Macam-Macam Sel Darah Pada Manusia
Bila kadar oksigen dalam darah tinggi, maka warna darah menjadi merah
muda. Bila kadar karbon dioksida dalam darah tinggi, maka warna darah menjadi
merah tua.
b. Sel Darah Putih (Leukosit)
Reseptor kemokin (reseptor protein G yang membantu sel imun bermigrasi ke dalam mikroba untuk memerangi mikroba) pada kelenjar getah bening yang banyak terdapat sel T akan mengarahkan sel dendrit menuju pembuluh limfa, lalu menuju ke daerah sekitar kelenjar getah bening regional. Selama migrasi tersebut, sel dendrit mengalami maturasi (proses pematangan) dari sel yang menangkap antigen menjadi sel APC yang akan menstimulasi limfosit T.
Fungsi darah adalah :
- Sebagai alat pengangkut, seperti :
a. Zat-zat makanan dari sel-sel pada jonjot usus ke seluruh tubuh.
b. Oksigen dari alat pernafasan ke seluruh jaringan tubuh.
c. Karbon dioksida dari seluruh jaringan tubuh ke alat pernafasan.
d. Zat-zat metabolisme dari seluruh jaringan tubu ke alat-alat ekskresi.
e. Hormon dari kelenjar endokrin ke bagian tubuh tertentu.
f. Air untuk dialirkan ke seluruh jaringan tubuh.
- Sebagai pertahanan tubuh dari infeksi berbagai kuman penyakit. Fungsi
ini dilakukan oleh zat antibodi, sel darah putih dan keping darah.
- Menjaga stabilitas tubuh dengan memindahkan panas yang dihasilkan
alat-alat tubuh yang aktif ke alat-alat tubuh yang tidak aktif.
- Mengatur keseimbangan asam dan basa untuk mengindari kerusakan jaringan
tubuh.
- Mengatur suhu tubuh. Proses oksidasi darah akan menghasilkan panas tubuh.
- Memisahkan zat-zat sisa yang berguna dan zat sisa yang tidak berguna bagi tubuh. Zat sisa yang tidak berguna bagi tubuh akan dibuang melalui ginjal dan kulit.
- Mengedarkan hormon dan sari-sari makanan.
- Mengatur suhu tubuh. Proses oksidasi darah akan menghasilkan panas tubuh.
- Memisahkan zat-zat sisa yang berguna dan zat sisa yang tidak berguna bagi tubuh. Zat sisa yang tidak berguna bagi tubuh akan dibuang melalui ginjal dan kulit.
- Mengedarkan hormon dan sari-sari makanan.
Darah terbagi menjadi 3 sel darah, yaitu :
a. Sel Darah Merah (Eritrosit)
Sel darah merah berbentuk bikonkaf (bulat, pipih dan bagian tengah yang
cekung), tidak berinti, tidak dapat bergerak bebas dan tidak dapat menembus
dinding kapiler darah. Sel darah merah berwarna kekuningan karena mengandung
hemoglobin.
Hemoglobin adalah protein rangkap yang terdiri dari heme dan globin. Heme adalah senyawa asam amino yang mengandung zat besi yang menyebabkan darah berwarna merah. Globin adalah protein yang mengelilingi dan melindungi molekul heme.
Hemoglobin adalah protein rangkap yang terdiri dari heme dan globin. Heme adalah senyawa asam amino yang mengandung zat besi yang menyebabkan darah berwarna merah. Globin adalah protein yang mengelilingi dan melindungi molekul heme.
Bila kekurangan sel darah merah akan menyebabkan anemia. Penderita anemia
akan mengalami sianosis, yaitu gangguan pada darah untuk pengangkutan oksigen,
sehingga darah menjadi kebiruan.
Fungsi hemoglobin adalah :
- Mengikat oksigen, sehingga menjadi oksihemoglobin.
- Mengikat karbon dioksida, sehingga menjadi karbominohemoglobin.
