Novel Fantasi Nietvermeld Bab 25
“ Argh,
sudah!. Lebih baik sekarang kalian beri tahu kami, bagaimana kami bisa berada
di dalam rumah itu tadi?. Sebenarnya, itu rumah siapa?. Apa itu rumah keluarga
kami? ”, tanya Daniela dengan menggebu-gebu. Dia benar-benar kesal dengan
situasi yang membingungkan ini.
“ Kalian
itu sekelompok dengan kami. Kita sedang melakukan perjalnan ke ibu kota.
Kabarnya, agar kita bisa pulang ke kota asal kita, kita harus tiba di sana ”,
jawab Kyle.
“ Kau
tidak sedang membohongi kami, kan? ”.
“
Bagaimana bisa aku membohongimu, sayang?. Kau kan pacarku ”, kata Kyle lalu
tersenyum manis.
Ucapannya
membuat Daniela terkejut dan tersipu malu. Kyle melihat pipi gadis itu memerah.
Dan itu semakin membuatnya tersenyum lebar, hingga menampakkan barisan gigi
depannya.
“
Apa.....? ”. Belum juga Zac menyelesaikan ucapannya, Kyle langsung mengacungkan
jari telunjuk beberapa sentimeter di depan bibir Zac seraya mengisyaratkannya
untuk menutup mulut. Zac pun menggeram kesal.
“ Dia mau
bicara apa?. Kenapa kau melarangnya bicara? ”, tanya Daniela.
“ Dia mau
mengatakan kalau kemarin kau baru saja memutuskan hubungan kita secara sepihak.
Jadi, dia mau mengatakan kalau aku ini mantanmu. Please, sayang!. Jangan
putusin aku!. Aku masih mencintaimu. Kamu juga, kan?. Masa hanya karena masalah
kecil, kita putus ”, jawab Kyle.
Daniela
kembali tersipu malu.
“
Hoek....menjijikkan! ”, gumam Zac sambil membelakangi semua teman-temannya.
“ Sepertinya dia lelaki yang baik sebab tadi dia mau
menegur ucapan temannya yang kasar itu ”, gumam
Daniela dalam hati. Tentu saja dia tidak ingat bahwa teman Kyle yang kasar itu
adalah sepupunya, Zac. “ Mungkin saja aku
memang berpacaran dengannya sebab kalau dia bukan lelaki baik-baik, aku tidak
mungkin mencintainya. Tapi, bisa jadi masalah yang baginya kecil, ternyata
bagiku besar. Ya, Tuhan. Kenapa aku bisa lupa semuanya? ”.
Daniela
kembali menatap Kyle yang sejak tadi terus tersenyum manis sambil menatapnya. “
Tidak bisa!. Aku tetap marah padamu apalagi aku tidak ingat masalah apa yang
menyebabkan aku memutuskan hubungan kita. Aku yakin aku tidak mungkin
sembarangan mengambil keputusan ”, ucapnya akhirnya.
“
Oke-oke!. Tapi kasih aku kesempatan! ”, kata Kyle.
Daniela
hanya diam.
“
Baiklah!. Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan kita. Aku harap sepanjang perjalanan
kita ke ibu kota negeri ini, kamu bisa merasakan bahwa aku masih mencintaimu.
Aku akan selalu melindungi kamu ”.
Daniela
menghampiri teman-temannya. “ Bagaimana teman-teman?. Kita ikut saja ya dengan
mereka!. Bagaimanapun kita butuh laki-laki yang bisa melindungi kita. Kalian
lihat saja perkelahian di kota tadi ”.
“ Ya,
sepertinya mereka laki-laki yang baik, kecuali yang satu itu! ”, kata Ashley
yang lalu melirik ke arah Zac.
Zac yang
menyadari bahwa Ashley menatapnya pun balas menatapnya dengan dingin. “ Kenapa dia melihatku seperti itu?.
Bukankah dia menyukaiku? ”.
“ Oke!.
Kita bersedia ikut dengan kalian sebab sepertinya anak laki-laki ini memang
adik dari temanku ”, kata Daniela sambil menunjuk Ben.
Mereka pun
memulai perjalanan. Para lelaki menjadi penunjuk jalan bagi para perempuan.
Tiba-tiba
Zac mendekati Kyle. “ Aku tidak sudi kau menjadi bagian dari keluargaku! ”,
bisiknya.
