Ion Kompleks, Senyawa Kompleks, Muatan Ion Dan Bilangan Koordinasi
Ion Kompleks
Bilangan Koordinasi
Berikut ini tabel beberapa nama ligan untuk mempermudah dalam penamaan senyawa kompleks :
Ion kompleks terdiri dari kation
logam transisi (berasal dari golongan 3-12 atau IB-VIIIB) dan anion-anion atau
molekul-molekul netral yang membentuk ikatan koordinasi. Kation logam transisi
disebut atom pusat. Anion atau molekul netral yang terikat atau mengelilingi
atom pusat disebut atom donor atau ligan.
Ion kompleks erat hubungannya dengan
ikatan kovalen koordinasi, di mana ligan-ligan yang terikat memberikan
elektronnya untuk atom pusat agar stabil. Ligan harus memiliki pasangan
elektron bebas agar dapat membentuk ikatan kovalen koordinasi dengan atom
pusat.
Atau pembentukan kompleks oleh atom
logam tergantung pada kecenderungan atom tersebut untuk mengisi orbital-orbital
kosong dalam usaha mencapai konfigurasi elektron yang stabil.
Dalam proses polarisasi dan
deformasi, kation dengan muatan besar, ukuran ligan yang besar dan memiliki
konfigurasi elektron yang tidak sama dengan gas mulia akan lebih disukai.
Polarisasi adalah kecenderungan
suatu atom dalam molekul kovalen untuk membentuk kutub negatif dan kutub
positif karena adanya perbedaan nilai keelektronegatifan antara atom-atom yang
membentuk kutub tersebut.
Deformasi adalah perubahan bentuk,
posisi dan dimensi suatu molekul.
Teori Alfred Werner
Alfred Werner
adalah ilmuwan berkebangsaan Swiss. Ia mengemukakan suatu teori mengenai ikatan
yang terbentuk dalam suatu kompleks.
- Dalam senyawa
kompleks, ion logam menjadi ion pusat dapat memiliki dua macam valensi, yaitu valensi primer dan valensi sekunder.
- Logam pusat
memiliki kecenderungan untuk menjenuhkan valensi.
- Valensi
primer diisi oleh spesi berupa kation dan tidak dapat menentukan bentuk geometri
dari kompleks. Jumlah spesi yang mengisi valensi primer disebut bilangan
oksidasi. Bilangan oksidasi dapat diionkan dan diendapkan.
- Valensi
sekunder dapat diisi oleh spesi berupa anion (ligan) atau spesi netral. Spesi
yang mengisi valensi sekunder terikat dengan kuat dan memiliki kedudukan khusus
dalam ruang. Jumlah spesi yang mengisi valensi sekunder disebut bilangan
koordinasi. Bilangan koordinasi dapat menentukan bentuk geometri dari kompleks.
- Pada senyawa kompleks Werner tidak memiliki ikatan karbon dan kompleks sianida (CN-).
- Pada senyawa kompleks Werner tidak memiliki ikatan karbon dan kompleks sianida (CN-).
Berikut ini
bentuk ion kompleks berdasarkan jumlah bilangan koordinasi :
- Jika bilangan
koordinasi adalah dua, maka bentuk ion kompleks adalah linear.
- Jika bilangan
koordinasi adalah empat, maka bentuk ion kompleks adalah tetrahedral atau
square planar.
- Jika bilangan
koordinasi adalah enam, maka bentuk ion kompleks adalah oktahedral.
Teori Sidgwick
Dalam konsep
mengenai ikatan koordinasi, Sidgwick menyatakan bahwa jumlah elektron yang
mengelilingi atom pusat, termasuk elektron yang didonorkan oleh ligan disebut
sebagai bilangan atom efektif (effective atomic number).