- Menjaga keseimbangan asam dan basa.
Fungsi sel darah merah adalah :
- Mengangkut dan mengedarkan hemoglobin dan oksigen dari paru-paru ke
jaringan.
- Menjaga keseimbangan asam dan basa cairan darah.
Pada embrio dan bayi, eritrosit dibentuk oleh hati dan limfa. Kedua organ
ini banyak mengandung sel pembentuk sel darah merah yang disebut eritroblast.
Pada orang dewasa, sel darah merah dibentuk di dalam sumsum tulang.
Eritrosit yang telah tua atau mencapai usia 120 hari akan dirombak oleh
sel-sel hati, yaitu sel kupffer dan sel hepatosit.
Sel kupffer akan menghancurkan sel darah yang hampir mati dengan proses
fagositosis, sedangkan sel hepatosit akan melakukan metabolisme hemoglobin
menjadi protein globin untuk sumber energi bagi tubuh dan heme diubah menjadi
pigmen bilirubin.
Eritrosit memiliki membran yang terdiri dari lipid bilayer (lipid dua
lapis). Rangka membran terdiri dari protein-protein, seperti spektrin α dan β, ankyrin, protein 4.1
dan aktin.
Protein-protein berperan dalam mempertahankan bentuk bikonkaf dari membran
eritrosit. Spektrin α dan β saling mengelilingi
membran eritrosit untuk membentuk heterodimer (kompleks dari dua molekul
berbeda), lalu berkumpul dengan posisi kepala membentuk tetramer (oligomer yang
terdiri atas empat monomer atau subunit).
Oligomer adalah jenis polimer dengan jumlah unit berulang yang lebih
sedikit di seluruh strukturnya.
Tetramer terkait pada aktin di sisi ekor dan melekat pada protein band.
Sisi kepala dari rantai spektrin β melekat pada ankirin dan berhubungan dengan
protein band. Protein transmembran bekerja sebagai saluran anion.
Ketidaksempurnaan protein-protein dalam membran eritrosit dapat
menyebabkan kelainan, seperti sferositosis herediter dan eliptositosis
herediter.
Sferositosis herediter adalah jenis anemia hemolitik (kondisi hancurnya
eritrosit lebih cepat dibanding pembentukannya) yang disebabkan defek
(ketidaksempurnaan) molekular pada satu atau lebih protein sitoskeletal (protein
yang membentuk sitoskeleton, flagela atau silia sel) eritrosit. Eliptositosis
herediter adalah kondisi di mana eritrosit berbentuk oval atau elips.
Perubahan komposisi lipid yang disebabkan kelainan kongenital dapat
menyebabkan kelainan pada membran eritrosit. Contohnya, peningkatan kadar
kolesterol dan fosfolipid.
Setiap manusia memproduksi sekitar 1012 eritrosit setiap hari.
Proses pembentukan eritrosit disebut eritropoiesis. Eritropoiesis dimulai dari
sel induk melalui sel progenitor CFU GEMM (unit pembentuk koloni
granulosit, eritroid, monosit dan megakariosit), BFUE atau Burst Forming Unit
Erythroid (unit pembentuk letusan eritroid) dan CFUE atau Colony Forming Unit
Erythroid (unit pembentuk koloni eritroid).
Tingkatan pertama dari perkembangan eritrosit disebut pronormoblas atau proeritroblas
atau rubriblas. Pronormoblas adalah sel besar dengan sitoplasma berwarna biru
tua yang mengindikasikan sifat basofilik dan memiliki pseudopodi (tonjolan),
tidak bergranula, memiliki inti besar di bagian tengah yang berwarna keunguan
dan nukleoli atau nukleolus berjumlah 2-3 buah, serta kromatin halus yang
sedikit menggumpal.
Pronormoblas menyebabkan terbentuknya suatu rangkaian normoblas (sel
darah merah berinti yang terdapat dalam darah) yang semakin kecil melalui
pembelahan sel.
