Ion Dan Jenis-Jenis Ikatan Kimia
Ion adalah atom atau
sekumpulan atom yang bermuatan listrik. Ion terbentuk apabila atom melepaskan
atau menerima satu atau lebih elektron untuk membentuk kulit terluar. Proses
pembentukan ion disebut ionisasi.
Ion terbagi menjadi dua,
yaitu kation (ion bermuatan positif) dan anion (ion bermuatan negatif). Kation
terbentuk karena adanya perpindahan elektron dari suatu atom ke atom lainnya
yang sering disebut dengan energi ionisasi. Anion terbentuk karena adanya
penambahan elektron dalam atom tersebut yang sering disebut dengan afinitas
elektron.
Ion dapat menjadi kation karena tertarik ke katode. Ion dapat menjadi anion karena tertarik ke anode.
Pada katode, arus listrik mengalir keluar dan gerakan elektron akan masuk ke dalam kutub ini.
Pada anode, arus listrik mengalir ke dalam dan gerakan elektron akan keluar dari kutub ini.
Ion dapat menjadi kation karena tertarik ke katode. Ion dapat menjadi anion karena tertarik ke anode.
Pada katode, arus listrik mengalir keluar dan gerakan elektron akan masuk ke dalam kutub ini.
Pada anode, arus listrik mengalir ke dalam dan gerakan elektron akan keluar dari kutub ini.
Kecenderungan Jari-Jari Ion
- Kation memiliki jari-jari
lebih kecil daripada atom netral.
- Anion memiliki jari-jari
lebih besar daripada atom netral.
Penulisan simbol kation
selalu disertai tanda plus, sedangkan simbol anion disertai dengan tanda minus.
Di depan tanda plus atau pun minus dicantumkan jumlah elektron valensinya.
Contoh : Unsur magnesium
memiliki dua elektron valensi. Karena magnesium adalah jenis unsur logam, maka
magnesium termasuk kation. Penulisannya pun menjadi Mg2+. Sedangkan anion,
biasanya adalah unsur non logam.
Ketika sebuah atom netral melepas satu elektron dari
kulit terluar, maka jumlah kulit atomnya akan berkurang, sehingga jari-jari ion
menjadi lebih kecil dibandingkan jari-jari atom netralnya. Sebaliknya, ketika
sebuah atom netral menerima satu elektron, maka jari-jari ion akan menjadi
lebih besar dibandingkan jari-jari atom netralnya.
Unsur-unsur dalam golongan gas mulia atau VIIIA
merupakan unsur-unsur yang paling stabil. Tetapi, golongan gas mulia sangat
tidak reaktif karena tingkat energi pada kulit terluarnya telah terisi penuh.
Dengan kata lain, golongan gas mulia tidak akan kehilangan ataupun mendapatkan
elektron.
Cara Menghitung Jumlah Proton, Elektron Dan Neutron
Dari Muatan Ion.
Jumlah proton (p) = nomor atom
Jumlah elektron (e) = nomor atom – jumlah muatan
Jumlah neutron (n) = massa atom - nomor atom
Contoh :
Berapa jumlah proton, elektron dan neutron dari ion Mg2+. Magnesium memiliki nomor atom 12 dan massa atom 24.
Jumlah proton magnesium = 12
Jumlah elektron magnesium = 12-2 = 10
Jumlah neutron magnesium = 24-12 = 12
Catatan : jumlah muatan didapat dari nilai
kation/anion pada atom. Jika terdapat atom F-, maka jumlah muatannya
adalah -1.
Hukum Duplet Dan Hukum
Oktet
Hukum duplet berbunyi “ Unsur akan mendapatkan atau
kehilangan elektron utuk mencapai keadaan penuh dua”. Hukum duplet hanya
berlaku pada atom hidrogen.