Rumus Bilangan
Atom Efektif (EAN)
EAN = (Z-x) +
(n x y)
Keterangan :
Z adalah nomor
atom logam pusat
x adalah
tingkat oksidasi logam pusat
n adalah jumlah
ligan
y adalah jumlah
elektron yang disumbangkan oleh satu ligan
Aturan EAN
adalah EAN sama dengan nomor atom gas mulia yang terdekat dari atom logam
pusat. Meskipun aturan EAN tidak banyak diikuti, tetapi aturan EAN dapat
menunjukkan sifat kemagnetan dari suau senyawa.
Kompleks yang
mengikuti aturan EAN, maka dipastikan bahwa kompleks tersebut bersifat
diamagnetik. Kompleks yang tidak mengikuti aturan EAN, maka dipastikan bahwa
kompleks tersebut bersifat paramagnetik.
Sifat
Kemagnetan
Sifat
kemagnetan dapat ditentukan berdasarkan teori orbital molekul. Orbital molekul
adalah orbital-orbital dari dua atom atau lebih yang saling tumpang tindih
untuk membentuk ikatan kovalen.
- Diamagnetik adalah
bentuk magnetisme yang terjadi apabila suatu benda menghasilkan medan magnet
apabila dikenai medan magnet, sehingga terjadi efek tolak-menolak.
- Paramagnetik
adalah bentuk magnetisme apabila terjadi tarikan yang lemah oleh medan magnet.
- Feromagnetik
adalah bentuk magnetisme apabila terjadi tarikan yang kuat oleh medan magnet.
Ligan
Dalam struktur Lewis, kation logam
transisi berperan sebagai asam Lewis, sedangkan ligan berperan sebagai basa
Lewis. Karena menurut Lewis, asam adalah spesi (adukan) yang bertindak sebagai
penerima pasangan elektron, sedangkan basa adalah spesi yang bertindak sebagai
pendonor pasangan elektron.
Ion logam transisi memiliki enam
orbital atom yang terhibridisasi dengan energi yang sama untuk berikatan dengan
ligan-ligan.
Sepertinya, untuk mengetahui
nama-nama ligan, kita dapat menggunakan struktur Lewis yang mana struktur Lewis
berhubungan dengan hukum duplet dan hukum oktet. Jika dalam molekul terdapat
atom yang bertindak sebagai pendonor pasangan elektron, maka molekul tersebut
memiliki ligan.
Dalam senyawa kompleks atau ion
kompleks, ligan tidak selalu dituliskan dalam tanda kurung. Asalkan terletak
setelah atom pusat, berarti ion tersebut adalah ligan. Ion kompleks dituliskan
dalam kurung siku.
Contoh :
Pada ion kompleks [Cr(H2O)4Cl2]+,
ligannya adalah H2O dan Cl-.
Atau pada ion kompleks [Cr(H2O)5Br]+,
ligannya adalah H2O dan Br.
Sepertinya,
ligan yang hanya terdiri dari satu unsur tidak ditulis di dalam kurung.
Jika ukuran ligan besar, maka jumlah
ligan yang terikat pada ion logam hanya sedikit. Jika ukuran ligan kecil, maka
jumlah ligan yang terikat dalam ion logam lebih banyak.
Ligan yang memiliki ikatan pi dan
elektron tidak berpasangan merupakan pendonor elektron berjumlah ganjil.
Contoh :
Pada senyawa kompleks K[Al(H2O)2(OH)4].
Al3+ adalah atom pusat sedangkan H2O (hidrogen
dioksida/air) dan OH- (hidroksida) adalah ligan.
Kenapa atom Al bermuatan 3?
karena atom Al memiliki 3 elektron valensi. Dalam pembentukan senyawa kompleks
K[Al(H2O)2(OH)4], ion Al3+
mengalami hidrasi.
Hidrasi adalah proses di mana ion
dikelilingi oleh molekul-molekul air dalam keadaan tertentu. Hidrasi membantu
menstabilkan ion-ion dalam larutan dan mencegah kation agar tidak bergabung
kembali dengan anion. Ion yang terhidrasi termasuk ion kompleks.