Kyle
tertawa pendek. “ Kau tenang saja!. Aku bicara begitu hanya agar mereka mau
ikut dengan kita ”.
Seth dan
Ben terkejut mendengar ucapan Kyle.
“ Kyle,
apa ini akan baik-baik saja?. Maksudku, bagaimana kalau tiba-tiba Danny
benar-benar menyukaimu ”, tanya Seth dengan berbisik setelah Zac berjalan
mendahului semua teman-temannya.
“ Berarti
aku benar-benar memikat! ”.
“ Ini
serius Kyle!. Jangan bercanda! ”, keluh Seth.
“ Aku juga
tidak bercanda. Anggap saja seperti dia memang tiba-tiba menyukaiku tanpa dia
menjadi amnesia. Benar, kan? ”, kata Kyle.
“ Ya, kau
benar! ”, kata Seth sambil menunduk.
“ Hei, kau
menyukai salah satu dari mereka tidak?. Ini kesempatan! ”, bisik Kyle sambil
tersenyum jahil.
“ Apa
maksudmu?. Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan! ”, kata Seth, kesal.
“ Iya, aku
hanya bercanda!. Kau ini terlalu serius. Aku juga tidak mungkin berbuat
macam-macam. Aku tahu norma-norma susila ”.
Ben
menertawakan ucapan Kyle. Sementara Seth hanya diam. Dan Finn sejak tadi
berusaha mendengarkan pembicaraan mereka. Finn terlihat memikirkan ucapan Kyle.
♦♦
Tak lama
kemudian, mereka tiba di depan sebuah gapura. Di sisi kanan dan kiri gapura
terbentang dinding batu bata yang memanjang ke arah yang berlawanan.
“ Kita
sudah tiba di kota berikutnya. Siap-siap guys! ”, kata Kyle.
“ Semoga
kota ini bisa menyambut kedatangan kita dengan baik, seperti kota Achterlijck
”, sahut Seth.
Tanpa
berlama-lama lagi, mereka pun mulai melangkahkan kaki memasuki wilayah kota
yang bersih, tentram dan megah itu.
“ Wow, ini
kota yang indah!. Ya, walaupun kota Welvarend juga kota yang megah, tapi ini
lebih baik. Lebih tentram ”, kata Ben.
“ Di mana
orang-orang di kota ini ?. Kenapa kota ini terlihat sepi ? ”, tanya Finn. Tak
ada yang bisa menjawab pertanyaannya.
Mereka
masuk lebih jauh ke dalam kota itu, hingga mereka menemukan sebuah kedai. Kedai
itu hanya berdiri sendiri di tanah lapang.
“ Lihat,
ada kedai!. Akhirnya, kita bisa makan. Aku tidak masalah jika harus bekerja
mencuci semua piring asalkan aku bisa mendapatkan makanan ”, ujar Ben.
“ Ayo,
kita masuk ke kedai itu! ”, ajak Kyle.
Kyle
membuka tirai yang menutupi pintu utama kedai itu. Ia lalu menjulurkan
kepalanya ke dalam kedai. Kedai itu terlihat lengang, tak ada pengunjung dan
pemilik kedai pun tak terlihat.
“ Permisi!
”, ucap Kyle sambil melangkah perlahan ke dalam kedai. Teman-temannya
mengikutinya di belakang.
“ Permisi!
”, ucap Ben. Tetap tak ada jawaban. Ia pun menggaruk kepalanya yang tak gatal
sebagai pelampiasan kebingungannya.
“ Apa
mungkin pemiliknya sedang pergi ”, kata Danny.
“ Oh,
iya!. Kau benar, sayang!. Bisa jadi! ”, kata Kyle.
“ Orang ini mengaku bersandiwara sebagai pacar Danny agar
para perempuan mau ikut ke ibu kota, tapi kenapa dia terus-menerus menggoda
Danny. Padahal kan mereka sudah bersedia ikut. Menyebalkan! ”, gumam Zac dalam hati.
“ Atau
kedai ini masih tutup? ”, tanya Ashley.
“ Yang benar
saja masih tutup. Kalau sedang tutup, pasti ada tulisan ‘Tutup’! ”, jawab Zac.
“ Aku
hanya menebak! ”, kata Ashley, kesal.
“ Kalau
menebak itu pakai logika! ”, sahut Zac sambil menunjuk pelipisnya.