Atom hidrogen dapat kehilangan satu elektron dan
membentuk ion H+, tetapi juga dapat menerima satu elektron dan
membentuk ion Hidrida (H-). Atom hidrogen dapat menerima satu
elektron dari logam-logam yang elektropositif, seperti golongan alkali dan
alkali tanah. Selain itu, atom hidrogen juga dapat membentuk pasangan elektron
sebagai ikatan kovalen tunggal, baik dengan atom H sendiri, maupun atom non
logam.
Hukum oktet berbunyi “ Unsur akan mendapatkan atau
kehilangan elektron utuk mencapai keadaan penuh delapan”.
Pada golongan gas mulia, helium yang termasuk unsur
yang bersifat duplet. Sedangkan, unsur-unsur lainnya seperti neon, argon,
xenon, kripton dan radon termasuk unsur yang bersifat oktet.
2.
Pengecualian Dan
Kegagalan Hukum Oktet
Pada umumnya, unsur transisi dan unsur postransisi
tidak memenuhi aturan oktet. Seluruh unsur yang terdapat pada golongan 3-12
atau IB – VIIIB adalah unsur transisi/logam transisi. Unsur postransisi adalah
unsur logam setelah unsur transisi, seperti Ga, Sn dan Bi.
Pengecualian dan kegagalan hukum oktet terbagi
menjadi tiga kelompok, yaitu :
- Senyawa tidak mencapai aturan oktet
Senyawa dengan atom yang memiliki elektron valensi
kurang dari 4, sehingga meskipun semua elektron valensinya telah dipasangkan
tetap tidak memenuhi aturan oktet.
- Senyawa dengan jumlah elektron valensi ganjil
Contoh : pada nitrogen oksida (NO) yang terdiri dari
unsur nitrogen dan oksigen. Elektron valensi dari nitrogen adalah 5, sedangkan
oksigen adalah 6. Jika nitrogen melepas satu elektronnya, tetap saja tidak
mencapai aturan oktet. Begitupun dengan oksigen yang menerima satu elektron,
tetap tidak mencapai aturan oktet.
- Senyawa yang melampaui aturan oktet
Kelompok senyawa ini disebut juga senyawa dengan
oktet yang diperluas. Oktet yang diperluas diperlukan pada unsur-unsur dalam
periode 3 ke atas.
Contoh : Sulfur heksafluorida (SF6) yang
terdiri dari unsur belerang (S) dan fluor (F). Elektron valensi dari unsur S
adalah 6, sedangkan unsur fluor adalah 7. Keenam elektron valensi dari unsur S
dalam molekul SF6 digunakan untuk membentuk satu ikatan kovalen
dengan unsur F, sehingga terdapat 12 elektron di sekitar atom S. Maksudnya, 6
elektron valensi unsur S ditambah 6 elektron dari pembentukan senyawa sulfur
heksafluorida.
Struktur Lewis
Struktur
Lewis adalah diagram yang menunjukkan ikatan antara atom-atom suatu molekul
dengan pasangan elektron sunyi dalam molekul tersebut. Pasangan elektron sunyi
ditemukan pada kulit terluar suatu atom. Dikatakan sebagai pasangan sunyi
karena dua elektron yang berpasangan tidak digunakan dalam ikatan kimia.
Struktur
Lewis digunakan untuk mengetahui penggunaan elektron bersama pada satu ikatan.
Bentuk struktur Lewis biasanya digambarkan dengan simbol atom yang dikelilingi
elektron valensi. Setiap sisi simbol atom maksimal hanya terdapat dua elektron.
Ikatan Kimia
Ikatan kimia
terbagi tiga, yaitu :
- Ikatan ion
Ikatan
ion adalah ikatan yang terbentuk karena adanya gaya elektrostatis (gaya
tarik-menarik) antara ion bermuatan positif/kation (yang melepas elektron) dan ion
bermuatan negatif/anion (yang menangkap elektron). Ikatan ion disebut juga
ikatan elektrovalen.
Ikatan
ion terjadi antara unsur logam dan non logam. Unsur logam berperan sebagai
kation, sedangkan unsur non logam berperan sebagai anion. Masing-masing atom
dalam ikatan ion berusaha untuk mencapai kestabilan. Masing-masing atom
dikatakan telah mencapai kestabilan jika sudah memiliki 8 elektron sesuai
dengan hukum oktet.