Ligan
Teori Medan
Kristal
Dalam teori
medan kristal dinyatakan bahwa struktur elektronik dari senyawa logam transisi
merupakan senyawa kompleks koordinasi.
Kenapa logam transisi ?
Karena logam transisi dapat membentuk satu atau lebih ion yang stabil dan memiliki orbital d yang kosong.
Berdasarkan teori medan kristal, ikatan antara ion pusat dan ligan dipengaruhi oleh gaya tarik elektrostatik yang mana medan listrik dari ion pusat akan mempengaruhi ligan-ligan yang mengelilinginya. Gabungan dari medan listrik dari ligan-ligan tersebut akan mempengaruhi elektron-elektron pada orbital d dari ion pusat.
Kenapa logam transisi ?
Karena logam transisi dapat membentuk satu atau lebih ion yang stabil dan memiliki orbital d yang kosong.
Berdasarkan teori medan kristal, ikatan antara ion pusat dan ligan dipengaruhi oleh gaya tarik elektrostatik yang mana medan listrik dari ion pusat akan mempengaruhi ligan-ligan yang mengelilinginya. Gabungan dari medan listrik dari ligan-ligan tersebut akan mempengaruhi elektron-elektron pada orbital d dari ion pusat.
Orbital d
dibedakan menjadi dua golongan, yaitu orbital eg (dj) dan orbital t2g
(de). Ketika ligan mendekati ion logam, elektron pada ligan akan berdekatan
dengan beberapa orbital d logam tersebut, sehingga menyebabkan terdegenerasi (kemunduran/tidak
lagi sejajar). Elektron pada orbital d dan elektron pada ligan akan saling
tolak-menolak.
Oleh karena
itu, elektron pada orbital d yang berdekatan dengan ligan akan memiliki energi
yang lebih besar daripada elektron orbital d yang menjauhi ligan. Elektron
orbital d yang menjauhi ligan menyebabkan pemisahan energi pada orbital d,
sehingga orbital eg (dx2-y2 dan dz2) mencapai
duplet dengan energi yang lebih tinggi, sedangkan orbital t2g (dxy, dxz
dan dyz) mencapai triplet dengan
energi yang lebih rendah.
Pemisahan
energi pada orbital d dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
- Sifat ion
logam. Jika reaksi oksidasi lebih besar, maka pemisahan akan menjadi lebih
besar.
- Susunan
ligan di sekitar ion logam.
Elektron
akan cenderung mengisi orbital berenergi lebih rendah (orbital t2g) terlebih
dahulu sebelum mengisi orbital yang berenergi lebih tinggi (orbital eg).
Apabila suatu zat cair didinginkan,
maka gerakan translasi (gerak suatu zat/benda di mana setiap titik pada
zat/benda tersebut menempuh lintasan dan bentuk yang sama) antara molekul
menjadi lebih kecil dan gaya tarikan antara molekul akan semakin besar,
sehingga molekul mengkristal. Panas yang dihasilkan dari proses kristalisasi
disebut panas pengkristalan.
Jenis-Jenis
Ligan
Ligan terbagi menjadi tiga
berdasarkan jenis muatannya, yaitu ligan bermuatan positif, ligan bermuatan
negatif dan ligan bermuatan netral. Jenis ligan yang digunakan dalam senyawa
kompleks adalah ligan netral dan ligan negatif.
Ligan terbagi menjadi tiga jenis
berdasarkan jumlah pasangan elektron yang didonorkan, yaitu :
- Ligan Unidentat/Monodentat adalah
ligan yang memberikan satu pasangan elektron.
- Ligan Bidentat adalah ligan yang
memberikan dua pasangan elektron.
- Ligan Polidentat adalah ligan yang
memberikan lebih dari dua pasangan elektron.
Ligan terdiri atas tiga jenis
berdasarkan jumlah ikatan kovalen koordinasi, yaitu :
- Ligan Monodentat adalah ligan yang
membentuk satu ikatan kovalen koordinasi.
