24 Cara Perkembangbiakan Hewan
Ada hal menarik tentang perkembangbiakan hewan di
sekitar kita dalam artikel ini. Hewan-hewan tersebut di antaranya, cacing
tanah, ikan, katak, kadal, burung, sapi, belalang, laba-laba, udang, nyamuk, ular,
kupu-kupu, lumba-lumba, kecoa, kelinci, cicak, semut, tikus, kura-kura, lalat,
ayam, kambing, kepiting dan bebek. Hewan mana yang ingin kamu cari tahu?.
Silahkan cari tahu!.
Sama seperti tumbuhan, hewan juga dapat berkembang
biak secara vegetatif (tidak kawin) dan generatif (kawin).
Perkembangbiakan
Generatif
Perkembangbiakan generatif pada hewan tidak lepas dari
peristiwa yang disebut fertilisasi (peleburan inti sperma (spermatozoa) dengan
inti sel telur (ovum). Berdasarkan terjadinya pembuahan pada hewan dibedakan
menjadi dua macam, yaitu fertilisasi eksternal (proses peleburan sel
spermatozoa dengan sel telur yang berlangsung di luar tubuh betina) dan fertilisasi
internal (proses peleburan sel spermatozoa dengan sel telur yang berlangsung di
dalam tubuh betina).
Fertilasi eksternal biasa terjadi pada hewan yang
hidup di dalam air, seperti ikan dan katak. Fertilisasi eksternal umumnya akan
menghasilkan telur yang sangat banyak dalam sekali bertelur.
Karena itu, hewan yang melakukan pembuahan secara
eksternal tidak termasuk ke dalam hewan yang hampir punah. Meskipun begitu,
gangguan proses melahirkan individu baru kemungkinan tetap akan terjadi,
seperti telur dimakan oleh hewan lain, baik masih berupa sel telur, spermatozoa
ataupun sudah menjadi zigot (hasil peleburan sel spermatozoa dan sel telur)
sebelum bermetamorfosis menjadi individu baru.
Fertilisasi eksternal terbagi dua, yaitu :
- Fertilisasi eksternal secara acak : Sel telur dan
spermatozoa dilepaskan secara bersamaan di dalam air.
- Fertilisasi eksternal di dalam sarang : Sel telur
dan spermatozoa disimpan di dalam celah atau cekungan yang dijadikan sarang.
Fertilisasi internal biasa terjadi pada hewan sejenis
vertebrata (hewan bertulang belakang), yaitu reptil, aves (burung) dan mamalia.
*Avertebrata atau invertebrata adalah hewan yang tidak
memiliki tulang belakang
Perkembangbiakan
Vegetatif
Perkembangbiakan vegetatif hanya terjadi pada hewan
tingkat rendah. Cara perkembangbiakan vegetatif pada hewan, antara lain :
Pertunasan
Tunas pada hewan tingkat rendah berasal dari bagian
tubuh induk yang selanjutnya akan memisahkan diri membentuk individu baru. Hewan
yang berkembang biak dengan pertunasan adalah :
- Hydra sp.
Tunas pada hydra
sp. Merupakan tonjolan keluar dinding tubuh yang setelah cukup matang akan
memisahkan diri dari induknya dan tumbuh menjadi individu baru. Selain
berkembang biak secara vegetatif, hydra
sp. Juga dapat berkembang biak secara generatif.
- Obelia sp.
Obelia
sp. Mengalami metagenesis (pergiliran keturunan yang
dihasilkan dari reproduksi vegetatif dan reproduksi generatif). Reproduksi
vegetatif dilakukan oleh gonangium (polip untuk membentuk medusa). Pada
gonangium terbentuk tunas yang setelah matang akan memisahkan diri dari
induknya dan berkembang menjadi medusa muda. Medusa muda akan tumbuh menjadi
medusa dewasa.
Pembelahan
Sel
Pembelahan secara membelah diri umumnya dilakukan oleh
hewan bersel satu. Hewan yang berkembang biak dengan pembelahan sel adalah :
- Amoeba sp.
Amoeba sp. membelah diri dari satu menjadi dua yang
disebut dengan biner. Peristiwa ini dimulai dengan pembelahan inti sel,
kemudian diikuti dengan pembagian sitoplasma (bagian sel yang terbungkus
membran sel) menjadi dua. Masing-masing bagian sitoplasma menyelubungi inti sel
yang baru. Setelah sitoplasma saling memisahkan diri, terbentuklah dua sel baru
yang sama seperti induknya.
- Euglena sp.
Pembelahan biner pada Euglena sp. dilakukan secara membujur dimulai dengan membelah inti
sel atau nukleus (organel pada sel eukariotik yang mengandung sebagian besar
materi genetik sel dengan bentuk molekul DNA linier panjang yang membentuk
kromoson bersama dengan beragam jenis protein) menjadi dua. Selanjutnya, flagel
(alat gerak berupa cambuk atau serabut tipis pada sel) dan sitoplasma serta
selaput sel juga terbagi menjadi dua, hingga terbentuklah dua sel individu yang
baru.