Normoblas mengandung hemoglobin yang berjumlah banyak di dalam
sitoplasma. Normoblas tampak dalam darah apabila eritropoiesis terjadi di luar
sumsum tulang (eritropoiesis ekstramedular) dan terdapat beberapa penyakit pada
sumsum tulang. Normoblas tidak ditemukan di dalam darah tepi manusia yang
normal.
Warna biru pada sitoplasma menjadi semakin pucat seiring dengan hilangnya
RNA dan aparatus yang mensintesis protein. Kromatin inti menjadi semakin padat.
Inti pada normoblas dikeluarkan, lalu berlanjut di dalam sumsum tulang
dan menghasilkan retikulosit (sel eritrosit yang belum matang yang mana hanya terdapat
sekitar 1 % dalam tubuh manusia) yang mengandung sedikit RNA ribosom dan masih
dapat mensintesis hemoglobin.
Retikulosit berukuran sedikit lebih besar dari eritrosit matur (sel darah
merah yang matang). Selama 1-2 hari, retikulosit berada dalam sumsum tulang dan
akan beredar di darah tepi selama 1-2 hari sebelum menjadi matur. Retikulosit
terutama berada di dalam limfa saat RNA hilang seluruhnya. Eritrosit matur
berwarna merah mudah dan berbentuk cakram bikonkraf tak berinti. Satu
pronormoblas menghasilkan 16 eritrosit matur.
Turunan pronormoblas disebut eritroblas basofilik. Sel ini berukuran
lebih kecil daripada pronormoblas. Inti dari eritroblas basofilik berbentuk
bulat dan lebih kecil, kromatinnya lebih padat, serta sitoplasma bersifat
basofilik merata karena banyak mengandung polisom (ribosom yang saling menempel
satu sama lain, hingga membentuk rantai).
Sel pada tahap perkembangan eritroid (eritrosit berinti) disebut
eritroblas polikromatofilik. Warna eritroblas polikromatofilik disebabkan oleh
polisom yang menangkap zat warna basa pada pulasan darah dan hemoglobin yang
dihasilkan mengambil eosin (cairan berwarna merah yang berfungsi sebagai
indikator oksigen).
Inti dari eritroblas polikromatofilik sedikit lebih kecil daripada inti
eritroblas basofilik. Granula kromatin eritroblas polikromatofilik bersifat
kasar dan berkumpul, hingga mengakibatkan inti tampak sangat basofilik. Pada
tahap ini tidak terlihat adanya nukleoli. Eritroblas polikromatofilik merupakan
sel paling akhir dari eritroid yang akan membelah.
Sel darah putih memiliki inti sel (nukleus), dapat bergerak bebas secara
amoeboid (berubah bentuk secara aktif dengan membentuk pseudopodia atau kaki palsu), serta dapat melakukan diapedesis (menembus dinding kapiler darah).
Leukosit akan bersikulasi di dalam tubuh melalui pembuluh limfa dan pembuluh
darah.
Umumnya, leukosit terdiri dari dua tipe, yaitu sel fagosit dan sel limfosit.
Sel fagosit yang bertugas memakan zat asing yang masuk ke dalam tubuh,
sedangkan sel limfosit bertugas mengingat dan mengenali zat asing tersebut.
Jumlah sel darah putih yang kurang dari 6.000 per mm3 disebut
leukopenia. Jumlah sel darah putih yang lebih dari 9.000 per mm3
disebut leukositosis. Jika jumlah leukositosis mencapai 200.000 per mm3
akan menyebabkan leukimia.
Leukositosis dibedakan menjadi dua, yaitu :
- Leukositosis fisiologis : Bila naiknya jumlah leukosit disebabkan
kegiatan jasmani yang terlalu berlebihan dan nyeri yang disebabkan tekanan
jiwa.
- Leukositosis patologis : Bila naiknya jumlah leukosit disebabkan karena
infeksi.
