Rangkaian Seri R L C, Transformator, Dan Sudut Fase Rangkaian Pada Arus Bolak-Balik
Rangkaian RLC seri adalah rangkaian dengan nilai arus yang sama melintasi resistor (R), induktor (L) dan kapasitor (C), serta memiliki nilai tegangan yang berbeda pada setiap komponen tergantung sudut fasenya.
Rumus :
V = √VR2
+ (VL – VC)2
Z = √R2
+ (XL – XC)2 = √R2 + (⍵L – 1/⍵C)2
Keterangan :
V adalah tegangan
total pada rangkaian (volt)
VR
adalah tegangan pada resistor murni (volt)
VL
adalah tegangan pada induktor murni (volt)
VC
adalah tegangan pada kapasitor murni (volt)
Z adalah impedansi
atau hambatan total (ohm/Ω)
XL
adalah reaktansi induktif (ohm/Ω)
XC
adalah reaktansi kapasitif (ohm/Ω)
ω adalah kecepatan sudut (rad.s-1 atau rad/s)
Rumus :
VR = i . R = i . R . sin (⍵
t + 0o)
VL = i . XL = i . XL sin (⍵
t + 90o) = i . j⍵L
VC = i . XC
= i . Xc sin (⍵ t - 90o) = i .
1/j⍵C
Karena Z sama
dengan hambatan total, maka berlaku juga rumus :
W = i2
. Z . t dan Z = V/i
Impedansi adalah
ukuran penolakan terhadap arus bolak-balik. Impedansi dapat diukur jika jumlah
seluruh hambatan, impedansi seluruh induktor dan kapasitor yang tergantung pada
perubahan arus telah diketahui.
Rumus sudut fase
rangkaian :
Rangkaian Seri R-L
:
Tan Ï•
= VL/VR = XL/R
Rangkaian Seri R-C
:
Tan Ï•
= VC/VR = XC/R
Rangkaian Seri
R-L-C :
Tegangan rangkaian seri R-L-C :
Tan Ï•
= VL – VC/VR
Impedansi rangkaian seri R-L-C :
Tan Ï• = XL – XC/R
Cos Ï• = R/Z
Sin Ï• = XL – Xc
Z
-
Jika VL > VC atau XL > XC,
maka rangkaian bersifat induktif, sehingga sudut fase Ï• tertinggal.
-
Jika VL < VC atau XL < XC,
maka rangkaian bersifat kapasitif, sehingga sudut fase Ï• memimpin atau terkemuka.
-
Jika XL = XC, maka besar impedansi rangkaian sama dengan
nilai hambatannya (Z=R) dan pada rangkaian akan terjadi resonansi seri atau bersifat resistif, serta
berlaku rumus frekuensi resonansi :
f
= 1/2Ï€ = √1/L.C
Perbedaan fase tergantung pada nilai reaktif atau reaktansi (X) setiap komponen.
- Reaktansi pada
rangkaian resistif sama dengan nol.
- Reaktansi pada
rangkaian induktif sama dengan XL = ⍵L,
yang mana bernilai positif.
- Reaktansi pada
rangkaian kapasitif sama dengan XC = - 1/⍵C,
yang mana bernilai negatif.
Reaktansi total (XT) pada rangkaian RLC seri diperoleh :
XT = XL
– XC
Atau
XT
= XC - XL
Nilai impedansi pada
rangkaian resistif sama dengan nol.
ZR = R
= R ∠ 0o
Nilai impedansi
pada rangkaian induktif bernilai positif.
ZL = j ⍵ L
= ⍵ L
∠ + 90o
Nilai impedansi
pada rangkaian kapasitif bernilai negatif.
Zc =
1/j ⍵C
= 1/⍵C ∠ - 90o
Penerapan Arus DC
Arus DC atau arus
searah yang dihasilkan oleh baterai dan akumulator (aki) banyak digunakan dalam
rangkaian elektronika. Baterai yang disusun seri akan menghasilkan tegangan
yang lebih besar dan arusnya tetap. Baterai yang disusun paralel akan menghasilkan tegangan tetap dan arus yang
besar.
Laptop yang tidak tersambung pada sumber listrik memiliki arus searah. Tetapi, jika laptop tersambung ke sumber listrik dengan menggunakan adaptor, maka laptop menghasilkan arus bolak-balik.
Beda potensial pada sumber arus listrik searah adalah 1,5 volt, 6 volt, 12 volt, 24 volt dan lain-lain.
