Jalan Tol Untuk Mempublikasikan Ide Kreatif


Jalan tol untuk suatu ide kreatif agar dapat dipublikasikan, sehingga kita mendapatkan keuntungan adalah popularitas dari ide kreatif itu sendiri atau popularitas pembuatnya.

Saya bukan orang yang populer. Saya juga tidak hobby bermain media sosial walaupun saya pernah mencobanya, tetapi akhirnya bosan dan berhenti. Terbukti sampai sekarang saya belum sukses.

Pada dasarnya setiap orang bisa menjadi populer dan bisa menjadi kreatif. Jalan menuju keduanya jelas berbeda. Menurut saya, dari segi pencapaian, mencapai popularitas lebih sulit daripada kreatifitas sebab jika kamu berhasil menata kamar tidur kamu, hingga disukai banyak orang, hal itu menurut saya sudah termasuk kreatif. Sedangkan untuk menjadi populer, kita harus menjadi seseorang yang berbeda, unik dan berani menampilkan hal baru, hingga menjadi sorotan.

Contohnya, Lagu Tak Tuntuang yang tahun ini sedang terkenal atau Oom Telolet Oom yang pernah terkenal. Keduanya sama-sama keluar dari zona aman, sehingga menjadi populer. Zona aman yang saya maksud di sini adalah Berani Malu, tetapi, dalam hal yang positif. Kenyataannya mereka tidak menjadi seseorang yang dipermalukan, melainkan menjadi terkenal.

Menurut hasil peninjauan saya (sok jadi profesor), popularitas lebih sering mengandalkan media video. Wajar saja, kan pengen terkenal, jadi tampang harus tampil. Melalui media video, kita bisa melakukan apa saja, tidak perlu hanya menyanyi dan bermain musik. Bisa saja kita membuat video melukis, apalagi jika melukisnya dengan mulut atau kaki.

Jika ditinjau dari segi mendapatkan ide, mendapatkan ide untuk menjadi populer lebih mudah sebab menurut saya, semua ide bisa bersumber dari spontanitas saja. Berbeda dengan mendapatkan ide untuk kreatifitas yang memerlukan persiapan yang matang, hingga karyanya bisa dihargai dan bisa bersaing dengan karya sejenisnya, apalagi zaman sekarang hampir semua hal baru sudah ditemukan.

Contoh meramu ide menjadi populer atau kreatif :

Misalnya, dari kata pohon. Untuk menjadi populer, mungkin kita bisa menyanyi di atas pohon pada malam hari sambil bermain gitar, apalagi jika pohon itu berada di halaman gedung istana merdeka. Sudah pasti menjadi viral sebab orang akan bertanya-tanya, bagaimana kamu bisa masuk ke dalam halaman gedung istana merdeka. Tapi, itu ide yang terlalu absurd. Bahkan, abnormal.

Sebaiknya, halaman gedung istana merdeka diganti dengan bernyanyi di atas pohon pada malam hari di tengah hutan. Mungkin itu akan menjadi viral asalkan jangan terlihat ada seseorang yang menemani kamu karena sudah pasti mereka akan menganggap kamu sedang camping, sehingga wajar berada di tengah hutan.

Untuk mendapatkan ide kreatif dari kata pohon, pertama-tama kamu harus menentukan jalur seni apa yang ingin kamu ambil terlebih dahulu karena kreatifitas selalu berhubungan dengan seni. Misalnya, kamu akan membuat prakarya dari bagian pohon, yaitu batang. Memang sudah banyak prakarya dari batang pohon. Itulah sebabnya tadi, saya katakan lebih sulit mencari ide untuk kreatifitas.