- Ligan Bidentat ligan yang
membentuk dua ikatan kovalen koordinasi.
- Ligan Tridentat ligan yang
membentuk tiga ikatan kovalen koordinasi.
- Ligan Tetradentat ligan yang
membentuk empat ikatan kovalen koordinasi.
Ligan terbagi menjadi dua
jenis berdasarkan kekuatan medannya, yaitu :
- Ligan Kuat adalah ligan
yang memiliki perbedaan besar antara orbital t2g dan
orbital eg. Kompleks dengan medan ligan lemah disebut kompleks spin
rendah.
- Ligan Lemah adalah ligan
yang memiliki perbedaan kecil antara orbital t2g dan orbital eg. Kompleks
dengan medan ligan kuat disebut kompleks spin tinggi.
*Ligan yang terikat pada dua tempat disebut ligan ambidentat.
Cara Menentukan
Muatan Ion
Jika dalam konfigurasi elektron,
elektron valensi kurang dari empat, maka ion
atau atom tersebut bermuatan positif. Jumlah muatannya tergantung dengan
elektron valensinya.
Jika dalam konfigurasi elektron,
elektron valensi lebih dari empat, maka ion atau atom tersebut bermuatan
negatif. Jumlah muatannya adalah dengan menambahkan sejumlah elektron, hingga
mencapai hukum oktet, yaitu sejumlah 8 elektron valensi atau sejumlah 8
elektron valensi pada kulit terluar.
Pada ion kompleks, jumlah muatan ion
kompleks ditulis di luar kurung siku. Pada senyawa kompleks, muatan ion dapat
dihitung jika muatan anion telah diketahui.
Muatan ion kompleks merupakan
penjumlahan dari muatan kation logam transisi dan ligan-ligan.
Contoh 1 :
[Cu(NH3)4]SO4
Berdasarkan keterangan di atas, S dan O memiliki elektron valensi, yaitu 6.
Maka, ion bermuatan negatif dengan jumlah muatannya, yaitu dua. Oleh karena
itu, muatan ion SO4 adalah -2. Atau bisa juga dengan berdasarkan aturan biloks.
Karena SO4 bermuatan -2, maka
muatan ion kompleks adalah +2, sebab pasangan anion pastilah kation.
Jika ligan adalah ligan netral, maka
biloks atom pusat sama dengan muatan ion kompleks. Ligan pada senyawa kompleks
ini adalah NH3, sedangkan Cu adalah atom pusat. Maka, biloks Cu
adalah +2.
Contoh 2 :
Berapa muatan ion kompleks dari
[Fe(H2O)4(S2O3)2]
?
Jawab
:
Muatan
ion kompleks = biloks atom pusat (Fe) + (4 x muatan H2O) + (2 x muatan
S2O3)
Menghitung
muatan H2O dan S2O3 berdasarkan penghitungan
biloks.
Muatan
H2O = (2 x +1) + (-2) =
0 (karena itu muatan H2O
adalah 0)
S2O3 adalah senyawa biner sesama non logam yang berasal dari golongan VIA, maka biloksnya adalah -2.
[Fe(H2O)4(S2O3)2]
= biloks Fe + (4 x 0) + (2 x(-2))
= biloks Fe + (4 x 0) + (2 x(-2))
= 3 + 0 – 4
X = -1
Muatan ion kompleks dari [Fe(H2O)4(S2O3)2]
adalah -1
Penulisannya [Fe(H2O)4(S2O3)2]-1
Senyawa Kompleks
Senyawa
kompleks atau senyawa koordinasi adalah senyawa yang terbentuk dari pembentukan
ikatan kovalen koordinasi antara ion logam dengan ion non logam.
Senyawa
kompleks terdiri atas dua jenis, yaitu senyawa kompleks netral dan senyawa
kompleks ionik. Senyawa kompleks ionik terdiri atas kation dan anion sebagai
ion kompleksnya.
