Serba-Serbi Suhu (Skala Suhu Dan Pemuaian)
Benda dengan suhu tinggi akan
terasa panas, sedangkan benda dengan suhu rendah akan terasa dingin. Kepekaan
suatu zat terhadap perubahan suhu disebut sifat termometrik. Kepekaan suatu zat
merupakan dasar pengukur suhu suatu zat.
Suhu mempengaruhi hasil
pengukuran dari besaran massa, besaran panjang, besaran kuat arus listrik, laju
reaksi (kecepatan reaksi), pelarutan, volume, kalor jenis, hambatan jenis,
warna benda, derajat keasaman (pH) dan lain-lain.
Pada tanggal 21 Juli 1983, Stasiun
Vostok, Antartika pernah mencatat suhu paling dingin di bumi adalah -89,2oC.
Sementara predikat ibu kota terdingin di dunia adalah Ulan Bator, Mongolia yang mana pada bulan Desember-Januari, suhu di kota itu bisa mencapai -30 derajat Celsius. Musim panas di kota Ulan Bator, Mongolia lebih pendek daripada musim dingin di sana.
Sementara predikat ibu kota terdingin di dunia adalah Ulan Bator, Mongolia yang mana pada bulan Desember-Januari, suhu di kota itu bisa mencapai -30 derajat Celsius. Musim panas di kota Ulan Bator, Mongolia lebih pendek daripada musim dingin di sana.
Termometer
Termometer adalah alat untuk
mengukur suhu. Termometer terdiri atas empat jenis, yaitu termometer Celcius,
termometer Reamur, termometer Fahrenheit dan termometer Kelvin.
Setiap termometer memiliki
titik tetap/acuan atas dan titik tetap/acuan bawah. Titik acuan atas adalah
suhu titik didih air pada tekanan udara 1 atmosfer (atm) di pantai. Titik acuan
bawah adalah suhu titik lebur es pada tekanan udara 1 atmosfer (atm). Di antara
kedua titik acuan dibuat skala suhu.
Keterangan :
1 atm = 101.325 pascal (Pa)
atau 101.325 bar
1 bar = 100.000 pascal (Pa)
1 Pa = 1 N (Newton) = 1 kg / m.s2
m2
Satuan pascal dan bar
digunakan untuk menentukan tekanan atau tegangan.
1 atm = 76 cmHg atau 7600
mmHg
Satuan cmHg digunakan pada
barometer air raksa yang merupakan barometer tua.
Titik didih adalah suhu di
mana tekanan uap zat cair sama dengan tekanan udara. Semakin banyak uap yang
terdorong ke atas, semakin mudah suatu zat cair mendidih. Semakin banyak uap
yang terdorong ke bawah, semakin sulit suatu zat cair mendidih, sehingga titik
didih menjadi lebih tinggi.
Titik didih suatu zat cair
bergantung pada di mana zat cair tersebut diletakkan. Semakin tinggi suatu
tempat, maka semakin rendah tekanan udaranya.
Hal itu disebabkan karena semakin sedikit beban udara dari bagian atas
yang harus ditanggung oleh udara di bawahnya.
Tekanan udara dapat diukur
menggunakan barometer. Barometer terbagi menjadi dua jenis, yaitu barometer air
raksa dan barometer aneroid (barometer kering atau altimeter). Altimeter biasa
digunakan pada pesawat terbang untuk mengukur tinggi tekanan udara di atas permukaan
air laut.
Berikut ini adalah penetapan
titik acuan pada skala suhu termometer :
- Termometer Celcius (TC)
memiliki titik acuan bawah 0 derajat (titik beku air) dan titik acuan atas 100
derajat (titik didih air). Skala suhunya adalah 100 skala.
- Termometer Reamur (TR)
memiliki titik acuan bawah 0 derajat (titik beku air) dan titik acuan atas 80
derajat (titik didih air). Skala suhunya adalah 80 skala.
- Termometer Fahrenheit (TF)
memiliki titik acuah bawah 32 derajat (titik beku air) dan titik acuan atas 212
derajat (titik didih air). Skala suhunya adala 180 skala.
- Termometer Kelvin memiliki
titik acuan bawah 273 derajat (titik beku air) dan titik acuan atas 373 derajat (titik didih
air). Skala suhunya adalah 100 skala.
