Novel Fantasi Nietvermeld Bab 29 Part 3


Novel Fantasi Online

Suara lelaki yang menyerupai suara Seth tak terdengar lagi oleh Kyle dan teman-teman. Mereka kelimpungan menentukan arah tujuan mereka selanjutnya.
“ Seth! ”. Kyle mencoba memanggil Seth meskipun tak yakin Seth akan mendengarnya. “ Seth, kau di mana? ”.
“ Seth! ”. Carey ikut memanggil Seth.
“ Apa ku bilang, mungkin yang kita dengar tadi itu hanya ilusi ”, kata Danny.
Kyle menghela nafas panjang, mencoba berlapang dada, menerima kenyataan.
“ Jadi, bagaimana sekarang?. Kita mau mencari mereka di mana?. Bagaimana kalau mereka sudah menjadi korban para zombie?. Sia-sia saja pencarian kita! ”, kata Ashley. Ia terlihat benar-benar panik.
“ Tolong, cepat ambil keputusan!. Aku tidak mau berlama-lama berdiri di sini!. Aku takut para zombie itu akan datang ”, kata Lissette yang juga terlihat panik.
Kyle tampak menekuri ucapan mereka. Sungguh saat  ini ia tidak berani mengambil keputusan. Situasi ini sangat menguras pikiran dan tenaganya. Kota itu sunyi, namun tak bisa memberikan ketenangan.
Secara perlahan, seseorang menepuk pundak Kyle dari arah belakang. Hal itu cukup menyentakkan Kyle. Secepatnya Kyle berbalik badan. Nafasnya yang sempat tercekat, akhirnya bisa kembali berembus dengan teratur ketika mendapati bahwa seseorang yang menepuk pundaknya adalah Seth.
“ Seth! ”. Kyle lekas memberi pelukan persahabatan pada Seth.
Saat itu Seth masih terlihat ling-lung. Namun, senyum tipis mulai terukir di wajahnya. Meskipun dugaannya salah, Daniela tetap terlihat santai.
“ Kau kenapa? ”, tanya Kyle.
“ Aku masih syok!. Tadi aku takut kalau ini bukan kalian. Aku bertemu zombie. Jumlah mereka cukup banyak. Mereka mengejarku ”.
“ Jadi, yang berteriak meminta tolong tadi adalah benar kau? ”, tanya Lissette.
Seth hanya mengangguk.
“ Lalu bagaimana caranya kau bisa kabur dari mereka? ”, tanya Kyle.
“ Aku menemukan tempat persembunyian. Aku bersembunyi sampai mereka pergi ”. Pandangan Seth tiba-tiba teralih pada Carey yang sejak tadi menatapnya. “ Carey, untunglah kamu baik-baik saja! ”, katanya sambil memeluk Carey. “ Aku tadi mencarimu ”.
“ Maafkan aku pergi tanpa mengajakmu dan sempat tak percaya bahwa kau adalah kakakku!. Tadi aku juga dikejar para zombie ”, kata Carey, lirih.
“ Kalian hanya berlima?. Di mana yang lainnya? ”, tanya Seth setelah melepaskan pelukannya dari Carey.
“ Kami tidak tahu!. Sekarang kami sedang mencari mereka. Apa kau tahu ke mana mereka pergi?. Maksudku mungkin tadi mereka sempat berpamitan denganmu ”, jawab Kyle.
“ Tidak!. Aku pergi lebih dulu dari skatepark. Aku pikir mereka masih menunggumu di sana ”.
Kota yang mereka singgahi kini benar-benar tak mau bersahabat dengan mereka. Baru saja mereka diberi ketenangan sesaat, tiba-tiba daratan yang mereka pijaki berguncang dan membentuk banyak retakan. Dari retakan-retakan itu keluar sosok-sosok menakutkan. Mereka serentak berteriak. Tubuh mereka sempat terbujur kaku.
Namun seketika, saraf motorik mereka dapat kembali bekerja dengan normal. Mereka berlari secepat mereka mampu untuk menghindari kejaran para zombie. Naasnya, setiap langkah yang mereka ambil selalu mereka dihadang oleh para zombie. Mayat-mayat hidup itu ada di mana-mana.

