Gejala Pada Penderita Narkolepsi
Narkolepsi
adalah gangguan atau kelainan pada sistem saraf yang memengaruhi aktivitas
tidur. Narkolepsi umumnya menyerang usia 10 – 25 tahun.
Berikut ini
gejala yang terjadi pada penderita narkolepsi :
a. Mengalami hypersomnia (rasa kantuk pada siang hari
yang berlebih), hingga sulit berkonsentrasi saat beraktivitas.
b. Mengalami sleep attacks (tiba-tiba tertidur) dalam
jangka waktu yang tidak tentu. Saat sleep
attacks menyerang, penderita narkolepsi tidak dapat mengingat kejadian yang
telah terjadi ketika ia terbangun.
c. Mengalami
katalepsi (gangguan kesadaran dan kehilangan kontrol atas kekuatan otot). Tidak
semua penderita narkolepsi akan mengalami katalepsi. Beberapa penderita
narkolepsi hanya mengalami katalepsi sekali atau dua kali per tahun, tetapi ada
pula yang mengalami katalepsi setiap hari.
Penderita
katalepsi sulit untuk menggerakan ototnya agar bisa mengembalikan posisi tubuh
atau anggota badan ke posisi semula. Katalepsi cenderung dipicu oleh emosi
positif (tertawa atau terlalu bersemangat) maupun negatif (takut, marah atau
terkejut).
Saat katalepsi menyerang,
penderita narkolepsi dapat mengalami kesulitan untuk berbicara dan rasa lemas
untuk bergerak. Contohnya lutut tiba-tiba tertekuk saat tertawa.
Katalepsi
terjadi karena kurangnya kadar hypocretin (orexin) dalam otak yang kemungkinan
disebabkan karena adanya masalah autoimun. Hypocretin adalah jenis protein
dalam otak yang berfungsi mengatur siklus bangun-tidur pada manusia. Katalepsi
dapat diatasi dengan mengonsumsi obat antidepresan.
d. Mengalami sleep paralysis (ketidakmampuan temporer
untuk bergerak atau berbicara saat tertidur atau setelah bangun). Sleep paralysis disebut juga kelumpuhan
tidur atau ketindihan. Sleep paralysis
disebabkan kurangnya waktu tidur. Cara mengatasi sleep paralysis adalah dengan bersikap tenang atau rileks,
menggerakan jari-jari kaki atau mencoba untuk mengendalikan nafas agar rasa
nyeri pada bagian dada juga dapat berkurang.
Sleep paralysis biasanya terjadi saat seseorang memasuki fase Rapid Eye Movement (REM) yang merupakan fase terjadinya mimpi,
sehingga menjadi sulit bergerak.
e. Mengalami sleep apnea (kondisi saat seseorang
berhenti bernafas beberapa kali saat sedang tertidur sepanjang malam).
Penderita sleep apnea sering
terbangun beberapa kali pada malam hari. Kualitas tidur di malam hari yang
buruk menyebabkan rasa kantuk yang berlebihan pada siang hari. Pria paruh baya
(40 tahun ke atas) cenderung lebih sering mengalami sleep apnea daripada wanita dan anak muda.
Gejala umum
dari sleep apnea, antara lain
mendengkur kencang, bangun mendadak disertai sesak nafas, bangun dengan mulut
kering atau sakit tenggorokan, sakit kepala di pagi hari, insomnia, mudah
merasa kesal dan kurang konsentrasi.
Sleep apnea terbagi menjadi dua, yaitu :
- Sleep apnea obstruktif adalah sleep apnea karena terjadinya penyumbatan
pada saluran pernafasan akibat otot belakang tenggorokan mengendur. Kondisi ini
menyebabkan tubuh kekurangan oksigen.
Pemilik lingkar
leher yang besar, amandel yang besar, lidah yang besar, rahang yang kecil,
menderita asam lambung, perokok, pengguna alkohol dan obat penenang cenderung
mengalami sleep apnea obstruktif.
- Sleep apnea sentral adalah sleep apnea karena ketidakstabilan pada
pusat kendali pernafasan karena otak gagal memberi sinyal untuk otot
pernafasan. Penderita stroke dan kelainan jantung cenderung mengalami sleep apnea sentral.
f. Mengalami halusinasi hypnagogic (halusinasi yang
terjadi selama masa transisi dari fase terjaga menuju fasae tidur) dan halusinasi hypnopompic (halusinasi yang
terjadi saat sadar, terjaga atau terbangun).
g. Mengalami restless leg syndrome (RLS) atau disebut
juga penyakit Willis-Ekbom disease. Restless
leg syndrome adalah kondisi neurologis yang menyebabkan seseorang tidak
dapat mengontrol diri untuk menggerakan kaki. Kondisi ini menyebabkan rasa
tidak nyaman pada bagian kaki atau lengan.
Restless leg syndrome terjadi karena ketidakseimbangan hormon dopamine,
kekurangan zat besi, kerusakan pada saraf tangan dan kaki (peripheral
neuropathy) dan penderita gagal ginjal. Pada penderita gagal ginjal terjadi
kondisi di mana penyimpanan zat besi dalam darah menjadi berkurang.
Restless leg syndrome biasa terjadi pada malam hari atau saat berelaksasi. Restless leg syndrome cenderung
menyerang wanita paruh baya dan wanita hamil yang mana masa kehamilan tengah
memasuki trimester akhir.
h. Mengalami
insomnia.
Komentar
Posting Komentar