Leukosit dibentuk dalam jaringan retikuloendotelium pada sumsum merah
tulang. Leukosit berfungsi melawan kuman penyakit dan zat asing dalam tubuh
dengan proses fagositosis, serta mengangkut zat lemak, sehingga leukosit lebih
banyak terdapat dalam pembuluh kil (pembuluh getah bening usus) dan limfa.
Leukosit dibedakan
menjadi dua, yaitu granulosit (sel darah putih yang berglanula (memiliki
butiran kecil dan halus)) dan agranulosit (sel darah putih yang tidak
berglanula).
Leukosit
granulosit terbagi tiga, yaitu :
- Basofil
adalah leukosit yang granulanya berbintik-bintik kebiruan, bersifat fagosit
(melawan infeksi, partikel asing dan sel yang mati (apoptosis)) dan jumlahnya
akan meningkat bila terjadi infeksi. Basofil memiliki bintik kebiruan karena
menyerap pewarna basa.
Basofil berumur
beberapa jam atau beberapa hari. Basofil berfungsi melepaskan zat pencegah
alergi dan mengandung heparin (zat anti koagulan).
Keterangan :
Koagulan adalah zat yang digunakan untuk mendestabilisasi (menjadikan tidak
stabil) muatan negatif suatu partikel.
- Eosinofil
adalah leukosit yang granulanya berbintik-bintik merah, bersifat fagosit dan
jumlahnya akan meningkat bila terkena penyakit yang disebabkan oleh cacing
parasit. Eosinofil berjumlah paling sedikit daripada leukosit lainnya.
Eosinofil menyerap pewarna asam.
Eosinofil
berumur 8-12 hari. Eosinofil berfungsi untuk mencegah infeksi parasit. Apabila
jumlah eosinofil meningkat, hal ini menandakan banyaknya parasit dalam tubuh.
- Neutrofil
adalah leukosit yang granulanya berbintik-bintik merah kebiruan, bersifat
fagosit dengan melakukan endositosis (perpindahan makromolekul dan materi yang
sangat kecil ke dalam sel) dengan cara membentuk vesikula (ruang pada sel) baru
yang dikelilingi oleh membran sel dan bentuknya bermacam-macam (baik batang,
membengkok dan bercabang-cabang).
Neutrofil
berumur 6 jam. Neutrofil berfungsi untuk pertahanan tubuh terhadap infeksi
bakteri dan peradangan. Neutrofil yang dihasilkan maupun yang mati dalam jumlah
banyak akan menyebabkan nanah. Kadar neutrofil bisa dijadikan indikator adanya
infeksi dari bakteri.
Leukosit
agranulosit terbagi dua, yaitu :
- Monosit
adalah leukosit yang inti selnya besar dan berbentuk bulat panjang, dapat
bergerak cepat dan bersifat fagosit dengan melakukan endositosis. Monosit lebih
kuat dari neutrofil dalam memakan kuman atau bakteri yang lebih besar. Monosit
diproduksi pada sumsum tulang. Monosit mengumpulkan pecahan atau sisa-sisa yang
menumpuk dari infeksi kepada limfosit sel B dan sel T, sehingga patogen
tersebut dapat dihafal dan dibunuh.
- Limfosit
adalah leukosit yang inti selnya berbentuk bulat oval dan terletak pada salah
satu tepi sel, tidak dapat bergerak dan bersifat fagosit. Limfosit lebih banyak
ditemukan dalam jaringan limfoid daripada dalam aliran darah. Limfosit
berukuran lebih kecil daripada monosit.
Organ limfoid
primer adalah organ yang berperan dalam proses sintesis dan produksi sel imun.
Organ atau jaringan limfoid primer terbagi dua, yaitu kelenjar timus dan sumsum
tulang. Kedua jaringan tersebut berfungsi sebagai tempat diferensiasi limfosit
yang berasal dari jaringan myeloid (sumsum merah). Kelenjar timus sebagai
tempat diferensiasi limfosit T, sedangkan sumsum tulang sebagai tempat
diferensiasi limfosit B.