Awalnya, setiap atom adalah atom netral. Sebuah atom
dikatakan bermuatan positif karena memiliki jumlah proton yang lebih banyak
daripada jumlah elektronnya. Sedangkan, sebuah atom dikatakan bermuatan negatif
karena memiliki jumlah elektron yang lebih banyak daripada jumlah protonnya.
Dalam penulisan penamaan ikatan ion, nama unsur
logam lebih dulu ditulis sebelum unsur non logam. Umumnya, ikatan ion bersifat
mudah larut dalam air dan pelarut organik lainnya. Selain itu, ikatan ion juga
bersifat sebagai konduktor listrik dalam larutan. Ikatan ion cenderung
membentuk kristal solid dengan titik leleh yang tinggi.
Senyawa yang memiliki ikatan ion disebut garam.
Setiap senyawa garam membentuk pola berulang dan teratur yang disebut struktur
kristalin. Tetapi, setiap jenis senyawa garam berbeda memiliki struktur
kristalin yang berbeda.
Contoh :
Pada proses pembentukan garam NaCl (natrium klorida).
Natrium klorida terdiri dari unsur natrium dan unsur
klor. Masing-masing memiliki konfigurasi elektron sebagai berikut :
Natrium 2 8 1
Klor 2
8 7
Untuk mencapai kestabilan masing-masing, atom
natrium akan melepas satu elektron dan atom klor akan menerima satu elektron
dari atom natrium. Sehingga, konfigurasi elektron masing-masing atom menjadi
Natrium 2 8
Klor 2
8
Suatu atom dikatakan mencapai kestabilan adalah ketika kulit
terluar atom telah terisi penuh dengan jumlah maksimum elektron yang dapat
ditampung pada kulit terluar. Kulit terluar masing-masing atom tergantung dari
konfigurasi elektronnya.
Dalam pembentukan NaCl, ukuran natrium menjadi lebih kecil
karena kehilangan satu elektron, sedangkan ukuran klor menjadi lebih besar
karena bertambah satu elektron. Hal ini yang mendasari mengapa kation selalu
berukuran lebih kecil daripada ukuran sebelumnya, sedangkan anion cenderung
menjadi lebih besar daripada ukuran sebelumnya.
Jadi, ditetapkan bahwa natrium menjadi bermuatan positif (Na+),
sedangkan klor menjadi bermuatan negatif (Cl-).
- Ikatan Kovalen
Ikatan
kovalen terbagi menjadi empat jenis, yaitu :
a.
Ikatan Kovalen Tunggal
Ikatan
kovalen tunggal adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian satu pasang
elektron secara bersama oleh dua atom yang berikatan. Ikatan kovalen dapat
digambarkan dengan struktur Lewis. Ikatan kovalen terjadi karena ketidakmampuan
salah satu atom yang berikatan untuk melepas elektron. Masing-masing atom yang
berikatan memiliki elektron tunggal pada kulit terluarnya.
Pada
ikatan kovalen, kedua orbital dari atom yang berikatan akan saling tumpang-tindih,
sehingga elektron dapat saling berpasangan dan digunakan bersama-sama. Ikatan
kovalen terbentuk oleh sesama atom non logam. Atom non logam memang cenderung bersifat
menerima elektron.
Contoh
:
Pada
pembentukan molekul Br2. Molekul Br2 terdiri dari dua
atom bromin yang saling berikatan. Masing-masing atom bromin memiliki 7
elektron valensi. Agar kedua atom bromin dapat membentuk molekul Br2,
masing-masing saling meminjamkan satu elektron. Dapat digambarkan dengan
struktur Lewis sebagai berikut :
Atau
Pada
proses pembentukan molekul HCl (hidrogen klorida).