Setelah saya berpikir keras tentang ide prakarya dari batang pohon, saya memutuskan untuk membuat lukisan berbahan dasar potongan kayu atau kulit rotan yang ditempel mengikuti sketsa yang dibuat di atas kanvas atau karton. Sebenarnya, saya tidak tahu, apakah ide ini sudah ada atau belum. Dan saya juga tidak tahu, apakah hal ini bisa dipraktekan atau tidak. Saya hanya mengandalkan logika saat mendapat ide ini sebab saya butuh ide cepat untuk menulis artikel ini.


Kembali ke hasil pencapaian. Jika berdasarkan kedua ide dari jalur berbeda di atas, menurut kamu siapa yang lebih dulu sukses?. 

Menurut saya, si orang yang menyanyi di atas pohon di tengah hutan sebab dia menggunakan media internet untuk sharing videonya. Segalanya yang disharing di internet akan lebih dulu dikenal orang dibandingkan harus mempromosikan diri dari mulut ke mulut. Karena itu, manfaatkan media internet sebaik mungkin. Ide kreatif yang bukan merupakan tulisan juga bisa saja disharing ke media internet.

Saya bisa mengatakan bahwa popularitas adalah jalan tol untuk mempublikasikan ide kreatif karena saya mengalaminya dan saya pernah mendengarnya. 

Pengalaman saya saat ingin mempublikasikan ide berupa tulisan selalu mengalami penolakan. Tujuh kali novel ditolak oleh penerbit mayor yang sama yang saya datangi langsung. Dua kali ditolak oleh penerbit mayor lain yang saya kirim melalui email (sebenarnya tidak ada kabar, tapi saya simpulkan bahwa saya ditolak). 

Dua kali ditolak saat mengantar langsung skenario sinetron ke dua rumah produksi berbeda. Sekali ditolak untuk skenario film yang juga saya antar langsung ke penerbit yang sama dengan saya mengirim salah satu skenario sinetron. Beberapa kali (saya lupa jumlahnya) cerpen ditolak di banyak media cetak.

Banyaknya hasil tulisan saya yang ditolak, tidak membuat saya putus asa. Setelah banting stir dari menulis novel menjadi menulis cerpen sebab mendengar pendapat untuk membuat cerita yang lebih ringan dulu untuk dipublikasikan, lalu banting stir lagi menjadi menulis skenario. Akhirnya, sekarang saya memutuskan untuk mencari popularitas dari tulisan fiksi saya dulu.

Tetapi, di blog gado-gado ini belum saya muat sebab saya ingin fokus menulis tentang tutorial, list dan berita yang katanya lebih banyak dicari terlebih dahulu.

Saya pernah mendengar bahwa perusahaan-perusahaan akan selalu berpikir apakah ide tulisan yang diterimanya bisa laku di pasaran dan dijamin akan disukai banyak orang atau tidak. Mereka tidak khawatir akan kehilangan ide tulisan kita sebab mereka sudah mempunyai orang kepercayaan yang sudah sangat dikenal banyak orang.

Saya juga pernah mendengar cerita tentang menawarkan novel ke sebuah penerbit dalam bentuk cetak buku+cover (bukan naskah print-an), ternyata tanggapan penerima naskahnya berbeda daripada saat mengirim bentuk naskah print-an. Tetapi, mereka akan tetap menilai kelayakan naskah tersebut untuk diterima agar bisa dibantu pemasarannya oleh penerbit tersebut.

Pernah dengar tentang penulis novel yang awalnya tulisannya hanya dipublikasikan pada blog sebelum akhirnya masuk ke meja editor dan diterima?. Hal ini membuktikan bahwa ide kreatif yang sudah memiliki popularitas akan lebih mudah diterima.

Yah, begitulah analisa saya!. Terima kasih sudah membaca artikel tentang sedikit uneg-uneg saya dalam dunia menulis fiksi ini.

Komentar

Populer Minggu Ini

4 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengarang

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax

Persen Dan Permil

Filosofi Kartu Joker

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Stressed Syllable dan Unstressed Syllable

Penggunaan Besides, Apart From, In Addition, Than, Furthermore, Moreover, After that, Meanwhile dan Meantime