- Paramecium sp.
Selain dapat berkembang biak secara vegetatif yang
disebut dengan pembelahan biner, Paramecium
sp. juga dapat berkembang biak secara generatif yang disebut dengan
konjugasi. Satu kali pembelahan biner pada Paramecium
sp., memerlukan waktu ± 2 jam. Setiap hari Paramecium sp. dapat membelah diri sebanyak 1-4 kali.
Fragmentasi
Fragmentasi adalah perkembangbiakan dari sebagian sel
yang memisahkan diri dari koloni induk kemudian membentuk koloni baru. Hewan
yang berkembang biak secara fragmentasi adalah Volvox sp. yang hidup di air tawar. Volvox sp. sebenarnya merupakan kumpulan dari ribuan hewan bersel
satu yang masing-masing mempunyai dua flagel.
Regenerasi
Regenerasi adalah terbentuknya individu baru dari
potongan bagian-bagian tubuh induknya. Terbaginya tubuh induk dapat terjadi
secara alami atau disengaja. Hewan yang berkembang biak secara regenerasi
adalah cacing pipih Planaria sp. dan
cacing tanah.
Untuk cacing tanah, perkembangbiakan juga dapat
terjadi secara generatif, tetapi terbilang tingkat rendah. Dalam tubuh cacing
tanah terdapat dua alat kelamin, yaitu jantan dan betina. Karena itu, cacing
tanah disebut hewan hermafrodit. Meskipun memiliki dua alat kelamin, cacing
tanah tidak dapat melakukan pembuahan sendiri. Pembuahan pada cacing tanah
terjadi bila sel telur dibuahi oeh spermatozoa dari individu lain. Selain
cacing tanah, hewan yang termasuk hewan hermafrodit adalah bekicot.
Cacing tanah bernafas menggunakan
kulit. Kulit cacing tanah banyak mengandung kapiler darah serta kelenjar lendir
yang selalu menghasilkan lendir yang bermanfaat untuk menjaga kulit cacing agar
tetap basah, sehingga oksigen dapat dengan mudah berdifusi melalui kulit.
Oksigen akan terikat dengan hemoglobin di dalam plasma darah dan membentuk
oksihemoglobin. Oksihemoglobin akan diedarkan ke seluruh tubuh melalui pembuluh
darah. Lendir yang terdapat pada kulit cacing tanah juga berfungsi untuk memudahkan
cacing tanah untuk bergerak.
Rupanya, hewan-hewan yang berada di sekitar kita
sebagian besar berkembang biak secara generatif. Berikut ini penjelasan tentang
perkembangbiakan hewan-hewan yang sudah disebutkan di awal sebelumnya :
Ikan
Alat kelamin jantan pada ikan terdiri atas sepasang
testis berwarna putih kompak. Spermatozoa yang dihasilkan dari testis akan
dialirkan ke saluran sperma atas yang disebut vas deferens. Dari vas deferens,
sperma keluar melalui lubang urogenital (lubang tempat bermuaranya saluran
kelamin dan saluran urine).
Alat kelamin betina pada ikan terdiri atas sepasang
indung telur (ovarium) berwarna bening kecokelatan yang mirip dengan agar-agar.
Sel telur yang dihasilkan oleh ovarium akan dikeluarkan melalui saluran telur
(oviduk). Dari oviduk, sel telur keluar melalui lubang urogenital.
Salah satu contoh tingkah laku ikan saat akan
bertelur, seperti yang terjadi pada ikan panggung adalah ikan betina akan
bergerak ke sana kemari mengitari ikan jantan. Kadang kala ikan betina tidak tenang
dan meloncat ke atas permukaan. Kemudian ikan betina akan mencari tempat yang
terdapat tumbuhan pelindung untuk mengeluarkan telurnya. Pada saat ikan betina
bertelur, ikan jantan datang dan mengeluarkan sperma di sekitar telur. Dan
terjadilah pembuahan.
Katak
Alat kelamin jantan pada katak terdiri atas sepasang
testis berwarna kekuningan, vas deferens dan kloaka. Spermatozoa yang
dihasilkan dari testis akan menuju ginjal dan keluar melalui kloaka. Kloaka
adalah muara tiga saluran, yaitu saluran pembuangan sisa pencernaan, saluran
kelamin dan saluran urine.
Alat kelamin betina pada katak terdiri atas sepasang
indung telur (ovarium), saluran telur dan kloaka. Sel telur yang dihasilkan
dari ovarium akan keluar melalui oviduk, lalu keluar ke dalam air melalui
kloaka.
Pada saat musim pembiakan, katak jantan menempelkan
tubuhnya pada punggung katak betina dengan menggunakan jari-jarinya. Setelah
itu, katak betina akan mengeluarkan ribuan sel telur ke dalam air. Bersamaan
dengan itu, katak jantan akan mengeluarkan ribuan sperma ke dalam air.