♦♦

Akhirnya, Ben dan Mandy menemukan pintu masuk menuju ruangan buku-buku tersimpan. Ben secepatnya mengunci pintu ruangan itu begitu mendapati sebuah kunci tersangkut di lubang pintu. Sayangnya, ruangan itu tampak berbeda dari sebelumnya. Lagi-lagi mereka harus menghadapi labirin ilusi.
“ Aku pikir keadaan di dalam sini normal. Aku belum pernah menuju ruang membaca?. Aku tidak bisa memilih jalan yang tepat. Apa sebelumnya kau sempat melihat ruang membaca? ”, tanya Ben.
Mandy berusaha mengingat-ingat setiap sudut ruangan itu. Namun, karena ia termasuk seseorang yang cukup bermasalah dalam hal ingatan, sehingga ia tidak bisa banyak membantu Ben.
“ Hmm....se, sepertinya lewat sini!...Eh, tunggu! ”. Mandy berusaha mengingat-ingat kembali. Ia tampak berpikir keras. “ Lewat sini atau lewat sini ya? ”, tanyanya pada diri sendiri.
Ben menghela nafas, berusaha bersabar.
“ Aku bingung, Ben! ”, keluh Mandy. Ia menjadi kesal pada diri sendiri.
Ben mengusap kasar wajahnya.
Tiba-tiba terdengar suara tumbukan dari arah pintu masuk ruangan. Mereka yakin para zombie itu sedang berusaha untuk masuk ke dalam ruangan.
“ Sebenarnya, untuk apa mereka menyerang kita?. Kita kan tidak mengganggu mereka!. Apa mereka bisa kita ajak bicara baik-baik? ”, kata Mandy.
Ben menepuk dahi. Bingung dengan jalan pikiran Mandy. “ Mereka mayat hidup. Mereka tidak punya hati. Hati mereka mati. Jadi, mana mungkin kau bisa mengajak mereka berbicara baik-baik ”.
“ Tapi, kenapa mereka menyerang kita? ”, tanya Mandy. Ia tampak marah pada keadaan.
“ Sudahlah!. Daripada kau mempertanyakan hal yang tidak penting, lebih baik kau mencoba mengingat letak ruang membaca ”.
BRAK!
Pintu masuk menuju ruangan itu akhirnya berhasil didobrak oleh para zombie. Ben dan Mandy terlihat panik. Tanpa berpikir panjang lagi, Ben menarik tangan Mandy untuk mengikutinya berlari. Karena Mandy tak berhasil mengingat letak ruang membaca, alhasil Ben memutuskan untuk sembarang memilih jalan.
Rak-rak buku menjadi dinding pembatas setiap jalan. Sama seperti keadaan sebelumnya, berkali-kali mereka tiba di tempat yang sama.
“ Apa tidak ada cara untuk membunuh para zombie itu? ”, kata Ben setengah berteriak. Ben mencoba menyentuh rak buku di sebelah kanannya. Ternyata rak tersebut dapat disentuhnya. Memang tidak semua rak buku dalam ruangan itu adalah ilusi. Mereka cukup beruntung karena berdiri di tempat di mana di sekitar mereka terdapat rak buku yang bukan ilusi. “ Oke!. Kita tidak bisa terus-menerus kabur ”.
“ Kau mau melakukan apa? ”.
Tanpa berdiskusi dengan Mandy, Ben nekat mendorong sebuah rak buku di sebelah kanannya. Rak buku yang awalnya berdiri secara vertikal pun menjadi berdiri secara horizontal.
“ Bantu aku mendorong rak buku ini! ”.
“ Apa? ”, tanya Mandy terkejut.
“ Cepat! ”.
Mandy pun terpaksa mengikuti perintah Ben. Rak buku itu akhirnya jatuh menimpa barisan para zombie dan berhasil menghancurkan tubuh mayat-mayat hidup itu. Percikan darah berwarna hijau yang keluar dari tubuh zombie mengenai tubuh dan pakaian Ben dan Mandy.
“ Iuh...! ”, keluh Mandy ketika melihat tangannya terkena percikan darah zombie. Ia pun langsung mengusap tanganya yang terkena percikan darah zombie itu ke jaket yang dikenakan Ben.
Ben tak memedulikannya. Bahkan, ia tak memedulikan percikan darah zombie yang mengenai pipinya.
“ Kau tidak merasa jijik? ”.
Ben mengabaikan Mandy. Ia beralih ke rak buku di sebelah kiri Mandy. Ia mendorong rak buku itu, hingga berdiri secara horizontal. Beruntung rak-rak buku di dalam perpustakaan itu bukan rak buku raksasa yang dipenuhi banyak buku. Kali ini tanpa menunggu intruksi dari Ben, Mandy dengan sigap membantu Ben mendorong rak buku itu, hingga rak buku tersebut kembali menimpa barisan para zombie berikutnya.
Lagi-lagi percikan darah hijau menyembur keluar dari tubuh para zombie. Mandy berusaha menutupi wajahnya agar tak terkena percikan darah zombie.
Tak ada lagi barisan para zombie yang berjalan mendekati mereka, sehingga keadaan di sekitar mereka kembali normal.
“ Akhirnya....! ”, ujar Ben, senang. Ia sampai sulit melanjutkan ucapannya.
“ Syukurlah! ”.
“ Ayo, cepat kita keluar dari jendela! ”.
“ Kenapa tidak dari pintu saja? ”.
“ Memang kau yakin pintunya tidak terkunci lagi?. Aku takut mereka bangkit lagi. Bagaimanapun mereka mayat hidup. Barangkali kita hanya punya sedikit waktu ”.
Ben bergegas mencari ruang membaca. Mandy mengikutinya di belakang. Tak sulit menemukan ruang membaca di dalam ruangan itu. Namun sayangnya, barisan bingkai jendela di dinding ruangan itu bukan tipe casement windows, sehingga tidak memiliki engsel.
“ Jendelanya tidak bisa dibuka ”, keluh Mandy.
“ Argh... sial! ”, ujar Ben, geram. Ia pun menendang kesal kursi kayu di dekatnya. “ Ya, sudah!. Kita kembali ke lantai bawah. Buat apa kita membuang tenaga menghancurkan kaca jendela ini ”.
Ben dan Mandy berlari menuju pintu ruangan itu. Bersamaan dengan tibanya mereka di depan pintu ruangan itu, potongan-potongan tubuh zombie yang telah hancur kembali menyatu dengan perlahan.
“ Ben, mereka akan hidup lagi! ”, teriak Mandy sambil menoleh ke belakang karena mendengar suara-suara aneh di belakangnya.
“ Makanya, ayo cepat! ”. Hanya itu yang bisa diucapkan Ben.