Dari termometer celcius,
termometer reamur dan termometer fahrenheit berlaku hubungan sebagai berikut :
TR = 4/5 TC
= 4/9 (TF-32)
TC = 5/4 TR
= 5/9 (TF-32)
TF = 9/5 TC
+ 32 = 9/4 TR + 32
Rumus
Konversi Suhu Antara Celcius, Fahrenheit Dan Kelvin
Mengubah dari oCelcius
ke oFahrenheit dengan rumus
oF = oC x 1,8 + 3,2
Mengubah dari oFahrenheit
ke oCelcius dengan rumus
oC = (oF – 32)/ 1,8
Mengubah dari oCelcius
ke oKelvin dengan rumus
oK = oC + 273, 15
Mengubah dari oKelvin
ke oCelcius dengan rumus
oC = oK – 273,15
Mengubah dari oFahrenheit
ke oKelvin dengan rumus
oK = (oF + 459,67)
/ 1,8
Mengubah dari oKelvin
Ke oFahrenheit dengan rumus
oF = oK x 1,8 –
459,67
Untuk suhu dalam satuan
Kelvin dan satuan derajat Celcius berlaku hubungan sebagai berikut :
T = t + 273
Keterangan :
T = suhu dalam satuan Kelvin
t = suhu dalam satuan derajat
Celcius.
Untuk mengisi pipa kapiler
termometer menggunakan zat termometrik, yaitu raksa dan alkohol. Penggunaan air
raksa dalam termometer bersifat tidak membasahi dinding kaca, raksa dapat
menghantarkan panas dengan baik, kalor jenis raksa bernilai rendah, jangkauan
ukur zat raksa bernilai lebar karena titik bekunya adalah sekitar -39o
C dan titik didihnya 357o C.
Sedangkan penggunaan alkohol
dalam termometer bersifat membasahi dinding kaca, alkohol suhu yang sangat
rendah biasanya menggunakan zat alkohol karena titik beku alkohol adalah
sekitar -114o C. Untuk suhu yang tinggi tidak dapat menggunakan zat
alkohol karena titik didih alkohol adalah sekitar 78o C. Apabila menggunakan alkohol dalam termometer, air terlebih dahulu diberi tinta
pewarna agar dapat dilihat.
Suhu
normal untuk tubuh manusia adalah 310,15 oK atau 37 oC
atau 98,6 oF.
Rumus Konversi Skala
Termometer
Tx
– Xb = Ty – Yb
Xa
– Xb Ya – Yb
Keterangan
:
Xa = Titik tetap atas termometer X
Xb = Titik tetap bawah termometer X
Tx = Suhu pada termometer X
Ty = Suhu pada termometer Y
Ya = Titik tetap atas termometer Y
Yb = Titik tetap bawah termometer Y
Contoh
:
Jika
suhu es yang melebur diukur dengan termometer X adalah 30oX dan suhu
air yang mendidih diukur dengan termometer X adalah 115oX. Jika suhu
suatu benda diukur dengan termometer Celcius adalah 40oC. Berapa
suhu benda jika diukur dengan termometer X ?
Jawab
:
Karena
dalam soal terdapat keterangan suhu benda yang diukur dengan termometer
Celcius, maka termometer Celcius menjadi perbandingannya. Yang mana titik tetap
atas untuk termometer Celcius adalah 100oC, sedangkan titik tetap
bawah termometer Celcius adalah 0oC.
Di
sini, termometer Celcius dinyatakan sebagai termometer Y karena suhu benda yang
dicari adalah yang diukur dengan termometer X.
Maka,
Tx
– 30 = 40 - 0
115-30 100 - 0
Tx
– 30/85 = 40/100
Tx
– 30 = 0,4 x 85
Tx
– 30 = 34
Tx
= 34 + 30 = 64
Jadi,
suhu benda tersebut jika diukur dengan termometer X adalah 64oX.
Selain
ketiga skala suhu yang tersebut di atas, terdapat derajat skala suhu lainnya,
yaitu :
Rankine (oR
atau oRa)
Titik
nol pada skala Rankine adalah derajat mutlak.
