6 Macam Mutasi Sel
Mutasi adalah perubahan bahan
genetik pada tingkat gen dan tingkat kromosom. Bahan genetik yang dimaksud
berupa DNA dan RNA. Individu yang memiliki perubahan karakteristik (fenotipe)
akibat mutasi disebut mutan. Mutasi terjadi pada sel eukariotik maupun sel
prokariotik.
Fenotipe meliputi struktur,
biokimiawi, fisiologis dan perilaku. Fenotipe diatur oleh genotipe, lingkungan,
waktu dan interaksi antara genotipe dan lingkungan tempat tinggal individu
tersebut.
Genotipe adalah keadaan
genetik suatu lokus (posisi gen) maupun keseluruhan bahan genetik yang dibawa
oleh kromosom. Genotipe berupa homozigot atau heterozigot. Homozigot adalah
bentuk genotipe yang memiliki kromosom dengan alel yang sama pada setiap lokus.
Heterozigot adalah bentuk
genotipe yang memiliki kromosom dengan alel yang berbeda pada setiap lokus. Alel
adalah gen yang memiliki lokus yang sama dengan sifat yang bervariasi
dikarenakan mutasi pada gen asalnya.
Mutasi pada sel eukariotik
terjadi karena tidak berfungsinya (malfungsi) sentrosom yang terdiri dari dua
sentriol yang berpasangan, serta gagal memisahkan kromosom dengan pasangannya,
sehingga sel tersebut tidak mengalami pembelahan yang sempurna.
Mutasi pada sel prokariotik
terjadi karena rekombinasi gen melalui konjugasi, transduksi dan transformasi.
Keterangan
:
- Konjugasi adalah proses
transfer DNA dari satu bakteri ke bakteri lainnya melalui jembatan yang disebut
pilus. Pada proses konjugasi terdapat
bakteri yang menerima DNA maupun yang memberikan DNA.
- Transformasi adalah
peristiwa di mana bakteri memperoleh DNA dari lingkungan sekitarnya.
- Transduksi adalah peristiwa
di mana bakteri memperoleh DNA dari bakeriofag (virus yang menyerang bakteri)
yang menginfeksinya. Bakteriofag akan menyuntikkan materi genetik ke dalam sel
bakteri targetnya.
Bahan-bahan yang menyebabkan
terjadinya mutasi disebut mutagen. Mutagen terbagi menjadi tiga, yaitu mutagen
bahan kimia, mutagen bahan fisika dan mutagen bahan biologi.
Mutasi dibedakan menjadi dua
macam berdasarkan sel yang bermutasi, yaitu :
a. Mutasi Somatik
Mutasi somatik adalah mutasi
yang terjadi pada sel somatik yang tidak dapat diwariskan pada keturunannya.
Sel somatik adalah semua jenis sel pembentuk organisme yang mana memiliki 46
kromosom atau 23 pasang genom. Sel gamet atau sel germinal atau sel induk tidak
termasuk sel somatik.
b. Mutasi Gametik
Mutasi gametik adalah mutasi
yang terjadi pada sel gamet (sel sperma atau sel ovum) yang mana dapat
diwariskan kepada keturunannya.
Mutasi dibedakan menjadi empat
macam berdasarkan sel yang bermutasi, yaitu :
a. Mutasi Titik
Mutasi titik adalah perubahan
pada basa Nitrogen (N) dari DNA atau RNA yang dapat mengakibatkan perubahan
urutan asam amino pada protein, serta mengakibatkan berkurangnya atau
berubahnya fungsi suatu enzim.
b. Mutasi Kromosom
Mutasi kromosom disebut juga
aberasi. Mutasi kromosom adalah perubahan jumlah kromosom pada susunan gen
dalam kromosom. Mutasi kromosom dapat terjadi karena kesalahan pembelahan sel,
baik secara meiosis maupun mitosis.
Mitosis adalah proses
pembelahan sel tunggal yang menghasilkan dua sel identik dengan jumlah kromosom
dan isi genetik sel anak sama dengan sel induknya.
Meiosis adalah proses
pembelahan sel gamet saat melakukan proses reproduksi dengan jumlah kromosom
dan isi genetik sel anak sama dengan sel induknya. Tetapi, pada proses meiosis
terkadang terjadi pengurangan jumlah kromosom induk.
c. Aneuploidi
Aneuploidi adalah perubahan
jumlah n (set kromosom) atau jumlah genom.
Satu set kromosom pada manusia berjumlah 23 buah. Pada manusia kromosom
terdiri atas dua set, maka disebut 2n. Aneuploidi terjadi karena hibridasi (perkawinan
silang antara dua individu yang berbeda varietas dan sifat unggulnya) antara
spesies yang berbeda kromosomnya.
Poliploidi adalah kondisi
suatu organisme yang memiliki set kromosom lebih dari sepasang. Aneuploidi
terbagi menjadi dua macam berdasarka poliploidinya, yaitu :
- Autopoliploidi adalah proses
pembentukan poliploidi dengan kromosom yang berasal dari spesies yang sama.