Selanjutnya, terjadilah pembuahan secara acak di dalam air, hingga menghasilkan
zigot.
Kadal
Kadal jantan memiliki hemipenis yang tersimpan di
bawah kulit di bagian belakang kloaka. Sel sperma akan keluar melalui hemipenis
yang akan dimasukkan ke dalam alat kelamin kadal betina untuk proses
perkembangbiakan. Ketika kadal jantan mengeluarkan hemipenisnya akan terlihat
seperti manusia yang sedang membalikan kaos kaki.
Burung
Alat kelamin jantan pada burung terdiri atas sepasang
testis. Spermatozoa yang dihasilkan dari testis akan dikeluarkan melalui
saluran sperma menuju kloaka.
Alat kelamin betina terdiri atas sebuah indung telur,
yaitu ovarium kiri, sedangkan ovarium kanan tidak tumbuh dengan sempurna. Sel
telur yang dihasilkan dari ovarium kiri akan melalui oviduk menuju kloaka.
Tidak semua musim pembiakan burung datang secara
bersamaan. Apabila musim pembiakan salah satu jenis burung telah tiba, burung
jantan akan bernyanyi sambil menggerak-gerakan tubuhnya dan memamerkan
keindahan bulunya untuk menarik burung betina sejenisnya.
Pada burung jantan dan betina tidak ditemukan alat
kelamin luar, melainkan hanya terdapat kloaka saja. Pada musim pembiakan,
burung jantan dan betina akan saling menempelkan kloakanya. Spermatozoa akan
masuk ke saluran kelamin burung betina dan melalui oviduk menuju ke daerah sel
telur, yaitu pada corong saluran telur. Sel telur yang terbentuk belum
dibungkus oleh cangkang dari zat kapur yang dihasilkan oleh kelenjar-kelenjar
di sepanjang dinding oviduk.
Hasil pembuahan antara sel telur dan sel spermatozoa
di dalam corong oviduk akan menghasilkan zigot. Zigot selanjutnya akan bergerak
menuju kloaka. Dalam proses perjalanan zigot menuju kloaka, mula-mula zigot
akan diliputi putih telur, lalu akan dibungkus dengan cangkang.
Sapi
Pada fase anak, sapi betina telah memiliki alat
reproduksi yang lengkap, tetapi sel telur belum dapat diovulasikan. Ketika anak sapi betina berumur 10-12 bulan, folikel (struktur
selular bundar di dalam ovarium yang berisi sel telur atau oosit yang matang)
siap diovulasikan. Pada saat estrus atau berahi, sapi betina akan menjadi lebih peka, sering
melenguh, mengangkat ekor agak ke atas, vulva berwarna kemerahan, membengkak
dan hangat bila dipegang, serta berusaha mendekati pejantan. Pada vulva akan
sering keluar lendir. Pada saat inilah, sel telur dapat berovulasi (dilepaskan
setelah matang). Estrus (berahi) dan
ovulasi pertama disertai dengan kenaikan ukuran dan berat organ reproduksi
secara cepat. Usai masa berahi, sapi betina akan mengalami intra-uteri (kehamilan
seiring dengan pertumbuhan embrio). Setelah itu, sapi akan memasuki masa partus
(persalinan).
Belalang
Belalang termasuk hewan ovipar
(hewan yang berkembang biak dengan bertelur). Pada masa kawin, belalang jantan
akan berada di atas punggung belalang betina, hingga terjadi proses kopulasi (sanggama)
dan penyaluran sperma ke dalam tubuh betina. Telur-telur belalang ditaruh di
dalam tanah atau di bawah tumpukan daun-daun yang berguguran. Belalang dapat
menghasilkan 10-300 buah telur. Proses bertelur terjadi selama 3-4 hari. Telur-telur
belalang yang menetas akan menjadi nimfa (belalang muda yang belum memiliki
sayap) yang berwarna putih atau hijau.
Pada fase berikutnya tubuh nimfa
akan berubah menjadi cokelat atau hijau bercorak hitam atau kuning. Pergantian
warna tubuh nimfa bersamaan dengan proses instar (pergantian kulit) yang
terjadi sebanyak 5-6 kali sebelum menjadi belalang dewasa (imago). Pada
belalang dewasa akan tumbuh sayap dan sudah memiliki struktur tubuh yang
lengkap. Tubuh belalang betina lebih besar daripada tubuh belalang jantan.
Laba-Laba
Laba-laba
termasuk hewan yang melakukan pembuahan di dalam tubuh betina. Sebelum fase
fertilasi (pembuahan) terjadi fase intermediet (penggabungan sifat atau gen
dari parental kedua induknya, yaitu jantan dan betina). Pada musim pembiakan,
laba-laba jantan akan terbentuk spermatophore sebagai alat untuk mengalirkan
spermatozoa yang terbungkus benang. Selanjutnya, spermatozoa akan dialirkan
menuju organ khusus pada ujung pedipalpi (alat serupa kaki yang terdapat di
dekat mulut untuk menangkap mangsa) sang jantan. Laba-laba jantan akan
melakukan atraksi atau tarian untuk menarik laba-laba betina sejenisnya.