Satu
derajat Rankine (459,67oR) sama dengan satu derajat Fahrenheit (0oF)
Rumus
:
Mengubah
dari oRankine ke oFahrenheit dengan rumus
oF =
oR – 459,67
Mengubah
dari oFahrenheit ke oRankine dengan rumus
oR =
oF + 459,67
Mengubah
dari oRankine ke oKelvin dengan rumus
oK =
oR : 1,8
Mengubah
dari oKelvin ke oRankine dengan rumus
oR =
oK x 1,8
Mengubah
dari oRankine ke oCelcius dengan rumus
oC =
(oR : 1,8) – 273,15
Mengubah
dari oCelcius ke oRankine dengan rumus
oR =
(oC + 273,15) x 1,8
Mengubah
dari oRankine ke oReamur dengan rumus
oRe
= (oR/1,8 + 273,15) x 0,8
Mengubah
dari oReamur ke oRankine dengan rumus
oR =
oRe x 2,25 + 491,67
Mengubah
dari oRankine ke oNewton dengan rumus
oN =(oR-491,67)
x 11/60
Mengubah
dari oNewton ke oRankine dengan rumus
oR =
oN x 60/11 + 491,67
Mengubah
dari oRankine ke oRØmer dengan rumus
oRØ = (oR-491,67)
x 7/24 + 7,5
Mengubah
dari oRØmer ke oRankine dengan rumus
oR =
(oRØ –
7,5) x 24/7 + 491,67
Delisle atau de Lisle
(oDe)
Skala
Delisle memiliki titik acuan bawah 0 derajat (titik beku air) dan titik acuan
atas 150 derajat (titik didih air).
Rumus
:
Mengubah
dari oDelisle ke oCelcius dengan rumus
oC = 100 – oDe x
2/3
Mengubah
dari oCelcius ke oDelisle dengan rumus
oDe
= (100 – oC) x 1,5
Mengubah
dari oDelisle ke oFahrenheit dengan rumus
oF = 120 – oDe x
1,2
Mengubah
dari oFahrenheit ke oDelisle dengan rumus
oDe
= (212 – oF) x 5/6
Mengubah
dari oDelisle ke oKelvin dengan rumus
oK = 373,15 – oDe x
2/3
Mengubah
dari oKelvin ke oDelisle dengan rumus
oDe
= 373,15-oK x 1,5
Mengubah
dari oDelisle ke oRankine dengan rumus
oR = 671,67 – oDe
x1,2
Mengubah
dari oRankine ke oDelisle dengan rumus
oDe
= (671,67-oR) x 5/6
Mengubah
dari oDelisle ke oNewton dengan rumus
oN = 33-oDe x 0,22
Mengubah
dari oNewton ke oDelisle dengan rumus
oDe
= (33 - oN) x 50/11
Mengubah
dari oDelisle ke oReamur dengan rumus
oRe = 80-oDe x 8/15
Mengubah
dari oReamur ke oDelisle dengan rumus
oDe
= (80-oRe) x 1,875
Mengubah
dari oDelisle ke oRØmer dengan rumus
oRØ = 60 –oDe x 0,35
Mengubah
dari oRØmer ke oDelisle dengan rumus
oDe = (60 –oRØ) x 20/7
Newton (oN)
Skala Newton memiliki titik
acuan bawah 0 derajat (titik beku air) dan titik acuan atas 33 derajat (titik
didih air). Skala Newton sama dengan 100/33 derajat Kelvin atau derajat
Celcius.
Rumus :
Mengubah
dari oNewton ke oCelcius dengan rumus
oC =
oN x100/33
Mengubah
dari oCelcius ke oNewton dengan rumus
oN =
oC x 33/100
Mengubah
dari oNewton ke oFahrenheit dengan rumus
oF =
oN x 60/11 + 32
Mengubah
dari oFahrenheit ke oNewton dengan rumus
oN =
(oF – 32) x 11/60
Mengubah
dari oNewton ke oKelvin dengan rumus
oK =
oN x 100/33 + 273,15
Mengubah
dari oKelvin ke oNewton dengan rumus
oN =
(oK – 273,15) x 33/100
Mengubah
dari oNewton ke oRankine dengan rumus
oR =
oN x 60/11 + 491,67
Mengubah
dari oRankine ke oNewton dengan rumus
oN =
(oR – 491,67) x 11/60
Mengubah
dari oNewton ke oDelisle dengan rumus
oDe
= (33-oN) x 50/11
Mengubah
dari oDelisle ke oNewton dengan rumus
oN =
33 – oDe x 0,22
Mengubah
dari oNewton ke oReamur dengan rumus
oRe
= oN x 80/33
Mengubah
dari oReamur ke oNewton dengan rumus
oN =
oRe x 33/80
Mengubah
dari oNewton ke oRØmer dengan rumus
oRØ = oN
x 35/22 + 7,5
Mengubah
dari oRØmer ke oNewton dengan rumus
oN =
(oRØ –
7,5) x 22/35
Reamur (oRe)
Skala
Reamur memiliki titik acuan bawah 0 derajat (titik beku air) dan titik acuan
atas 80 derajat (titik didih air). Di
negara Perancis dan Jerman, skala Reamur digunakan untuk industri permen dan
keju.
