Hubungan Paradigmatik dan Hubungan Sintagmatik
Hubungan Paradigmatik
Hubungan paradigmatik berlaku antara unsur-unsur berkedudukan sama yang dapat saling menggantikan dalam kalimat yang sama. Menurut Cruse (2004:145), relasi paradigmatik adalah relasi makna dengan fungsi sintaksis antarkata dalam sebuah kalimat. Relasi paradigmatik disebut juga relasi vertikal. Syarat untuk kata pengganti dalam sebuah kalimat agar terjadi relasi paradigmatik harus dapat berterima secara gramatikal dan mengisi slot yang sama.
Contoh :
1. Ibu memandikan anak kucingnya.
Ibu memandikan anak bayinya.
Kalimat ini memiliki relasi paradigmatik karena masih berterima secara gramatikal meskipun konteks kalimat berubah.
2. Kakek menulis surat untuk cucunya di Jakarta.
Pulpen menulis surat untuk cucunya di Jakarta.
Kalimat ini memiliki relasi paradigmatik karena berterima secara gramatikal, tetapi makna konteks kalimat ini tidak berterima secara logis.
3. Boni makan ikan goreng.
Boni makan cacing goreng.
Kalimat ini memiliki relasi paradigmatik karena meskipun kalimat nomor dua merupakan suatu hal yang tidak lazim, tetapi kalimat ini masih berterima secara gramatikal.
4. Rangga dan Dimas bermain catur.
Rangga dan Dimas dimainkan catur.
Kalimat ini memiliki relasi paradigmatik, meskipun makna konteks berubah. Orang-orang yang mendengar tuturan ini dapat mengira bahwa catur adalah nama orang.
Hubungan Sintagmatik
Hubungan sintagmatik berlaku antara unsur-unsur yang dapat terjadi bersamaan dalam kalimat yang sama. Relasi sintagmatik adalah relasi makna antarunit sintaksis yang masih berterima dalam kalimat. Relasi sintagmatik disebut juga relasi horizontal.
Contoh :
1. a. Jenny pergi ke dokter gigi. (Teks sumber)
b. Ke dokter gigi, Jenny pergi. (Masih berterima)
c. Pergi ke dokter gigi, Jenny. (Masih berterima)
d. Dokter gigi ke Jenny pergi. (Tidak berterima)
e. Dokter gigi pergi ke Jenny. (Masih berterima)
f. Dokter gigi Jenny ke pergi. (Tidak berterima)
Kalimat d dan f tidak memiliki relasi sintagmatik.
2. a. Darren membuang sampah ke tempatnya. (Teks sumber)
b. Ke tempatnya, Darren membuang sampah. (Masih berterima)
c. Sampah ke tempatnya, Darren membuang. (Tidak berterima)
d. Membuang sampah ke tempatnya, Darren. (Masih berterima)
e. Sampah membuang Darren ke tempatnya. (Masih berterima, tetapi tidak logis)
f. Membuang sampah Darren ke tempatnya. (Masih berterima, tetapi tidak logis)
Kita sebaiknya memilih kalimat yang masih berterima dan logis sebagai contoh kalimat yang memiliki relasi sintagmatik.
Hubungan Paradigmatik dan Sintagmatik Pada Tataran Fonologi dan Morfologi
Fonologi adalah ilmu yang mempelajari tentang bunyi bahasa. Morfologi adalah ilmu yang mempelajari tentang pembentukan kata, perubahan kelas kata yang mempengaruhi perubahan makna dan satuan gramatikal.
Hubungan Paradigmatik
Hubungan paradigmatik pada tataran fonologi adalah pergantian bunyi suatu kata pada slot yang sama yang dapat mengubah makna kata tersebut.
Contoh :
1. Nasi
Dasi
Basi
2. Nasi
Napi
Nadi
Nabi
3. Luka
Lupa
Lusa
Hubungan paradigmatik pada tataran morfologi adalah pergantian afiks (imbuhan) yang dapat mengubah makna suatu kata.
Contoh :
1. Mengarang
Pengarang
Dikarang
2. Persiapkan
Disiapkan
Menyiapkan
3. Melarang
Terlarang
Dilarang
4. Menyalahkan
Menyalahi
Hubungan Sintagmatik
Hubungan sintagmatik pada tataran fonologi adalah pergantian urutan fonem pada suatu kata yang dapat mengubah makna kata tersebut.
Contoh :
1. Pita
Tapi
Pati
Apit
2. Rumah
Harum
Murah
3. Kelas
Kesal
Lekas
Selak
Hubungan sintagmatik pada tataran morfologi adalah pergeseran afiks (imbuhan) yang dapat membuat suatu kata tidak memiliki makna.
Contoh :
1. Tertawa
Tawa-ter
2. Memasukkan
Kan-masuk-me
Masukkan-me
Komentar
Posting Komentar