Laba-laba betina yang tertarik akan mengambil spermatozoa melalui epygnum yang
berada pada ventral abdomen. Jumlah telur yang dihasilkan bervariasi.
Telur laba-laba
disimpan dalam kantong yang berfungsi untuk melindungi telur dan menjaga
kelembaban agar tetap stabil. Induk betina memiliki mekanisme berbeda-beda
dalam menjaga telur, antara lain dengan menyimpan dalam sarang, membawanya
dengan chelicera (capit), atau menempelkan pada abdomen (rongga besar yang dililingkupi oleh otot-otot
perut) pada bagian ventral (perut) menggunakan benang. Beberapa jenis laba-laba betina akan mati setelah
bertelur. Bentuk perhatian laba-laba terhadap anak-anaknya adalah dengan
menggendong anak-anaknya di bagian dorsal abdomen selain memberi makan pada
anak-anaknya.
Udang
Ovarium udang betina berbentuk seperti buah kantung
yang terletak di bagian bawah jantung. Ovarium udang memiliki dua cabang. Kedua
cabang tersebut akan mengembung setelah terjadi fertilasi. Testis udang jantan
terletak di dekat jantung. Testis udang berdinding licin, bercabang dan
berhubungan dengan saluran vas deferens yang bermuara pada lubang-lubang di
kedua sisi pangkal kaki pada ruas keempat. Vas deferens pada udang jantan
berbentuk melingkar dan berfungsi sebagai penyimpan sel-sel sperma.
Pada musim pembiakan, telur-telur yang telah dibuahi
akan keluar dari ovarium melalui saluran telur (oviduk) yang berbentuk lebar
dan pendek. Pada oviduk terdapat dua muara yang bermuara pada lubang-lubang di
kedua sisi pangkal kaki ruas kedua. Udang betina dapat menghasilkan telur
sebanyak 50.000 telur, bahkan 1 juta telur. Telur-telur udang yang berukuran
sekitar 0,3-0,4 mm keluar dari tubuh induknya akan melekat pada sirip-sirip
induknya. Telur-telur udang akan menetas setikar sebulan setelah proses
pembuahan berlangsung. Telur-telur yang menetas akan menjadi larva yang disebut
Naupilus. Naupilus berwarna jernih. Naupilus akan tetap melekat pada
sirip-sirip induknya. Selanjutnya, naupilus akan berubah menjadi zoea dan
kemudian menjadi mysis. Setelah 3-4 hari, mysis akan bermetamorfosis menjadi
postlarva (udang muda). Secara keseluruhan proses ini berlangsung selama 12
hari.
Nyamuk
Setelah proses fertilasi akan
terbentuk zigot berupa telur yang akan diletakan di atas permukaan air yang
tenang dengan kelembaban yang tinggi oleh nyamuk betina. Fase telur berlangsung
selama 2-3 hari. Telur yang menetas akan menjadi larva yang biasa disebut
jentik. Larva nyamuk akan mengalami 4 tahap pertumbuhan (instar) selama 7-10
hari. Pada tahap instar, pada tubuh larva akan tumbuh bulu-bulu halus. Setelah tahan instar, larva akan menjadi pupa atau
kepompong.
Fase pupa berlangsung selama 12
hari. Selama fase pupa akan terbentuk sayap-sayap halus. Pada fase pupa, nyamuk
jantan akan lebih dulu keluar dari cangkangnya untuk menjadi nyamuk dewasa
daripada nyamuk betina. Setelah nyamuk betina keluar dari cangkangnya akan
langsung terjadi proses perkawinan. Setelah itu, nyamuk betina akan
beristirahat selama 2 hari sebelum mulai mencaridarah.
Ketika perut nyamuk betina sudah terisi penuh, nyamuk betina akan beristirahat kembali untuk mematangkan pertumbuhan telurnya. Setelah matang, telur akan diletakkan pada permukaan air.
Ketika perut nyamuk betina sudah terisi penuh, nyamuk betina akan beristirahat kembali untuk mematangkan pertumbuhan telurnya. Setelah matang, telur akan diletakkan pada permukaan air.
Ular
Pada masa pembiakan ular jantan akan menangkap ular
betina dengan menabrakan dagunya ke belakang kepala ular betina, lalu merangkak
di atas tubuh ular betina. Setelah itu, ular betina akan mengangkat ekornya dan
ular jantan akan melilitkan ekornya pada ekor ular betina, sehingga kloaka
(saluran keluarnya air seni dan cairan reproduksi) kedua ular ini akan bertemu.
