8 Metode Penerjemahan Peter Newmark dan Tingkat Penerjemahan

Peter Newmark (1916-2011), profesor di bidang penerjemahan di Universitas Surrey, Inggris, berpendapat bahwa menerjemahkan berarti mengalihkan makna teks dari satu bahasa ke bahasa lain dengan penekanan pada makna yang bersifat fungsional. Newmark memandang bahwa terjemahan literal atau harfiah merupakan proses terjemahan yang terbaik jika efek kesetaraan dapat diperoleh. Tetapi, Newmark juga mempertimbangkan proses terjemahan semantik dan terjemahan komunikatif jika terjemahan literal tidak mencukupi.

Newmark mengatakan, "tidak ada terjemahan yang sempurna, ideal atau benar. Seorang penerjemah selalu berusaha untuk memperluas pengetahuannya dan meningkatkan sarana ekspresinya; penerjemah selalu mengejar fakta dan kata-kata".


Dalam proses penerjemahan, kesepadanan (ekuivalensi) sangat penting. Bagi Newmark, kesepadanan harus dicapai dalam teks dan kata.

Newmark mengklasifikasikan teks ke dalam kategori-kategori, seperti : 

• Scientific-technological Texts
• Institutional-cultural Texts
• Literary Texts

Newmark juga mengklasifikasikan kata ke dalam kategori-kategori, seperti :

• Functional Words 
• Technical Words
• Intitutional Words
• Lexical Words 
• Common Words
• Concept Words

Dalam bukunya yang berjudul A Textbook of Translation, Newmark (1998) mengemukakan metode V-Diagram yang membagi metode penerjemahan menjadi dua kelompok, yaitu:

V-Diagram Newmark

• Metode penerjemahan yang berorientasi pada teks sumber (TSu). Metode penerjemahan TSu meliputi word-for-word translation, literal translation, faithful translation dan semantic translation.

a. Word-for-word Translation

Word-for-word translation adalah penerjemahan satu per satu kata dengan mempertahankan urutan kata pada teks sumber, sehingga metode ini tidak memperhatikan konteks kalimat dan tidak memperhatikan keberterimaan dalam budaya bahasa target. Menurut Newmark, kita biasanya menggunakan metode ini pada tahap awal penerjemahan teks yang sulit dipahami. Akan tetapi, kita perlu merekonstruksi ulang hasil terjemahan tersebut untuk memperoleh hasil yang lebih baik dan sesuai.

Contoh :
1. TSu: Lizzy cuts the cake.
     TSa: Lizzy memotong kue.
2. TSu: She couldn't hold Bob to go.
     TSa: Dia tidak bisa menahan Bob untuk pergi.

Apabila kalimat "She is cooking" diterjemahkan ke "Dia sedang memasak", ini bukan termasuk word-for-word translation karena kata "is" sebenarnya tidak memiliki makna "sedang". 

b. Literal Translation

Literal translation adalah penerjemahan satu per satu kata dengan mengubah konstruksi gramatikal teks sumber menjadi konstruksi gramatikal teks target. Literal translation juga tidak memperhatikan konteks kalimat.

Contoh :
1. TSu: What is your name?.
     TSa: Siapa namamu?.
2. TSu: “Remember, Eliza, that he does not know Jane’s disposition as you do."
     TSa: “Ingatlah, Eliza, bahwa dia tidak mengenal Jane sedalam dirimu.”

Pada contoh pertama, kata"what" diartikan sebagai "siapa". Sementara, pada contoh kedua, penerjemah tidak menggunakan terjemahan dari kata "disposition", yaitu "watak". Dan penerjemah memilih menggunakan kata "sedalam" untuk menerjemahkan kata "as". Selain itu, kata "do" di akhir kata juga tidak diterjemahkan.

c. Faithful Translation

Faithful translation adalah penerjemahan makna kontekstual (atau terjemahan mempertahankan konteks kalimat) dengan tetap mempertahankan struktur gramatikal teks sumber. Metode ini tidak sesuai digunakan untuk menerjemahkan teks yang ringan, seperti cerita anak karena akan menghasilkan teks terjemahan yang kaku dan tidak sesuai dengan budaya target. Tetapi, metode ini lebih bebas daripada literal translation. Metode ini cocok untuk terjemahan teks hukum dan puisi.

Contoh :
1. TSu: You arrived in time, and my lies, a circle of fishes, swam away frightened.
     TSa: Kamu tiba di waktu yang tepat, dan kebohonganku, seperti sekumpulan ikan-ikan, yang berenang ketakutan.
2. TSu: He is as strong as a rock.
     TSa: Dia setegar batu karang.

Note : Teks sumber pada contoh pertama adalah potongan puisi karya Maria Flook yang berjudul Stranger: Many Perfect.

Terjemahan dari kedua contoh di atas tetap mempertahankan struktur gramatikal teks sumber dan mempertahankan konteks berupa figuratif atau kiasan.

d. Semantic Translation

Semantic translation adalah penerjemahan dengan menekankan pada kata kunci atau ungkapan yang harus dihadirkan dalam teks sasaran. Metode ini sangat memperhatikan nilai estetika teks sumber dan teks sasaran. Metode ini berupaya menghadirkan makna berdasarkan struktur semantik dan sintaksis dalam teks sumber sedekat mungkin ke dalam teks sasaran.