Pada kelompok
aves, limfosit B berdiferensiasi di dalam bursa fabricius. Bursa fabricius
terletak di bagian dorsal (punggung/belakang) kloaka. Kloaka adalah lubang
silit atau posterior yang berfungsi sebagai lubang saluran pencernaan, urin dan
genital. Bursa fabricius akan berkembang saat usia aves masih muda dan akan
mengalami atrofi (reabsorpsi dan kerusakan jaringan) saat aves telah dewasa.
Selain itu,
pada jaringan limfoid primer ditemukan sedikit sel makrofag dalam anyaman sel
stelata. Tetapi, pada jaringan limfoid primer jarangn ditemukan serabut
retikuler atau jaringan ikat retikuler. Serabut retikuler terbuat dari kolagen
dan glikoprotein (protein yang mengandung satu porsi kabohidrat).
Mediastinum
adalah rongga yang terletak di antara paru-paru kanan dan paru-paru kiri.
Mediastinum berisi jantung, aorta, arteri besar, pembuluh vena besar, trakea,
kelenjar timus, saraf, jaringan ikat, kelenjar getah bening dan salurannya.
Kelenjar timus terletak tepat di depan pembuluh-pembuluh darah besar yang
meninggalkan jantung, serta di dalam organ limfoid primer.
Sel stem
hematopoetik (sel induk atau sel punca pembentuk darah) yang berasal dari
jaringan myeloid akan menjadi progenitor limfoid yang kemudian menjadi
prolimfosit B dan prolimfosit T, lalu menjadi prelimfosit B dan prelimfosit T.
Prelimfosit B akan menjadi limfosit B dengan imunoglobulin D dan imunoglobulin
M. Limfosit B akan mengalami seleksi negatif, sehingga menjadi sel B naif. Sel
B naif akan keluar mengikuti aliran darah menuju organ limfoid sekunder.
Sementara prelimfosit T akan menjadi limfosit T dan menuju kelenjar timus.
Proses
hematopoiesis ekstramedular akan terjadi jika sumsum tulang tidak mampu lagi
memproduksi sel darah putih yang cukup bagi tubuh.
Organ atau
jaringan limfoid sekunder bertugas menangkap dan mempresentasikan antigen,
membantu proses proliferasi dan diferensiasi sel limfosit. Jaringan yang
termasuk jaringan limfoid sekunder adalah MALT (Mucosa Assosiated Lymphoid
Tissue), limfa, tonsil dan limfonodus. Di dalam jaringan limfoid sekunder
terdapat sel retikuler (sel yang dibangun dengan serat atau serabut retikuler)
yang berasal dari jaringan mesenkim (jaringan embrional yang terbentuk pada
masa awal pembentukan embrio).
Untuk tahu
lebih lanjut tentang limfa, tonsil dan limfonodus terdapat dalam artikel Sistem Limfatik Pada Manusia
Jaringan
limfoid mukosa atau MALT terletak pada tunika mukosa, lamina propria, traktus
digestivus, traktus respiratorius (saluran pernafasan) dan traktus
genitourinarius. MALT terdiri dari sel limfosit T terutama CD8, sel limfosit B
dan APC (Antigen Presenting Cell). Pada traktus respiratorius dan traktus
genitourinarius terdapat limfosit difus dan limfonodul soliter.
MALT berperan
untuk menyeleksi mekanisme efektor yang sesuai dan mengatur intensitas untuk
menghindari kerusakan jaringan dan proses imun yang berlebih.
Keterangan
:
Tunika
mukosa adalah salah satu dari empat lapisan penyusun dinding usus halus mulai
dari dalam, hingga luar lumen usus. Lamina propria adalah lapisan tipis jaringan
ikat yang membentuk lapisan lembab yang disebut selaput lendir (selaput mukosa).
