Sosiopat, Psikopat Dan Identitas Disosiatif
Sosiopat
Sosiopat
adalah gangguan psikologis yang mana seseorang memiliki perilaku atau pola pikir
yang antisosial. Sosiopat disebabkan oleh faktor genetik dan lingkungan yang
buruk sejak dini. Sosiopat banyak dialami oleh pria daripada wanita. Sosiopat
tidak peduli dengan hukum meskipun mereka tahu bahwa yang mereka lakukan
tidaklah benar, bahkan cenderung kriminal.
Kita mungkin
akan salah menilai seorang sosiopat karena isi hati dan jalan pikiran mereka
sulit dimengerti. Seorang peneliti, Howard Kamler mengatakan bahwa seorang
sosiopat tidak memiliki identitas diri karena itu mereka sering memiliki nama
lain atau nama alias.
Sosiopat
pandai memperdaya atau menipu orang lain untuk melindungi diri ketika terlibat
suatu konflik. Mereka dapat terlihat tenang saat melakukan kesalahan atau
memanipulasi keadaan. Mereka memiliki rasa tanggung jawab yang minim, emosi
yang labil, impulsif, agresif, egois, kurang empati, selalu merasa benar, senang
dipuji dan cenderung memanfaatkan orang lain demi kepentingan pribadinya.
Psikopat
Psikopat
memiliki banyak kesamaan dengan sosiopat, seperti tidak peduli dengan hukum dan
pandai bersandiwara, melakukan tipu muslihat, selalu merasa benar, memperdaya
orang lain dan egois.
Sosiopat
merupakan pribadi yang antisosial dan senang menyendiri, sedangkan psikopat
memiliki pergaulan yang luas atau mudah bergaul. Sosiopat masih memiliki rasa
takut dibandingkan dengan psikopat. Sosiopat masih bisa membedakan mana yang
benar dan yang salah, sedangkan psikopat tidak dapat melakukannya.
Dalam
melakukan aksi kejahatan, seorang psikopat lebih dapat bermain dengan rapi
dibandingkan sosiopat karena emosi sosiopat lebih mudah meledak. Namun, emosi
psikopat mudah berubah apabila mereka merasa tidak nyaman dengan situasi di
sekitarnya. Mereka dapat menjadi sangat kasar.
Selain itu,
psikopat mudah bosan, sehingga memiliki tingkat kedisiplinan yang rendah.
Psikopat memiliki pribadi yang sombong dan tidak suka direndahkan. Psikopat
tidak memiliki perasaan cinta, kasih dan sayang termasuk pada orangtuanya
sendiri.
Identitas Disosiatif
Identitas
disosiatif disebut juga kepribadian ganda. Mereka memiliki kepribadian atau
identitas diri lebih dari satu. Mereka dapat melakukannya di bawah kesadaran
mereka. Penderita kepribadian ganda memiliki kesadaran yang berbeda-beda di setiap
waktu, tempat dan kondisi, sehingga mereka sering mengalami distorsi
(penyimpangan) waktu. Misalnya, mereka tidak ingat dengan waktu, nama atau
hal-hal yang berhubungan dengan diri sendiri. Mereka juga sulit mengingat
informasi yang didapat setiap berganti kepribadian.
Setiap
kepribadian mereka memiliki pola pikir, karakter, keahlian atau kemampuan, usia,
jenis kelamin, cara berbicara yang berbeda. Kepribadian ganda timbul karena
trauma mendalam di mana penderitanya tidak bisa menerima takdir atau mencintai diri
sendiri. Penderita kepribadian ganda dapat mengalami gangguan fisik seperti
sakit kepala dan mudah lelah karena seringnya berganti kepribadian.
Penderita
kepribadian ganda sering mengalami emosi yang meningkat atau marah secara
tiba-tiba. Hal ini terjadi jika mereka merasa marah pada kepribadian utama
setiap menghadapi konflik yang tidak bisa diselesaikan, sehingga kepribadian
pengganti ingin mengendalikan kepribadian utama atau kepribadian utama ingin
melawan kepribadian pengganti yang mengganggu.
Selain dapat
mudah marah secara tiba-tiba, penderita kepribadian ganda juga merasa ketakutan
dan depresi secara tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Dalam berkomunikasi,
penderita kepribadian ganda dapat secara tidak sadar menggunakan kata kami
untuk menyebut dirinya.
Hal terburuk
yang dapat terjadi pada penderita kepribadian ganda adalah mereka dapat
menyakiti diri mereka sendiri, bahkan mencabut nyawa mereka sendiri. Penderita
kepribadian ganda sering mengalami halusinasi, seperti mendengar suara-suara
samar di sekelilingnya.
Komentar
Posting Komentar