“ Ternyata
benar, kau ini memang menyebalkan! ”, kata Ashley setengah berteriak.
“ Oh,
iya?. Tapi kelihatannya kau suka denganku ”.
“ Tidak
mungkin! ”, teriak Ashley.
“ Tapi
kenyataannya kau sudah menciumku sebanyak tiga kali. Dia yang bilang! ”, kata
Zac sambil menunjuk Finn.
Ashley
benar-benar syok mendengar ucapan Zac. Ia lalu menatap Finn.
“
Sebenarnya, kau sedang memberikannya nafas buatan waktu itu ”, kata Finn
setengah menunduk.
“ Kau
dengar, kan? ”, kata Zac sambil menertawakan keterkejutan Ashley.
“ Aku
memberimu nafas buatan, bukan menciumu! ”, teriak Ashley.
“ Kenapa
keadaannya jadi seperti ini? ”, gumam Seth.
“ Sama
saja! ”, kata Zac.
Ashley
menggeram kesal. Ia lalu membelakangi Zac. Nafasnya masih terdengar tidak
beraturan. Ia berusaha meredam emosinya.
“ Ada tamu
rupanya! ”, kata seorang wanita berusia 40 tahunan. Ia keluar dari sebuah bilik
di belakang etalase. Nada bicaranya terdengar dingin. Wajahnya terlihat datar.
“ Maafkan,
kami Nyonya!. Kalau kami membuat kegaduhan di kedai Anda!. Dan mengganggu tidur
Anda! ”, ucap Seth sambil mengangguk.
“ Mau
pesan apa? ”, tanya wanita itu masih dengan tatapan yang sama. Kulitnya
benar-benar putih bersih.
“
Sebelumnya, kami ingin mengatakan bahwa kami tidak mempunyai uang untuk makan
di sini. Tapi, kami bersedia melakukan apa pun asalkan kami bisa mendapatkan
sepiring makanan. Benar kan, teman-teman? ”, tanya Seth.
Semua
mengangguk, bahkan ada yang mengiyakan. Hanya Zac yang tidak menggubris ucapan
Seth.
“ Rupanya
kalian bukan warga kota ini ”.
“ Iya,
memang bukan!. Kami sedang melakukan perjalanan menuju ibu kota ”, jawab Seth.
“
Baiklah!. Aku senang bisa membantu kalian. Kalian tidak perlu membayar dengan
apa pun ”.
“ Yang
benar, Nyonya? ”, tanya Seth terperangah.
Teman-teman
yang lain pun menunjukkan reaksi yang sama dengannya.
“ Kau benar-benar baik, Nyonya!. Semoga kau
mendapat balasan yang setimpal ”, ujar Mandy.
“ Terima kasih!. Silahkan duduk!. Aku akan
menyiapkan makanan untuk kalian ”. Wanita itu pun masuk ke dalam bilik,
tempatnya keluar tadi.
Kyle dan
teman-teman segera mengambil posisi duduk masing-masing. Tak lama kemudian,
sepiring makanan dan segelas teh hangat untuk mereka telah siap.
“ Biar aku
bantu mengangkatnya, Nyonya! ”, ujar Mandy yang lekas meraih nampan berisi dua
piring makanan.
Para
perempuan yang lain mengikutinya. Setiap wanita itu keluar dari dalam bilik
membawa nampan lain, mereka pun membantu membawanya ke meja mereka.
“ Kau
hanya tinggal sendiri di kedai ini, Nyonya ? ”, tanya Danny.
“ Iya!.
Semua keluargaku sudah meninggal ”.
Seketika
Kyle dan teman-teman merasa turut prihatin dengan keadaan wanita berambut hitam
legam itu.
“ Kami
turut berduka ”, ucap Danny.
“ Terima
kasih!. Silahkan dinikmati! ”, kata wanita itu. Beliau lalu kembali masuk ke
dalam biliknya.
“ Makanan
ini enak sekali! ”, ujar Ben.
“ Aku
seperti sudah lama tidak makan makanan seperti ini! ”, ujar Kyle.
“ Memang
kenyataannya begitu, kan?. Memang kenyataannya makananmu itu murahan ”, sahut
Zac.
“ Kau
bilang apa barusan ?. Kau sadar tidak, yang sedang kau makan itu juga bukan
makanan hotel berbintang lima ? ”, sahut Kyle.