Autopoliploidi disebabkan karena kesalahan meiosis.
- Allopoliploidi adalah proses
pembentukan poliploidi dengan kromosom yang berasal dari spesies yang berbeda.
Karena berasal dari spesies yang berbeda, maka jumlah set kromosomnya juga
berbeda.
d. Aneusomi
Aneusomi adalah perubahan
penggandaan kromosom karena kekurangan atau kelebihan kromosom. Hal ini
disebabkan karena tidak melekatnya benang-benang spindel pada sentromer atau
terjadinya nondisjunction (peristiwa saat kromosom yang berpasangan gagal
berpisah saat proses anafase I dari meiosis I atau anafase II dari meiosis II.
Benang spindel adalah benang
protein yang membentuk tabung (tubulus) dengan menghubungkan sentriol yang satu
dengan yang lain saat proses pembelahan sel.
Sentromer adalah bagian pada
untaian DNA yang bertanggung jawab atas pergerakan kromosom yang telah
tereplikasi. Selain berfungsi sebagai tempat melekatnya benang spindel,
sentromer juga menjadi tempat melekatnya kromatid (salah satu dari dua lengan
hasil replikasi (penggandaan) kromosom.
Aneusomi terbagi menjadi
delapan macam, yaitu :
1. Aneusomi normal dengan
jumlah kromosom 2n.
2. Monosomi dengan jumlah
kromosom 2n – 1.
3. Nullisomi dengan jumlah
kromosom 2n – 2.
4. Monosomi ganda dengan
jumlah kromosom 2n – 1 – 1.
5. Trisomi dengan jumlah
kromosom 2n + 1.
6. Trisomi ganda dengan
jumlah kromosom 2n + 1 + 1
7. Tetrasomi dengan jumlah
kromosom 2n + 2.
8. Pentasomi dengan jumlah
kromosom 2n + 3.
Contoh :
Apabila kondisi normal, maka
kromosom berupa PPQQ. Dalam kondisi monosomi, kromosom menjadi PQQ (2n – 1).
Dalam kondisi nullisomi, kromosom menjadi QQ (2n – 2). Dalam kondisi trisomi,
kromosom menjadi PPPQQ (2n + 1)
Beberapa hal buruk yang
terjadi pada manusia yang disebabkan oleh aneusomi, antara lain :
- Sindrom Turner
Sindrom turner adalah sindrom
yang terjadi pada wanita karena sel ovumnya tidak berkembang (ovaricular
disgenesis). Penderita sindrom turner memiliki jumlah kromosom 45 dan
kehilangan 1 kromosom kelamin. Penderita sindrom turner mengalami kondisi di
mana payudara tidak tumbuh dengan baik. Sindrom turner memiliki kariotipe (susunan
kromosom), 22AA + XO atau 44A + X.
- Sindrom Klinefelter
Sindrom klinefelter adalah
sindrom yang terjadi pada pria karena terstisnya tidak berkembang (testicular
disgenesis), sehingga tidak dapat menghasilkan sperma atau mandul
(gynaecomastis). Kondisi di mana testis tidak dapat menghasilkan sperma disebut
aspermia. Kondisi ini diikuti dengan payudara yang tumbuh.
Penderita sindrom klinefelter
mengalami trisomik pada gonosom (kromosom yang menentukan jenis kelamin
manusia). Trisomik adalah organisme diploid yang memiliki satu kromosom tambahan
dengan rumus genom (2n+1), sehingga menghasilkan gamet n+1 dan n. Sindrom
klinefelter memiliki kariotipe, 22AA + XXY atau 44AA + XXY.
- Sindrom Jacobs
Sindrom jacobs ditandai dengan
tindakan kriminalitas yang dilakukan oleh penderitanya. Sindrom jacobs memiliki
kariotipe, 22AA + XYY.
- Sindrom Patau
Sindrom patau memiliki
kariotipe, 45A + XX atau 45A + XY. Penderita sindrom patau mengalami trisomi
pada autosom nomor 13, 14 atau 15. Autosom adalah kromosom yang tidak berhubungan
dengan jenis kelamin manusia. Trisomi adalah kondisi genetik di mana terjadi kelainan
kromosom yang menyebabkan seseorang memiliki tiga salinan kromosom.
- Sindrom Edward
Sindrom Edward memiliki kariotipe
45A + XX atau 45A + XY. Penderita sindrom edward mengalami trisomi pada autosom
nomor 16, 17, 18 atau 21. Penderita sindrom edward memiliki tulang tengkorak
yang lonjong, bahu lebar dan pendek dan telinga agak ke bawah. Apabila terjadi
trisomi pada autosom nomor 21 akan terjadi cacat mental, tubuh pendek dan memiliki
IQ yang rendah.
Komentar
Posting Komentar