Contoh :
Senyawa
kompleks ionik dengan kation sebagai ion kompleksnya
a. [Ag(NH3)2]Cl
b. [Co(NH3)6](NO3)3
Senyawa
kompleks ionik dengan anion sebagai ion kompleksnya
a. K3[Fe(CN)6]
b. K2 [PtCl4]
Senyawa
kompleks ionik dengan kation dan anion sebagai ion kompleksnya
a. [Co(NH3)6][Cr(Cn)]
b. [Pt(NH3)4][PtCl4]
Tata Nama
Senyawa Kompleks
- Nama ligan netral sesuai dengan
nama molekulnya, kecuali H2O (aqua), NH3 (amina), NO
(nitrosil) dan CO (karbonil).
- Ligan positif, penamaannya
berakhiran –iu. Tetapi, ligan positif jarang sekali ditemukan.
- Ligan dengan akhiran -da, untuk
penamaan ligan negatifnya diganti dengan akhiran –do. Ligan dengan akhiran –it
dan –at, untuk penamaan ligan negatifnya diberi tambahan akhiran –o menjadi
–ito dan –ato.
- Apabila terdapat lebih dari satu
ligan, baik ligan-ligan yang berbeda maupun ligan-ligan yang sama, penamaannya
berdasarkan urutan abjad, tetapi tidak termasuk dengan imbuhan yang didapatnya.
- Apabila terdapat lebih dari satu
ligan yang berbeda, nama ligan negatif ditulis lebih dulu, lalu ligan netral dan
ligan positif.
- Apabila terdapat lebih dari satu
ligan yang sama, maka penamaannya diberi awalan numeral dalam bahasa Yunani.
- Untuk ligan polidentat, jika nama
ligan berawalan huruf vokal, penamaanya menggunakan awalan bis-(dua),
tris-(tiga), tetrakis-(empat), pentakis (5), heksakis (6) dan seterusnya.
- Dalam isomer geometri, jika
terdapat ligan yang sama dengan posisi yang sama atau sejajar, maka penamaannya
mendapat awalan cis-.
- Dalam isomer geometri, jika
terdapat ligan yang sama dengan posisi yang berseberangan, maka penamaannya
mendapat awalan trans-.
- Dalam ion kompleks, nama ligan ditulis berdasarkan urutan abjad.
Penulisan rumus ion kompleks, kation ditulis sebelum nama ligan. Tetapi, pada
penamaannya, nama kation ditulis setelah nama ligan.
- Jika ion kompleks adalah anion, maka nama atom pusatnya diberi akhiran
–at. Jika ion kompleks berupa kation, maka nama atom pusatnya sesuai dengan
nama unsurnya.
- Jika terdapat kation dan anion, maka nama kation ditulis terlebih dahulu,
lalu nama anion dan diikuti dengan bilangan oksidasi atom pusat yang tulis
dalam angka Romawi.
Contoh :
[Cu(NH3)4]SO4 disebut Pentaaminatembaga
(II) sulfat
[Cu(NH3)4][PtCl4] disebut
Tetraaminatembaga (II) tetrakloroplatinat (II)
[Co(NH3)6][Cr(CN)6] disebut
Heksasianokobalt (III) heksasianokromat (III)
- Bilangan oksidasi dari atom pusat ditulis dalam angka romawi dalam
kurung.
Contoh 1:
K[Al(H2O)2(OH)4]
K+ adalah kation, sedangkan [Al(H2O)2(OH)4] adalah anion.
Nama senyawanya
adalah kalium diaquo tetrahidrokso aluminat (III)
Contoh 2 :
K3[Fe(CN)6]
K+
adalah kation, sedangkan [Fe(CN)6] adalah anion.