Hidrogen
klorida terdiri dari atom hidrogen dan atom klor. Atom hidrogen memiliki 1
elektron valensi, sedangkan atom klor memiliki 7 elektron valensi. Atom
hidrogen memerlukan 1 elektron valensi lagi untuk mencapai kestabilan sesuai
hukum duplet, sedangkan atom klor memerlukan 1 elektron valensi lagi untuk
mencapai kestabilan sesuai hukum oktet.
b.
Ikatan Kovalen Rangkap Dua
Ikatan
kovalen rangkap dua adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian dua pasang
elektron (4 elektron) secara bersama oleh dua atom yang berikatan.
Contoh
:
Pada
pembentukan O2 dan CO2. Atom O memiliki 6 elektron
valensi, sedangkan atom C memiliki 4 elektron valensi.
Pada
molekul O2 untuk mencapai kestabilan, masing-masing atom O
memerlukan 2 elektron, sehingga terbentuk ikatan kovalen rangkap dua dengan
pemakaian dua pasang elektron.
Pada
molekul CO2 untuk mencapai kestabilan, atom C memerlukan 4 elektron,
sedangkan atom O hanya memerlukan 2 elektron. Struktur Lewis untuk molekul CO2
dapat digambarkan sebagai berikut :
c.
Ikatan Kovalen Rangkap Tiga
Ikatan
kovalen rangkap tiga adalah ikatan yang terjadi karena pemakaian tiga pasang
elektron (6 elektron) secara bersama oleh dua atom yang berikatan.
Contoh
:
Pada
pembentukan molekul N2 yang terdiri atas 2 atom N. Atom N memiliki 5
elektron valensi, sehingga masing-masing atom memerlukan 3 elektron untuk
mencapai kestabilan.
Atau
pada pembentukan molekul P2 yang juga memiliki 5 elektron valensi
pada masing-masing atom P.
d.
Ikatan Kovalen Koordinasi
Ikatan
kovalen koordinasi adalah ikatan yang
terbentuk apabila pasangan elektron yang digunakan bersama hanya berasal dari
salah satu atom saja. Untuk membentuk ikatan kovalen koordinasi, salah satu
atom harus memiliki pasangan elektron bebas, sedangkan atom lainnya harus
memiliki orbital kosong. Ikatan kovalen koordinasi disebut juga ikatan
datif/semipola.
Contoh
:
Pada
pembentukan SO3 atau H2SO4.
Molekul
SO3 terdiri dari satu atom S
dan tiga atom O. Atom S dan atom O sama-sama memiliki 6 elektron valensi. Untuk
mencapai kestabilan, masing-masing memerlukan dua elektron.
Struktur
Lewis dari SO3 dapat digambarkan sebagai berikut :
Pada
gambar tersebut terlihat bahwa salah satu atom O meminjamkan 2 elektronnya
untuk atom S, sedangkan atom S meminjamkan 2 elektronnya untuk atom O
masing-masing.
Senyawa H2SO4
yang terdiri dari dua atom H, satu atom S dan empat atom O. Atom H memiliki 1
elektron valensi, atom S memiliki 6 elektron valensi dan atom O memiliki 6
elektron valensi. Untuk mencapai kestabilan atom H memerlukan 1 elektron pada
masing-masing atomnya. Sedangkan atom S memerlukan 2 elektron. Begitupun dengan
atom O yang memerlukan 2 elektron pada masing-masing elektronnya.
Struktur Lewis
dari H2SO4 dapat digambarkan sebagai berikut :
Sebenarnya,
penggambaran struktur Lewis dapat dengan bentuk apa saja. Yang terpenting
gambar tersebut bisa menerangkan bahwa setiap atom telah stabil sesuai hukum
duplet dan hukum oktet.
- Ikatan Logam
Ikatan
logam adalah ikatan yang terbentuk karena adanya penggunaan bersama
elektron-elektron antara atom-atom logam. Ikatan logam terbentuk karena inti
bermuatan positif yang memiliki energi ionisasi yang rendah, sehingga elektron
valensi dapat bergerak bebas di luar penagruh inti.