“
Benar-benar orang yang suka sembarangan kalau berbicara! ”, gumam Ashley
menyindir Zac. Tetapi, ia tidak mau menatap Zac.
“
Perempuan ini benar-benar cari masalah denganku! ”, gumam Zac yang hanya
terdengar oleh Finn yang duduk semeja dengannya.
“ Hei,
kalau kau ingin membalasnya, jangan bersikap seperti biasanya! ”, kata Finn.
“
Maksudmu? ”.
“
Bersandiwara! ”.
“
Maksudmu, aku harus berpura-pura seperti si Brengsek itu ? ”.
“ Yeah,
tapi itu cara yang terbaik saat ini! ”.
Zac
akhirnya terdiam. Ia seperti memikirkan ucapan Finn.
Ketika
mereka hendak berpamitan dengan wanita pemilik kedai setelah mereka
menghabiskan makanan dan minuman mereka, wanita itu tak kunjung keluar dari
dalam biliknya, padahal mereka sudah memanggil wanita itu berkali-kali secara
bergantian. Bahkan, dengan suara yang agak ditinggikan.
“
Sepertinya, dia sudah tertidur pulas! ”, gumam Seth.
“
Bagaimana ini?. Apa kita menghampirinya ke dalam? ”, tanya Ben.
“ Jangan!.
Tidak sopan! ”, jawab Kyle. Kyle memerhatikan sekelilingnya. “ Apakah di sini
tidak ada kertas atau apa pun yang bisa kita gunakan untuk menulis pesan ? ”.
Lissette
memeriksa bagian belakang etalase dan menemukan sebuah memo dan bolpoin. “ Ada
ini! ”.
“ Bagus!.
Tuliskan pesan ucapan terima kasih dari kita! ”, pinta Kyle.
Lissette
pun menuruti permintaan Kyle. “ Sudah! ”.
“ Oke!.
Kita tinggalkan tempat ini! ”, ajak Kyle.
♦♦
Sudah cukup jauh mereka meningglakan kedai itu. Sekarang wilayah kota di sekitar mereka lebih padat. Terdapat
lebih banyak bangunan di sekitar mereka. Akan
tetapi, sejak tadi tak ada
seseorang pun yang
mereka jumpai.
Tiba – tiba satu-persatu dari mereka
merasa merinding. Bahkan, Ben merasa bulu kuduknya berdiri.
“ Kalian merasakan hal yang sama denganku tidak sih ? ”,
tanya Ben sambil mengusap-usap tengkuknya.
“ Iya, aku merasakannya! ”, ujar Seth.
“ Kota ini seperti tidak berpenghuni ”, ujar Mandy.
“ Tidak mungkin!. Dari segi fisik, kota ini terlihat
bersih dan tertata rapi. Mana mungkin kota ini tidak berpenghuni ”, kata Kyle
dengan ragu-ragu.
“ Tapi, kau juga merasa ada yang aneh kan dengan kota ini
? ”, tanya Ben.
“ Iya, sih!. Tapi, mungkin bukan seperti yang kalian
pikirkan ”, jawab Kyle.
“ Seharusnya, tadi kita menanyakan tentang kota ini
kepada wanita di kedai itu ”, kata Finn.
“ Maunya sih begitu!. Tapi kau tahu sendiri kan, dia
langsung kembali masuk ke dalam biliknya dan tidak kunjung keluar ketika kita
memanggilnya ”, sahut Kyle.
“ Maksudku, sebelum dia selesai menyuguhkan kita makanan
dan minuman ”, kata Finn.
“ Jadi, apa sebaiknya kita kembali ke kedai itu ? ”,
tanya Seth.
“ Aku tidak mau!. Kedai itu sudah cukup jauh! ”, ujar
Lissette diikuti dengan anggukan teman-teman perempuannya.
“ Oh, mungkin ini hari libur!. Dan di hari libur,
biasanya para warga kota ini memilih berada di dalam rumah masing-masing.
Quality time bersama keluarga ”, kata Kyle.
“ Yeah, daripada berpikiran buruk yang hanya membuat
ketakutan lebih baik aku menyetujui pemikiranmu! ”, sahut Seth.
Kyle memaksa tertawa. “ Sudahlah!. Kalian jangan takut!.
Abaikan saja!. Kita kan hanya menumpang lewat. Justru lebih baik seperti ini,
kan?. Tidak ada yang mengganggu ”.