Nama senyawanya adalah kalium heksasiano ferrat (III)
Contoh 3 :
[Ag(NH3)2]Cl
[Ag(NH3)2] adalah kation,
sedangkan Cl- adalah anion
Nama senyawanya adalah diamin perak (I) klorida
Beberapa nama senyawa koordinasi yang menggunakan nama penemunya, seperti
:
a. Garam Magnus (1802-1879) : [Pt(NH3)4][PtCl4]
yang berbentuk bujur sangkar dan berwarna hijau.
b. Garam Vauquelin (1763-1829) : [Pd(NH3)4][PdCl4] yang berbentuk bujur
sangkar dan berwarna merah muda
c. Garam Zeise (1820-1868) : K[PtCl3(C2H4)].H2O
yang berbentuk planar persegi dan berwarna kuning.
Beberapa nama senyawa koordinasi yang penamaannya berdasarkan warna yang
dimilikinya, seperti :
a. Biru prusia : KFe[Fe(CN)6].H2O
b. Kompleks luteo berwarna kuning : [Co(NH3)5Cl]Cl2
c. Kompleks praseo berwarna hijau : [Co(NH3)4Cl2]
Kini atom pusat senyawa kompleks tidak harus berasal dari unsur transisi.
Unsur logam alkali, unsur alkali tanah dan unsur logam golongan utama juga
dapat digunakan sebagai atom pusat untuk pembentukan senyawa kompleks.
Bilangan Koordinasi
Telah dijelaskan dalam teori Alfred
Werner bahwa jumlah bilangan koordinasi adalah sama dengan jumlah ligan yang
mengelilingi atom pusat.
Bilangan koordinasi memiliki nilai
dua kali lebih besar daripada bilangan oksidasi. Umumnya, bilangan koordinasi bernilai
2, 4, 6 dan 8. Bilangan koordinasi yang sering dijumpai dalam senyawa kompleks
adalah 4 dan 6.
Bilangan koordinasi 4 terdapat pada
ion, seperti Be2+, B3+, Zn2+, Cd2+,
Pt2+, Pd2+, Hg2+ dan Al3+.
Bilangan koordinasi 6 terdapat pada
ion, seperti Fe2+, Fe3+, Co2+, Co3+,
Ni2+, Al3+, Cr3+, Tr3+, Sn4+,
Pb4+ dan Pt4+.
Contoh :
Pada ion kompleks [Fe(NH3)6]3+,
berapa jumlah bilangan koordinasi dari Fe3+
Jawab :
Ligan pada ion kompleks ditulis di
dalam tanda kurung. Jadi pada ion kompleks di atas NH3 merupakan
ligan. Jumlah NH3 adalah 6. Maka, jumlah bilangan koordinasi Fe3+
adalah 6.
Berikut ini tabel beberapa nama ligan untuk mempermudah dalam penamaan senyawa kompleks :
Ligan
|
Nama
|
Ligan
|
Nama
|
F-
|
Fluoro
|
S2O32-
|
Tiosulfato
|
Cl-
|
Kloro
|
C2O42-
|
Oksalato
|
Br-
|
Bromo
|
S2-
|
Sulfido/Tiokso
|
I-
|
Iodo
|
O3-
|
Ozonido
|
CN-
|
Siano
|
O22-
|
Perokso
|
NCS-
|
Isotiosianato
|
Te2-
|
Telurokso/Telurido
|
SCN-
|
Tiosianato/Tiosiano
|
H-
|
Hidro/Hidrido
|
ONO-/NO2-
|
Nitrito
|
SH-
|
Merkapto/Sulfanido
|
NO3-
|
Nitrato
|
RO-
|
Alkoksi
|
NO2-
|
Nitro
|
CO32-
|
Karbonato
|
NO
|
Nitrosil
|
OSO32-
|
Sulfato
|
NH3
|
Amin
|
OH-
|
Hidrokso
|
NH2
|
Amido
|
CO
|
Karbonil
|
NH2-
|
Imido
|
H2O
|
Aqua/Aquo
|
N3-
|
Nitrido
|
O2-
|
Okso
|
N3-
|
Azido
|
Komentar
Posting Komentar