Struktur semantik merujuk makna kata yang dipengaruhi oleh faktor budaya. 
Struktur sintaksis merujuk pada elemen-elemen penyusun sebuah frasa, klausa atau kalimat.

Contoh :
1. TSu: Elizabeth listened in silence, but was not convinced.
     TSa: Elizabeth mendengarkan tanpa berkomentar, kendati dia merasa ragu-ragu.
2. TSu: The rest of the evening was spent in conjecturing how soon he would
return Mr. Bennet’s visit, and determining when they should ask him to dinner.
     TSa: Sisa malam itu dihabiskan untuk mereka-reka secepat apa Mr. Bingley akan membalas kunjungan Mr. Bennet, dan untuk memutuskan kapan sebaiknya mereka mengundangnya makan malam bersama di rumah mereka.

Pada contoh pertama, penerjemah mengutamakan nilai estetika dengan memilih terjemahan "tanpa berkomentar" untuk menerjemahkan "in silence" dan kata "kendati" untuk menerjemahkan "but". Begitu pun dengan contoh kedua, nilai estetika terlihat pada pilihan kata "mereka-reka" untuk menggantikan terjemahan "menebak" dari kata "conjecturing" dan memilih kata "sebaiknya" sebagai pengganti kata "seharusnya". Penerjemah juga menambahkan frasa "bersama di rumah mereka".

• Metode penerjemahan yang berorientasi pada teks sasaran (TSa). Metode penerjemahan TSa meliputi adaptation, free translation, idiomatic translation dan communicative translation.

a. Adaptation

Adaptation adalah penerjemahan yang mengganti unsur budaya teks sumber dengan unsur budaya teks sasaran. Metode ini biasanya digunakan untuk menerjemahkan naskah fiksi, puisi, lagu, teks periklanan, teks kepariwisataan dan lain-lain.

Contoh :
1. TSu: Para peronda membawa petromak dan kentongan sambil mengelilingi kampung untuk berjaga-jaga kalau pencuri itu datang lagi.
     TSa: The patrols carried kerosene-powered lamps and clapper while surrounding the village in case the thief came again.
2. TSu: Mrs. Gina swaddled her baby and sang lullaby, until the baby fell fast asleep.
     TSa: Mrs. Gina membedung bayinya dan menyanyikan lagu Nina Bobok, hingga bayi tertidur lelap.

Pada contoh pertama, kata peronda, petromak dan kentongan merujuk pada kebudayaan di Indonesia. Lebih tepatnya, ronda berasal dari bahasa Sunda, petromak berasal dari bahasa Sansekerta dan kentongan berasal dari bahasa Jawa. Kita bisa menggunakan kata "petromax" untuk menerjemahkan "petromak". Namun, di sini agar lebih terlihat perbedaannya, maka dipilih kata "kerosene-powered lamps".

"Bedung" berasal dari bahasa Sunda. Perkembangan bahasa yang kian pesat membuat kata ini telah memiliki sebutan sendiri dalam bahasa Inggris, yaitu "swaddle". Sementara kata "lullaby" memiliki makna "lagu pengantar tidur", tapi penerjemah memilih menggunakan kata "lagu Nina Bobok" yang lebih akrab di telinga masyarakat pengguna teks sasaran. 

b. Free Translation

Free translation adalah penerjemahan yang mempertahankan makna dari teks sumber tanpa mengubah bentuk atau mengganti unsur budaya teks sumber dengan budaya teks sasaran. Free translation tidak memperhatikan bentuk dan nilai estetika, sehingga metode ini tidak cocok untuk menerjemahkan teks puisi. Free translation biasa digunakan dalam teks karya sastra, teks pemasaran (marketing) dan lain-lain. Terkadang terjadi penambahan atau penghapusan kata saat menerjemahkan. Karena itu, free translation disebut juga creative translation.

Contoh :
1. TSu: The other bank of the stream was open ground--a gentle acclivity topped with a stockade of vertical tree trunks, loopholed for rifles, with a single embrasure through which protruded the muzzle of a brass cannon commanding the bridge. 
    TSa: Tepi sungai yang lain merupakan tanah terbuka—lereng yang tenang berada di atasnya dengan benteng dari batang pohon yang tersusun vertikal, celah untuk pasukan penembak, sebuah lubang pada dinding yang menonjolkan moncong meriam berlapis kuningan yang memimpin jembatan.

2. TSu: Something seemed to give way in Tchervyakov's stomach. Seeing nothing and hearing nothing he reeled to the door, went out into the street, and went staggering along.
    TSa: Sesuatu sepertinya terjeblos ke dalam perut Tchervyakov. Tidak melihat apa pun dan tidak mendengar apa pun, dia terhuyung-huyung menuju pintu, keluar ke arah jalan dan berjalan terhuyung-huyung.