♦♦
Selama berbincang – bincang, mereka masih terus berjalan
menelusuri kota yang belum mereka ketahui
namanya itu, hingga mereka tiba di depan sebuah skatepark. Di sana ada sekumpulan
remaja sedang bermain skateboard. Seorang
remaja tengah meluncur di atas bowl, arena bermain skateboard berbentuk
mangkuk. Remaja lainnya menonton, menunggu giliran untuk melakukan pertunjukkan.
Akhirnya, Kyle dan teman-teman
menemukan warga kota itu. Tetapi, para
remaja yang sebaya dengan mereka itu tak menyadari kedatangan mereka.
“ Wow, skatepark!.
Kita berhenti di sini sebentar ya!. Rasanya sudah lama
aku tidak bermain skateboard! ”, ujar Kyle senang.
Kyle lekas menghampiri para remaja
itu dan memulai perkenalan. Mereka tampak bisa menerima kedatangan Kyle. Namun,
tatapan mereka semua kosong. Nada bicara mereka pun juga terdengar dingin sama
seperti wanita di kedai tadi. Namun, Kyle tidak memedulikan hal itu. Ia lebih
fokus kepada papan skateboard yang sudah ada dalam genggamannya sekarang.
Salah seorang remaja mau meminjamkan papan skateboard
padanya. Tanpa ragu lagi, Kyle mulai menunjukkan aksinya di atas bowl.
Di pinggir skatepark terdapat beberapa bangku taman, teman –
teman Kyle beristirahat di sana. Mereka melihat
Kyle bermain skateboard.
“ Dasar kampungan!. Awas saja kalau dia lama!. Aku mau
berhenti dan duduk di sini, bukan untuk dirinya. Tapi, karena aku memang butuh
istirahat ”, gumam Zac.
Carey memerhatikan sekeliling skatepark tiba-tiba
pandangannya tertuju pada sebuah puri.
“ Teman-teman lihat di sana ada sebuah puri! ”, ujar
Carey.
“ Mana?. Aku tidak melihatnya ”, kata Lissette.
“ Itu di sana!. Masa kalian tidak melihatnya? ”, tanya
Carey. Satu-persatu teman-teman perempuannya menggeleng. Carey pun menghela
nafas, pasrah. “ Ya sudah!. Untuk membuktikannya, kita ke sana!. Siapa tahu
kita bisa mendapatkan sesuatu di sana ”.
“ Oh, iya kau benar!. Mungkin kita bisa mendapatkan
pakaian ganti ”, ujar Mandy.
“ Iya!. Dan mungkin kita juga bisa mandi! ”, ujar Ashley.
Para perempuan pun bangkit dari duduk masing-masing.
“ Kalian mau ke mana? ”, tanya Seth.
“ Ke puri di sana! ”, jawab Carey sambil menunjuk. “
Kalian tidak perlu ikut!. Nanti teman kalian yang sedang bermain skateboard itu
kebingungan mencari kalian ”, lanjutnya.
“ Ya!. Nanti kami pasti akan mencarikan pakaian ganti
untuk kalian juga ”, kata Danny.
“ Tapi teman-teman lebih baik kita sama-sama saja! ”,
pinta Seth.
“ Tidak bisa!. Kami sudah tidak sabar!. Lagi pula ini
untuk menghemat waktu ”, ujar Carey.
“ Puri yang mana sih yang kalian maksud?. Aku tidak melihat
ada puri! ”, ujar Ben sambil mempertajam penglihatannya ke arah yang ditunjuk
Carey tadi.
“ Sejujurnya, kami juga tidak melihat ada puri. Tapi,
Carey begitu yakin. Tidak ada salahnya untuk mengecek dari kejauhan ”, kata
Lissette.
“ Aku tidak suka pergi ke puri!. Apa bagusnya?. Puri,
istana boneka atau semacamnya sangat tidak menarik. Membosankan! ”, gumam Zac.
“ Ya sudah!. Nanti kalau kalian tidak kunjung kembali,
kami akan menyusul kalian ”, kata Seth, pasrah.
Akhirnya, para perempuan pergi meninggalkan mereka.
“ Kenapa
aku merasa khawatir ? ”, gumam Seth dalam
hati. Ia terlihat gelisah. Sesekali ia melihat ke arah Kyle dan sesekali ia
melihat ke arah para perempuan yang berjalan memunggunginya.

Komentar
Posting Komentar