Ular jantan akan mengeluarkan hemipenis untuk memasuki kloaka ular betina,
sehingga spermatozoa dapat masuk melalui oviduk (saluran telur). Hemipenis
bercabang dua dan berduri. Ular betina memiliki kantong khusus pada saluran
reproduksi untuk menyimpan spermatozoa, hingga sekitar 5 tahun atau lebih.
Dalam setahun, ular betina hanya dapat bereproduksi
sekitar 1-2 kali. Namun, jumlah telur yang dihasilkan dapat bervariasi.
Terkadang ular betina akan memendam telurnya di dalam perutnya, sampai menetas
lalu melahirkan bayinya. Oleh karena itu, ular termasuk hewan jenis ovovivipar
(bertelur-melahirkan). Pada umumnya ular betina tidak akan mengerami
telur-telurnya, tetapi mereka tetap akan melindungi telur-telurnya selama
beberapa hari.
Kupu-Kupu
Umumnya,
kupu-kupu betina selalu memilih tanaman kesukaannya untuk dijadikan tempat
menaruh telurnya. Telur kupu-kupu akan diletakkan di bagian ujung atau bagian
bawah daun. Fase telur pada kupu-kupu berlangsung selama 3-5 hari. Ketika telur
menetas, kupu-kupu akan memasuki fase larva. Seiring pertumbuhannya, larva akan mengalami
pergantian kulit yang disebut molting. Larva akan berganti kulit sekitar 4-6 kali.
Ketika
ukuran larva sudah mencapai maksimal, larva akan berhenti untuk memakan daun.
Selanjutnya, larva akan mencari tempat untuk berlindung sebelum berubah menjadi
pupa atau kepompong. Pupa kupu-kupu berstruktur halus berwarna cokelat dan
hijau. Fase pupa berlangsung selama 7-20 hari tergantung jenisnya.
Setelah
itu, pupa akan menjadi kupu-kupu (imago). Ketika keluar dari kepompong, sayap
kupu-kupu akan terlihat kusut, kecil dan basah karena terdapat cairan hemolymph
yang berfungsi membantu proses perkembangan sayap dan tubuh kupu-kupu. Setelah
5-6 hari, kupu-kupu betina yang baru terlahir siap untuk proses pembiakan.
Usia kematangan
lumba-lumba betina sekitar 5-13 tahun, sedangkan lumba-lumba jantan sekitar
9-14 tahun. Pembiakan pada
lumba-lumba ditentukan dengan tingkat emosinya. Ketika kekurangan makanan atau
stres, lumba-lumba tidak akan melakukan pembiakan dan sebaliknya. Pada masa pembiak, lumba-lumba jantan akan membuat
suara untuk menyinggung satu sama lain. Selain itu, lumba-lumba jantan akan
membenturkan tubuh mereka satu sama lain untuk menunjukkan kekuatan
masing-masing. Lumba-lumba betina akan memutuskan untuk memilih lumba-lumba
terkuat dan paling dominan untuk proses pembiakan.
Untuk
lumba-lumba jenis Tucuxi akan melahirkan bayi sekitar 12 bulan setelah
pembiakan. Sedangkan lumba-lumba jenis Orca akan melahirkan bayi sekitar 17
bulan setelah pembiakan. Lumba-lumba betina akan mencari air yang dangkal untuk
melahirkan. Ketika bayi lumba-lumba dilahirkan, bagian ekor akan lebih dulu
keluar dari tubuh induknya. Setiap lumba-lumba betina melahirkan, ia tidaka
akan berada seorang diri. Akan ada lumba-lumba lain yang menemaninya agar
terlindung predator. Lumba-lumba akan menyusui bayinya selama 1 tahun. Umumnya,
lumba-lumba akan memiliki 1 anak setiap 3-6 tahun sekali.
Kecoa
Kecoa termasuk serangga yang bermetamorfosis
secara tidak sempurna karena tidak melalui fase pupa. Pada fase telur, kecoa
betina akan meletakkan telur pada permukaan tanah atau sampah. Kecoa betina
dapat bertelur sekitar 16-32 butir. Pada permukaan telur terdapat caira
berwarna hitam atau cokelat. Telur kecoa dilindungi dengan cangkang kapsul yang
disebut Ootheca. Fase telur berlangsung selama 1-2 bulan tergantung jenisnya.
Setelah telur menetas, kecoa akan memasuki fase nimfa. Nimfa kecoa berbentuk
menyerupai kutu beras dan berwarna putih. Lambat-laun, nimfa kecoa akan berubah
warna menjadi cokelat. Fase nimfa berlangsung selama 60 hari dengan proses
pergantian kulit (instar) 4-7 kali. Setiap kulit nimfa yang baru akan semakin
keras. Pada proses instar yang terakhir, kedua sayap kecoa baru terbentuk. Kecoa
dewasa (imago) dapat berusia sekitar 200 hari. Kecoa betina dapat bertelur
sebanyak 8-20 kali sebelum akhirnya mati.