1oRe
= 1,25 oC atau 1,25 oK
Rumus
:
Mengubah
dari oReamur ke oCelcius dengan rumus
oC =
oRe/0,8
Mengubah
dari oCelcius ke oReamur dengan rumus
oRe
= oC x 0,8
Mengubah
dari oReamur ke oFahrenheit dengan rumus
oF =
oRe x 2,25 + 32
Mengubah
dari oFahrenheit ke oReamur dengan rumus
oRe
= (oF – 32) x 0,44
Mengubah
dari oReamur ke oKelvin dengan rumus
oK =
oRe/0,8 + 273,15
Mengubah
dari oKelvin ke oReamur dengan rumus
oRe
= (oK – 273,15) x 0,8
Mengubah
dari oReamur ke oRankine dengan rumus
oR =
oRe x 2,25 + 491,67
Mengubah
dari oRankine ke oReamur dengan rumus
oRe
= (oR /1,8 + 273, 15) x 0,8
Mengubah
dari oReamur ke oDelisle dengan rumus
oDe
= (80-oRe) x 1,875
Mengubah
dari oDelisle ke oReamur dengan rumus
oRe =
80 – oDe x 8/15
Mengubah
dari oReamur ke oNewton dengan rumus
oN =
oRe x 33/80
Mengubah
dari oNewton ke oReamur dengan rumus
oRe
= oN x 80/33
Mengubah
dari oReamur ke oRØmer dengan rumus
oRØ = oRe
x 21/32 + 7,5
Mengubah
dari oRØmer ke oReamur dengan rumus
oRe
= (oRØ –
7,5) x 32/21
RØmer (oRØ)
Skala rØmer memiliki titik acuan
bawah 7,5 derajat (titik beku air) dan titik acuan atas 60 derajat (titik didih
air).
1oRØ
= 40/21 oK atau 40/21 oC
Rumus :
Mengubah
dari oRØmer ke oCelcius dengan rumus
oC =
(oRØ – 7,5) x 40/21
Mengubah
dari oCelcius ke oRØmer dengan rumus
oRØ = oC x21/40 + 7,5
Mengubah
dari oRØmer ke oFahrenheit dengan rumus
oF =
(oRØ – 7,5) x 24/7 + 32
Mengubah
dari oFahrenheit ke oRØmer dengan rumus
oRØ = (oF-32) x 7/24 + 7,5
Mengubah
dari oRØmer ke oKelvin dengan rumus
oK =
(oRØ - 7,5) x 40/21 + 273,15
Mengubah
dari oKelvin ke oRØmer dengan rumus
oRØ= (oK - 273,15) x 21/40 + 7,5
Mengubah
dari oRØmer ke oRankine dengan rumus
oR =
(oRØ - 7,5) x 24/7 + 491,67
Mengubah
dari oRankine ke oRØmer dengan rumus
oRØ = (oR – 491,67) x 7/24 + 7,5
Mengubah
dari oRØmer ke oDelisle dengan rumus
oDe
= (60- oRØ) x
20/7
Mengubah
dari oDelisle ke oRØmer dengan rumus
oRØ = 60 – oDe x 0,35
Mengubah
dari oRØmer ke oNewton dengan rumus
oN =
(oRØ - 7,5) x 22/35
Mengubah
dari oNewton ke oRØmer dengan rumus
oRØ = oN x 35/22 + 7,5
Mengubah
dari oRØmer ke oReamur dengan rumus
oRe
= (oRØ - 7,5) x 32/21
Mengubah
dari oReamur ke oRØmer dengan rumus
oRØ = oRe x 21/32 + 7,5
Pemuaian
Pada umumnya, suatu zat akan memuai jika terjadi kenaikan suhu dan akan menyusut jika terjadi penurunan suhu. Hubungan antara koefisien muai panjang, muai luas dan muai volume adalah γ = 3α dan β = 2α.
