Novel Fantasi Nietvermeld Bab 29 Part 2


Novel Fantasi Online

Jantung Zac berdegub kencang. Sebenarnya ia sangat ketakutan, tapi ia berusaha untuk tetap tenang. Ia tak mau terlihat lemah meskipun di dalam rumah megah ini tak ada siapa pun kecuali dia.
“ Ke mana pria bisu tadi? ”, gumam Zac. “ Keluar kau!. Aku tahu ini permainanmu!. Hadapi aku! ”, teriaknya.
Zac mengilas balik wajah pria yang mengantarnya berkeliling bangunan megah itu. Ia pun baru tersadar bahwa ada yang mengganjal dari wajah pria itu. Wajahnya pucat dan tatapan matanya kosong.
“ Tidak mungkin!. Apakah dia hantu?. Tapi kenapa aku bisa melihatnya?. Apa dia memang ingin menunjukkan penampakannya di hadapanku?. Berarti sejak tadi aku bersama hantu! ”.
Zac menggelengkan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikiran yang amat mengganggu. Nafasnya semakin tidak beraturan. Ia merasakan dingin di bagian tengkuknya yang membuatnya merinding dan bergidik.
“ Aku tidak akan berbuat macam-macam, tolong keluarkan aku dari sini! ”, pintanya dengan lirih. Akhirnya, keberaniannya mulai menipis.

♦♦

“ Mereka belum mau pergi ”, kata Ashley.
“ Apa karena kita terus memerhatikan mereka?. Jadi, sebaiknya kita bersembunyi ”, kata Lissette.
“ Iya, kau benar! ”, sahut Kyle. Ia pun terduduk dan bersandar pada badan truk. Teman-teman yang lain mengikutinya.
“ Kalau memang teman-teman kita sedang berhadapan dengan para zombie berarti kota ini dihuni oleh para zombie ”, kata Lissette dengan berbisik.
Tiba-tiba Daniela tersentak. “ Lalu wanita di kedai yang memberi kita makan itu.... ”. Daniela merasa tak sanggup melanjutkan ucapannya. Tapi, ia yakin teman-temannya mengerti apa yang dimaksudnya.
“ Tidak, tidak!.... Kalau wanita itu juga zombie....Lalu, makanan yang disungguhkannya itu apa? ”, tanya Ashley, panik. Tiba-tiba ia merasa mual. Begitupun dengan teman-temannya.
“ Tapi kita masih baik-baik saja ”, kata Lissette.
“ Apa efeknya akan terjadi belakangan? ”, tanya Carey.
“ Tidak!. Jangan khawatir!. Menurutku, yang kita makan itu benar-benar makanan. Seperti halnya truk ini ”, jawab Kyle, mencoba menenangkan. “ Sepertinya para zombie itu sudah pergi ”, kata Kyle ketika tersadar bahwa suasana telah menjadi sunyi, tidak ada lagi erangan dari mayat-mayat hidup itu. “ Coba ku intip! ”, ujar Kyle. Ia pun mengintip dengan perlahan. Dan rupanya, dugaannya benar. Ia pun menarik nafas lega. “ Ternyata benar, mereka telah pergi! ”.
Satu-persatu dari keempat gadis itu mencoba membuktikan ucapan Kyle. Mereka mengintip dari posisi masing-masing. Ketika ucapan Kyle terbukti benar, mereka pun sama-sama menarik nafas lega.
“ Ternyata cukup mudah membuat para zombie itu pergi! ”, ujar Danny.
“ Tapi, mereka pergi ke mana?. Aku khawatir mereka belum pergi jauh ”, kata Carey.
“ Aneh!. Mereka cepat sekali perginya ”, ujar Ashley.
“ Mungkin mereka melakukan teleport ”, sahut, Danny.
Kyle terkekeh. “ Memang ada zombie yang bisa melakukan teleport? ”.
“ Jangan menertawakanku! ”, kata Danny sambil merengut.