Selain
itu, logam memiliki banyak orbital kosong, sehingga elektron valensi logam
lebih rendah daripada orbital valensi logam/subkulit terluar logam. Gaya
tarik-menarik antara atom-atom logam cukup kuat, sehingga atom-atom logam
memiliki titik didih dan titik leleh yang tinggi.
Kekuatan
ikatan logam dipengaruhi oleh jari-jari atom dan jumlah elektron valensi. Jika
jari-jari atom semakin besar, maka ikatan logam semakin lemah. Jika jumlah
elektron valensi cukup banyak, maka ikatan logam semakin kuat.
Atom-atom
logam hanya mengandung 1-3 elektron valensi, sehingga tidak dapat membentuk
ikatan kovalen. Selain itu, ikatan kovalen dikenal sebagai penghantar listrik
yang buruk dan umumnya berupa cairan. Hal itu bertolak belakang dengan sifat
logam sebagai penghantar listrik yang kuat.
Contoh
:
Ada
beberapa elektron valensi dari atom-atom logam yang semuanya bergabung
membentuk larutan elektron yang bergerak bebas dalam kisi kristal logam.
Elektron-elektron yang bergerak bebas tersebut akan membentuk ikatan terhadap
ion bermuatan positif. Oleh sebab itu, ikatan logam tidak mudah rusak apabila
ditempa.
e. Ikatan Kovalen Polar Dan Ikatan Kovalen Non Polar
Hal yang membedakan
antara ikatan kovalen polar dan ikatan kovalen non polar adalah sifat
keelektronegativitas atom-atom yang berikatan.
Jika suatu atom
memiliki elektronegativitas lebih kuat daripada atom pasangannya, sehingga
elektron akan tertarik ke atom dengan elektronegativitas yang lebih kuat
tersebut, maka termasuk ikatan kovalen polar. Atau jika senyawa memiliki muatan
parsial positif dan negatif, sehingga terjadi pengutuban.
Jika atom-atom
yang berikatan memiliki sifat keelektronegativitas yang sama, sehingga gaya
tarik-menarik antara atom-atom sama kuat, maka termasuk ikatan kovalen non
polar.
Umumnya, beda keelektronegativitas
antara atom-atom untuk membentuk ikatan kovalen non polar adalah sekitar 0,0 –
0,2. Jika beda keelektronegativitas antara atom-atom mencapai 0,3 – 1,4, maka
termasuk ikatan kovalen polar. Tetapi, jika beda keelektronegativitas suatu
atom lebih dari 1,4, maka sudah termasuk dalam ikatan ion.
Senyawa kovalen
non polar mempunyai momen dipol (µ) = 0 atau mempunyai bentuk molekul simetris,
sedangkan senyawa kovalen polar mempunyai momen dipol > 0 atau ≠ 0 atau
mempunyai bentuk molekul asimetris. Bentuk molekul yang asimetris menyebabkan
terjadinya pengutuban muatan. Semakin besar momen dipol, maka semakin polar
senyawa tersebut.
Pada molekul
yang hanya memiliki satu atom yang sama, umumnya adalah ikatan kovalen non
polar. Contoh H2 atau O2. Sebab sudah pasti nilai momen
dipolnya = 0.
Atau dapat
diketahui dengan rumus momen dipol sebagai berikut:
µ = Q x r
Keterangan :
µ = momen dipol.
Satuannya adalah Deybe (D)
Q = selisih
muatan. Satuannya adalah C
r = jarak antara
muatan positif dan negatif. Satuannya adalah m
Diketahui jika
1D =3,33 x 10-30 C.m
Berikut
tabel momen dipol dari beberapa molekul :
Molekul
|
Momen Dipol
|
CO2
|
0,112
|
NO
|
0,159
|
HI
|
0,448
|
ClF
|
0,888
|
HBr
|
0,828
|
HCl
|
1,109
|
HF
|
1,827
|
NH3
|
1,49
|
CH4
|
0,00
|
H20
|
1,85
|
SO2
|
2,62
|
BCl3
|
0,00
|





Komentar
Posting Komentar