Pemuaian
dibedakan menjadi empat jenis berdasarkan perubahan bentuk, yaitu :
a.
Muai Linear Atau Muai Panjang
Muai
linear adalah pertambahan panjang suatu benda jika terjadi kenaikan suhu.
Rumus
Muai Linear :
∆â„“ = â„“ . α. ∆t atau â„“t = â„“ (1 + α .
∆t)
Keterangan
:
∆â„“ =
Pertambahan panjang benda (satuan m)
â„“t = Panjang benda setelah kenaikan suhu
(satuan m)
â„“ = Panjang awal benda (satuan m)
α = Koefisien muai panjang
(satuan oK-1 atau oC-1)
∆t
= Kenaikan suhu (satuan K atau oC)
Pada
∆t berlaku rumus : suhu ketika dinaikan – suhu awal
Contoh
:
Panjang batang rel kereta api masing-masing 10 meter
dipasang berurutan pada suhu 20oC, diharapkan pada suhu 40oC
rel tersebut bersentuhan. Koefisien muai panjang rel kereta api adalah 12 x 10-6
oC-1. Hitunglah jarak/celah antara kedua batang rel kereta api
tersebut pada suhu 20oC!
Jawab
:
Hitung
derajat ∆t terlebih dahulu, yaitu 40 – 20 = 20
∆â„“ = â„“ . α . ∆t
= 10 . 12 x 10-6 . 20
= 10 . 0,000012 . 20
= 0,0024 m
b.
Muai Luas
Muai
luas adalah pertambahan luas bidang suatu benda jika suhu dinaikkan.
Rumus
Muai Luas :
∆A = A . β . ∆t atau At = A
(1 + β . ∆t)
Keterangan
:
A = Luas bidang benda awal (satuan m2)
β = Koefisien muai luas bidang benda (satuan oK-1
atau oC-1)
∆A =
Pertambahan luas bidang benda (satuan m2)
∆t = Kenaikan suhu (satuan oK atau oC)
At =
Luas bidang benda setelah kenaikan suhu (satuan m2)
Contoh
:
Hitunglah
luas sebuah kaca pada suhu 80oC. Jika pada suhu 25oC kaca
berukuran 2 m2 dan koefisien muai panjang adalah 9 x 10-6
oK-1 !
Jawab
:
Yang
diketahui disini adalah nilai α,
yaitu 9 x 10-6. Untuk itu, kita perlu mencari nilai β. Sebelumnya
telah dijelaskan hubungan antara koefisien muai panjang dan muai luas adalah β
= 2α.
Maka, β = 2α = 2 . 9 x 10-6 = 2 .
0,000009 = 0,000018 atau 18 x 10-5
Lalu,
hitung nilai ∆t = 80 – 25 = 55
Jadi,
∆A = A . β . ∆t
= 2 . 0,000018 . 55 = 0,00198 m2
c.
Muai Ruang
Muai
ruang adalah pertambahan volume suatu benda jika suhu dinaikkan.
Rumus
Muai Ruang :
∆V = V . γ . ∆t atau Vt = V
(1 + γ. ∆t)
Keterangan
:
V = Volume
benda awal (satuan m3)
γ = Koefisien muai ruang (satuan oK-1 atau oC-1)
Vt =
Volume benda setelah kenaikan suhu (satuan m3)
∆V =
Pertambahan volume (satuan m3)
∆t =
Kenaikan suhu (satuan oK atau oC)
Contoh
:
Hitunglah
volume air yang tumpah pada bejana yang berisi 1 liter air pada suhu 20oC
dan dipanaskan sampai 90oC. Jika koefisien muai panjang bejana
adalah 3 x 10-6 oC-1 dan koefisien muai volume air adalah
2 x 10-4 oC-1
Jawab
:
∆t = 90 - 20 =
70
Volume air =
Va
Volume bejana
= Vb
Va
= Vb = 1 liter
γb = 3α = 3 . 3 x 10-6 = 3 . 0,000003 =
0,000009 oC-1
∆Vb
= Vb . γb . ∆t
= 1. 0,000009 . 70 = 0,00063 m3
∆Va
= Va . γa . ∆t
= 1. 2 x 10-4 . 70 = 1.