♦♦

Hampir setengah jam berlalu, Mandy dan Ben hanya duduk terdiam. Mandy duduk di kursi resepsionist, sedangkan Ben duduk di lantai dan bersandar pada dinding.
“ Bagaimana teman-teman bisa mengetahui kita berada di sini? ”, tanya Mandy. Akhirnya, ia membuka suara. Memecah kesunyian.
Tiba-tiba ketenangan yang menyertai mereka terusik oleh suara erangan yang entah dari mana asalnya. Mereka merasa suara-suara itu berasal dari setiap sudut ruangan.
“ Suara apa itu, Ben?. Apa kau mendengarnya? ”.
“ Iya, aku dengar! ”, jawab Ben sambil bangkit berdiri.
“ Aku takut! ”, ucap Mandy. Ia pun bangkit dari kursi dan mendekati Ben. Ia mencoba bersembunyi di balik punggung Ben sambil mengapit lengan kiri Ben.
Suara-suara itu semakin jelas, hingga membuat mereka semakin sulit bernafas karena detak jantung yang semakin berpacu cepat.
Sejak tadi Ben mencoba berpikir keras, hingga akhirnya ia menemukan sebuah jawaban. Namun, ia masih belum yakin dengan hipotesisnya.
“ Oh, iya!. Bisa jadi semua yang kita lihat hanya fatamorgana. Maksudku, ilusi optik. Dinding-dinding itu tidak benar-benar nyata. Jadi, kita bisa menembusnya ”.
Ben melihat senyum yang terukir di wajah Mandy. Ia berhasil mengusir rasa takut yang menyelimuti hati kakaknya. “ Ayo, kita coba!. Abaikan saja suara-suara itu! ”, ajaknya.
Mandy membalas dengan anggukan.
Ben mencoba mengingat jalan menuju ruang buku-buku tersimpan agar bisa menuju ruang membaca dan keluar dari salah satu jendela yang ada di ruangan itu. Ketika keyakinannya terusik dengan perubahan-perubahan bentuk ruangan itu, ia mencoba untuk tetap fokus.
“ Ini sangat memusingkan! ”, keluh Mandy.
“ Menurut ingatanku, kita harus ke arah sini! ”, kata Ben. Ia menunjuk sebuah dinding di seberangnya dan berjalan ke arah dinding itu.
Mandy terus mengikutinya
Ketika mereka berada tepat di hadapan dinding itu, Ben terus saja melangkah, hingga ia seperti akan menabrak dinding itu. Dan ternyata, hipotesisnya terbukti benar. Dinding itu hanya ilusi optik. Ia dan Mandy bisa menembus dinding itu. Hal ini semakin menumbuhkan keyakinan mereka untuk dapat keluar dari bangunan itu dengan usaha mereka sendiri.
“ Ternyata benar dugaanku! ”, ujar Ben.
Mandy bersorak, gembira.
Mereka benar-benar tidak memedulikan suara erangan-erangan para zombie yang semakin jelas terdengar.

♦♦

Mayat-mayat hidup itu semakin mendekat, tetapi Finn sejak tadi tidak kunjung beranjak dari tempatnya. Ketika hati dan pikirannya tengah diselimuti ketakutan dan rasa pesimis, sekelebat bayang-bayang keluarganya dan teman-temannya terutama Mandy berhasil menyusup masuk, hingga menumbuhkan kembali keoptimisannya.
“ Aku harus keluar dari sini!. Aku tidak mau mati di sini! ”.
Finn menyapu pandang ke sekelilingnya. Ia pun menemukan sebuah kursi kayu. Ia memukul kursi itu ke dinding di dekatnya, hingga kursi itu terbagi menjadi beberapa bagian. Ia mengambil satu bagian kakinya untuk dijadikan senjata melawan para zombie. Ia membawa serta balok kayu itu di setiap langkahnya.
Finn merasa berada di dalam labirin. Ia benar-benar kalut. Ia selalu berhadapan dengan para zombie dari sisi seberang di setiap jalan yang dipilinya.
“ Mereka ada di mana-mana!. Bagaimana aku bisa keluar dari tempat ini?. Aku tidak mau mati di sini!....Oke, mungkin sebaiknya aku lawan para zombie itu! ”.
Seakan tidak punya pilihan lain, Finn nekat mendekati sekerumunan zombie yang berjalan ke arahnya. Ketika ia hendak memukul salah satu zombie yang terdepan, di waktu yang bersamaan muncul dinding bata di hadapannya. Tetapi anehnya, balok kayu yang dihantamkannya ke arah zombie tersebut bisa menembus dinding bata itu. Kejadian itu membuat Finn tertegun sesaat.
“ Apa?. Kenapa benda ini...... ”.
Finn tak melanjutkan ucapannya. Ia mencoba menyentuh dinding bata itu untuk membuktikan kebenarannya. Dan ternyata, dinding itu tak dapat disentuhnya. Tangan kanannya jutsru menembus dinding tersebut.
“ Ternyata dinding-dinding ini hanya ilusi optik!. Baik kalau begitu!. Sekarang aku tahu bagaimana caranya aku bisa keluar dari sini ”.

