Metamorfosis, Hormon Dan Sisik Serangga
Metamorfosis Serangga
Metamorfosis adalah proses
perubahan bentuk, ukuran dan fungsi organ tubuh hewan yang terjadi secara
bertahap. Metamorfosis dikendalikan oleh hormon yang terdapat dalam tubuh
hewan. Salah satu jenis hewan yang mengalami metamorfosis adalah serangga atau
insekta.
Metamorfosis serangga terbagi
menjadi tiga macam, yaitu :
a. Ametabola
Ametabola adalah kelompok
serangga yang tidak mengalami proses metamorfosis. Serangga kelompok Ametabola
hanya melewati stadium telur ke stadium imago (dewasa) tanpa perubahan bentuk
dan ukuran.
Contoh : kutu buku
b. Holometabola
Holometabola adalah kelompok
serangga yang mengalami metamorfosis yang sempurna. Serangga kelompok
Holometabola melewati stadium telur, larva (ulat), pupa (kepompong) dan imago.
Pada stadium larva beberapa kali terjadi proses ekdisis (pergantian kulit).
Stadium pupa merupaka fase istirahat.
Contoh : kupu – kupu,
ngengat, kumbang, semut dan lebah.
c. Hemimetabola
Hemimetabola disebut juga
heterometabola. Heterometabola adalah kelompok serangga yang mengalami
metamorfosis tidak sempurna. Serangga kelompok Heterometabola melewati stadium
telur, nimfa dan imago.
Nimfa adalah serangga muda
yang mengalami sifat dan bentuk sama dengan dewasanya. Pada stadium nimfa
beberapa kali terjadi proses ekdisis. Meskipun pada stadium nimfa terdapat
kesamaan sifat dan bentuk dengan stadium imago, tetapi pada stadium ini, hewan
belum bisa bereproduksi karena organ reproduksi belum sempurna.
Contoh : belalang, laron dan
capung.
Hormon Serangga
Adapun hormon yang berperan
dalam metamorfosis serangga, antara lain :
- Hormon Otak
Hormon otak berfungsi untuk meningkatkan
sekresi hormon ekdison dan hormon juvenil. Hormon otak disekresikan oleh bagian
otak serangga.
- Hormon Ekdison
Hormon ekdison berfungsi
untuk mengatur proses pergantian kulit (ekdisis). Hormon ekdison disekresikan
oleh kelenjar prothoracic pada sebagian besar larva.
- Hormon Juvenil
Hormon juvenil berfungsi
untuk menghambat proses metamorfosis, mengontrol pemasakan sel ovarium,
pembentukan tanduk pada kumbang, mengatur proses-proses fisiologis, mengatur
aspek reproduksi atau proses produksi telur, mengatur diapause, mengatur
polyphenism (polifenisme) dan polymorphism (polimorfisme), serta memengaruhi
pembagian kasta pada lebah madu (Apis
mellifera).
Diapause adalah fase ketika
suatu organisme berhenti berkembang. Polyphenism adalah adaptasi ketika suatu
genom untuk menghasilkan fenotipe yang berbeda sesuai kondisi lingkungannya.
Polymorphism adalah kemampuan dalam menyampaikan pesan dan memberikan tanggapan
terhadap pesan yang disampaikan.
Polymorphism berperan dalam
siklus hidup suatu spesies, seperti menghasilkan penyebaran serangga dan
menghasilkan fenotipe untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar.
Hormon juvenil disekresikan
oleh kelenjar endokrin yang terletak di sebelah otak yang disebut corpora
allata. Sel neurosekretori yang terdapat pada otak akan menghasilkan
allatotropin untuk menstimulasi corpora allata agar dapat mensekresikan hormon
juvenil. Hormon juvenil yang keluar dari corpora allata akan masuk ke dalam
hemolymph.
Hemolymph adalah cairan yang
terdiri dari air, garam-garam organik (Na+, Cl-, K+,
Mg2+ dam Ca2+) dan senyawa organik (karbohidrat, protein
dan lipid). Selain itu, hemolymph juga mengandung pigmen berwarna hijau dan
kuning, yang menyebabkan warna darah pada hewan menjadi berwarna hijau.
Jika konsentrasi hormon
juvenil dalam hemolymph larva tinggi, maka larva akan melakukan pergantian
kulit. Jika konsentrasi hormon juvenil dalam hemolymph rendah, maka larva akan
berubah menjadi pupa.
Kelenjar endokrin tidak
memiliki saluran khusus, sehingga hormon yang dihasilkan akan dialirkan bersama
dengan aliran darah atau masuk ke sistem peredaran darah hewan, sehingga hormon
yang berperan dalam penyaluran informasi menjadi terhambat fungsinya.
Sisik Serangga
Serangga bersayap sisik
disebut Lepidoptera. Sayap Lepidoptera berupa membran tipis yang diselimuti
sisik yang halus. Setiap sisik tersusun atas keping-keping materi organik yang sangat
lembut dan mengandung pigmen. Adanya pigmen menyebabkan sayap serangga
berwarna-warni.
Ada beberapa macam serangga
bersayap berkilau atau berpendar yang tidak memiliki pigmen pada sayapnya.
Sisik tersebut berpendar karena pembiasan cahaya yang mengenainya. Hal ini
dikarenakan keping-keping sisik tersebut sangat tipis. Peristiwa ini sama
seperti pembiasan cahaya pada gelembung sabun. Warna yang paling sering
dihasilkan dari pembiasan sisik tersebut adalah warna biru.
Artikel Terkait :
Komentar
Posting Komentar