Kelinci
Ketika kelinci memasuki usia 5-6 bulan, mereka sudah siap untuk
pembiakan. Kelinci betina memiliki dua ovarium, sehingga masa pembiakan mereka
relatif singkat. Pada masa pembiak, kelinci jantan akan terlihat agresif. Masa
kehamilan kelinci adalah sekitar 30-34 hari. Ketika mendekati masa kelahiran,
kelinci betina akan terlihat gelisah dan mulai mencari tempat untuk melahirkan.
Kelinci betina akan menggali lubang untuk meletakkan anak-anaknya. Kelinci betina
dapat melahirkan 3-10 anak. Kelinci betina akan menyusui bayinya selama
seminggu.
Cicak
Cicak berkembang biak dengan dua cara, yaitu bertelur
(ovipar) dan bertelur-beranak (ovovivipar). Pada masa pembiak, cicak jantan dan
cicak betina akan berkopulasi (bersanggama). Cicak betina dapat mengeluarkan 2
atau lebih telur. Cicak betina dapat bertelur sekali dalam setahun. Namun, ada
beberapa spesies cicak yang dapat bertelur sekitar 4-6 kali dalam setahun.
Karena cicak dapat berkembang biak secara ovovivipar, maka terkadang cicak
betina akan menyimpan telur dalam perutnya, hingga menetas lalu cicak betina
akan melahirkan anak. Hal ini dilakukan cicak betina untuk melindungi telurnya
dari predator. Jika cicak betina bertelur, mereka akan menyembunyikan telur di belakang lemari,
lubang pada kayu dan lain-lain. Setelah 30-80 hari, telur cicak akan menetas
dan menjadi zigot. Pada jenis cicak tertentu, cicak betina dapat bertelur tanpa
melakukan pembuahan dengan cicak jantan.
Semut
Semut termasuk hewan
holometabolous yang memiliki 4 fase kehidupan setelah pembiakan. Semut betina
akan bertelur dan telurnya akan menjadi larva atau jentik. Pada koloni semut
terdapat sistem kasta. Ada semut betina yang berkasta ratu, ada pula yang
berkasta pekerja. Di antara kasta pekerja dibedakan menjadi beberapa kelompok
sesuai makanannya ketika masih berupa larva. Selain itu, terdapat pula kasta
fisik di antara semut pekerja. Semut yang memiliki kepala lebih besar dan rahang
yang kuat disebut Semut Tentara. Itulah sebabnya kenapa semut disebut hewan
yang berkelompok.
Semut pekerja yang baru
dilahirkan bertugas untuk merawat kehidupan semut dewasa, ratu dan semut muda.
Semut pemulian dan ratu akan melakukan pembiakan dengan semut jantan dengan
terbang. Setelah proses pembiakan, tidak lama kemudian semut jantan akan mati.
Semut betina yang telah melakukan pembiakan akan melepaskan sayapnya dan
mencari tempat untuk bertelur. Untuk semut pekerja, mereka tidak melakukan pembiakan.
Tugas semut pekerja adalah mencari makan, melindungi telur, mengurus anak dan
menjaga sarang.
Semut pekerja
memberikan makanan pada larva melalui proses trophallaxis (pertukaran makanan
atau cairan di antara individu) atau melakukan regurgitasi (naiknya makanan dari kerongkongan
atau lambung tanpa rasa mual dan kontraksi otot perut yang sangat kuat) pada makanan, sehingga terkadang
semut pekerja tidak makan.
Setelah melewati fase
larva, semut akan memasuki fase pupa atau kepompong. Semut pekerja sering kali
memindahkan pupa-pupanya ke tempat-tempat lain untuk mencari suhu yang tepat. Pada
malam hari, semut pekerja akan memindahkan telur dan larva ke dalam sarang agar
terlindung dari suhu udara yang dingin. Sedangkan pada siang hari, semut
pekerja akan memindahkan telur dan larva ke bagian atas sarang untuk mendapat
suhu yang lebih hangat. Jika semut pekerja menemukan sumber makanan, ia akan
mengeluarkan aroma yang dapat tercium oleh semut lain dari koloninya.
Tikus
Pada usia 2-5 bulan, tikus telah siap melakukan
pembiakan. Masa kehamilan tikus betina adalah sekitar 19-21 hari. Tikus betina
dapat melahirkan 6-8 ekor bayi. Tikus dapat kembali melakukan pembiakan setelah
48 jam usai melahirkan. Tetapi, dalam setahun tikus hanya dapat melakukan
pembiakan sekitar 4 kali.
Setiap tahun gigi depan tikus akan tumbuh sekitar 3,5-4,5
inchi. Karena itu, tikus akan terus mengerat atau menggerogoti benda-benda
untuk mengikis gigi depannya. Jika tidak, gigi depan tikus akan menembus
mulutnya dan tikus akan mati karena tidak bisa makan dan mengalami infeksi.