Rangkaian Paralel
VAB = E
i = i1
+ i2 + i3
Rangkaian Seri
VAB = E
+ E + E
i = i1
= i2 = i3
Penerapan Arus AC
Arus bolak-balik banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti dalam keperluan rumah tangga, kantor, pabrik, hingga penerangan di jalan dan tempat-tempat umum.
a. Daya listrik
dan energi listrik
Daya adalah
besarnya energi listrik yang digunakan setiap sekon.
Rumus :
P = V . i
P = W/t
Keterangan :
P adalah daya
(volt)
V adalah tegangan
(volt)
i adalah kuat arus
(ampere)
W adalah energi
(joule)
t adalah waktu
(sekon)
b. Sekring
Sekring adalah
alat yang dapat digunakan untuk menaikkan tegangan (trafo-step-up) atau
menurunkan tegangan (trafo-step-down) pada arus bolak-balik.
c. Transformator
Transformator
adalah alat listrik untuk memindahkan dan mengubah energi listrik antar dua
atau lebih melalui gandengan magnet dan berdasarkan prinsip induksi
elektromagnetik.
Transformator
disebut juga trafo. Trafo-step-up memiliki lilitan sekunder lebih banyak
daripada lilitan primer. Trafo-step-up terdapat pada pembangkit tenaga listrik
untuk menaikkan tegangan yang dihasilkan generator.
Trafo-step-down
memiliki lilitan sekunder lebih sedikit daripada lilitan primer.
Trafo-step-down terdapat pada adaptor AC-DC.
Rumus :
NP = VP = iS
Ns Vs iP
Keterangan :
NP
adalah jumlah lilitan primer
Ns adalah jumlah lilitan sekunder
VP
adalah tegangan primer
Vs adalah tegangan sekunder
iP
adalah kuat arus primer
is adalah kuat arus sekunder
Efisiensi trafo
adalah persentase perbandingan daya sekunder (keluaran/pout) dengan daya primer
(masukan/pin).
Rumus :
ɳ = (Ps/Pp) x 100 %
ɳ = Vs . is x 100 %
Vp . ip
ɳ = Ns . is x 100 %
Np . ip
ɳ = (Ps/ (Ps + copper loss + core loss) x 100
%
ɳ = (Pp – losses)/Pp x 100 %
Keterangan :
ɳ adalah efisiensi
Ps adalah daya sekunder
Pp adalah daya primer
Copper loss adalah kehilangan daya
pada transformator karena resistansi (kemampuan suatu benda untuk
menahan/menghambat aliran arus listrik) pada kumparan atau lilitan dari
transformator tersebut.
Copper loss = i2 . R . t
Core loss adalah kehilangan daya pada
transformator karena inti besi dari transformator tersebut.
Losses adalah perbedaan antara energi
listrik yang disalurkan dan yang dipakai.
Losses = Ns – Np x 100 %
Ns
Contoh 1 :
Pada rangkaian R, L dan C dihubungkan
dengan sumber tegangan bolak-balik, seperti gambar di samping. Berapa besar
tegangan sumber arus rangkaian tersebut ?
Jawab :
V =
√VR2 + (VL – VC)2
= √82 + (10 – 4)2
= √64 + 36 = √100 = 10 volt
Contoh 2 :
Sebuah resistor dengan hambatan 6 ohm
dihubungkan seri dengan kumparan, lalu dihubungkan dengan tegangan bolak-balik
200 volt dengan frekuensi anguler 200 rad.s-1. Ternyata arus listrik
yang mengalir dalam rangkaian tersebut adalah sebesar 20 A. Berapa besar
induktansi kumparan tersebut ?
Jawab :
Untuk mencari induktansi kumparan (L),
maka perlu diketahui nilai hambatan induktif (XL) karena berdasarkan
rumus :
XL = ω . L
Sebelum mendapatkan nilai XL,
maka terlebih dahulu mencari nilai Z dengan rumus :
Z = V/i
= 200/20 = 10 Ω
Karena yang akan dicari adalah L,
maka nilai XC tidak perlu dicari, sehingga rumus yang berlaku adalah
:
Z = √R2
+ XL2
10 = √62
+ XL2
10 = 36 + XL2
102 =
36 + XL2
100 = 36 + XL2
XL2
= 100 – 36
XL =
√64 = 8 Ω
Maka,
XL = ω . L
8
= 200 . L
L
= 8/200 = 0,04 H
Contoh 3 :
Suatu rangkaian terdiri dari hambatan
murni 40 ohm, reaktansi kapasitif 70 ohm dan hambatan induktif 100 ohm dipasang
pada tegangan 200 volt. Berapa energi yang diperlukan pada rangkaian ini selama
10 detik ?