♦♦

Kyle, Daniela, Ashley, Lissette dan Carey mencoba menelusuri kota mati itu. Suasana kota itu kian terasa angker. Mereka kelimpungan. Bingung memilih jalan yang tepat agar dapat bertemu dengan teman-teman mereka. Mereka mencari Seth terlebih dahulu karena petunjuk tentang Seth lebih jelas. Mereka sama-sama tahu kalau Seth pergi mencari Carey. Dan Carey masih ingat jalan yang mengantarnya, hingga dapat bertemu dengan Kyle dan yang lainnya tadi.
“ Mana?. Kita tidak melihat Seth dari tadi!. Barangkali dia memilih jalan yang berbeda. Dia kan tidak tahu persis ke mana kau pergi ”, kata Danny ketus.
“ Ya, memang....Dan aku sepanjang jalan tadi tidak melihatnya ”, sahut Carey.
“ Bagaimana kalau teman-teman kita sudah..... ”, kata Lissette. Ia tak sanggup melanjutkan ucapannya.
“ Iya, benar!. Kalau sesuatu telah terjadi pada mereka, pencarian kita ini percuma saja. Apa tidak sebaiknya kita mencari jalan keluar dari kota ini saja? ”, tanya Ashley.
“ Tidak bisa!. Setidaknya, kita harus menemukan raga mereka walaupun sudah tidak bernyawa ”, jawab Kyle.
“ Tolooong.....Tolooong....! ”, teriak seseorang dari kejauhan.
“ Kalian mendengar ada yang meminta tolong? ”, tanya Kyle. Keempat gadis itu mengangguk serentak.
“ Itu seperti suara Seth! ”, kata Kyle. Ia pun mencari sumber suara itu berasal.
“ Sepertinya dari arah sana! ”, kata Carey sambil menunjuk ke arah barat laut.
“ Tunggu!....Kita sama-sama tahu bahwa di kota ini banyak ilusi, apa benar itu suara Seth? ”, tanya Danny.
“ Kau benar! ”, kata Ashley.
“ Bagaimana kalau kita tunggu saja dia di sini? ”, tanya Danny.
“ Tidak bisa!. Kalau dia pergi ke arah lain, bagaimana?. Kita harus menghampirinya! ”, sahut Kyle.
Daniela merasa kesal mendengar ucapan Kyle yang terkesan menghakiminya. Apalagi hal ini berhubungan dengan Seth, kakak Carey. “ Ya, sudah!. Kau saja yang menghampirinya! ”, katanya ketus.
“ Tidak bisa!. Kita harus selalu bersama-sama! ”, sergah Kyle cepat.
“ Tolooong....Tolooong! ”. Suara lelaki yang menyerupai suara Seth kembali terdengar.
“ Suaranya ke arah sana!. Semakin jauh dari kita. Ayo, cepat kita ke sana sebelum dia semakin menjauh! ”, kata Kyle.
Kecuali Carey, ketiga gadis itu dengan terpaksa mengikuti ajakan Kyle. Tetapi, hanya Daniela yang secara terang-terangan menunjukkan keterpaksaannya dengan berwajah cemberut.
Mereka berlari ke arah sumber suara. Daniela tertinggal di belakang. Walaupun suara lelaki itu sudah tak terdengar lagi, mereka tetap berlari ke arah sana.

Komentar

Populer Minggu Ini

4 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengarang

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax

Persen Dan Permil

Filosofi Kartu Joker

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Stressed Syllable dan Unstressed Syllable

Penggunaan Besides, Apart From, In Addition, Than, Furthermore, Moreover, After that, Meanwhile dan Meantime