Impostor Syndrome (Sindrom Penyemu Atau Sindrom Penipu)
Istilah
sindrom penyemu pertama kali muncul dalam artikel yang ditulis oleh Pauline R
Clane dan Suzanne A Imes. Apa yang dimaksud dengan impostor syndrome ?. Seperti
kita ketahui bahwa semu berarti tampak seperti asli, tetapi sebenarnya tidak.
Impostor syndrome
adalah keadaan di mana seseorang merasa sebagai penipu yang tidak pantas
menerima kesuksesan yang telah diperolehnya. Penderita sindrom ini sering
merasa bahwa kesuksesan yang dicapai adalah karena faktor keberuntungan, faktor
waktu yang tepat atau dari hasil menipu orang lain.
Padahal kenyataannya tidak sesuai dengan pemikiran mereka. Mereka berpikir bahwa orang lain lebih cerdas dan lebih pantas memperoleh pencapaian tersebut. Mungkin penderita sindrom ini sering dihubungkan sebagai seseorang yang naif atau munafik. Sindrom penyemu tidak dianggap sebagai gangguan mental.
Berikut ini gejala-gejala dari impostor syndrome :
- Sering merasa ragu-ragu.
- Sering
merasa tidak pantas memperoleh sesuatu yang telah dicapai.
- Merasa cemas
tidak dapat memenuhi harapan orang lain.
- Bekerja
terlalu keras.
- Mengabaikan
pujian yang diberikan orang lain karena merasa hal yang didapat bukanlah hasil
kerja keras sendiri melainkan karena faktor keberuntungan atau faktor lainnya.
Penderita impostor
syndrome sering merasa tidak mampu melakukan hal apa pun meskipun sudah bekerja
keras. Bahkan, mereka menganggap diri mereka penipu yang tidak dapat
mengerjakan segala sesuatu.
Cobalah mengingat
riwayat akan pencapaianmu terhadap suatu hal secara kronologis!. Hal ini dapat
membantu meyakinkanmu bahwa kamu memang pantas memperoleh pencapaian tersebut
karena kamu telah melalui berbagai hal dengan susah payah untuk mencapainya.
Mengevaluasi
hal-hal yang berhubungan dengan SWOT :
- Strenghts :
Kekuatan
- Weaknesses :
Kelemahan
- Opportunities
: Peluang
- Threats :
Ancaman
dalam dirimu atau
yang sedang kamu hadapi dapat membantu mengatasi sindrom ini. Jika kamu
mengetahui kekuatan atau kelebihanmu, tentu kamu akan tahu peluang apa yang
bisa kamu ambil dan bagaimana kamu mengatasi suatu ancaman atau penghalang yang
menghalangimu untuk mencapai target. Begitu pun jika kamu mengetahui kelemahan
atau kekuranganmu, kamu akan tahu peluang apa yang sulit kamu raih dan ancaman
apa yang bisa kamu atasi, sehingga kamu tidak akan memaksakan diri untuk
memasang target di luar kemampuanmu.
Dengan
mengevaluasi keempat hal ini dapat menimbulkan rasa percaya diri yang kuat,
sehingga ketika mendapat kritikan, kita dapat menerimanya dengan lapang dada
dan yakin bahwa kita telah melakukan segala suatunya sebaik mungkin.
Berhenti untuk
menjadi pribadi yang perfeksionis juga dapat membantu mengatasi sindrom ini.
Seorang perfeksionis biasanya akan memasang target yang terlampau tinggi,
sehingga ketika ia tidak dapat mencapainya, ia merasa telah menjadi seseorang
yang gagal. Namun, jangan pula memasang target yang terlalu rendah seolah
merasa tidak mampu mencapai target yang lebih tinggi.
Akan tetapi,
pada dasarnya setiap manusia akan diuji, sehingga meskipun diri merasa tidak
memasang target yang tinggi, kegagalan dapat menyertai sebelum kesuksesan
tercapai. Maka, belajarlah untuk menerima kegagalan dan jadikanlah kegagalan
sebagai pembelajaran hidup.
Berhenti untuk
membandingkan diri sendiri dengan orang lain termasuk upaya untuk mengatasi impostor
syndrome. Daripada harus membandingkan pencapaian sendiri dengan pencapaian
orang lain, lebih baik membandingkan pencapaian yang telah lalu dengan hal yang
baru dicapai, apakah terdapat peningkatan atau penurunan ?. Jika mendapat
penurunan, cari tahu apa penyebab penurunan itu, ingatlah jika perlu catat agar
kamu tidak mengulanginya lagi.
Komentar
Posting Komentar