Tikus rumah adalah perenang yang buruk, sehingga
mereka sering kali mati saat berenang. Tetapi, tikus rumah lebih gesit terutama
saat memanjat dan mereka juga berani untuk terbang. Tikus rumah berbeda dengan
tikus mencit. Tikus mencit berukuran lebih kecil. Tikus mencit mudah
beradaptasi dengan lingkungannya. Selain itu, terdapat jenis tikus celurut yang
biasa disebut cecurut. Tikus celurut adalah tikus pemakan serangga. Tikus
celurut lebih senang hidup secara individual.
Kura-kura
Setelah
bertelur, kura-kura betina akan meletakkan telur-telurnya pada lubang pasir di
tepi sungai atau laut. Telur kura-kura menetas dengan bantuan panas matahari.
Fase telur pada kura-kura sekitar 2 bulan atau 50-70 hari. Jenis kelamin bayi kura-kura
ditentukan dari suhu pasir. Jika suhu di atas rata-rata, maka bayi kura-kura
tersebut adalah betina. Jika suhu di bawah rata-rata, maka bayi kura-kura
tersebut adalah jantan. Kura-kura dapat bertelur sampai seratus butir telur.
Tempurung
kura-kura terdiri dari dua bagian. Bagian atas yang menutupi punggungnya
disebut karapas (carapace) dan bagian bawah yang menutupi perutnya disebut
plastron. Lapisan luar tempurung bersisik besar dan keras. Lapisan dalam
tempurung terdiri dari lempeng-lempeng tulang yang tersusun rapat. Kura-kura
adalah hewan pemakan segala jenis makanan (omnivora). Kura-kura tidak memiliki
gigi, tetapi moncongnya yang keras dapat membantunya untuk memotong makanannya.
Kura-kura dapat hidup beratus-ratus tahun.
Lalat
Pada masa
pembiakan, lalat jantan akan terbang ke atas punggung lalat perempuan. Alat
kelamin lalat dapat berotasi sampai 360o selama masa pembiakan.
Karena itu, terkadang pada masa pembiakan, posisi lalat jantan yang berada di
atas punggung lalat betina akan berlawanan arah. Setelah bertelur, lalat betina
akan menaruh telur-telurnya di dekat sumber makanan agar ketika telur menetas,
larva lalat dapat langsung mendapat makanan. Semakin banyak makanan yang
didapat, larva akan cepat tumbuh besar menjadi dewasa. Hal ini tidak hanya
terjadi pada lalat, tetapi juga pada seluruh hewan yang melalui fase larva.
Terkadang lalat betina lebih memilih menyimpan telur di dalam perutnya sampai
menetas. Fase telur hanya berlangsung sehari saja.
Pada fase larva, kaki lalat belum tumbuh dengan baik. Kepala, antena dan
mata pun belum terlihat jelas. Larva sering disebut belatung. Larva lalat
mengalami pergantian kulit (masa instar) sebanyak 3 kali dalam waktu 7-10 hari.
Setelah fase larva, lalat akan menjadi pupa (kepompong) sebelum akhirnya
menjadi imago (lalat dewasa).
Ayam
Ayam termasuk jenis hewan yang melakukan fertilasi
secara internal. Ayam jantan memiliki sepasang testis berwarna kekuningan yang
terletak di dekat ginjal. Testis berfungsi untuk menghasilkan sel spermatozoa.
Pada dinding testis terdapat saluran pendek yang disebut epididimis. Selain
itu, ayam jantan juga memiliki vas deferens (saluran sperma). Saluran sperma
keluar dari epididimis untuk menyalurkan sperma yang telah matang menuju
kloaka.
Baik ayam jantan maupun betina memiliki alat kopulasi
berupa kloaka yang dapat membantu proses fertilasi. Kloaka ayam juga disebut
sebagai muara tiga saluran, yaitu saluran urine, saluran kelamin dan saluran
pencernaan. Ketika akan mengeluarkan sperma, kloaka ayam jantan yang menuju
saluran urine dan saluran pencernaaan akan tertutup.
Pada ayam betina terdapat ovarium yang mengandung
1000-3000 folikel telur yang siap untuk dimatangkan. Masing-masing folikel
memiliki kuning telur. Ovarium terhubung pada oviduk. Oviduk akan menangkap sel
telur yang matang melalui fimbrae struktur yang berbentuk seperti tangan.
Pada masa fertilasi, hanya satu sel spermatozoa ayam
jantan yang dapat membuahi satu sel telur dalam tubuh ayam betina. Setelah masa
fertilasi, akan terbentuk zigot lalu menjadi embrio. Embrio pada saluran oviduk
kuning telur akan dibungkus dengan cairan putih selama 3,5 jam. Setelah itu,
permukaan telur akan disekresikan (diselimuti zat berupa lendir atau enzim
dan hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar dan sel) membran atau selaput telur. Kemudian, permukaan
telur yang telah disekresikan akan menuju uterus untuk dilengkapi dengan
cangkang.
