Hari Tanpa Bayangan (Kulminasi Utama) Dan Deklinasi Matahari
Pada tanggal 11 Oktober 2019 pukul 11.25 WIB di Semarang,
Banjarnegara, Banyumas dan Purbalingga terjadi fenomena di mana matahari tepat
berada di posisi paling tinggi di langit atau terjadi saat deklinasi matahari
sama dengan lintang pengamat.
Deklinasi adalah jarak dari ekuator langit ke benda
langit. Ekuator langit adalah perpanjangan ekuator bumi ke bola langit. Ekuator
tertinggi adalah Kutub Utara (90o Lintang Utara) dan Kutub Selatan
(-90o Lintang Selatan).
Dalam periode semu harian, deklinasi matahari selalu
berubah – ubah karena kemiringan antara ekliptika (garis edar matahari tahunan)
dengan ekuator langit yang mencapai 23,5o (matahari berada di daerah
utara khatulistiwa) atau -23,5o (matahari berada di
daerah selatan khatulistiwa). Deklinasi matahari menyebabkan waktu siang hari
di suatu belahan bumi menjadi lebih lama atau lebih dari 12 jam.
Berikut ini deklinasi matahari per tahun :
a. Tanggal 21 Maret, deklinasi matahari mencapai 0o.
b. Tanggal 22 Juni, deklinasi matahari mencapai 23,5o.
c. Tanggal 23 September, deklinasi matahari mencapai 0o.
d. Tanggal 22 Desember, deklinasi matahari mencapai
-23,5o.
Rumus Cooper :
δ = 23,45o sin [360o x (284
+ N)]
365
Keterangan :
N adalah bilangan hari dalam satu tahun.
Contoh :
Hitunglah deklinasi matahari pada tanggal 17 November
2019 pukul 12.00 waktu lokal!
Jawab :
Hitunglah nilai N dari tanggal 17 November terlebih
dahulu.
N = 31 + 28 + 31 + 30 + 31 + 30 + 31 + 31 + 30 + 31 +
17 = 321
δ = 23,45o sin [360o x (284
+ N)]
365
= 23,45o
sin [360o x (284 + 321)]
365
= 23,45o
sin [0,98o x 605]
= 23,45o
sin [592,9o]
= 23,45o
x -0,79 = -18,525o = -18,53o
Deklinasi matahari yang sama dengan lintang pengamat
menyebabkan terjadinya kulminasi matahari, yaitu peristiwa saat matahari berada
tepat di atas kepala pengamat (titik zenit) atau di atas garis khatulistiwa.
Hal ini mengakibatkan bayangan benda tegak akan terlihat menghilang karena
bertumpuk dengan benda itu sendiri. Fenomena hari itu dikenal dengan nama Hari
Tanpa Bayangan atau kulminasi utama.
Fenomena ini juga ditandai dengan suhu udara yang
lebih panas daripada hari biasanya. Fenomena ini terjadi dua kali dalam setahun
di daerah tropis.
Kota – kota lainnya yang pernah mengalami fenomena
Hari Tanpa Bayangan di tahun 2019, antara lain :
a. Bogor pada tanggal 10 Oktober 2019 pukul 11.39 WIB.
b. Jepara pada tanggal 10 Oktober 2019 pukul 11.24
WIB.
c. Purworejo, Cilacap dan Kebumen tanggal 13 Oktober
2019.
d. Surabaya tanggal 12 Oktober 2019 pukul 11.15 WIB.
e. Denpasar tanggal 16 Oktober 2019 pukul 12.04 WITA.
f. Mataram tanggal 16 Oktober 2019 pukul 12.01 WITA.
g. Kupang tanggal 20 Oktober 2019 pukul 11.30 WITA.
h. Sumenep dan Bangkalan tanggal 11 Oktober 2019 pukul
11.15 WIB.
i. Pamekasan, Sampang, Sidoarjo, Gresik dan Lamongan
tanggal 12 Oktober 2019 pukul 11.12 – 11.16 WIB.
Komentar
Posting Komentar