom.
Adapun
protein yang berperan dalam proses apoptosis adalah BH1, BH2, BH3 dan BH4.
Apabila protein BH1-4 aktif, maka akan membentuk Bcl2 yang anti-apoptosis.
Tetapi jika BH4 tidak aktif atau hanya BH3 yang aktif, maka akan terjadi proapoptosis.
Tidak
semua anggota protein Bcl2 merupakan anti-apoptosis. Beberapa anggota protein
Bcl2 termasuk proapoptosis yang meningkatkan pelepasan sitokrom c dan protein
intermembran mitokondria lainnya ke sitosol. Anggota protein Bcl2 yang termasuk
anti-apoptosis, antara lain Bcl-xL, Bcl-w, Mcl-1 dan A1.
Gen
yang sama tetapi splicing berbeda akan menjadi proapoptosis ataupun anti-apoptosis
atau protein yang berbeda. Splicing adalah proses penghilangan intron dari
prekusor RNA. Intron adalah urutan nukleotida di dalam gen yang dibuang saat
penjalinan RNA selama pematangan produk RNA akhir.
Saat
kondisi sel normal, sitokrom c hanya terdapat pada mitokondria karena dijaga
oleh Bcl2 protein. Hal ini bertujuan agar permeabilitas (kemampuan meloloskan
sejumlah partikel yang dimiliki oleh suatu zat atau membran) mitokondria selalu
terjaga.
Antara
proapoptosis dan anti-apoptosis selalu bersaing. Jika anti-apoptosis lebih
banyak, maka membran mitokondria akan tetap intake dan sitokrom c tidak akan
terlepas. Jika proapoptosis berupa bax berjumlah lebih banyak, maka sistem
permeabilitas akan terganggu dan sitokrom c akan terlepas, hingga terjadilah
proses apoptosis.
Anti-apoptosis
berfungsi menghambat BH1-3 agar tidak bergabung dengan sitokrom c ketika
terlepas, sehingga proses apoptosis tidak terjadi. Adanya stimulus apoptosis
menyebabkan BH1-3 menyatu dan memberikan jalan untuk sitokrom c menginduksi
terjadinya apoptosis.
Akan
tetapi, ada stimulus apoptosis yang mengakibatkan inaktivasi Bcl2 (salah satu
inhibitor/penghambat apoptosis), sehingga BH1-3 tetap menyatu dan sitokrom c
terlepas, serta mitokondria melepaskan protein anti-IAP (Inhibitors of
Apoptosis) yang berfungsi memblok aktivitas caspase dengan cara menempel pada
caspase. Beberapa anti-IAP, antara lain B6H12 dan 2E11. Jika BH1-3 terlepas,
maka anti-IAP akan terlepas dan memblok aktivitas IAP, sehingga caspase tidak
terhambat.
Berikut
ini cara menghambat proses apoptosis melalui ekstraselular :
a.
Meningkatkan jumlah protein Bcl2.
b.
Menginaktifasi BH3 yang proapoptosis, sehingga apoptosis tidak terjadi.
c.
Menginaktifasi anti-IAPs.
Gen Bcl2l1
Gen
Bcl2l1 adalah gen yang berfungsi mengkode Bcl-xl yang anti-apoptosis. Gen
Bcl2l1 disebut juga Bcl2l dan Bclx. Gen Bcl2l1 tersusun atas 59. 537 pasang
basa dan 4 ekson. Ekson adalah urutan yang digabungkan bersama dalam RNA yang
matang setelah penjalinan RNA.
Protein
Bcl-xl
Protein
Bcl-xl tersusun atas 233 asam amino dan 2 heliks hidrofobik (tidak dapat larut
dalam air) yang terletak di bagian sentral. Kedua heliks hidrofobik tersebut
dikelilingi oleh heliks lain yang bersifat ampifatik (terdiri atas daerah
hidrofilik dan hidrofobik). Protein Bcl-xl memiliki berat molekul 26 kDa.
Bcl-xl terletak di membran luar mitokondria, retikulum endoplasma dan membran
nukleus.
Bcl-xl
memiliki transmembran domain dan 4 domain Bcl-2 homology (BH). Keempat domain
BH tersebut, antara lain BH1, BH2, BH3 dan BH4. BH1-3 terletak berdekatan dan
membentuk suatu celah hidrofobik yang panjang dan menjadi tempat berikatan
dengan domain BH3 yang proapoptosis.
Adanya
stimulus apoptosis, Bcl-xl pada membran luar mitokondria diikat oleh Bad
(protein Bcl2 yang proapoptosis), sehingag Bcl-xl tidak dapat melakukan
fungsinya untuk menghambat terjadinya apoptosis.
Selain
itu, stimulus apoptosis menyebabkan Bax pada sitosol bergerak menuju membran
luar mitokondria. Di membran luar mitokondria, Bax dan Bak (transmembran
protein) mengalami oligomerisasi (proses kimia yang hanya mengubah monomer
sampai derajat polimerisasi antara 1 sampai 10) dan membentuk suatu kanal pada
membran luar mitokondria.
Melalui
kanal tersebut, sitokrom c dan protein intermembran keluar dari mitokondria
menuju sitosol. Di sitosol, sitokrom c berikatan dengan Apaf-1. Kemudian Apaf-1
berikatan dengan ATP dan mengalami oligomerisasi. Setelah itu, beberapa molekul
procaspase 9 berikatan dengan Apaf-1, agregasi (pengumpulan/penyatuan)
procaspase 9 tersebut menyebabkan procaspase 9 melakukan self-cleavage (pembelahan),
sehingga procaspase 9 menjadi caspase 9. Komplek Apaf-1, sitokrom c, caspase 9,
serta ATP disebut apoptosome.