0,0002 . 70 = 0,014 m3
V tumpah
= ∆Va - ∆Vb = 0,014 – 0,00063 = 0,01337 liter atau
0,00001337 m3
d.
Muai Gas
Semua
jenis gas memiliki koefisien muai gas yang sama nilainya, yaitu 1/273. Tiga
kemungkinan yang terjadi jika suhu sejumlah gas dinaikkan, yaitu :
-
Volume tetap, sedangkan tekanan berubah
Jika
volume sejumlah gas tetap, maka tekanannya sebanding dengan suhu mutlak, yaitu
0 derajat.
Rumus
:
P1 = P2
T1
T2
Keterangan
:
P1
= Tekanan pada keadaan awal (satuan N.m-2)
P2
= Tekanan pada keadaan akhir (satuan N.m-2)
T1
= Suhu gas mutlak pada keadaan awal
(satuan oK)
T2
= Suhu gas mutlak pada keadaan akhir
(satuan oK)
-
Tekanan tetap, sedangkan volume berubah
Jika
tekanan sejumlah gas tetap, maka volumenya sebanding dengan suhu mutlak, yaitu
0 derajat.
Rumus
:
V1 = V2
T1
T2
Keterangan
:
V1
= Volume pada keadaan awal (satuan m3)
V2
= Volume pada keadaan akhir (satuan m3)
T1
= Suhu gas mutlak pada keadaan awal
(satuan oK)
T2
= Suhu gas mutlak pada keadaan akhir
(satuan oK)
-
Tekanan dan volume berubah
Pada
sejumlah gas, hasil kali volume dan tekanan gas sebanding dengan suhu
mutlaknya.
Rumus
:
P1
. V1 = P2 . V2
T1 T2
*Keterangan
sama dengan keterangan di atas.
Contoh
muai gas :
Gas
oksigen memiliki volume 4 liter pada suhu 0oC dan tekanan 10 N/m2
dimampatkan, sehingga tekanannya menjadi 160 N/m2 dan suhunya naik menjadi 273oC.
Hitunglah volume gas sekarang!.
Jawab
:
P1
. V1 = P2 . V2
T1 T2
10
. 4 = 160 .
V2
0
273
40 x
273 = 160 . V2
10920 = V2
160
68,25
= V2
Anomali Air
Anomali
air adalah keistimewaan yang dimiliki air. Jika suhu naik dari 0oC
menjadi 4oC, maka volume air akan menyusut, sehingga pada 4oC,
massa jenis air yang paling besar adalah 1000 kg.m-3.
Hubungan Atom Dengan Suhu
Derajat mutlak sama dengan 0oK.
Pada suhu derajat mutlak, atom-atom tidak bisa bergerak, tetapi atom-atom tidak
akan pernah kehilangan energi atau energi atom habis karena atom-atom tidak
pernah berhenti bergerak. Setiap atom memiliki energi masing-masing. Kecepatan
gerak atom tergantung pada energi atom masing-masing.
Jika suhu semakin turun, maka
energi atom semakin berkurang dan gerak atom menjadi semakin lambat.
Sebaliknya, jika suhu semakin tinggi, maka energi atom semakin besar dan gerak
atom menjadi semakin cepat.
Dalam satu periode dari kiri ke kanan pada tabel periodik, unsur pada golongan IA - golongan IVA, titik didih dan titik leleh semakin tinggi. Sedangkan unsur pada golongan VA - golongan VIIIA, titik didih dan titik leleh semakin rendah.
Dalam satu golongan dari atas ke bawah pada tabel periodik, unsur pada golongan IA - golongan IVA, titik didih dan titik leleh semakin rendah. Sedangkan unsur pada golongan VA - golongan VIIIA, titik didih dan titik leleh semakin tinggi.
Dalam satu periode dari kiri ke kanan pada tabel periodik, unsur pada golongan IA - golongan IVA, titik didih dan titik leleh semakin tinggi. Sedangkan unsur pada golongan VA - golongan VIIIA, titik didih dan titik leleh semakin rendah.
Dalam satu golongan dari atas ke bawah pada tabel periodik, unsur pada golongan IA - golongan IVA, titik didih dan titik leleh semakin rendah. Sedangkan unsur pada golongan VA - golongan VIIIA, titik didih dan titik leleh semakin tinggi.
Komentar
Posting Komentar