Cangkang tersusun dari zat kapur yang dapat melindungi
telur embrio agar tidak kekurangan air. Selain itu, cangkang juga memiliki
pori-pori untuk membantu pernapasan. Di dalam telur embrio terdapat kantung
kuning (yolksacs) untuk menyuplai nutrisi yang dapat membantu perkembangan
embrio. Fase telur ayam berlangsung selama 21 hari tergantung suhu udara di
sekitarnya. Jika tidak mendapat suhu yang hangat, ayam betina akan mengerami
telurnya sampai menetas.
Kambing
Sama halnya dengan sapi, kambing juga memiliki
tanda-tanda birahi pada masa pembiakan. Kambing betina yang sudah memasuki umur
10-12 bulan telah siap untuk pembiakan, sedangkan untuk kambingnya jantan
ketika memasuki umur di atas satu tahun baru akan siap untuk pembiakan. Kambing
betina dapat melahirkan anak setiap 7 bulan sekali. Tanda-tanda birahi pada
kambing kurang lebih sama dengan sapi, yaitu vulva membengkak, merah dan agak basah,
terlihat gelisah, mengibaskan ekor dan sering buang air kecil. Lamanya masa
birahi pada kambing adalah sekitar 24-25 jam. Tanda-tanda birahi ini yang
selalu dijadikan pedoman bagi peternak. Lama masa kehamilan kambing adalah
sekitar 144-156 hari. Kambing betina dapat melahirkan anak 1-2 ekor. Kambing
betina akan menyusui anaknya selama 3 bulan.
Kepiting
Kepiting jantan akan mengeluarkan suara yang keras menggunakan chelipeds (pasangan kaki depan yang dapat menjadi besar dan berfungsi sebagai alat penjepit atau melindungi diri) untuk menakuti pejantan lain. Kepiting jantan akan menggetarkan kaki jalannya untuk menarik perhatian kepiting betina.Kepiting memiliki ruas-ruas di tubuhnya yang tertutup oleh kulit tebal dan keras yang terbentuk dari zat kapur. Kepiting mempunyai alat kelamin yang disebut thelycum.
Fase pergantian kulit pada kepiting disebut fase moulting. Menjelang masa pembiak, kepiting akan mengalami fase moulting, sehingga kulit kepiting betina menjadi lunak. Hal ini memudahkan kepiting jantan untuk melakukan fertilasi. Sel spermatozoa akan masuk ke dalam thelycum kepiting betina. Telur yang telah dibuahi tidak akan dilepaskan ke dalam air oleh kepiting betina. Telur-telur tersebut akan menempel pada rambut-rambut yang terdapat pada umbai-umbai bagian bawah abdomen kepiting.
Kepiting
betina umumnya akan mencari tambak atau hutan bakau yang berair tidak terlalu
dangkal untuk bertelur. Kepiting betina akan mengerami telur-telurnya selama
20-23 hari. Semakin besar tubuh kepiting betina, maka semakin banyak telur yang
bisa dihasilkan. Bahkan, dapat mencapai 1,5 juta butir telur. Ketika sedang
mengeram, kepiting betina sesekali akan menggerak-gerakan kaki renangnya atau
tampak berdiri tegak pada kaki dayungnya. Hal ini dilakukan agar telur-telur
mendapat aliran air segar yang cukup oksigen.
Ketika telur menetas, kepiting
betina akan menggerak-gerakan kaki-kaki jalan dan kaki dayungnya dengan cepat untuk
memudahkan keluarnya larva dari cangkang telur. Jika kepiting betina tidak
memiliki jumlah kaki-kaki jalan yang lengkap atau cacat, proses keluarnya larva
dari cangkang telur akan berlangsung lama atau sulit. Proses ini biasa akan
berlangsung selama 3-5 jam.
Bebek
Pada masa pembiak, bebek jantan
akan mengepak-kepakkan sayapnya untuk menarik perhatian bebek betina. Namun
terkadang, bebek betina lebih dulu berusaha menarik perhatian bebek jantan.
Bebek betina yang sudah siap berkembang biak akan berenang ke permukaan air
sambil memanjangkan lehernya untuk menarik perhatian bebek jantan. Terkadang,
bebek betina akan langsung mendekati bebek jantan sambil berkwek dan
menggetarkan paruhnya. Bebek jantan yang tertarik akan melakukan berkopulasi
dengan bebek betina tersebut. Setelah masa fertilasi, zigot yang tumbuh menjadi
embrio akan dibungkus oleh kuning telur dan cangkang. Ketika akan bertelur,
bebek betina akan mencari tanah sepanjang 6-9 inchi sebagai sarang telurnya.
Pada beberapa jenis bebek, terdapat bebek jantan yang bersedia menemani bebek
betina untuk menjaga telur-telur sampai menetas.
Jika bebek betina tidak ingin
melakukan pembiakan dengan bebek jantan, bebek betina akan membuang sperma yang
masuk ke dalam saluran telurnya dari dalam tubuhnya dan hanya menyisakan sperma
yang diinginkannya.
Komentar
Posting Komentar