Lamina
propria melapisi berbagai tabung dalam tubuh makhluk hidup, seperti saluran
pencernaan, saluran pernafasan dan saluran urogenital (gabungan saluran ginjal
dan saluran kelamin pada ikan).
Traktus
digestivus adalah sistem pencenaan atau sistem gastroinststinal, yaitu mulai
dari mulut sampai anus. Traktus
genitourinarius atau traktus urinarius merupakan sistem yang berfungsi menjaga
keseimbangan internal (homeostatis) dan proses penyaringan darah.
Antigen
Presenting Cell (APC) atau sel penyaji antigen atau sel aksesoris adalah
sel-sel yang menyajikan antigen untuk membentuk kompleks dengan MHC (Major
Histocompatibility Complex) atau kompleks histokompatibilitas utama. Proses ini
disebut presentasi antigen. Sel limfosit T dapat mengenali kompleks ini dengan
bantuan reseptor sel T atau TCR (T Cell Receptor).
Artikel Terkait
:
Limfosit akan
mengalami proliferasi (pengulangan siklus sel tanpa hambatan untuk berkembang biak).
Sebagian limfosit akan mati dan sebagian yang masih hidup akan masuk ke dalam
peredaran darah dan sampai pada organ limfoid sekunder untuk berdiferensiasi
menjadi limfosit T. Lambat-laun produksi limfosit T akan menurun dan jaringan parenkim
(jaringan dasar) akan mengerut, lalu digantikan oleh jaringan lemak yang berasal
dari jaringan ikat interlobular.
Limfosit
terbagi menjadi tiga jenis, yaitu :
1. Limfosit sel
B
Sel B
berdiferensiasi (menjadi jenis sel yang lebih khusus), yaitu sel B memori dan
sel B plasma. Sel B memori bertugas menyimpan atau mengingat gen dari zat
asing. Sel B plasma bertugas menghasilkan antibodi.
Sel B dilapisi
oleh immunoglobulin/antibodi. Sel B berperan dalam imunitas humoral. Sel B
tumbuh dewasa pada sumsum tulang. Dalam hal ini sel B dibantu oleh sel T
helper. Sel T helper akan memanggil sel B untuk berdiferensiasi.
Reseptor
pengenal antigen pada sel B akan mengenali antigen dalam bentuk aslinya.
Folikel limfoid (kantung yang mengandung sel-sel limfosit) pada kelenjar getah
bening dan pada limfa banyak mengandung follicular dendritic cells (FDC) yang
berfungsi mempresentasikan antigen kepada sel B yang teraktivasi.
Berbagai cara
yang dilakukan antibodi untuk mematikan antigen adalah sebagai berikut :
- · Netralisasi (mengikat antigen untuk menghambat aktivitas antigen)
- · Opsonisasi (antibodi yang terikat dengan antigen akan meningkatkan pertautan makrofag terhadap mikroba, serta meningkatkan fagositosis)
- · Algutinasi (penggumpalan antigen dengan mengikat bakteri/virus agar mudah dinetralisir)
- · Presipitasi (pengendapan antigen yang dapat larut. Setelah diendapkan, antigen akan dibuang melalui proses fagositosis)
- · Fiksasi komplemen (antibodi mengikat antigen untuk mengaktifkan sistem komplemen (protein komplemen) untuk membentuk luka/pori pada sel mikroba patogen agar enzim lisozim dapat masuk dan menghancurkan sel patogen)
Sel B
naif adalah antibodi yang belum bersentuhan dengan antigen atau identik dengan
antibodi-antibodi bebas yang akan dibuat dalam jumlah banyak oleh sel-sel
plasma yang berasal dari sel B naif tersebut.
2. Limfosit sel
T
Sel T
berdiferensiasi menjadi sel T helper dan sel T sitotoksik. Sel T helper akan
menstimulasi reaksi inflamatori atau respon antibodi. Sel T helper
berdiferensiasi menjadi sel T memori dan sel T penekan (supressor). Sel T
berasal dari sumsum tulang, tetapi menjadi dewasa pada kelenjar timus. Sel T
merupakan sel limfosit yang pertama kali berinteraksi dengan zat asing karena
memiliki protein pada permukaannya, yaitu CD4 dan CD8. Sel T berperan dalam
imunitas seluler.