Jawab :
Untuk mencari energi yang diperlukan
(W), maka perlu diketahui nilai impedansi (Z) dan kuat arus (i) karena
berdasarkan rumus :
W = i2 . Z . t
Cari terlebih dahulu nilai Z dengan
rumus :
Z = √R2
+ (XL – XC)2
= √402 + (100 – 70)2
= √1600 + 900
= √2500 = 50 ohm
Lalu, cari nilai i
dengan rumus :
Z = V/i
50 = 200/i
i = 200/50 = 4 A
Maka,
W = i2
. Z . t
= 42 . 50 . 10 = 8000 joule
Contoh 4 :
Suatu kumparan mempunyai induktansi
10-4 H dan hambatan dalamnya 30 ohm. Berapa nilai impedansi pada
frekuensi 100 kHz ?
Jawab :
f = 100 kHz = 100.000 Hz = 105
Hz
Cari terlebih dahulu nilai XL
dengan rumus :
XL =
2.Ï€. f . L
= 2 x 3,14 x 105 x 10-4
= 62,8 ohm
Maka,
Z = √R2
+ XL2
= √302 + 62,82
= √900 + 3943, 84
= √4843,84
= √4844 = 69,59 = 69,6 ohm
Contoh 5 :
Sebuah trafo memiliki daya listrik 25
W (daya input/primer) dan 12 W (daya output/sekunder). Berapa efisiensi trafo
tersebut ?
Jawab :
ɳ = (Ps/Pp) x 100 %
= (12/25) x 100 %
= 0,48 x 100 % = 48 %
Contoh 6 :
Sebuah trafo memiliki tegangan
input/primer 200 V dan tegangan output/sekunder 140 V, sedangkan arus
input/primer 1 A dan arus output/sekunder 1,5 A. Berapa efisiensi trafo tersebut
?
Jawab :
ɳ = Vs . is x 100 %
Vp . ip
= 140 . 1 x 100 %
200 . 2
= 140 x 100 %
400
= 0,35 x 100 % = 35 %
Contoh 7 :
Sebuah trafo memiliki arus primer 2 A
dan arus sekunder 1,5 A. Jumlah lilitan primer trafo tersebut adalah 250
lilitan dan jumlah lilitan sekundernya adalah 300 lilitan. Berapa efisiensi
trafo tersebut ?
Jawab :
ɳ = Ns . is x 100 %
Np . ip
= 300 . 1,5 x 100 %
250 . 2
= 450 x 100 %
500
= 0,9 x 100 % = 90 %
Contoh 8 :
Jika ingin merubah tegangan AC 220 V
menjadi 110 V dengan suatu transformator, tegangan 220 V dihubungkan dengan
kumparan primer yang memiliki 1000 lilitan, lalu berapa jumlah lilitan pada
kumparan sekunder ?
Jawab :
NP = VP
Ns Vs
1000 = 220
Ns 110
1000/Ns
= 2
Ns =
1000/2 = 500 lilitan
Contoh 9 :
Suatu rangkaian
seri RC mempunyai arus 2 A dengan R = 100 ohm dan XC = 240 ohm. Hitunglah
:
a. Berapa VR,
VC dan V
b. Ï•
dan Z
Jawab :
a. VR =
i . R = 2 . 100 = 200 volt
VC
= i . XC = 2 . 240 = 480 volt
V
= √VR2 + VC2
= √2002 + 4802
= √40000 + 230400
= √270400 = 520 volt
b. tg Ï•
= XC/R = 240/100 = 2,4
Ï•
= 67,38o
Z = √R2 + XC2
= √1002 + 2402
= √10000 + 57600
= √67600 = 260 ohm
Contoh 10 :
Pada rangkaian di samping, hitunglah :
a. Tegangan pada tiap elemen
b. Impedansi
c. Fase rangkaian
d. Tegangan
Jawab :
a. VR = i . R = 1 . 8 = 8 volt
VL = i . XL = 1. 20 = 20 volt
VC
= i . XC = 1 . 10 = 10 volt
b. Z = √R2 + (XL – XC)2
= √82 + (20 – 10)2
=√64 + 100
= √164 = 12,8 ohm
c. tg Ï• =
XL – XC /R
= 20 – 10/8
= 10/8 = 1,25
Ï• = 51,34o
d. V = i . Z
= 1 . 12,8 = 12,8 volt
Artikel Terkait :
Rangkaian Arus Bolak-Balik (Resistor, Induktor, Kapasitor Dan Nilai Efektif)
Artikel Terkait :
Rangkaian Arus Bolak-Balik (Resistor, Induktor, Kapasitor Dan Nilai Efektif)




Thank you
BalasHapus