♦♦

Zac mulai merasa kelelahan. Sejak tadi ia tak berhasil menemukan jalan keluar dari bangunan megah yang kini lebih tampak seperti sebuah goa itu. “ Keluarkan aku dari sini!. Di mana kau? ”, teriaknya.
Zac menjatuhkan diri duduk di atas tanah. Lantai bangunan megah itu, kini berubah menjadi tanah. Sekelebat bayangan wajah-wajah tertawa teman-temannya terlintas di pikirannya. Tiba-tiba ia merasa bukan siapa-siapa bagi mereka, sehingga mereka mungkin tidak memedulikan keberadaannya sekarang.
“ Danny! ”, ucapnya pelan ketika ia teringat wajah sepupunya. “ Dia kan sepupuku. Masa dia tidak peduli denganku? ”. Zac menghela nafas panjang. “ Tapi, dia kan tidak ingat denganku ”.
Zac menoleh ke arah sekitarnya. Kening dan bagian bawah kelopak matanya telah basah. Ia tampak agak kacau. Tanpa sepengetahuannya, sesosok makhluk menyerangnya dari belakang, hingga membuatnya tak sadarkan diri.
“ Lima jam lagi waktu yang tersisa. Sebentar lagi kau akan menjadi mayat hidup ”, kata sesosok makhluk dengan suara parau itu.

Komentar

Populer Minggu Ini

4 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengarang

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax

Persen Dan Permil

Filosofi Kartu Joker

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Stressed Syllable dan Unstressed Syllable

Penggunaan Besides, Apart From, In Addition, Than, Furthermore, Moreover, After that, Meanwhile dan Meantime