Sel T
sitotoksik disebut juga sel T CD8 + karena mengandung glikoprotein
CD8 yang mengikat MHC kelas I.
Sel CD4 disebut
juga sel T-4. Sel T CD4 adalah sel T yang telah disintesis (disusun menjadi sel
yang baru) dalam kelenjar timus. Sel T CD4 akan terbawa dalam sirkulasi darah
dan masuk ke dalam jaringan limfatik. Sel T CD4 mengikat MHC kelas II.
Sel CD8 disebut
juga sel T-8. Sel T CD8 adalah penghancur sel yang terinfeksi virus dan sel
tumor. Sel T CD8 terlibat dalam penolakan dan penerimaan transplantasi
(pencangkokan atau pemindahan) organ. Sel T CD8 mengikat MHC kelas I.
Ketika sel T
sitotoksik menyerang zat asing, sel T helper akan berdiferensiasi menjadi sel T
memori yang akan mengingat kode genetik zat asing tersebut dan sel T penekan
yang akan menghentikan serangan sel T sitotoksik jika zat asing tersebut telah
berhasil dihancurkan.
Jika serangan
zat asing sangat kuat, sehingga sel T tidak sanggup melawan, maka sel T helper
akan memanggil sel B untuk menyerang zat asing tersebut. Peristiwa ini disebut
peralihan dari respon seluler menjadi respon humoral.
Sel T naif
adalah sel limfosit yang meninggalkan kelenjar timus yang belum berdiferensiasi
atau belum bersentuhan dengan antigen. Sel T naif secara rutin bersikulasi
melewati getah bening sebanyak satu kali sehari. Limfosit T naif memerlukan APC
(Antigen Presenting Cells) agar dapat memulai respon imun.
Pada sel epitel
yang berperan sebagai antibodi mengandung sekumpulan APC golongan sel dendrit
yang masih imatur (belum matang) dan belum efisien dalam menstimulasi sel T.
Sel dendrit akan menangkap antigen mikroba yang masuk ke sel epitel dengan cara
fagositosis (apabila antigen berwujud partikel) atau pinositosis (apabila
antigen terlarut).
Saat sel
makrofag (sel yang bersifat fagosit) dan sel epitel bertemu antigen mikroba,
sel epitel akan mengeluarkan sitokin tumor necrosis factor (TNF) dan
interleukin I (IL-I). TNF menyebabkan sel dendrit yang telah menangkap antigen
terlepas dari sel epitel.
Interleukin
mengaktifkan sel T helper, serta menyebabkan sel B berproliferasi dan
berdiferensiasi. Sel T helper mensekresikan dua interleukin bila berinteraksi
dengan antigen presenting cells (APC).
Reseptor kemokin (reseptor protein G yang membantu sel imun bermigrasi ke dalam mikroba untuk memerangi mikroba) pada kelenjar getah bening yang banyak terdapat sel T akan mengarahkan sel dendrit menuju pembuluh limfa, lalu menuju ke daerah sekitar kelenjar getah bening regional. Selama migrasi tersebut, sel dendrit mengalami maturasi (proses pematangan) dari sel yang menangkap antigen menjadi sel APC yang akan menstimulasi limfosit T.
Mikroba yang
berhasil masuk ke dalam sel epitel, sehingga dapat memasuki jaringan parenkim
dan antigen yang terlarut dalam saluran limfa akan ditangkap oleh sel dendrit
imatur dan dibawa ke kelenjar getah bening. Antigen akan dikumpulkan dalam
kelenjar getah bening dan bertemu dengan sel T naif. Sel T interdigitating
dendritic cells akan mengaktifasi sel T naif sebagai respon imun.