Note: Contoh pertama merupakan penggalan cerita pendek yang berjudul An Occurrence at Owl Creek Bridge karya Ambrose Bierce, sedangkan contoh kedua berjudul The Death Of A Government Clerk karya Anton Chekhov.

Pada contoh pertama frasa "a gentle acclivity" jika diterjemahkan secara word-for-word menjadi "aklivitas yang lembut". 
Menurut google translate acclivity memiliki makna "an upward slope". Karena itu, jika frasa ini diterjemahkan menggunakan free translation, maka frasa ini memiliki makna "lereng yang tenang". Penerjemah juga menambahkan kata "tersusun" untuk menggambarkan vertical tree trunks (batang pohon vertikal) dan kata "berlapis" sebagai wujud kreativitas.

Sementara, contoh kedua, kata "pergi" sebelum kata "keluar" dihilangkan karena dinilai kalimat terjemahan sudah cukup jelas dengan hanya menggunakan "keluar". Dan kata "staggering" yang memiliki arti "goyangan" diterjemahkan ke "terhuyung-huyung".

c. Idiomatic Translation

Idiomatic translation adalah penerjemahan yang mereproduksi pesan dari idiom, figurative speech dan phrasal verbs untuk mendistorsi nuansa makna.

Contoh :
1. TSu: I had not intended should take place so soon by a week. 
    TSa: Saya tidak mengharapkan itu harus terjadi begitu cepat dalam seminggu.
2. TSu: Use your noodle!. Don't be easily provoked.
    TSa: Gunakan otakmu!. Jangan mudah terprovokasi.

Contoh pertama terdapat phrasal verb "take place", sedangkan contoh kedua terdapat idiom "use your noodle". 

d. Communicative Translation

Communicative translation adalah penerjemahan yang mereproduksi pesan dari teks sumber dengan memperhatikan atau mengganti unsur budaya teks sumber agar mudah dipahami dalam teks sasaran. Metode ini menggunakan bahasa yang lebih komunikatif.

Contoh :
1. TSu: Do not litter!.
    TSa: Dilarang membuang sampah sembarangan!.
2. TSu: This timepiece is made of a mixture of iron, aluminum, vanadium and molybdenum so that it is twice as durable as stainless steel.
    TSa: Arloji ini terbuat dari campuran besi, aluminium, vanadium dan molybdenum, sehingga daya tahannya lebih kuat daripada stainless steel.

Do not litter pada contoh pertama juga dapat diterjemahkan menggunakan semantic translation, yaitu jangan membuang sampah sembarangan. Kalimat "dilarang membuang sampah sembarangan" lebih ringan dan komunikatif daripada "jangan membuang sampah sembarangan".

Sementara contoh kedua, jika diterjemahkan menggunakan semantic translation menjadi "arloji ini terbuat dari campuran besi, aluminium, vanadium dan molybdenum, sehingga memiliki daya tahan dua kali lebih kuat daripada stainless steel".

Tingkat Prosedur Penerjemahan

Dalam menerjemahkan sebuah teks, Newmark (1988) mengemukakan beberapa prosedur yang harus diterapkan atau dimiliki oleh penerjemah. 

Prosedur penerjemahan terbagi menjadi empat tingkat, yaitu :

a. Textual Level

Tingkat ini termasuk literal translation. Pada tingkat ini, penerjemah harus memahami terlebih dahulu jenis teks yang akan diterjemahkan untuk dapat mentransfer tata bahasa dari teks sumber ke teks sasaran.

b. Referential Level

Penerjemah harus memperhatikan istilah atau terminologi yang digunakan dalam teks sumber agar dapat mencari sumber referensi yang sesuai dengan istilah tersebut dan penerjemah dapat menggambarkan suatu objek atau peristiwa secara progresif dalam teks sasaran.

c. Cohesive Level

Pada tingkat ini, penerjemah meninjau kekohesifan teks sasaran. Teks yang kohesif merupakan teks yang memiliki kepaduan antara kata atau kalimat penyusunnya. Untuk itu, penerjemah juga harus memperhatikan konjungsi yang digunakan antarkata, antarfrasa, antarklausa dan antarkalimat. Saat menerjemahkan kata sifat, figurative speech (kiasan), idiom atau teks tentang suatu peristiwa, penerjemah bergantung pada alur pikiran, pemahaman, perasaan, atau emosinya. 

d. Natural Level
 
Penerjemah menerjemahkan teks secara alamiah, wajar dan masuk akal, hingga teks tidak terasa seperti hasil terjemahan. 

Komentar

Populer Minggu Ini

4 Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Mengarang

Menilai Kepribadian Manusia Berdasarkan Tatapan Mata

Hambatan Shunt Dan Hambatan Muka Atau Depan

Cara Menghitung Perbedaan Waktu (WIB, WIT, WITA Dan GMT)

Analisis Sintaksis Dan Tree Diagram Syntax

Persen Dan Permil

Filosofi Kartu Joker

Penggunaan Enough, Quite, Pretty, Rather Dan Fairly

Stressed Syllable dan Unstressed Syllable

Penggunaan Besides, Apart From, In Addition, Than, Furthermore, Moreover, After that, Meanwhile dan Meantime