Fungsi
Bcl-xl, antara lain :
a.
Menjaga integritas membran.
b.
Mencegah pengeluaran protein intermembran dari mitokondria.
c.
Mencegah pengeluaran ion Ca2+ dari retikulum endoplasma.
d.
Menghambat apoptosis pada jalur intrinsik.
Bcl-xl
akan menghambat terjadinya apoptosis apabila terdapat stimulus yang dapat
mengaktifkan Phosphatidylinositol 3-Kinase/Akt Signaling Pathway. Akt akan
mengalami aktivasi untuk memfosforilasi Bad. Kemudian Bad akan melepaskan
Bcl-xl untuk menghambat terjadinya apoptosis.
Bcl-xl
akan mengikat Bax dan Bak, sehingga keduanya dapat mengalami oligomerisasi dan
tidak dapat membentuk suatu kanal pada membran luar mitokondria dan sitokrom c
tidak akan terlepas. Hal ini menyebabkan interaksi Apaf-1 dan sitokrom c tidak
terjadi, sehingga caspase yang memicu proses apoptosis juga tidak terbentuk.
Protein Bid
Protein Bid
(BH3 interacting domain) termasuk anggota Bcl2 yang berfungsi sebagai link
antara jalur ekstrinsik dan intrinsik, serta mediasi pelepasan sitokrom c dari
mitokondria. Bid terletak pada sitoplasma dan membran mitokondria. Bid memiliki
195 asam amino dan berat 21.995 Da. Bid berperan dalam tumorigenesis (proses
pembentukan kanker).
Mutasi
(perubahan bahan genetik pada tingkat gen maupun tingkat kromosom) gen Bid
dapat mengganggu fosforilasi dan menyebabkan perlawanan terhadap rangsangan
apoptosis.
Caspase 8
yang teraktivasi dapat memotong Bid, hingga terbentuk t-Bid. Kemudian t-Bid
masuk ke mitokondria dan menginduksi pelepasan sitokrom c. Sitokrom c akan
mengikat Apaf-1 yang dapat mengaktifkan caspase 9. Lalu, caspase 9 akan
mengaktifkan caspase 3 untuk melakukan apoptosis.
Protein BAD
Protein
BAD (Bcl2 Associated Agonist Of Cell Death) termasuk anggota Bcl2 yang
proapoptosis yang mana penyusunnya hanya BH3. BAD disebut juga BBC2, BBC6,
3Bcl2l8 dan Bcl2l8. BAD terletak di kromosom ke-11 pada lengan panjang dan
terletak di lokus (posisi gen) 13.1. Beberapa basa penyusun BAD terletak pada
urutan ke 63.793.878 sampai 63.808.740, sehingga BAD memiliki 14.863 basa
penyusunnya.
BAD
memiliki 168 asam amino dengan berat 18 kDa dan 5 ekson. Saat aktif BAD berada
dalam sitoplasma dan membentuk heterodimer (kompleks dua molekul yang berbeda) untuk
mencegah kerja protein, seperti Bcl2 dan Bcl-xl, sehingga tidak menjadi
anti-apoptosis. BAD menjadi tidak aktif jika proses fosforilasi terjadi pada
heterodimer, sehingga BAD terlepas dari pasangannya (Bcl2 dan Bcl-xl) dan
terjadilah proses anti-apoptosis. Saat tidak aktif, BAD berada di membran luar
mitokondria.
Mutasi
missen (mutasi pada gen BAD) pada ekson 2 di urutan basa ke-340 terjadi
pergantian basa sitosin dengan timin, sehingga mengubah asam amino leusin
menjadi fenilalanin, serta mutasi missen pada ekson 2 di urutan basa ke-337
terjadi pergantian basa guanin menjadi arginin, sehingga mengubah asam amino
glutamin menjadi lisin.
Adanya
mutasi missen menyebabkan protein BAD tidak terbentuk atau tidak berfungsi
secara normal, sehingga sel tidak dapat mengalami apoptosis dan terjadi
poliferasi sel (fase sel saat mengalami pengulangan siklus sel tanpa hambatan)
yang menyebabkan kanker kolon (usus besar).
b.
Ekstrinsik (Death Receptor)
Jalur
ekstrinsik melibatkan enzim granzyme atau fas Ligan/FasL (death receptor) yang
dimiliki oleh sel Tc. Enzim granzyme terdapat pada sel T sitotoksik (sel T CD8+).
Enzim granzyme akan membunuh sel yang terinfeksi. Apoptosis terjadi selama pertumbuhan
normal. Apoptosis berfungsi mengatur pembentukan jaringan atau organ dan
regulasi (penyesuaian) limfosit untuk pembentukan sel T dari bone marrow sel T
dipindahkan ke tymus.
Ketika
terdapat sel yang rusak, sel tersebut akan mengekspresikan reseptor Fas,
sehingga dapat dikenali oleh FasL. Reseptor Fas adalah protein integral yang
memiliki domain ekstraseluler dan domain sitosolik. Reseptor Fas yang menempel
pada FasL menyebabkan terjadinya perubahan bentuk pada domain sitosolik (death
domain) dari reseptor Fas. Perubahan bentuk ini menyebabkannya mudah dikenali
oleh protein adaptor, yaitu FADD.
Kompleks
FADD membentuk kinase dan memotong procaspase 8 menjadi caspase 8 atau
mengaktifasi caspase 8. Caspase 8 akan memotong procaspase 3 menjadi caspase 3
atau mengaktifasi caspase 3. Caspase 8 juga dapat mengaktifasi caspase 6 dan caspase 7. FADD juga dapat
mengaktifasi caspase 9 dan caspase 10.
Komentar
Posting Komentar