3. Limfosit sel
natural killer (NK) adalah limfosit yang membunuh sel tubuh yang tidak
menunjukkan sinyal bahwa sel tersebut tidak boleh dibunuh karena sel tersebut
telah terinfeksi virus atau telah mennjadi kanker.
Limfosit
T diaktivasi (diaktifkan) oleh sel dendritik (sel kekebalan). Sel dendritik
berbentuk seperti dendrit pada neuron. Selain itu, sel dendritik juga berfungsi
mempresentasi antigen dan menyaring cairan tubuh untuk membersihkan partikel
asing.
c. Sel Darah Pembeku (Trombosit)
Trombosit adalah sel darah yang tidak memiliki inti sel, bentuknya tidak
teratur, bila tersentuh benda yang permukaannya kasar akan mudah pecah.
Trombosit dibentuk dalam megakariosit (sel sumsum merah tulang dengan inti sel
berukuran besar dan masuk ke dalam fragmen (pecahan dari suatu sel).
Pada waktu terjadi luka, darah dan trombosit akan keluar bersamaan dan
mengeluarkan enzim trombokinase (protein yang berperan penting dalam mengubah
zimogen) yang masuk ke dalam plasma darah. Zimogen yang akan diubah dalam
plasma darah adalah protrombin (senyawa protein yang larut dalam darah yang
mengandung globulin (zat yang dibentuk dalam hati dengan bantuan vitamin K))
menjadi enzim aktif yang disebut enzim trombin. Perubahan ini dipengaruhi oleh
ion Kalsium dalam plasma darah.
Enzim trombin akan mengubah fibrinogen (protein dalam plasma darah)
menjadi fibrin (protein berupa serat-serat benang yang tidak larut dalam plasma
darah) yang akan menutup luka.
Trombosit berumur 6-8 hari. Jumlah trombosit dalam tiap 1 mm3
darah adalah 200.000-300.000.
Keterangan
:
Zimogen disebut
juga proenzim. Zimogen adalah prekursor (zat pemula) enzim. Zimogen bersifat
tidak aktif. Zimogen diaktifkan hanya bila diperlukan oleh tubuh dengan bantuan
enzim proteolitik. Enzim proteolitik disebut juga protease.
Enzim proteolitik
merupakan enzim golongan hidrolase (enzim yang dapat menguraikan suatu zat
dengan bantuan air) yang akan memecah protein menjadi molekul yang lebih
sederhana. Beberapa contoh zimogen, antara lain pepsinogen, tripsinogen,
kimotripsin dan karbopeptidase.
Globulin diubah
menjadi immunoglobulin, gammaglobulin, hipogammaglobulin dan gemmaglobulin.
Plasma Darah
Zat-zat yang terdapat di dalam plasma darah, antara lain :
a. Zat makanan dan mineral, seperti glukosa, asam amino, asam lemak,
kolesterol dan garam-garam mineral.
b. Zat-zat yang diproduksi sel, seperti enzim, hormon dan antibodi.
c. Protein darah yang tersusun atas beberapa asam amino, yaitu :
- · Albumin untuk menjaga tekanan osmotik darah.
- · Fibrinogen untuk proses pembekuan darah.
- · Globulin untuk membentuk gemaglobulin (komponen zat kebal/zat antibodi).
d. Zat-zat sisa metabolisme, seperti urea, asam urat dan lain-lain.
e. Gas-gas pernafasan yang larut dalam plasma darah, seperti oksigen,
karbon dioksida dan nitrogen.
Darah yang diputar dalam alat pemusing yang disebut sentrifuge
menyebabkan protein mengendap dan sisanya berupa cairan bening yang disebut
serum. Serum adalah plasma darah yang tidak mengandung fibrinogen.
Di dalam serum terdapat zat antibodi yang berfungsi mengeluarkan protein
asing yang masuk ke dalam tubuh, yaitu antigen.
Komentar
Posting Komentar